Saturday, January 8, 2011

Menulis ala William Forrester

Suatu hari di sebuah ruangan HRD.

Setelah menutup map yang berisi beberapa lembar kertas yang berisi surat lamaran, CV, dan portofolio; dia berkata pada wanita yang duduk di hadapannya. "Kami membutuhkan seorang penulis. Orang yang bisa menulis setiap hari, bahkan mungkin setiap jam. Anda bisa melakukannya?"

Dengan yakin wanita itu berkata, "bisa. Saya yakin bisa."

"Apa yang Anda tulis setiap harinya?" Tanya staf HRD kemudian.

"Setiap hari saya selalu update 'news feed' di facebook, dan setiap jam saya update status di twitter." Katanya dengan mantab.

********/*******

Beberapa orang menganggap kegiatan (juga pekerjaan) menulis adalah hal yang susah, ribet, dan membutuhkan kemampuan khusus. Tapi toh nyatanya orang-orang itu bisa dengan mudah menulis 'news feed' di akun facebooknya dan update status twitternya. Jadi apakah menulis itu susah dan membutuhkan kemampuan khusus?

Teman saya, sebut saja Parah Cin, selalu heran jika saya duduk di depan laptopnya, lalu mengetik apa saja, menuliskan begitu saja ide-ide yang ada di kepala saya. "Kok bisa sih?" Komentar yang biasa dikatakannya. Padahal di lain waktu, saya juga geli melihatnya bisa dengan lancar memencet keypad Blackberrynya saat update status twitter atau 'bebeeman' (Blackberry Messenger).

Kegiatan menulis sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan oleh orang-orang seperti Parah Cin. Walaupun saya juga pernah menganggapnya demikian. Tapi pandangan itu berubah setelah saya menonton film "Finding Forrester", dimana salah satu adegan yang paling saya ingat adalah ketika William Forrester mengajari Jamal Wallace mengetik dengan jari-jarinya. Tugas kita menulis, bukan berpikir. Jadi tulis saja apa yang kamu mau tulis, seperti berkata-kata. Nikmati dan rasakan jari-jarimu menari di atasnya (tuts mesin tik). Kira-kira begitu yang dikatakannya.

Meskipun menulis juga memerlukan beberapa teknik seperti penempatan tanda baca, menuliskan ejaan dengan benar, dan lain sebagainya; tetapi bukankah itu bukan tugas dasar seorang penulis? Saya sependapat dengan Forrester: tugas penulis itu menulis, bukan berpikir. Mengoreksi tulisan itu pekerjaan seorang proof reader atau seorang editor. Walaupun nantinya seseorang yang terbiasa menulis akan tahu teknik-teknik menulis yang baik. Tapi bagaimana cara memulai untuk menulis adalah sesuatu yang berbeda. Tiap orang mempunyai gaya, seperti layaknya logat atau cara tiap orang berbicara.

Mengutip sebuah kalimat yang pernah dikatakan seorang penulis, saya lupa siapa dia, seekor burung bernyanyi bukan karena dia ingin bernyanyi, tetapi karena burung itu mempunyai sebuah lagu untuk dinyanyikan.

Begitu juga dengan penulis. Seseorang menulis bukan karena dia ingin menulis, tetapi karena orang itu mempunyai sebuah pikiran untuk dituliskan. Pikiran yang terlalu berharga jika hanya diucapkan. "I talk (to TV) things I think not worth writing about." -Truman Capote-
Karena kata-kata yang keluar dari mulut seseorang sifatnya hanya sementara, tetapi tulisan bersifat abadi dan selamanya. Walaupun si pemilik pemikiran sudah berubah pikiran, tetapi pemikiran yang dia tuliskan akan selalu tinggal di pikiran pembacanya. Itulah mengapa ada kalimat: tanpa penulis di sebuah jaman, sejarah tidak bisa diingat selamanya.


Tips menulis yang sederhana: banyak-banyaklah membaca. Karena sebagian besar pembaca pasti menulis, dan semua penulis pasti membaca. Jangan berkhayal menjadi penulis yang baik jika tidak pernah membaca. Bahkan seseorang pernah berkata: being a good writer is 3% talent and 97% not being distracted by the internet. Jadi sebenarnya pengaruh bakat menulis itu sangat sedikit. Jika seseorang tekun membaca, paling tidak dua (2) jam tiap harinya, dapat dipastikan orang tersebut dapat menulis dengan baik juga.

