Friday, January 15, 2010

Tentang Pasangan Hidup (3)

Saya mau share sedikit cerita di keluarga saya.

Mama saya, menikah dengan Papa pada saat berumur 25 tahun. Awalnya, Mama saya tidak suka dengan Papa saya, karena tampang Papa saya saat itu tidak user friendly, sangar gitulah. Mama saya sangat cantik dan saat itu bukan hanya Papa saya yang mengejar-ngejar Mama saya. Ada beberapa pria lain.

Tapi mengapa akhirnya Mama saya memilih Papa yang bertampang sangar ketika itu?

Karena, Papa saya benar-benar jatuh cinta pada Mama saya. Padahal saat itu, Papa saya juga sedang disukai seorang wanita yang tergila-gila padanya. Wanita itu ingin memiliki Papa saya. Saya mau katakan, pria (pada dasarnya) tidak bisa berdusta, dan jarang berpura-pura. Papa saya tidak mencintainya. Papa saya pria sejati yang harus selalu memulai dan tidak bisa didahului seperti itu.
Kepada Mama saya lah, beliau jatuh cinta. Dan, saya sudah berpuluh-puluh kali mendengar bagaimana usaha Papa saya mendekati Mama saya. Mama saya juga pernah bilang, "Mama dulu takut lho liat tampang Papamu, dan biasanya Mama selalu bohong sama cowok kalau ada yang tanya alamat Mama (jaman itu belum ada ponsel, jadi masih pake surat cinta). Tapi, pas Papamu tanya alamat Mama, gak tau kenapa, Mama jawabnya jujur". Itulah, faktor "chemistry".

Mereka menikah pada tahun 1982. Dan, Papa saya berkali-kali jatuh cinta dengan wanita yang sama, yaitu Mama. Usia pernikahan mereka sudah 27 tahun dan perkawinan mereka bertambah kuat dari hari ke hari. Saya pikir, Mama adalah wanita yang paling bahagia di bumi ini karena dia tahu kuncinya. Dia dicintai, dilindungi, diperhatikan, dan diperlakukan bak ratu. Meskipun ada beberapa masalah rumah tangga dan ketidak cocokan, seperti yang saya pernah katakan, "pernikahan itu bukan masalah cocok atau tidak, tapi bagaimana belajar untuk menerima ketidak cocokan itu, dan mencari jalan tengahnya." Gak ada satupun pasangan di muka bumi ini yang benar-benar cocok, satu visi. Lha wong, ada 2 kepala dan berarti 2 pemikiran. Tapi karena 1 hati dan jiwa, jika benar dia belahan hati dan jiwa, semuanya pasti bisa dijalani dengan baik.

Sebaliknya, saya pernah menemukan ada wanita yang memulai terlebih dahulu, begitu agresif pada seorang pria. Akhirnya, dia memang mendapatkannya dan bahkan menikah dengannya. Namun sayang, sesungguhnya dia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Karena suaminya punya cinta yang lain. Wanita itu harus membayar harganya. Sangat mahal. Ia harus berkorban selama perkawinannya berlangsung. Ia harus berkorban materi yang terus-menerus dan yang paling menyedihkan selalu korban perasaan. Padahal bukankah seharusnya suaminya yang memenuhi kebutuhan materinya? Mukanya menjadi begitu kusut dan tubuhnya menjadi begitu kering. Karena tidak 'disirami' cinta suaminya. Karena suaminya punya cinta yang lain.

Wanita, daripada engkau mencintai pria yang tidak mencintaimu, atau hanya sekedar berpura-pura mencintaimu, mengapa engkau tidak belajar mencintai pria yang sangat mencintaimu dan memperlakukanmu dengan begitu berharga? Mungkin awalnya engkau tidak begitu menyukainya. Namun jika mengingat bahwa ia begitu mencintaimu, mengapa wanita tidak mencoba untuk BELAJAR mencintainya dan memberinya kesempatan.

Percayalah bahwa dalam kamus pria tidak ada istilah BELAJAR mencintai. Tidak peduli wanita yang ditujunya seperti apa, mau kurus atau gemuk, tinggi atau pendek, kulit putih atau hitam, rambut keriting atau lurus (bak bintang iklan shampoo), mau jenius atau LOLA (LOading LAmbat), atau sebut saja kekurangan lainnya, percayalah bahwa pria adalah mahkluk yang akan selalu jatuh cinta, bukan mahkluk yang belajar untuk mencintai. Tetapi, wanita bisa BELAJAR mencintai.

