Wednesday, May 6, 2015

Surat Terbuka Untuk ISIS

Pembunuhan atas dasar apapun tentulah tidak dibenarkan apalagi didasari oleh pembelaan terhadap agama. Apa yang dilakukan ISIS belakangan ini menyulut kemarahan banyak orang karena membunuh masyarakat sipil dengan sadis tanpa alasan yang logis. Sebagai orang percaya, mari berdoa untuk para pelaku. Sebagaimana Tuhan mengampuni kesalahan kita, begitu juga kasih pengampunanNya akan diberikan kepada setiap orang termasuk para pelaku. Jangan jemu berdoa untuk saudara-saudara kita di Timur Tengah karena Tuhan pun tidak jemu-jemu mengampuni kesalahan setiap manusia.







********/*******



Saya pernah menuliskan cerita pendek untuk sebuah koran, di mana diceritakan bahwa bumi ini tidak hancur karena peperangan; tetapi karena virus cinta kasih yang melanda setiap korban kekerasan. Sehingga yang terjadi kemudian, mereka tidak melawan. Tapi mereka juga tidak diam. Semakin ditekan, jumlah mereka malah semakin bertambah banyak... jutaan. Milyaran. Mereka kemudian dibantai, tetapi tidak ada yang melawan sampai masing-masing dari mereka terjatuh dan mati.



Virus itu luar biasa penyebarannya. Melalui udara. Melalui air biasa. Melalui tatapan mata. Yang dijangkitinya menjadi bisa membuka mata hatinya pada sebuah fakta: bahwa dunia ini fana. Yang terinfeksinya menjadi sadar bahwa hidup mereka berawal dari sebuah cinta. Dan itu yang membuat mereka diam saja ketika mendapat siksaan; meskipun tidak sepenuhnya diam, karena mereka tetap berdoa untuk sebuah keselamatan.



Tetapi seperti virus pada umumnya, tidak semua manusia bisa dijangkitinya. Ada beberapa yang imun pada virus yang diberi kode 'CK'. Hingga akhirnya hanya mereka yang tersisa. Hanya beberapa. Tak sampai sebanyak penduduk Australia jumlahnya, di seluruh dunia. Dan mereka pelan-pelan merasa kesepian dan kehilangan semangat untuk hidup berlama-lama. Mereka mulai berperang dengan tujuan agar terbunuh di medan laga.



Tetapi ada masa di mana maut tak lagi berkuasa. Dan bumi ini berubah menjadi neraka. Tempat manusia-manusia yang imun pada virus cinta kasih tinggal untuk selamanya. Selamanya kesepian. Selamanya hidup dalam kemarahan. Selamanya berperang dan bermusuhan. Selamanya hidup... karena maut tak lagi bisa dijumpai atau ditemukan.

Vic (2012)




Monday, April 6, 2015

Passion of Christ: Why It Has to be Like That?*

Setiap masa pra Paskah hingga hari Paskah, yang menjadi ciri khas beberapa tahun belakangan, selain telur, kelinci dan daun palma; adalah film “Passion of Christ”. Sebuah film yang walaupun masuk genre “Rohani”, tetapi diberi rating “Dewasa”, karena banyak adegan yang tidak patut dipertontonkan di depan anak-anak. Saking kejamnya, saking berdarah-darahnya, saking di luar batas peri kemanusiaan.

Saya sendiri juga suka men-skip beberapa adegan yang menurut saya sangat sadis dan brutal untuk dipertontonkan. Salah satunya adegan pencambukan, di mana sang algojonya saja sampai kelelahan saat melaksanakan hukuman. Lalu adegan “pemakuan” di kayu salib. Mungkin, jika saat itu sudah ada Komnas HAM, hukuman kepada Tuhan Yesus Kristus pasti sudah dimasukkan dalam golongan pelanggaran HAM sangat berat. Karena tidak ada lagi kosakata dalam bahasa manusia untuk menggambarkan penyiksaan yang sedemikian sadis dan brutal, kepada Tuhan Yesus.

