Saturday, December 12, 2009

Natal = Jumat Agung = Paskah == Bukti Cinta Tuhan Yesus

Mana yang lebih kita "rayakan"? Yang lebih kita syukuri dari tiga peristiwa itu?

Hal ini pernah ada dalam benak saya. Apa yang biasanya disambut dengan sukacita : kelahiran atau kematian? Di beberapa tradisi budaya, adat Batak misalnya, justru kematian seseorang lebih "dirayakan" dengan acara adat. Sampai sekarang, saya pun gak mengerti kenapa. Malahan, peristiwa kelahiran tidak pernah disambut dengan upacara adat yang sedemikian "wah" seperti pada peristiwa kematian. Beberapa budaya di negeri ini juga kurang lebih sama. Ada yang bisa memberi tahu saya apa alasannya?

Kembali pada momen tadi : Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Peristiwa kelahiran, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai seorang Protestan, kami, saya pribadi, cenderung menganggap Natal harus dirayakan dengan lebih meriah. Beda dengan peristiwa Jumat Agung, yang dirayakan dengan lebih "syahdu", karena hari itu adalah momen kematianNya di kayu salib. Biasanya, ibadah Jumat Agung diisi dengan drama penyaliban atau pemutaran adegan-adegan dari film "Passion of Christ" buatannya Mel Gibson. Kadang, ibadah peringatan Jumat Agung juga diwarnai dengan air mata.

Sangat kontras dengan peristiwa Natal. Dimana orang-orang akan menaggapinya dengan lebih antusias, lebih bergembira, "Joy to the world, The Lord has come!". Jemaat akan saling tertawa, tersenyum, cipika cipiki, sambil saling memeluk, menjabat tangan, dan berkata "Selamat Natal", "Merry Christmas", "Joyeux Noel", dsb. Mereka kemudian pulang, makan bersama keluarga, saling berkumpul, tukar kado, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya.

Tapi, apakah Natal merupakan peristiwa yang penuh dengan sukacita?

Saya pernah chit chat sama seseorang di Nimbuzz, aplikasi ponsel berbasis Java untuk blind chat. Waktu itu di room yang paling "panas", karena selalu mendebatkan hal-hal gak penting tapi dibuat penting, seperti klub sepakbola mana yang terbaik, siapa presiden yang pantas memimpin Indonesia, hingga berdebat soal agama. Saat itu, membahas tentang "Tuhannya orang Kristen". Awalnya seseorang menulis komen "aneh ya orang Kristen, kok nyembah manusia, manusia mati lagi, Yesus kan manusia... bla bla bla". Langsung responnya macem-macem, ada yang malah menghujat, ngasih pembenaran, bertanya balik, dsb... "kok mau ya? aneh gitu Tuhan jadi manusia... bla bla bla".

Yang menarik, ada yang mereply seperti ini, "bener Dia manusia, tapi Dia juga Tuhan." --- "mau tau kenapa Dia melakukan itu?" --- "karena Dia cinta sama manusia macam kalian" --- "cinta itu memang harus berkorban kan?"

Saat membaca itu, saya langsung private chat sama tuh orang. Nicknya di Nimbuzz "Ella".

Ella kasih cerita begini,
"Suatu hari ada anak yang menemukan sarang burung" --- "di dalamnya ada 5 ekor anak burung" --- "karena senang dengan temuannya itu, dia bawa pulang ke rumahnya" --- "mau dia rawat sampai punya sayap, katanya pada ibunya" --- "tapi anak ini kesulitan saat memberi makan anak-anak burung itu" --- "anak-anak burung itu tidak mau membuka mulutnya untuk menerima makanan" --- "anak itu terus berbicara pada anak-anak burung itu" --- "coba aku bisa ngomong bahasa kalian, pasti kalian bisa mengerti kalau makanan ini akan membuat kalian tetap hidup" --- "ibunya yang memperhatikan anaknya itu, hanya tersenyum dan berkata" --- "ya kamu harus jadi burung dulu to, biar bisa ngobrol sama mereka" ---

Kemudian Ella mengakhiri ceritanya, "ngerti kan maksudku Ice?" (waktu itu nick saya 'Ice9').