Tips menulis lainnya: usahakan setiap hari menulis. Walau hanya sedikit itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Update status twitter dan menulis 'news feed' di facebook, bisa juga dikategorikan sebagai kegiatan menulis. Itu sebabnya twitter dan teman-temannya disebut microblogging. Kemudian ketika ruang 140 dan 420 karakter dirasa tidak cukup, ada wadah lain yakni blog atau buku catatan harian. Menulis bisa dimana saja, itu intinya.

Akhir kata, mencontek sebuah kutipan dialog di film 'Ratatouille': everyone can cook. Setiap orang bisa memasak. Sekarang saya juga ingin berkata: everyone can write. Setiap orang bisa menulis.


You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is... to write, not to think! [William Forrester in 'Finding Forrester']

Tuesday, December 14, 2010

Untuk Vice9: Inilah Jawabanku

Hai Vice9. Aku lihat kamu sudah lebih baik sekarang. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang masih tersisa di kepalamu.

Aku ingat, kamu pernah menuliskan ini di 'news feed' facebookmu, beberapa waktu lalu: "ketika Anda marah, Anda membuang sekian waktu hidup Anda pada ketenangan dan kebahagiaan. Mungkin juga Anda melewatkan sebuah keindahan, yang seharusnya bisa dinikmati dengan senyuman."

Aku juga tahu, sebelum itu kamu marah dan kecewa karena suatu alasan yang aku sangat pahami: kamu masih sayang dan peduli dengan mereka, tetapi mereka tidak berpikir demikian tentang dirimu.
Oleh karena itu, sekali lagi aku minta maaf, telah melakukan ini semua kepadamu. Aku minta maaf karena telah menghapus semua ingatan kamu tentang "rumah" itu, tentang "keluarga" itu, dan tentang semua orang yang pernah kamu banggakan padaku dulu.

Karena aku pernah mendengar sesuatu:
Suatu kali, Adriano Galliani, wakil presiden AC Milan, pernah berkata pada Football Italia: "Materazzi berbicara sedikit terlalu banyak tentang saya, begitu juga Moratti. Anda bisa lihat, itu artinya saya masih sangat penting bagi mereka. Sebaliknya, saya tak pernah berbicara soal mereka. Anda bisa lihat, itu artinya mereka tak penting buat saya."

Jadi, aku tidak ingin kamu tetap menyimpan kemarahan dan kekecewaan yang mereka timbulkan pada dirimu. Cukup. Aku tidak ingin kamu menganggap "rumah" atau "keluarga besar" yang selama ini dibanggakan olehmu itu sebagai sebuah hal yang penting.

Aku paham akar permasalahanmu hingga kamu menuliskan sesuatu tentang mereka baru-baru ini. Kamu kecewa, karena setelah lima bulan ditinggalkan, ternyata mereka tidak mengubah apa-apa. Kamu kecewa, karena "keluarga" yang selalu kamu banggakan, yang selalu kamu ceritakan ke orang-orang sebagai tempat dimana kamu belajar menulis untuk pertama kalinya, hingga kamu ceritakan dalam salah satu buku yang sedang kamu tuliskan, ternyata malah mencelamu. Mengatakan dirimu "anak gila", hingga mengasihani dirimu karena mereka mengira kamu menyimpan sakit hati terhadap mereka. Bahkan salah seorang dari mereka mengatakanmu: "banci, anjing, tai," dan kata-kata kasar lainnya di telepon pada waktu malam. Aku tidak terima mereka memperlakukanmu seperti itu.

Jadi untuk langkah amannya, seperti yang biasanya aku lakukan, aku menghapus mereka dan semua hal tentang mereka dari ingatanmu. Termasuk membuang mereka dari friendlist facebookmu. Ayolah Vice9, mereka tidak penting lagi untuk kamu ingat dan banggakan.