Dulu, saat pertama kali nonton film tersebut, pertanyaan dalam pikiran saya adalah: “Kok Yesus mau ya terima hukuman sampai segitunya?”

Kalau memang Dia harus menerima hukuman mati, agar tujuan-Nya ke dunia ini tergenapi, mengapa Yesus mau menerima siksaan lahir batin sampai segitu hebatnya? Bukankah sebagai Anak Allah, Ia bisa menegoisasikan hukuman yang akan diterima-Nya sebagai ganti dosa manusia?

Dan hari ini saya dapat jawaban atas pertanyaan saya beberapa tahun lalu…

…karena dosa manusia ternyata juga sampai segitunya; bahkan beberapa dosa tidak bisa lagi terkatakan dalam bahasa manusia.

Sebutlah saja beberapa:

    Seorang anak yang menyiksa dan memenjarakan ibu kandungnya.
    Seorang ayah bisa membunuh anak-anak kandungnya sendiri dengan cara yang kejam.
    Seorang ibu tega menyuruh anak-anaknya menenggak racun akibat pikirannya yang singkat.
    Pembantaian massal yang dilakukan pada sesama manusia dengan cara sadis seperti pemotongan hewan, hanya akibat perbedaan keyakinan.
    Fitnah dan tipu muslihat di antara saudara kandung hanya karena harta orangtuanya.
    Demi uang bayaran yang tak seberapa, mau membunuh orang lain dengan cara yang di luar peri kemanusiaan.

Bahkan masih banyak kejahatan dan kebiadaban yang dilakukan oleh manusia, yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kalau manusia bisa bertindak dan melakukan hal-hal yang di luar batas nalar dan akal sehat manusia pada umumnya.

Dan untuk itulah, Tuhan Yesus rela disiksa sampai segitunya… Tuhan Yesus mau menerima hukuman yang membuat-Nya mendapatkan sakit yang sedemikian hebat. Bahkan dikatakan —hingga begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi— (yang pasti film “Passion of Christ” belum bisa memvisualisasikan seperti yang tertulis di kitab Yesaya 52:14). Ya, pikiran manusia (Mel Gibson) belum bisa menggambarkan hebatnya siksaan yang diterima Yesus dalam penghukuman-Nya…

…sampai di sini, saya juga tak mampu lagi membayangkan bagaimana peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang sebenarnya…

…tetapi kabar baik dari ini semua adalah: seberapa pun besar/ kejam/ sadis/ jahat/ kasar/ biadab dosa yang pernah kita lakukan, bahkan mungkin dikatakan bahwa dosa yang kita lakukan tak lagi berperi kemanusiaan; Tuhan Yesus sudah menebusnya lunas saat Ia menerima salib sebagai amanat agung yang dengan taat dilakukan-Nya, tanpa keluhan atau bantahan.

    Supaya kita tidak perlu mengalami penghukuman yang sama akibat dosa dan pelanggaran kita.
    Agar hubungan kita dengan Bapa yang telah dirusak oleh dosa, dipulihkan oleh pengorbanan-Nya.
    Agar segala sakit dan penyakit yang diderita akibat kesalahan kita, disembuhkan oleh bilur-bilur-Nya.

Untuk itu semua, Tuhan Yesus mau berkorban sampai segitunya…

…maukah Anda melakukan segala sesuatu untuk Dia, sampai segitunya?

What's your answer?
*do-post idemublog.wordpress.com

Tuesday, December 23, 2014

Perempuan

Perempuan itu akhirnya datang juga. Menghampiriku yang duduk menunggunya di pojokan Emci Donal, tempat biasa kami duduk berdua tiap awal bulan di malam Selasa, sebelum dia menikahi lelaki pilihan hatinya. Anehnya, pria malang itu kami temukan di tempat ini juga. Malang menurutku, karena menikahi perempuan seperti sahabatku.

Setelah duduk dan mengambil sepotong french fries yang kemudian dicolekkan ke es krim yang ada di tanganku, dengan senyuman nakalnya dia mulai membuka perbincangan: "Mana cowok loe?!". Dan kami langsung tertawa, dengan tawa yang membuat kami menjadi pusat perhatian seisi restoran.

