Monday, May 17, 2010

Aku Bosan

Kepada: Jenderal Bintang 4 (SS) Jonathan P. Antonio

Aku sudah bosan dengan saya. Aku ingin menjadi diri sendiri. Aku terkadang ingin melakukan hal gila seperti mereka. Menembak M-60 ke udara tanpa sasaran, melakukan manuver dengan Squadron SS-1 sambil menjatuhkan C60 ke daerah lawan, atau melemparkan satchel charge ke truk berisi 1 kompi personel. Aku sudah bosan menjadi saya, yang segalanya diatur dengan protokol. Kadang aku ingin melepaskan tanda pangkat di pundak saya, dan melakukan hal-hal menyenangkan seperti para prajurit tingkat pertama.

Aku bosan menjadi saya, yang selalu berusaha memahami situasi. Tapi saya sebenarnya juga ingin dipahami situasinya. Aku tahu itu. Oleh karenanya, aku bosan dengan saya. Aku tidak bebas karena saya.

Aku terkadang hanya ingin menjadi diri sendiri saja. Seperti saat aku menjadi pemimpin regu Snaps, dan menghabisi manusia di satu pulau yang memang ingin dihancurkan. Aku menikmati itu semua, saat aku menjadi seorang Sersan, bukan seperti sekarang, saya menjadi seorang staf salah satu komando penting, menjadi perwira menengah, seorang Letnan Kolonel. Ya, Letkol, bukan Kolonel seperti yang selama ini mereka tahu. Saya seorang Letkol dengan lencana seorang Jenderal Bintang 1. Aneh? Ya, mereka yang tidak tahu juga berkata saya aneh. Tapi aku tidak sependapat.

Terkadang usia tidak mencerminkan pangkat seseorang. Bisa lebih tinggi atau rendah. Entahlah, bukan aku atau saya yang membuat aturan itu semua.

Aku hanya bosan menjadi saya. Aku ingin menjadi aku, yang bosan dengan memahami, yang muak dengan basa-basi, tidak seperti yang dilakukan saya selama ini.

Signs,

Letkol. (SS) Victor Hasiholan
(2nd command in middle earth)

Saturday, May 15, 2010

Stay Together for Kids

Di mantan blog saya, terakhir saya nulis tentang perceraian.. patah hati.. pengkhianatan cinta.. apalah sebutannya. Entahlah, sebenarnya saya gak ngerti maksudnya apa. Saya juga belum mengalaminya. Tapi saya sudah tahu apa dampak jangka panjangnya ... yang sayangnya, kurang terpikirkan oleh beberapa orang. Saya hanya mengingatkan, itu saja.

Tulisan saya itu memang sangat terbaca sarkasme. Di luar jalur biasanya saya menulis. Tapi bukankah begitu kenyataannya? Kasus perceraian rumah tangga di atas bumi ini sudah di luar batas normal. Gila! Dan saya melihat itu, sebagai penyebab menurunnya toleransi antar manusia. Yang jangka panjangnya, hal ini menjadi penyebab hilangnya kasih sayang antar manusia. "Where is the love?" kata Black Eyed Peas. Atau kata Blink 182, "it's not right" dalam lagunya yang berjudul "Stay Together for Kids".

Tapi, buat mereka yang sudah bercerai, pasti akan bilang ini hanya sampah. "Itu hanya pendapat dari orang yang belum menikah, dan tidak tahu rasanya hidup berumah tangga," kata mereka. Iya benar, saya belum menikah. Saya juga belum punya pasangan. Tapi saya tidak buta. Saya tahu bagaimana dampaknya. Saya hanya memberi saran buat yang belum melakukan perceraian: jangan lakukan itu (perceraian rumah tangga). Terlihat sangat egois. Gak baik juga untuk contoh generasi yang akan datang (anak-anakmu).

Buat yang sudah bercerai, apalagi yang berkali-kali kawin-cerai, ya nikmatilah itu. Kalau batinmu jadi bertambah kacau karena hal itu, hiduplah dengan kenyataan itu. Berani melangkah, harusnya berani hadapi resikonya. Berani menikah, harusnya berani hadapi semua tantangannya. Bukan pergi begitu saja, saat semuanya tidak berjalan baik-baik saja.