Menurut saya, seperti itulah memang latar belakang mengapa ada peristiwa Natal. Saat Tuhan menciptakan manusia, Dia sangat senang dengan ciptaanNya yang satu ini. Karena Dia menciptakan manusia sesuai Gambar DiriNya.
Bahkan saking gembiranya, Tuhan kemudian memberikan manusia kekuasaan tertinggi atas semua ciptaanNya yang lain. Tapi, yang terjadi kemudian, manusia mulai berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan dalam diri mereka. Dosa itu kemudian membuat "tembok pemisah" antara kasih Allah dan manusia. Dan, hari demi hari, waktu demi waktu, manusia semakin jatuh dalam dosa...

Tuhan, dari Sorga, dari tahtaNya yang Mahamulia, sedih melihat ciptaanNya ini semakin menjauhiNya. Dia memperhatikan tingkah laku manusia, Dia menangis. Dia kangen sama manusia. Sebentar-sebentar, Tuhan buka dompetNya, liat foto-foto kita disitu, foto yang mirip dengan rupaNya. Dia pengen ngobrol lagi sama manusia, bercanda bareng, dengerin curhat saat manusia sedang kesel, tapi karena ada "tembok pemisah" akibat dosa, Dia jadi susah buat melakukan itu semua.

Hingga, suatu saat, Tuhan buat keputusan yang membuat seluruh penghuni Kerajaan Surga heran. Ya, Dia memutuskan ingin menjadi manusia. Dia kemudian "turun tahta", meninggalkan segala kemuliaanNya, melepaskan "atribut" keilahianNya. Dia lahir ke dunia dalam sebuah kandang... bayangkan : sebuah kandang! Bukan di rumah sakit, bukan di atas kasur spring bed, bukan di sebuah kamar yang nyaman. Kalau anda seorang raja, kemudian ingin merasakan hidup sebagai rakyat biasa, apa mau tinggal dalam sebuah kandang? Untuk hari pertama anda sebagai orang biasa. Tuhan Yesus juga tidak memilih untuk dilahirkan dalam keluarga kaya, melainkan di sebuah keluarga tukang kayu. Apa Dia tidak bisa melakukan itu : hidup dalam keluarga yang kaya? Saya rasa Tuhan bisa melakukan itu, toh Dia Mahakuasa, bukan? Tapi, Dia tidak menginginkan itu : hidup dalam kemewahan. Dia memilih untuk merendahkan DiriNya, karena tujuanNya memang ingin merasakan yang manusia rasakan. Ingat, Dia adalah Raja : kemewahan, kenyamanan, dan segalanya adalah hal yang tiap saat Dia rasakan di KerajaanNya.

Mengapa Dia mau melakukan itu semua? Karena cinta. Tidak ada yang meragukan hal itu. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan cinta. Karena Tuhan TERLALU CINTA dengan manusia. Dia pengen berbicara, berada di tengah-tengah kita, ngumpul bareng, dan menyatakan cintaNya secara langsung pada manusia. Dia mau menyampaikan tentang keselamatan, berita kehidupan kekal, dan hal-hal lainnya yang manusia perlu tahu. Dan, untuk melakukan itu semua, Dia harus berbicara dengan bahasa yang manusia mengerti, bukan?

Bahkan, agar manusia tetap dapat "berkomunikasi" dengan Dia, Tuhan rela mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Dan oleh bilur-bilurNya, kita telah sembuh. Natal dan Jumat Agung, itulah bukti cinta Tuhan pada kita.
Tuhan ingin merasakan yang manusia rasakan. Gembira, sedih, sukacita, dukacita, berteman, kehilangan, dicintai, dikhianati, kesepian, dipuji, disakiti, dihina, dan hal-hal lain yang tidak bisa Dia rasakan di tahta KerajaanNya.