Malam itu berlanjut seperti biasanya. Seperti sebelum dia menikahi lelaki yang usianya terpaut 10 tahun darinya. Aku mendengarkan. Sementara dia langsung mendongeng tentang hidupnya yang selalu lebih berwarna, daripada aku yang notabene hidup lebih lama daripada dia.

"Sekarang gue baru ngerti apa maksud nyokap dulu sering bilang: 'Nanti kamu bakal tahu gimana rasanya kalau sudah jadi Ibu.'" Katanya sambil menerawang.
Aku mengamati dia lebih lagi. Masih belum percaya, jika perempuan di hadapanku ini sudah punya sepasang anak kembar yang suka bicara, dan selalu melempar pertanyaan yang membuat orang dewasa bingung untuk menjawabnya..... Pasti turunan dari ibunya.

"Dulu gue pernah sembunyi di dalam lemari, biar nyokap gak suruh gue mandi. Terus gue malah ketiduran. Tapi yang paling gue inget dari kejadian itu, gue bangun di pelukan nyokap yang gendong gue ke kamar tidur sambil nangis. Belakangan gue baru tahu kalau gue sempet dikira ilang sama orang rumah. Dan nyokap gue sampai telepon polisi." Ceritanya sambil tersenyum. "Dan... minggu lalu Sara juga bikin stres karena gue kira ngilang dari rumah. Bayangin... gue juga udah cari ke mana-mana, termasuk dalam lemari. Tahunya dia masuk mobil dalam garasi terus tidur di lantai mobil! Untung dia gak ngajak Sari."

Aku tersenyum simpul melihat ekspresi wajahnya. Ekspresi yang hampir sama ketika ia bercerita saat ditembak mantan pacarnya, yang sekarang menjadi suaminya. "Vic, gue ditembak sama om-om itu. Terima gak ya?"
Terus dia mulai cerita tentang ketakutannya. Dia mulai mengandai-andai kalau sampai punya anak. "Gue gak ngebayangin ada alien kerdil dalam perut gue, terus buat ngeluarinnya gue harus dibuat sakit setengah mati, perut gue disobek pake cutter..."
"Pisau bedah." Kataku menimpali.
"Iye... itu maksud gue."
Lalu dia mulai memegang perutnya. "Bisa gak ya?"
"Bisa. Kan udah kodratnya wanita." Jawabku sekenanya.
"Ah, gampang loe ngomong karena gak bakal tahu gimana rasanya. Laki mah cuma enak mbikinnya aja." Katanya sewot lalu menyedot habis minuman soda di hadapannya.

Aku juga teringat bagaimana ekspresi kegugupannya saat prosesi lamaran. Saat dia "disembunyikan", yang merupakan salah satu ritual adatnya, dia menyuruhku menemaninya. "Vic, kaki gue sebenernya pengin kabur dari tempat ini. Tapi hati gue nyuruh gue tetap di sini. Kalau menurut loe, gimana?"
"Aku ngikut kamu aja lah. Kalau mau kabur ya sok... atuh. Aku temenin. Tapi kamu ya yang nyupirin?"
Dia hanya tersenyum, tidak tertawa ngakak seperti yang biasanya aku dengar. Lalu dia melihat ke lantai, dengan sorot mata yang seolah-olah bisa melihat gelapnya perut bumi. "Gue takut gak bisa jadi ibu yang baik. Gue gak bisa bayangin bakal di rumah seharian, gak bisa lagi jalan-jalan, shopping, belanja-belanja sesuka gue karena bakal punya anak yang jadi tanggung jawab gue di masa depan..." Seperti isyarat jika angannya tak mampu menembus kabut masa depan, ia menghembuskan nafasnya panjang... ingin menguapkan beban kehidupan.
"Loe pinter ngitung kan? Duit sejuta sekarang, nilainya cuma sekitar 200 ribu pas anak gue mau kuliah..."
"Ya itu kalau rata-rata inflasi 7% per tahun. Kalau lebih dari 10% ya cuma sekitar 130 ribu lah..." Jawabku mengoreksi, seperti biasanya.
Dia hanya membalas dengan tonjokan di pundakku.
"Ngeri ya? Gue sanggup gak ya?" Katanya dengan sorot mata menembus dinding kamarnya. Seolah-olah bertanya pada calon suaminya yang ada di sebelah ruangan. "Loe tahu sendiri kan, gue selalu ambruk di awal bulan."
"Ambruk?" Tanyaku dengan nada serius.
"Gaji 2 koma... tanggal 2 udah koma! Ah, kampret loe pura-pura bloon..."
Lalu kami tertawa bersama-sama, sampai tantenya membuka pintu kamar dan menyuruh kami untuk diam.