Dampak perceraian... ya, itu yang mau saya utarakan. Saya mengenal beberapa anak hasil korban perceraian orang tua. Baiklah, kalau ada yang berkata, "mereka baik-baik saja." Atau "kalau anak selalu hidup dalam konflik rumah tangga, tidak baik untuk perkembangannya." Saya mau bilang: BULLSHIT! Omong kosong. Itu hanya pernyataan pembenaran. Perkataan pembelaan dari orang yang melakukannya. Tidak ada yang baik-baik saja dari peristiwa perceraian. Disadari atau tidak, itu hanya meninggalkan luka batin yang dalam. Mungkin tidak terlihat oleh orang sekitar, bahkan keluarga dekatnya. Tapi percayalah, itu yang dirasakan oleh mereka yang menjadi korban. Dan luka batin yang dalam itu, berubah menjadi trauma.

Lihatlah, berapa banyak anak korban perceraian yang takut untuk menikah. Takut untuk menjalin hubungan. Mau diakui atau tidak, hal itu adalah buah kepahitan yang tertanam dalam diri mereka. "Semua laki-laki itu brengsek," atau "semua perempuan itu pelacur."

Tapi memang, ada juga anak korban perceraian yang hidupnya baik. Tapi tidak baik-baik saja. Mana ada sih gelas kaca yang terbelah dua, tapi tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Bisa disatukan lagi tanpa terlihat bekas-bekas pecahannya? Kalau pakai lem ajaib dari kantongnya Doraemon mungkin bisa.
Ya, di dunia ini tidak ada yang absurd. Hanya kebenaran dari Sang Pencipta lah yang mutlak. Semua yang ada di dunia ini itu relatif.

Saya hanya pernah belajar dari seorang istri yang mempertahankan rumah tangganya, betapapun brengseknya sang suami. Dia pernah bilang kira-kira seperti ini, "lha wong saya udah janji sama Tuhan buat hidup bersama, susah atau senang, sehat atau sakit, ya saya bakal tepati janji itu. Kalau Tuhan yang mempersatukan, pasti saya akan diberi kekuatan. Tapi kalau Tuhan berkehendak lain, biarlah kami bercerai oleh kematian. Biarlah saya mati saat disiksa suami, atau mati karena penyakit. Tapi saya tidak pernah menyerah, saya yakin suatu hari nanti suami saya akan berubah menjadi lebih baik. Saya mencintai anak-anak saya, saya tidak mau meninggalkan mereka sendiri."

Untuk beberapa perempuan modern, hal itu memang terlihat konyol. Terlihat tolol. "Hari gini masih betah sama laki-laki brengsek?" gitu kata mereka. Yang kemudian mengurus sidang perceraiannya.

Tapi saya lihat pengaruh positif ke anak-anaknya, "saya lihat mami berjuang keras buat hidupnya. Buat hidup kami. Buat keluarga kami. Saya harus bisa seperti itu. Kalau nanti saya menikah, mami pernah bilang kalau saya harus hadapi semua resikonya. Mami mengajarkan pada kami, untuk tetap fight pada apa yang sudah jadi pilihan kami. Ya saya juga harus bisa seperti mami."

Dan keluarga itu sudah memasuki usia pernikahan ke 32 (kalau gak salah inget), dan suaminya sudah menjadi "baik". Beberapa tahun lalu, suaminya diberi anugerah penyakit stroke yang membuatnya lumpuh. Sekarang, dia hanya bisa duduk di kursi roda, dengan perawatan dari istri tercintanya. Wanita hebat, yang berjuang untuk rumah tangganya.

Anak-anaknya juga sudah "menjadi orang" semua. Perkara karma karena kelakuan salah satu orang tuanya (ayahnya), itu 100% urusan Tuhan, saya tidak berhak berkomentar soal itu. Saya hanya melihat itu semua sebagai sebuah pelajaran.

Tidak ada yang sia-sia saat kita mau berjuang. Tidak ada yang terlalu sakit saat kita mau mempertahankan biduk rumah tangga kita. Mungkin sakitnya hanya sebentar. Atau bisa saja sampai mati. Tapi itu semua memang patut diperjuangkan, worthed it, karena kita sudah berani melangkah untuk masuk di dalamnya, dalam rumah tangga dan segala yang ada di dalamnya.

********/*******

Mengapa (begitu mudah) bercerai?

Saat beberapa pasangan lain, berjuang hingga titik darah penghabisannya mempertahankan hidup rumah tangganya, beberapa pasangan lain dengan mudahnya memencet nomor ponsel pengacaranya.