Tatkala melihat kegigihan seorang pria yang tidak pernah berhenti menaklukkan hatinya, tatkala melihat pengorbanan, perhatian dan kasih sayang yang diberikan, aku mendengar banyak kesaksian yang mengatakan bahwa pada akhirnya sang wanita menyerah. Mungkin benar yang dikatakan Will Smith "Setiap pria mampu membuat setiap wanita terpesona" (HITCH movie).

Para pria, anda juga DILARANG untuk berpura-pura jatuh cinta. Karena setelah engkau menjalaninya, lama-lama pura-pura itu akan hilang, kemudian engkau pasti akan berkelana mencari cinta yang lain dan engkau akan menyakiti hati seorang wanita yang telah mencintaimu... Karena bagaimanapun engkau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.

Para pria tidak dibenarkan untuk menjadi begitu baji**** dan memanfaatkan wanita yang jatuh cinta kepadanya, sementara itu ia sendiri menjalin cinta dengan yang lain. Para pria juga tidak dibenarkan menjadi begitu bre***** untuk memanfaatkan uang, fasilitas dan materi yang diberikan oleh wanita yang mencintainya (yang berharap bisa mendapatkan cinta sang pria). Itu adalah ciri pria yang licik dan pengecut! Bukan pria sejati...

Tentang Pasangan Hidup (2)

Ternyata banyak wanita tidak tahu bagaimana sejarahnya. Dari zaman Adam dan Hawa sampai sekarang, wanita memang didesain untuk tidak memulai terlebih dahulu dalam hal cinta. Ingat, Adam-lah yang pertama kali menyatakan ketertarikannya dengan berkata, "Inilah dia, tulang dari tulangku..." (pujian pertama dari lelaki untuk seorang wanita).

Ekstrimnya, wanita dilarang jatuh cinta terlebih dahulu dan mengejar-ngejar pria. Karena wanita memang tidak di "desain" untuk itu. Perihal ada budaya di daerah tertentu dimana pria dilamar oleh wanita, saya sangat tidak berminat membahasnya. Dan sampai hari saya masih menganggapnya sebuah keanehan, tapi saya menghormatinya.

Intinya : cowok menang milih, cewek menang nolak!

Cowok memang bisa memilih wanita mana saja yang dia suka. Cowok bisa saja jatuh cinta dengan wanita mana saja yang bisa membuat hatinya benar-benar "jatuh". Toh, sampai hari ini jumlah cewek di dunia ini jauh lebih banyak dari cowok (4:1). Tapi, kenyataan ini jangan disalah artikan bahwa pria boleh memiliki lebih dari satu wanita. TIDAK! Tuhan menciptakan manusia untuk hidup berpasang-pasangan, yang berarti 1 pria dan 1 wanita. Walaupun ada yang membenarkan pria boleh hidup (menikah) dengan beberapa wanita, tapi hal itu tidak membuat dunia ini menjadi lebih baik. Tanya saja alasan Sri Sultan Hamengkubuwono X, gubernur DIY saat ini, mengapa dia tidak ingin mempunyai banyak istri, padahal tidak ada yang melarangnya. Karena beliau melihat hal itu tidak baik untuk perkembangan psikis anak-anaknya. Beliau pernah berkata, "saya adalah anak dari seorang ayah yang berpoligami, saya mempunyai banyak ibu, tapi saya tidak bahagia dengan hal itu. Saya tidak ingin anak-anak merasakan seperti yang saya rasakan."

Dan memang pada kenyataannya seperti itu!

Tuhan menciptakan wanita dari SATU tulang rusuk pria. Kalau sampai pria memiliki istri lebih dari satu, pasti hidupnya akan "sakit-sakitan". Seperti manusia abnormal, yang mempunyai tulang rusuk lebih banyak dari manusia normal yang lain. Begitulah perumpamaannya.

Kembali ke inti permasalahan, "cowok menang milih, cewek menang nolak".

Cowok kalau nembak cewek, terus ditolak, respon selanjutnya ada dua, pertama: mencoba lagi untuk kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya... ATAU, tidak melanjutkan dan berkelana mencari yang lain lagi. Dan harga diri seorang pria tidak akan turun dan tercabik-cabik hanya karena cintanya ditolak (walaupun ada juga yang sebaliknya). Karena pria diciptakan untuk menjadi seorang pejuang sejati, dia pasti akan mencoba dan mencoba lagi. Sampai dapat!
"Emang cewek elo doang?". Pikiran seperti itu kadang ada di setiap benak cowok .