Hingga di resepsi pernikahan, aku melihatnya dari kejauhan. Dia dan suaminya tersenyum dan tertawa saat menjabat tangan dan berpelukan dengan para tamu undangan. Tapi aku juga melihat sedikit keresahan di matanya, saat beberapa tamu undangan membawa anaknya untuk bersalaman dengan sang raja dan ratu semalam.

Saat aku baru menjejakkan kaki di anak tangga pelaminan untuk memberinya ucapan selamat menempuh hidup baru, dia langsung berteriak kepadaku, "Victooorrrr... gue nikah juga sama om-om! Hahahaha..." Dan aku merasa, saat itu juga, semua mata tertuju ke arahnya. Lalu ke arahku. Yang membuatku kemudian berpikir untuk mengganti namaku yang sudah dirusak olehnya dan langsung lari dari tempat itu.

********/*******

Epilog:

Saya kira hampir semua Ibu di muka bumi pernah mempunyai pengalaman yang sama. Perasaan bimbang saat menerima pinangan laki-laki yang akan bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya. Tentang ketakutannya menghadapi masa depan. Kerisauannya ketika tidak mempunyai gambaran bagaimana menghadapi anak-anaknya. Bayangan ngeri tentang rasanya melahirkan. Sampai dengan kebingungan; menebak-nebak sampai di mana batas kekuatannya saat harus berkorban karena perasaan sayang, yang kadang melebihi rasa sayang pada nyawanya, yang sering tidak direspon seperti harapannya; tetapi tetap kembali melakukannya dan terus memberikan cintanya, karena ia memberikan cintanya tanpa syarat dan tidak pernah menginginkan imbalan apa-apa.

Ibu hanya menerima. Cinta kasihnya bersifat "apa pun" dan "walaupun", bukan cinta "karena" atau "sebab". Cinta seorang Ibu adalah paket yang berisi ketabahan, keringat, ketegaran, air mata dan hati yang berdedikasi untuk mereka yang dicintainya. Untuk keluarganya. Cintanya tak pernah lagi untuk dirinya sendiri...

Yogyakarta, 22/12/2014 (11:32 PM)
Untuk: Mamak
dan semua perempuan di bumi. Spesial buat kamu yang jadi inspirasi tokoh utama cerita ini ;)

Wednesday, August 20, 2014

Jadilah Beda, Jadilah Lebih Baik

Sumber gambar -> http://bzfd.it/1nSuIJv
Malam ini aku dapat jawaban dari email yang kukirim 3 hari yang lalu. Di email itu aku cerita ke Dia tentang masalahku. Tentang persoalan yang sebenarnya cuma ada di kepalaku.

Simpel. Aku cerita tentang orang-orang yang gak pernah balas SMSku. Kenapa mereka gak pernah respon miscall dari nomorku (walaupun dari nomor lain langsung direspon). Lalu setelah selesai menulis semua itu, seperti biasa, aku punya jawaban sendiri: mungkin mereka sibuk. Pasti sudah tidur. Salah pencet, maunya buka SMS malah dihapus. Gak punya pulsa. Lagi ada masalah dengan hidupnya. Sakit. Dan lain sebagainya.