Dan peristiwa Paskah, adalah bukti bahwa Dialah Tuhan, Penguasa Alam Semesta, Dia bangkit dari kematianNya, mengambil kunci kerajaan maut, agar manusia tidak terjerat lagi dalam kuasa kerajaan maut (kematian kekal), tetapi kelak bisa hidup dalam kekekalan dalam Kerajaan Surga.

Oleh karena itu, peristiwa Natal, Jumat Agung, dan Paskah harus selalu kita kenang sebagai bukti kuat cinta Tuhan kita, Yesus Kristus, kepada kita-kita, ciptaan yang paling dicintaiNya. Gak ada Paskah kalau gak ada Jumat Agung. Dan gak ada Jumat Agung kalau gak ada Natal. Kalau Dia gak lahir ke dunia, hidup sebagai manusia, maka Dia gak akan bisa mati untuk menebus dosa kita. Juga kalau tidak ada peristiwa Paskah, apa yang membuat kita percaya bahwa Dialah Allah Yang Mahatinggi? Kalau Dia hanya lahir dan mati saja, gak ada bedanya dengan manusia biasa, bukan?

Oleh karena itu, tiga peristiwa tersebut seharusnya selalu kita ingat sebagai satu bagian rencana Allah akan keselamatan. Sebagai bukti cinta nyata kasih Allah kepada kita. Saat merayakan Natal, kita harusnya mengingat Jumat Agung dan Paskah. Begitu juga sebaliknya. Ucapkanlah "terima kasih karena Kau mencintaiku..." (dan Tuhan Yesus akan tersenyum dan berkata "I love you too" ^-^)

Dan sekarang pertanyaannya, apakah kita mau meneruskan cinta kasih ini pada sesama kita? Pada orang-orang yang membutuhkan kasih sayang, pada orang-orang yang merasa tersingkirkan, kesepian, dan menganggap cinta kasih adalah kemewahan bagi mereka. Cinta yang tulus dan murni, tanpa kontaminasi apa-apa.
Saya jadi teringat film Home Alone 2 (mungkin akan ditayangkan lagi saat Natal besok di RCTI), saat Kevin membagi kasihnya kepada seorang wanita tuna wisma, yang sudah tidak mempunyai keluarga, dan hanya mempunyai merpati-merpati di sekelilingnya.

(buat semua yang membaca post ini)
Selamat Natal... Selamat mengingat-ingat cintaNya dalam hidup anda... dan membagi cinta itu pada sesama.

NB (NamBah) :
*) Thanks buat Ella, buat cerita tentang anak-anak burung
**) Buat orang-orang yang selalu mempertanyakan "Tuhannya orang Kristen", ini jawabanku buat kalian.
***) Buat yang udah nyiptain lagu "We Are The Reason" (Karena Kita), karena lagu anda saya bisa nulis hal ini
****) Tuhan memang bisa melakukan segalanya, tidak ada hal yang tidak mungkin bagiNya... cuma ada satu hal, yang Dia tidak bisa lakukan, yaitu mengingkari cintaNya pada ciptaan yang paling dikasihiNya : semua umat manusia.

Thursday, November 26, 2009

Rokok itu Haram!...?...!? / Dilarang (Tidak) Merokok


Suatu malam, dua orang kakak-beradik, Lucky dan Starky, duduk di atap balkon rumahnya, dan memulai pembicaraan...

"Menurutmu dunia ke depan akan seperti apa?"

"Dunia ke depan akan semakin kacau. Itu karena penduduk dunia akan semakin banyak, lapangan kerja semakin sedikit, hiburan akan semakin mahal, banyak orang akan menjadi stres karena hal itu."

"Apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku akan membuat sesuatu yang bisa mengurangi jumlah penduduk dunia secara kasat mata, manusia akan berkurang setiap harinya. Tidak begitu kentara, tapi pasti ada yang mati setiap harinya karena barang ciptaanku.

"Bagaimana mungkin? Engkau akan menjadi seorang pembunuh?"