Bagi para cowok, kalau ditolak adalah hal yang biasa. Memang sedih untuk sesaat. Tapi tidak untuk meratapinya. Cowok di desain lebih banyak "bermain" dengan pikiran, daripada perasaan.
Jadi kalo ada pria yang sampe nekat minum racun serangga dicampur sirup dan es (biar segeeer) atau loncat indah pake gaya akrobat dari apartemen lantai 25 karena cintanya ditolak, saya jadi berpikir "siapa yang patut dikasihani atau disalahkan?" Jawab saya : Cowok itu... gak bisa pikir panjang, gak dewasa. Pantes aja ditolak...

Tetapi kalau wanita begitu agresif terhadap pria, lalu kemudian ditolak... "$B!!^%$&(B.."
Jawab sendiri kata yang tepat untuk itu, hehehe :)

Pria dan wanita sama-sama di desain untuk menjadi pemenang. Menang!

Cowok menang milih, cewek menang nolak. Tetapi, sekarang banyak wanita yang mencoba untuk merubahnya menjadi: cewek menang milih. Jadi kalau cewek menang milih maka berarti cowok menang nolak!

Masalahnya, apakah para cewek siap kalau ditolak cowok setelah "menang" milih cowok yang mana aja?

Tentang Pasangan Hidup (1)

Saya punya "adik" perempuan yang memimpikan menikah dengan pangeran tampan, tinggi, berkulit putih, tampang oriental, punya bentuk badan yang bagus, ya... seperti aktor-aktor drama Korea gitu. Macam Tao Ming She, Wo Ce Lee, dkk. Dia sangat berharap ingin punya pacar yang seperti itu. Dan kenyataannya, dia sekarang masih jomblo.

Pertanyaannya, salahkah berharap mempunyai suami idaman, yang secara fisik sangat sempurna?

Sebagai pria, saya juga mendambakan istri yang cantik, mempunyai tubuh yang indah, berambut hitam panjang, dan berkulit putih mulus oriental. Tapi kenyataannya, saya juga masih belum pernah berpacaran hingga saat ini.

Pertanyaannya masih sama, salahkah berharap mempunyai istri idaman, yang secara fisik sangat sempurna?

Kemudian, siang tadi saya coba merenung, kenapa beberapa orang bahkan mungkin banyak teman pria dan wanita saya (atau lebih tepatnya para semua jomblowan dan jomblowati di muka bumi ini) belum menemukan seseorang yang bakal menjadi pasangan hidupnya. Padahal menurut keyakinan saya, bagaimanapun minus-nya seorang pria/wanita (kalau ia menganggap dirinya demikian), paling tidak pernah satu kali menyukai seorang wanita atau "ditembak" pria, dengan kalimat ini, "Aku menyukaimu" atau "Bersediakah engkau menjalani hubungan yang lebih serius denganku?".

Dan saya sangat yakin dengan keyakinan saya itu. Mengapa?

Karena sejelek-jeleknya anda, atau seburuk apapun rupa diri anda (kalau anda menganggap diri anda demikian), pastilah ada belahan jiwa anda di luar sana yang sedang mencari dan menunggu anda. Tapi masalahnya, anda suka membuat standar yang terlalu tinggi buat pasangan hidup anda. Sehingga, saat jodoh anda "lewat" di depan hidung anda, anda tidak pernah menyadarinya, karena, pikiran anda mengatakan "bukan tipe saya".

Saya suka dengan mitos, cerita kuno yang mengatakan, dahulu kala manusia diciptakan dengan dua kepala tapi mempunyai satu tubuh, satu hati, tapi mempunyai pikiran yang berbeda. Walaupun mempunyai 2 kepala dan 2 pemikiran, tetapi manusia itu belajar untuk saling menerima pemikiran dari kepala yang berbeda itu, karena mereka mempunyai satu hati. Tapi, manusia itu juga sering bertengkar, dan kemudian protes kepada para dewa. Kemudian, para dewa memisahkan tubuh dan kepala itu, menjadi 2 manusia yang berbeda, tetapi jiwa dan hati mereka dibagi dua, manusia yang satu mempunyai setengah bagian, dan setengah bagian yang lain pada manusia satunya. Jadilah pria dan wanita, dan kemudian para dewa membuat mereka tercerai berai ke seluruh belahan bumi.