Tapi pertanyaan berlanjut: kenapa aku harus balas SMS mereka? Mengapa aku harus respon miscall dari mereka? Walaupun di tengah jalan. Biarpun lagi ada masalah. Waktu lagi sibuk. Tengah malam. Mau tidur. Sakit.

Kenapa ada perasaan bersalah jika aku tidak segera membalas SMS yang masuk, atau tidak merespon miscall dan menjawab telepon dari mereka yang melakukan hal yang sama kepadaku?

Sampai di titik ini, tidak seperti biasanya, aku tidak mempunyai jawabanku sendiri.

Kemudian email dariNya masuk beberapa saat yang lalu. Isinya hanya pertanyaan-pertanyaan singkat. Hanya ada 3 kalimat:
"Apakah kamu harus berlaku sama seperti apa yang orang lain lakukan padamu? Mengapa hidupmu dikendalikan oleh perbuatan orang-orang di sekitarmu? Dan kalau kamu melakukannya juga, apa bedanya kamu dengan mereka?"
PS. Banyak dari mereka yang Kukasihi melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang kamu ceritakan. Tapi Aku tidak pernah melakukan hal yang sama pada mereka.
Sumber gambar -> @9gag

PS. Dari sini aku juga belajar, bahwa jawaban terbaik untuk sebuah pertanyaan adalah dengan pertanyaan.

Sunday, August 17, 2014

Percakapan di Cafe

Percakapan fiktif ini terjadi di sebuah cafe yang terletak di dekat beberapa universitas ternama di sebuah kota.

"Apakah kamu tidak pernah tergoda dengan mahasiswi-mahasiswi cantik yang tiap hari datang ke mari?" Kata seorang pelanggan pada seorang pria paruh baya di meja kasir.

"Saat pertama kali ayah saya membuka kafe ini, saya pikir saya adalah orang paling beruntung di dunia ini. Saya bisa melihat gadis-gadis cantik tiap hari. Setiap hari! Tapi ketika mereka datang kembali ke sini untuk reuni-an, saya mulai memerhatikan. Mereka duduk di meja yang sama. Memesan makanan yang sama. Dan saya mulai berkata pada diri saya sendiri: gadis-gadis itu akan berubah. Mereka akan menjadi tua... bertambah berat badannya, mulai memperlihatkan kerutan di wajahnya, selulit di pahanya, lipatan di perutnya mulai terlihat akibat pakaian ketat yang dikenakannya... dan saya sudah memiliki yang seperti itu di rumah. Tambahannya, istri saya sudah sangat mengerti ketika saya marah, gembira, sedih, kecewa; bahkan dia pernah duduk berdua dengan saya di sini, di tempat kamu duduk saat ini, saat saya terlibat masalah dan hutang karena tempat ini; dan dia tidak lari. Dia malahan berkata, 'Kita bisa melewati ini.' Ya... saya dan dia sudah bisa membaca masing-masing pikiran kami, bicara dari hati ke hati; saya tahu siapa dia dan dia mengerti bagaimana saya hingga bisa seperti sekarang ini."

Pria ini menghentikan sejenak ucapannya.

"Saranku untukmu anak muda: Nikahilah wanita bukan karena fisiknya. Bukan karena apa yang terlihat oleh mata, karena semua itu pasti akan berubah dan itu alamiah. Menikahlah dengan seseorang yang bisa membuatmu nyaman saat bercakap-cakap dengannya. Berlatihlah setiap hari untuk saling mendengarkan dan selalu berusahalah untuk membuat bahan pembicaraan. Karena saat kalian bertambah tua, kecakapan komunikasi antara kalian itu lebih penting daripada semuanya."

Mahasiswa di depannya tersenyum malu.

"Dan untuk menjawab pertanyaanmu tadi... ya, saya pernah tergoda dengan seorang wanita yang datang ke tempat ini. Hanya sekali. Dia saat ini sedang menyiapkan makan malam di rumah untuk anak-anak kami."

-di pojokan emci donal, 17 Agustus 2014-