"Tergantung bagaimana masyarakat dunia menanggapi penemuanku itu. Tapi barang ciptaanku itu juga akan menjawab masalah dunia yang lain. Akan ada banyak lapangan kerja karena barang itu, banyak panggung hiburan akan aku support dari sebagian kecil hasil penjualan barang itu, dan orang akan menyukai barang itu karena mereka menganggap itu sebagai obat stres untuk mereka. Walaupun mereka tahu itu akan membunuh mereka secara perlahan, tapi barang itu membuat kemampuan mereka untuk berpikir akan menurun. Sehingga mereka lama-lama tidak berpikir akan hal itu. Bahkan sebagian dari mereka akan sangat menginginkan ciptaanku itu, melebihi apapun.

"Apa yang akan kau buat? Kedengarannya menarik"

"hahaha... kau belum mencobanya saja sudah bilang begitu. Ciptaanku itu akan kuberi nama ROKOK."

Walaupun itu hanya pembicaraan fiktif, tapi saya pikir, mungkin itulah yang dipikirkan oleh penemu rokok ratusan tahun yang lalu.

|
|
|

Sesuatu yang akan selalu menimbulkan kontroversi hingga sekarang. Kontroversi seperti layaknya saat kita membicarakan, "apa yang salah dengan menggunakan narkotika, seks bebas, dan pornografi?"

Di satu sisi, pengguna rokok (seperti halnya pemakai narkotik, pelaku seks bebas, dan penikmat pornografi) akan mempertanyakan mengapa merokok tidak boleh. Toh, (kata mereka) rokok itu bisa mempekerjakan banyak orang, jadi sponsor banyak kegiatan (ada yang bilang, "merokoklah yang banyak, biar liga Indonesia tambah bagus), dan lain sebagainya.
Sebagai pemakai narkotik, juga akan berkata demikian. Dengan pembelaan lain tentunya... "toh, kami juga gak merugikan sapa-sapa, uang untuk membeli narkotik juga uang kami (tapi jangan tanya darimana kami memperolehnya). Narkotik juga mempekerjakan banyak orang (pembuat, pemasok, pengedar). Dan, yang mungkin kalian tidak banyak yang tahu, narkotik juga sedikit banyak menjalankan roda ekonomi dunia."

Pelaku seks bebas dan penikmat pornografi juga memiliki pembelaan yang sama... sama seperti yang dipertanyakan konsumen rokok saat rokok dinyatakan haram.

Cuma yang saya tidak habis pikir, kenapa sampai sekarang cuma rokok, barang haram (karena mirip narkotik) yang tidak diharamkan secara resmi? Baru ada perarturan daerah, belum jadi undang-undang, yang memberi SANKSI TEGAS bagi penggunanya, sama seperti pengguna narkotik, pelaku seks bebas, miras, dan pornografi. Padahal, sama-sama merusak!

Apa karena rokok itu menghasilkan banyak uang buat negara? Saya mau bilang, "Pak SBY, kalau bapak melegalkan pelacuran, narkotika, dan minuman keras, sektor-sektor itu juga akan membuat bertambah pemasukan negara. Gak percaya? Buktikan saja."

Atau karena para alim ulama, tokoh masyarakat, petinggi negara, dan orang penting lainnya di dunia ini, sudah akrab dengan yang namanya rokok dari awal, dari sejak mereka beranjak dewasa?

Mungkin juga karena dunia sudah salah kaprah, melihat rokok sudah warisan budaya turun temurun, sehingga rokok dianggap hal yang wajar. "Kakek moyang gue aja perokok tuh, masak salah kalo keturunannya jadi perokok?"
Narkotika, minuman alkohol, seks bebas, juga merupakan warisan budaya. Benar kan?

Mungkin jawabannya... rokok itu gak merusak akhlak manusia. Beda sama hal haram yang lain. Tapi, apakah udah ada bukti kalo merokok itu gak merusak akhlak? Lha wong buat orang yang gak merokok, seorang perokok itu bisa disebut pengganggu. Jadinya nyusahin orang.
Rokok juga bisa jadi jembatan menuju narkotik dan hal haram lainnya kan? Sama kayak pakaian minimalis, tontonan adegan kissing lips, atau minuman "low alkohol". Hal-hal itu juga gak dilarang, tapi bisa menjadi "batu loncatan" ke hal-hal yang diharamkan.