Saat beberapa pasangan lain, menangis dan mencoba bertahan di kerasnya hidup rumah tangganya, beberapa pasangan lain dengan mudahnya mulai mencari pengganti istri/suaminya.

Saat beberapa pasangan lain, memutar otak mencari penyelesaian perselisisihan dan masalah rumah tangganya, beberapa pasangan lain dengan mudahnya berpikir untuk bagaimana mengakhiri itu semua di pengadilan agama.

Sebaiknya, dan mungkin seharusnya, kata "cerai" itu dibuang dalam kosakata hidup kita, saat masuk dalam babak baru sebuah kehidupan: hidup berumah tangga. Sehingga saat masuk masa "ring of fire" dalam hidup rumah tangga kita, kita lupa bagaimana mengatakannya.


-apa yang telah dipersatukan Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia-

Friday, May 14, 2010

To: Vice9


Hai Vice9. Sudah lama gak coret-coret di dindingmu.

Maafkan aku.

Aku akui, kamu orangnya keras. Punya kemauan pribadi yang ... tidak semua orang bisa cocok. Istilah mereka, "kamu orangnya kaku."

Ha... sekarang aku baru mengetahui itu. Hasil psikotes yang menunjukkan "nilai bersosialisasi" kamu nol besar, sepertinya memang menunjukkan dirimu apa adanya. Kamu tidak cocok berada di tengah kumpulan manusia, sekalipun di dunia maya.


Vice9, aku kembali lagi pada dirimu. Dari kesedihanmu sekarang, keputus asaanmu sekarang, aku hanya ingin kamu pergi dari kumpulan manusia, dari mereka.
Sekarang, kamu hanya merasa bodoh telah melakukan itu semua. Ternyata hanya sebatas itu saja, kan? Ternyata hanya sampai disini saja, bukan? Sekarang, semuanya terlihat jelas.

Sangat jelas.

Kamu kecewa dengan manusia. Tapi itu wajar ya? Jenderal 7 bintang saja berulang kali berkata hal yang sama. Hingga para Jenderal bintang 3 dan bintang 4, berencana memusnahkannya, walau sampai sekarang aku dan beberapa Jenderal bintang 1 dan bintang 2, tidak sepakat dengan keputusan pemusnahan massal itu.

Vice9, tolong untuk mengerti ini semua. Karena bagaimanapun aku sadar, aku seperti kamu, aku dan kamu bukan berasal dari dunia.


-Letkol. (SS) Victor Hasiholan-
YK, 140510, XS56XY78

Friday, April 23, 2010

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.

If children live with fear, they learn to be apprehensive.

If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.

If children live with ridicule, they learn to feel shy.

If children live with jealousy, they learn to feel envy.

If children live with shame, they learn to feel guilty.

If children live with encouragement, they learn confidence.

If children live with tolerance, they learn patience.

If children live with praise, they learn appreciation.

If children live with acceptance, they learn to love.

If children live with approval, they learn to like themselves.

If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.

If children live with sharing, they learn generosity.

If children live with honesty, they learn truthfulness.

If children live with fairness, they learn justice.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.

If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.

If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Excerpted from the book CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE
©1998 by Dorothy Law Nolte and Rachel Harris
The poem “Children Learn What They Live”
©Dorothy Law Nolte

Wednesday, April 14, 2010

DUNIA MEMBUTUHKAN ORANG - ORANG :

yang tidak bisa dibeli;

yang perkataan-perkataannya bisa diandalkan;

yang lebih menghargai karakter dari pada kekayaan;

yang mempunyai pendapat sendiri dan berkemauan keras;

yang lebih besar dari jabatannya;

yang tidak gentar untuk mengambil resiko;

yang tidak kehilangan individualitasnya dalam kumpulan massa;

yang jujur terhadap soal-soal yang kecil maupun yang besar;

yang tidak mengadakan kompromi dengan yang jahat;

yang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri;

yang tidak mengatakan bahwa mereka melakukan sesuatu, karena "tiap orang melakukannya";

yang setia kepada kawan-kawannya dalam keadaan susah dan senang;

yang tidak percaya bahwa kelicikan, keras kepala, dan tipu muslihat adalah cara-cara untuk mencapai sukses;

yang tidak malu atau takut untuk berpegang pada kebenaran meskipun tidak populer, dan

yang dapat berkata "tidak" dengan tegas, meskipun seluruh dunia berkata "ya".