Aku tahu kamu menuliskan itu karena kamu peduli. Kamu ingin beberapa penulis pemula, seperti dirimu di awal mulanya, mendapat tempat untuk mengekspresikan dirinya. Mendapat penghargaan untuk menambah semangatnya. Mendapat pelajaran untuk melengkapi ilmunya. Juga akhirnya mereka bisa belajar bersosialisasi dan menambah relasi. Tapi itu semua tidak berjalan seperti yang kamu harapkan.

Aku bisa memahami emosimu ketika mengetahui ada beberapa orang yang mendapat perlakuan sama sepertimu dulu, lalu membuat komunitas baru, berpisah dari "keluarga" itu. Aku tahu dan aku paham apa yang kamu rasakan dulu. Kamu tidak ingin sampai seperti itu yang terjadi, pada tempat dimana kamu belajar menulis untuk pertama kali.

Tapi, sudahlah... life must go on. Lupakan! Lupakan semua kenanganmu tentang mereka, tentang orang-orang di dalamnya, tentang pengalaman pertamamu mendapat pujian dari mereka, tentang semuanya... tentang apapun dari mereka. Tapi jangan lupakan semua pelajaran yang telah kamu dapatkan selama lima bulan bersama mereka.
Tetapi itu urusanku, aku akan memilah-milah mana yang akan aku hapus dari ingatanmu. Aku melakukan ini hanya karena kamu terlalu lemah untuk itu.

Oia, aku ingat John Maxwell pernah berkata: "kesalahan terbesar yang mungkin diperbuat seseorang adalah tidak berbuat apa apa. Jadi, katakan ini pada dirimu sendiri: aku tidak tolol. Aku bukan makhluk bodoh jika melakukan kesalahan. Aku melakukan sesuatu, oleh karenanya ada resiko berbuat kesalahan. Aku orang cerdas dan tidak malas.

Itulah dirimu dan sebagaimana adanya dirimu. Jangan merasa bodoh. Jangan!

Jangan pula mencemaskan pendapat orang atau orang-orang yang tidak mengenalmu. Percayalah padaku, itu hanya membuang-buang waktumu. Apa yang mereka pikirkan adalah persoalan mereka, bukan masalahmu. Jangan biarkan orang lain melumpuhkanmu. Mereka tidak punya hak untuk mencegahmu memperluas pengetahuan dan menghangatkan hati orang-orang yang merasa terberkati oleh kehadiranmu di bumi. Meskipun ingatlah juga satu hal: kamu tidak berasal dari dunia ini.


Apakah kamu ingat cerita seorang Catherine Lanigan? Aku pernah menceritakannya padamu dulu. Sebelum kamu kenal orang-orang itu. Dia seorang penulis sepertimu. Saat awal mula dia belajar, dia mendapat celaan yang membuat dirinya hampir melupakan cita-citanya menjadi penulis buku. Orang itu, orang yang tidak mengenal Catherine itu, berkata padanya di suatu waktu: “Lanigan, tulisanmu jelek sekali.” Tetapi orang itu, orang yang disebut sebagai 'orang pintar' di bidangnya, smart guy istilahnya, tidak bisa memberikan alasan mengapa tulisan Catherine dikatakan jelek. Lalu dengan mudahnya dia menyuruh Catherine melupakan cita-citanya.
Tapi kamu tahu sekarang, Catherine Lanigan, penulis pemula yang dulu hampir melupakan cita-citanya, saat ini sudah menuliskan lebih dari dua puluh judul buku. Dan kamu tahu apa kata psikolognya bertahun-tahun setelah peristiwa itu? “Kamu tidak tahu mengapa orang itu mengatakannya? Astaga! Dia bereaksi seperti itu karena cemburu. Dia mengatakan itu dengan nada marah, bukan? Tapi dia tidak bisa memberikan alasannya. Tapi walaupun dia memberikan alasannya, saya yakin dia akan tetap menyudutkanmu. Dengan mengatakan ‘tulisanmu jelek sekali’, itu adalah reaksi yang wajar karena dia melihat sesuatu yang tidak dimilikinya. Dia melihat bakat besarmu.