Jadi, rokok itu...?

---------------------------------------

Salah satu hal yang mengusik saya, kalo ada yang bilang rokok itu tidak membuat kecanduan. Padahal orang gak sekolahan aja tau, rokok itu mengandung nikotin. Saya memang bukan orang kimia atau kesehatan, yang mengerti efek nikotin pada sebatang rokok. Tapi, baru-baru ini saya menonton film "The Insider", film yang bercerita tentang kisah seorang ahli kimia perusahaan rokok, yang memberi kesaksian tentang APA ITU ROKOK. Yang akhirnya malah mendapat teror dari perusahaannya karena hal itu. (susah memang jadi orang benar diantara banyak orang yang menganggap dirinya benar).

Beberapa scene dalam film itu,

Saat di persidangan, ahli kimia itu berkata, "nikotin menghasilkan respons psikologis yang bisa didefinisikan sebagai obat terlarang. Nikotin berhubungan dengan pengaruh yang kuat, kepuasan... itu memiliki efek farmakologis yang melewati hambatan darah-otak."

Saat ahli kimia itu melakukan wawancara dalam sebuah stasiun TV, "...mereka (pemilik perusahaan rokok) sudah lama tahu bahwa nikotin adalah zat adiktif, meskipun pernyataan ke publik justru sebaliknya. Tapi pernyataan ke publik itu salah. Satu alasan aku di sini adalah aku merasa kesaksian mereka salah. Kami berkecimpung dalam bisnis pengedaran nikotin. Kebohongan adalah hal lumrah di perusahaan (rokok) itu. Teknologi itu, kimia amonia, digunakan secara ekstensif. Itu membantu nikotin lebih cepat diserap hingga mempengaruhi otak dan sistem syaraf. Dan rokok bermaksud untuk itu, alat untuk mengedarkan nikotin. Letakkan di mulut Anda, nyalakan, dan Anda akan ketagihan."

Sampai saat ini pun, saya masih tidak mengerti mengapa orang mau merokok. Padahal dalam setiap bungkus rokok, sudah tertulis, "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN". Apa memang sifat manusiawi ya, kalau tambah dilarang, malah pengen dilakukan.

Yang aneh juga, iklan rokok selalu menampilkan ke'macho'an seorang pria. Seolah-olah memberi kesan, "kalo merokok kamu akan bertambah jantan, menjadi pria sesungguhnya". Iklan rokok juga selalu menarik, enak untuk dilihat.

Kok gak ada ya iklan rokok, yang menampilkan adegan seorang pria paruh baya, tergeletak di rumah sakit karena kanker paru-paru, terus temannya datang sambil jingkrak-jingkrak dan tertawa berteriak "enjoy aja".
Atau iklan rokok, yang menggambarkan seorang yang mati karena serangan jantung akibat merokok, terus di pemakamannya teman-temannya datang, menangis, dan bernyanyi "gak ada lo gak rame".
Iklan rokok yang sedikit action, kayak adegan Brad Pitt di film "Mr and Mrs Smith", seorang hitman membunuh semua orang di meja judinya... tapi dia tidak menyisakan satu orang tetap hidup, karena dilihatnya orang itu sedang merokok.
Terus hitman itu bilang "perokok?"
"i..iya" jawab orang itu ketakutan.
"ah, gak usah gue ditembak, ntar elo juga gak lama lagi bakal mati"

Ada yang minat bikin iklan rokok seperti itu? Saya sudah kasih beberapa ide lho.