Tapi, masing-masing manusia itu, pria dan wanita, selalu merasa dirinya tidak utuh. Mereka bertanya pada para dewa sebabnya. Tentu saja, karena hati dan jiwa mereka hanya setengah, jadi tidak akan mencapai kesempurnaan dalam hidup di bumi. Selanjutnya, tugas manusia-manusia itu adalah mencari bagian hati dan jiwanya yang hilang. Itulah sebabnya, pasangan kita sering disebut "belahan hati dan jiwa".

Dan beberapa fakta dan kisah juga menunjukkan hal itu.

Pernah dengar Maria Beatrix? Gadis yang dijuluki "si buruk rupa" dengan bentuk tangan dan kaki yang sama sekali tidak sempurna, menggunakan kursi roda, namun bisa menemukan "pangeran" yang baik hati berdarah Inggris. Pria ini begitu setia mendampinginya bahkan berhasil mengajari Maria untuk berenang. Dan, mereka menikah, menjadi satu tubuh, hati dan jiwa kembali.

Atau Nick, seorang pria cacat tanpa kaki dan tangan, hidup di kursi roda, tapi bisa menikah dengan wanita cantik seperti pada dongeng-dongeng Walt Disney. Apakah wanita itu buta? Tidak juga. Dia sangat sadar dengan keadaan Nick, dan saya yakin dia merasa "inilah belahan hati dan jiwa saya".

Jadi, kalau mau banding-bandingan dengan Maria atau Nick, bagaimana mungkin anda bisa mengatakan diri anda buruk rupa dan pasti tidak akan ada manusia yang melirik anda untuk dijadikan istri/suami?

Masalahnya...?

God is a Director

God is a director... what movie?

Kata-kata itu tertulis di shout out facebook saya beberapa bulan yang lalu, ketika saya sedang jatuh cinta pada film cin(T)a. Saya sempat tulis tiga kali di boks "what's on my mind". Tapi, tidak ada tanggapan dari orang-orang di list friend saya. Tapi, tak mengapa. Seperti yang saya bilang sebelumnya, tepatnya, saya tulis sebelumnya, saya memang bukan orang terkenal seperti Raditya Dika atau Sena Gumira Ajidarma. Jadi, wajar saja jikalau tidak ada orang yang berminat memberi komen di "status" facebook saya.

God is a director, what movie?

Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya sore ini. Beberapa jam yang lalu. Saat saya berada di lantai empat plaza paling terkenal di kota saya, Yogyakarta.

Saya melihat ke bawah, dan saya mulai menghitung mundur... 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, ... saya ingin loncat hingga ke lantai dasar! Saya sudah bosan dengan hidup ini. Saya ingin memutuskan kontrak hidup saya secara sepihak. Saya sudah muak dengan basa-basi, juga saya sudah mulai jijik dengan manusia-manusia berkepala binatang di sekitar saya.

Tapi, entah hanya perasaan saya karena melihat sepasang remaja duduk di lantai bawah sana, saya teringat kata-kata di film itu. God is a Director... what movie? Film apa?
Dan saat itu saya menemukan jawabannya : film tentang diri saya sendiri. Film tentang kehidupan saya di dunia ini. Film tentang drama kehidupan yang berakhir dengan bunuh diri atau ... Tapi saya masih belum mengerti. Mengapa tidak ada kata 'cut' atau 'bungkus', seperti kata-kata sutradara di mahakaryanya.
Saat saya mau lompat, tidak ada asisten sutradara atau ekstras yang mencoba mencegah saya. Apa memang hidup saya berakhir di lantai dasar sebuah plaza?

Saya menghitung lagi, kali ini lebih lama... 60, 59, 58, ... , 20, 19, 18, ... 3, 2, 1, ... saya menutup mata saya. Mencoba berkonsentrasi mendengar suara di tengah keramaian suasana. Tidak ada apa-apa. Saya coba tajamkan telinga saya, tidak ada suara selirih apapun menggetarkan gendang telinga saya. Tidak ada kata : 'cut', 'bungkus', 'rolling', 'action', dan lain-lain. Saya membayangkan, seperti di film-film, kalau orang ingin mengakhiri hidupnya, tiba-tiba ada yang datang memperingatkan. Entah melalui tepukan di pundak, suara ponsel tanda sms/telepon, atau pandangan mata tertuju pada suatu tulisan, "jangan lakukan itu" atau "hidup ini indah". Tapi, hal-hal itu tidak ada.