Kamu juga sekarang belajar dari buku ‘Sang Pemimpi’, bahwa rasa iri bisa menimbulkan sikap pesimis. Yang nantinya bisa berlanjut menjadi sikap sinis dan dengki, bahkan mungkin fitnah. Jadi lupakan sajalah. Mungkin saja dia iri lalu pesimis dengan dirinya sendiri. Seperti orang pintar yang menilai Catherine Lanigan tadi. Apa jadinya jika Catherine Lanigan termakan omongan 'orang pintar' itu? Aku juga tidak ingin itu terjadi padamu. Karena aku percaya pada kemampuanmu.

Oleh karenanya mulai sekarang, jika kamu bingung pada sebuah masa yang hilang dari ingatanmu, pada orang-orang yang tadinya ada di friendlist facebookmu, pada nomor-nomor kontak yang tidak ada lagi di ponselmu, itu karena perbuatanku. Aku ingin kamu terus maju, dan meraih impianmu.

Karena aku yang paling tahu sifatmu. Karena tugasku menutupi kelemahanmu. Begitu juga sebaliknya yang kamu lakukan padaku. Walaupun terkadang aku tidak suka dengan cara berpikirmu yang terlalu kritis dan sedikit sok tahu, tapi aku masih bisa mengerti itu.



-Kolonel. (SS) Victor Hasiholan-
YK, 141210, XS77XY58

Thursday, December 9, 2010

Tidaaak!

"Kita tidak bisa berdialog, bertukar pikiran, atau mendengarkan ... jika sebenarnya salah satu diantara kita tidak berpikir."
[Goenawan Mohamad]

********/*******

Suatu hari di sebuah restoran:

"Kamu marah ya sama aku?"
"Enggak."
"Yang bener? Kamu lagi marah kan sama aku?"
"Enggak."
"Ah, kamu emang marah sama aku."

Lalu perempuan itu meninggikan suaranya: "aku bakal marah sama kamu kalau kamu tanya gitu terus ke aku."

Dan laki-laki di sampingnya berkata: "tuh kan marah..."

********/*******

Hari yang sama, di tempat yang berbeda. Di sebuah klinik konsultasi psikolog.

"Kamu sakit hati sama pacarmu?"
"Enggak."
"Yakin? Kamu gak sakit hati sama pacarmu?"
"Enggak, dok."
"Tapi sepertinya kamu sedang sakit hati terhadap pacarmu."

Lalu perempuan itu berdiri dan berkata: "dok, kalau Anda tetap menanyakan itu terus kepada saya... iya, saya akan sakit hati kepada pacar saya."

Psikolog itu lalu melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, kemudian tersenyum pada perempuan yang ada di hadapannya , "benar kan dugaan saya? Anda sedang sakit hati terhadap pacar Anda."

********/*******


Memang, dalamnya lautan bisa diketahui. Tetapi dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu.

Jadi, bagaimana untuk mengatakan "tidak", jika memang benar-benar "tidak"? Juga bagaimana untuk mengatakan "bukan", jika memang benar-benar "bukan"?


PS. Catatan ini untuk seseorang di luar sana yang tidak lebih baik setelah melakukan terapi psikologis :)

Wednesday, November 24, 2010

Berani Tampil Beda [Sebuah Catatan Lama]

"Lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan."
(Soe Hok-Gie)

Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lansekap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terpengarah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci.

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau... berbeda.

Salju Gurun (1998)
Dewi 'Dee' Lestari

********/*******

Beberapa hari belakangan, saya mendengar beberapa penuturan tentang perbedaan. Saya mendengar kisah tentang menjadi berbeda, di tengah-tengah dunia yang serba hitam putih, seperti tungku arang.

"Di DirJen pajak tuh ibarat hutan, yang semua pohonnya bengkok. Kalau ada yang lurus, pohon itulah yang ditebang." kata seseorang.

"Temen gue bilang, kalo ngelakuin hubungan seks waktu pacaran, rasanya enak banget sampe ke awang-awang. Tapi karena semua teman gue udah ngelakuinnya, gue ogah dong jadi follower. Gue mau jadi trend setter, yang masih bisa bilang, kalo ML pas pacaran itu bukan saatnya dan belum waktunya." tulis seseorang di status facebooknya.

"Lagi di tengah-tengah para perokok! Merasa aneh, pas temen-temen aku ngerokok, aku enggak. Mereka bilang aku gak jantan. Ah, biarlah... ada waktunya sendiri untuk buktiin siapa yang lebih jantan." curhat seseorang di twitternya.