Kalau melihat orang yang merokok, saya berpikir antara marah dan senang. Marah, karena dia polutan dan menganggu saya yang tidak merokok. Orang tolol yang bilang, "kenapa gak ngerokok? toh kamu kena efek 75% karena menghirup asap rokok. Kalo yang ngerokok kan cuma 25%?" Saya cuma bilang dalam hati, "GOBLOK! Emang elo gak menghirup tuh asap rokok? Jadinya elo kena efek 100%, tolol..."
Mengapa juga saya senang, karena perokok itu aset negara, aset dunia malah. Kalo gak ada dia, mana ada petani tembakau yang jumlahnya ratusan? Mana ada pabrik rokok yang mempekerjakan ribuan orang? Mana ada pendapatan negara dari cukai rokok? Mana ada Liga Indonesia? Mana ada tim Ducati di MotoGP? Mana ada tim Ferrari di Formula 1? Mana ada yayasan "Sampoerna untuk Indonesia"?
Lagian, kalo gak ada yang merokok, penduduk dunia juga bertambah banyak dalam waktu singkat. Semua pria menjadi subur, karena gak ada pria impoten. Angka kelahiran jadi banyak kan? Gak ada perempuan yang terkena gangguan kehamilan dan janin.
Terus gak ada lagi statistik 1000 kematian di dunia per jam, bayangkan dalam sehari kalo gak ada orang yang mati sebanyak 24000 jiwa? Bisa penuh dunia hari ini.
Jadi, saya (juga bisa) senang-senang aja melihat perokok, karena alasan-alasan itu.

Saya yakin, semua perokok di dunia ini tahu akan hal-hal yang saya tulis itu. Semua calon perokok, juga sudah tahu sebagian dari hal-hal tersebut.
Yang saya mau katakan, bijaksanalah dalam hidup ini. Hidup itu penuh pilihan, menjadi seorang perokok atau tidak itu juga pilihan. Dan di setiap pilihan itu, pasti ada konsekuensinya. Kemudian, hiduplah dengan konsekuensi itu. Jadilah manusia internal, yang jangan selalu menyalahkan keadaan sekitar atas apa yang terjadi, tapi koreksilah diri sendiri terlebih dahulu.

Masih mau merokok?

Wednesday, November 25, 2009

Karena Cinta Tidak Selalu Harus Berwujud Bunga...

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya
menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.
Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya..

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "teman baik" kamu datang
setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan
menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah
atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca
buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu
dan mencabuti uban kamu."
"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah.
Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."
"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di
tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.
"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya. "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita
merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka
cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud bunga...

-anonim-

Tuesday, November 10, 2009

Semua Terjadi karena Suatu Alasan

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.
Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu
pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ? ... Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? ... Kenapa bukan aku? ... Bagian diriku yang mana yang kurang? ... Mengapa aku diperlakukan kejam? ...

Aku berpaling pada ayahku. Katanya singkat, "semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? ...

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku ... "Semua terjadi karena suatu alasan." ...

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah... aku seorang pemenang! Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :

1. Apabila Tuhan mengatakan YA, maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.

2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK, maka kita akan mendapatkan yang lebih baik.

3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU, maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendakNYA (karena sejak kapan manusia tahu apa yang terbaik buat dirinya? Pikiran manusia terlalu dangkal untuk menyelami pekerjaan Tuhan dari awal hingga akhir -writer-)

--Frank Slazak--
forward by SR team.

Thursday, November 5, 2009

Hati Yang Penuh Syukur

Sering kita bertanya pada diri kita sendiri :

kenapa kita harus mengalami kesulitan... sementara orang lain bisa senang


kenapa kita harus bekerja keras sampai harus lembur... sementara orang lain sudah pulang ke rumah


kenapa kita selalu menjadi karyawan... sementara orang lain bisa jadi usahawan sukses

kenapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum... sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya


tapi pernahkah kita bertanya:

adakah orang lain yang lebih susah daripada kita... malah tidak pernah tahu bagaimana rasanya senang

adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sama sekali... sampai rela bekerja apapun


adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja tidak mampu bayar

kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?

kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi pada saat senang kita lupa pada Tuhan?

kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?

jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun, tapi di hati kita sendiri...

bersyukurlah selagi kau mampu untuk bersyukur... sebelum segalanya terlambat dan diambil darimu.