Apa memang Sang Sutradara itu ingin mengakhiri film kehidupan saya disini? Tapi, mengapa itu tidak terjadi beberapa menit yang lalu? Jikalau saya melompat sekarang, dan saya kembali urungkan niat saya, apakah saya akan didorong orang tiba-tiba? Agar skenario film kehidupan saya menjadi nyata?
Saya kembali melihat ke bawah. Melihat orang-orang dengan antusias mengelilingi plaza ini, melihat-lihat tempat ini seolah-olah baru pertama kali mereka datangi. Ada sepasang kekasih, ada keluarga dengan anak kembarnya, ada kakek-nenek dengan rambut yang mulai memutih, juga ada seorang wanita berjalan dalam kesendiriannya.

Ah... saya tahu. Dia, Sang Sutradara itu bukan tipikal sutradara yang mengharuskan pemainnya melakukan apa yang ia mau. Dia, Sang Sutradara itu, adalah sutradara yang mengijinkan pemainnya melakukan apa yang dikehendakinya. Dia hanya memegang skenarionya, tahu apa yang akan menjadi akhir cerita. Hanya saja, jalan ceritanya terserah sang pemain ingin berlakon seperti apa. Sang Sutradara itu juga selalu mempunyai "rencana B", jika sang pemain tidak menyelesaikan "rencana A". Saat sang pemain merasa telah jauh berlakon dari skenario awal, dan ia merasa tersesat dengan jalan ceritanya sendiri, Dia, Sang Sutradara itu memegang skenario cadangan yang telah Dia siapkan sebelumnya. Ya, Sang Sutradara itu Mahatahu, psikolog jenius yang bisa menebak sejauh mana, kira-kira sang pemain akan lari dari skenario awal. Sekarang hanya tinggal bagaimana si pemain. Apakah ia ingin tetap tersesat di skenario yang ia buat, atau mendatangi Sang Sutradara itu untuk meminta skenario lain sebelum ia sekarat.

Saya, wanita itu, keluarga itu, sepasang kekasih itu, dan kakek-nenek itu, masing-masing, mempunyai skenario yang berbeda. Dan dibalik itu semua, Sang Sutradara duduk di kursinya, dibantu oleh jutaan asistennya, mengamati film kehidupan yang sudah Dia tuliskan sejak dahulu kala. Dia membuat segalanya di awal, menyerahkan pemainnya bermain total, tetapi Dia tetap memegang hasil akhirnya.

Andai saja, saya tetap melompat dari lantai empat, saya yakin itu bukan skenario yang Dia buat. Oleh karenanya, saat film kehidupan saya selesai disitu, saya tidak akan pernah menjumpai Sang Sutradara itu.

Tetapi, saat saya mulai turun ke lantai dasar, dan mulai merasa lapar, saya merasa mulai menjalankan skenario cerita yang berbeda, karena skenario awal telah gagal.

Seharusnya aku tak patut bersedih, atas semua yang terjadi kepadaku,
aku merasa bahwasanya hidup ini tak lebih dari sebuah perjalanan.
Hingga saatku tiba... kuharap temukan apa yang aku cari.
(Padi - Menanti Keajaiban)

PS. Bukankah tiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan?

Mau Enaknya, Gak Mau Anaknya (2)

Well, memang susah si, untuk tidak melakukan hal yang terlarang itu, apalagi kalo pacaran udah mulai 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun… pasti minta lebih mulu (biasanya si cowok). Mulai bosen cuma pegangan tangan, mulai pegang yang lain-lain. Mulai jenuh cuma cium kening dan pipi, minta cium bibir. Dan seterusnya... Biasanya sang arjuna akan mulai menyanyikan lagu lama yang diremix ulang, “sayang, kamu cinta gak sama aku? Kalo iya, kenapa kita ngelakuin itu? Toh nanti kita juga akan menikah…” dan kalimat-kalimat seperti itu yang dari jaman ke jaman diremix ulang dan ditambah-tambahin intro sama refrein.

Dan memang, seperti yang kita semua tahu, wanita kelemahannya di telinganya. Laki-laki di matanya. Jadi para lelaki akan gampang jatuh karena tingkah laku wanita (juga cara wanita berpakaian), dan wanita karena puji-pujian (baca : rayuan gombal) yang mampir di telinganya. Jadilah, karena pendekatan psikis seperti itu, banyak wanita berprofesi sebagai SPG, cowok sebagai musisi atau penulis puisi (pada umumnya).