********/*******

Apakah menjadi berbeda itu salah? Apakah aneh menjadi putih di tengah kumpulan hitam? Menjadi ikan koki di tengah kumpulan ikan lele. Menjadi secangkir teh hangat, di tengah gelas-gelas yang berisi es sirup merah.

Bukankah dengan menjadi berbeda, itulah yang akan menarik perhatian orang? Bukankah dengan menjadi berbeda, itu akan membuat pandangan orang tertuju padanya?

Di tengah-tengah kumpulan burung merpati hitam, bukankah merpati putih lah yang menjadi perhatian? Jika burung merpati putih hilang, pasti akan langsung diketahui pemiliknya dan dicari semua orang.

Menjadi berbeda itu indah, walaupun tantangannya tidak mudah.
Menjadi berbeda itu akan mudah terlihat, meskipun akan terasa berat.
Menjadi berbeda itu membutuhkan karakter yang kuat,
sehingga ketika angin besar lewat, tidak sampai terbang terangkat.

Menjadi berbeda itu sebuah pilihan, yang pastinya tidak ringan.

Jadilah berbeda di tengah dunia yang mulai seragam. Ketika tiba saatnya yang berbeda meninggalkan dunia, ketika sang putih meninggalkan kumpulan hitam, dunia tidak akan lagi terlihat indah dan menarik, karena tidak ada lagi dia yang berbeda, yang membuat orang menjadi melirik.

Karena jaman tak bisa dilawan, keyakinan harus tetap dipertahankan!

Karena yang dibutuhkan dunia adalah mereka yang dapat berkata 'tidak' dengan tegas, meskipun seluruh dunia berkata 'ya'.

Ketahuilah pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara kau dan Tuhan, tak pernah antara engkau dan mereka (yang sama-sama hidup di dunia).


Yogyakarta, 14 April 2010 [03:02 PM]

Thursday, November 18, 2010

Putih

Pagi ini saya mencuci tumpukan pakaian yang telah terabaikan seminggu belakangan. Alasannya sederhana: sudah tidak ada baju ganti lagi. Mau tidak mau, saya harus mencuci pakaian-pakaian itu.

Ketika mencuci tumpukan pakaian yang berwarna putih, seperti biasanya saya memisahkan pakaian berwarna dengan yang tidak berwarna, saya mendapati kalau pakaian putih tidak semuanya benar-benar putih. Apa standar warna putih? Apakah jika mulai kusam tidak bisa lagi dikatakan putih? Ataukah jika ada bercak kotoran tidak bisa lagi dikatakan putih? Adakah pakaian yang benar-benar berwarna putih? Putih, seputih warna pakaian di iklan pemutih. Bukankah putih itu relatif?

Itulah gambaran manusia sesungguhnya. Ketika lahir, kita seperti kain putih. Tetapi lama kelamaan, seiring bertambahnya usia, warna putih itu menjadi kusam. Tidak ada putih yang benar-benar putih, bukan? Walaupun sepotong pakaian direndam dengan pemutih, lalu dicuci dengan detergen yang mengandung pemutih, warna putihnya tidak akan benar-benar putih seperti baru lagi. (Saya tidak percaya dengan iklan di TV)

Kita, manusia, seperti tumpukan pakaian putih yang kotor dan tiap minggu menunggu untuk dicuci. Tetapi walau dicuci sebersih apapun, warna putih itu tidak akan kembali seperti semula. Kotoran atau noda yang menempel mungkin akan hilang, tetapi tindakan mencuci, tidak akan mengembalikan warna putih seperti sediakala.

Jadi saya heran jika ada orang, atau sekelompok orang, yang mengklaim dirinya, atau diri mereka, adalah "putih" yang benar-benar putih. Lalu menganggap orang lain lebih kotor daripada diri mereka. Well, sepertinya mereka tidak sadar kalau pakaian putih yang mereka kenakan, tidak benar-benar berwarna putih seperti putihnya bunga melati yang ditanam oleh Tuhan.

Karena tidak ada warna putih yang benar-benar putih.

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." [Yohanes 8:7b]