Kalo menurutku ya, menurutku lho, buat menghindari Sex Before Married (SBM) mulailah dengan pacaran yang sehat. Lari pagi bareng, makan makanan sehat, fitness bareng, sepedaan bareng… hehe.

Ya begitu bisa. Tapi pacaran yang sehat, juga bisa diartikan, pacaran yang masing-masing pasangannya sehat jiwa dan pikirannya. Artinya dewasa. Gak selalu menuntut (anak kecil ‘kan bisanya cuma nuntut kan?).

Ingat, pacaran itu berarti proses pengenalan, penjajakan, dan jangan pernah berpikir “aku udah kasih kamu ini, itu, iki, iku, ya kamu juga harus kasih aku juga dunk”. Itu namanya bukan pacaran, tapi dagang pake sistem barter (pernah saya tulis sebelumnya).

Terus, kalo pacaran, libatkanlah orang lain, bisa teman, kakak, mama, papa, opa, tante, om, teteh, ponakan, pak supir, bibi, terus pacarannya naik mobil To**ta Ki**ng deh biar muat semua :)p

Ya intinya kalo pacaran, libatkanlah juga orang lain… jangan cuma berduaan terus (kan kalo ntar udah nikah, semua orang juga dilibatkan? Masa’ ada 2 orang nikah cuma berduaan aja gitu?). Selain itu, juga biar bisa saling menjaga kalo pas berdua udah gak kuat (kan malu kalo kissing lips di depan kakek ato ponakan?).

Yang ketiga, tau batas-batasan pacaran. Ingat, ini pacaran, belum pernikahan. Jadi jangan selalu semua-semuanya sah-sah aja. Mandi bareng, sah. Berduaan di kamar, sah. Tidur bareng, sah. Lama-lama jadi basah...
Harus tahu lah mana yang harusnya dilakukan, mana yang enggak. Obrolin dulu di awal-awal masa pacaran, bila perlu bikin surat perjanjian pake materai. Biar kalo melanggar, ada sanksi hukumnya.

Selanjutnya, buat cowok, anggap pacar kita tuh adik kita… kan enggak mungkin kita jahat sama adik perempuan sendiri (kecuali kelainan jiwa). Terus berpikirlah, bahwa apa yang kita lakukan, bisa berpengaruh buat wanita-wanita di sekeliling kita (mama, kakak, ponakan, adik, teman, anak perempuan kita suatu hari nanti). Kalau kita membegitukan (menyetubuhi) pacar kita, ingat hal itu juga bisa terjadi sama orang terdekat kita (hukum tabur tuai -karma-).

Kalo udah yakin dengan tingkat kedewasaan kita, yakin sama komitmen kita (komitmen, satu hal yang cowok susah banget buat lakuin), yakin sama kemampuan kita, jangan lupa bawakan dalam doa sebelum kita melangkah ke tingkat pacaran. Jangan lupa minta pendapat ortu kita juga, kakak kita, atau orang-orang yang di’tua’kan oleh kita. Yakin deh, sampe kakek nenek, bakal langgeng terus… amin.

Katanya orang bijak...
Andaikata seks yang Anda berhalakan selama pacaran, justru dalam kehidupan pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda nanti, seks tidak akan bisa Anda nikmati. Apa yang Anda sakralkan waktu berpacaran, itu yang akan Anda nikmati pada saat menikah nanti.

Kata B.I.P (di lagunya yang berjudul 'Atas Nama Cinta')

Seseorang memelukmu erat, dan membisikkan cinta padamu,
itu belum… jangan kau mau

Seseorang memujamu, bertekuk lutut di kakimu,
itu belum… tak semudah itu

Saat mahkotamu hilang... saat mahkota kau berikan...
Jangan sampai kau sesalkan...
Saat itu kau kenang selamanya...


Jangan sampai itu terjadi, dengan nama cinta, atas nama cinta
Jangan sampai itu terjadi, walau dengan cinta, atas nama cinta
Jangan sampai itu terjadi, walau dia meminta, atas nama cinta


Jikalau sayang padamu, jika dia cinta padamu, dia pasti mau menunggu
Jangan ragu, (dia) akan meninggalkanmu

Kalau sampai itu terjadi tanpa nama cinta… (what %&??&*+_)(*$@(%%^&* ?????)


PS. Hidup itu memang pilihan, termasuk dalam hubungan dua insan. Pilihan itu ada di di depan anda, silahkan bagaimana menyikapinya.