Friday, January 29, 2010

I.D.E.N.T.I.T.A.S

Siapakah aku?

Aku...
yang tidak tahu siapa diriku
Mereka...
juga tidak mengenal siapa aku

Siapa bisa menyentuh aku?
Yang kau pegang itu tanganku
Yang kau lihat itu tubuhku
Yang kau injak itu kakiku

Siapa yang tahu siapa aku?
Kamu mengenalku sebagai mahasiswa
Kamu tahu aku sebagai penghuni kamar nomor dua
Kamu juga hanya tahu bahwa diriku anak nomor tiga

Kadang aku berpikir
bahwa diriku seorang penulis
bahwa diriku seorang jurnalis
atau hanya seorang orang tanpa identitas?

Mereka yang mengaku mengenal diriku
nyatanya tidak pernah ada di sekitarku
saat aku membutuhkan mereka
atau dimana aku ingin tertawa

Aku tidak tahu
apakah mereka enggan atau segan
untuk mau bersamaku
untuk sekedar makan dan duduk bersama

Mereka hanya peduli siapa aku
hanya peduli identitasku
apakah aku hanya seonggok daging
atau seorang orang penting

Ah... andai kamu mengerti situasiku
andai kamu paham keadaanku
tapi kalian terlalu sibuk di luar sana
terlalu lupa untuk menyapa

Dan disini aku sendiri
lagi
sepi
dan tidak tahu
siapa diriku
atau identitasku

Dalam masa kejayaan
teman-teman mengenal kita
Dalam masa kesengsaraan
kita mengenal teman-teman kita

Sebuah Kisah Bintang Sepakbola

Di Tempat Latihan

"Saya tahu kalian hanya akan bermain di tim reserve, tapi bukan berarti porsi latihan kalian berbeda dengan mereka (menunjuk pada mereka yang bermain di tim inti)", kata sang pelatih. Lanjutnya, "kami staf pelatih, tidak tahu bagaimana pelatih kepala menilai kalian, tapi tunjukkan selalu kemampuan terbaik dari setiap sesi yang akan kalian jalani."

'Aku akan memberikan kemampuan terbaikku,' katanya dalam hati.

Sesi demi sesi, dia jalani dengan penuh semangat. Dari mulai cross country, berlatih passing, dribling, eksekusi bola mati, hingga berlatih tendangan penalti. Dia juga tidak pernah mengeluh saat dia diberi porsi latihan lebih banyak daripada semua rekannya.

Untuk menutup sesi latihan hari itu, diadakan pertandingan kecil, selama 30 menit, antara tim reserve melawan tim inti.

'Ini yang aku tunggu. Tuhan, tolong aku agar aku bisa memperlihatkan semua kemampuanku kepada pelatih kepala.' doanya.

Pertandingan dimulai. Baru 5 menit berjalan, tim reserve sudah kalah 1 gol. Dan gol berikutnya, datang 10 menit kemudian. 2-0 untuk kemenangan tim inti.
Menjelang 5 menit laga usai, tim reserve mendapat hadiah tendangan bebas 33 meter dari gawang. Dia mendapat kesempatan untuk menendang bola mati itu.

"Ingat, jangan langsung mengarah ke gawang. Kau belum sehebat itu. Operkan kepada temanmu yang ada di dalam kotak penalti." kata sang pelatih.

'Tapi bagaimana jika aku bisa? Tuhan, jika tendanganku nanti langsung bisa menghasilkan gol, aku janji akan melakukan apapun yang Engkau mau.' doanya kemudian saat dia mengambil langkah untuk mengeksekusi.

1 langkah, 2 langkah, dan dia menendang. Bola melambung melewati pagar betis, dan secara ajaib bola itu melengkung di udara, menuju tiang jauh gawang. Kiper timnas Jerman itu tak bisa menjangkaunya. Gol! 2-1 untuk skor akhir pertandingan.

'Dia mendekatiku, dia mendekatiku,' pekiknya dalam hati.

"Hei, bagaimana kau melakukan itu? Itu tendangan bebas yang secara teknik sangat sempurna", kata pelatih kepala berpaspor Perancis itu. Sambil berjalan menjauh, dia berteriak, "bagaimana kalau kau ikut di pertandingan derby besok?". Kemudian dia hanya memalingkan wajahnya dan tersenyum padaku.

'Tuhan, mimpikah ini? Aku besok akhirnya bermain di depan 60 ribu penonton... terima kasih.' katanya dalam hati.

'Itu usahamu nak, kau selalu melakukan yang terbaik sambil terus berharap. Aku hanya melakukan sisanya, hal yang tidak bisa kau kendalikan. Aku masih memegang kata-katamu tadi, kau akan melakukan apa yang Aku mau.' sahut suara di dalam hati kecilnya.

********/*******

Di Ruang Ganti

'Aku tidak percaya. Aku masih belum bisa percaya. Mimpikah aku? Satu bus dengan Thierry Henry, Robert Pires, dan Dennis Bergkamp? Yang duduk di sebelahku, Ashley Cole!' teriaknya dalam hati.
Bus yang ditumpanginya akhirnya berhenti di depan stadion Highbury yang legendaris itu. Ratusan orang mengelu-elukan mereka. Puluhan kamera menyorot ke arahnya. Aku masih bisa mendengar jawaban bos saat mereka menanyakan apakah akan menurunkan aku di pertandingan ini. "Kita lihat saja nanti" kata orang yang mereka panggil 'The Professor' itu.

Aku sangat gugup di ruang ganti itu. Tidak ada pemain yang bercakap-cakap denganku. 'Mungkin semua sibuk dengan pikiran masing-masing atau sama gugupnya seperti aku' pikirnya. Hanya Pires yang mendatangiku di ruang ganti dan duduk di sebelahku. Aku hanya bisa menangkap beberapa patah kata darinya, dan ikut tersenyum saat dia tersenyum sambil menepuk pundakku. Aku tidak mengerti bahasa Perancis, aku juga baru belajar bahasa Inggris. Bos berjalan ke arahku, dan memberikan seragam tim. 15, itulah nomor punggungku.

Kami diberi arahan oleh pelatih, "kalian tahu apa yang harus kalian lakukan", tutup briefing singkat itu. Mereka kemudian keluar ruang ganti, dan aku menuju kamar mandi sebelum pertandingan dimulai.

'Tuhan, berilah kami kemenangan. Aku tahu dalam pertandingan derby manapun, pasti sangat berat. Tapi ini pertandingan debutku. Aku ingin mencetak namaku di papan skor juga kalau Engkau berkenan.'

Lalu aku dengar suara yang sangat aku kenal. 'Nak, engkau tahu apa yang lawanmu lakukan di ruang sebelah? Mereka juga berdoa agar tim mereka menang. Jutaan orang juga berdoa sama sepertimu, tapi tidak sedikit juga yang berdoa agar lawanmu yang menang. Aku bukan Tuhan yang memihak. Tim terbaiklah yang berhak untuk menang. Jadi, lakukanlah yang terbaik. Tapi, kau bisa berdoa agar pertandingan nanti berjalan dengan baik, juga agar tidak ada pemain yang cedera. Kau bisa mendoakan wasit agar dia bijak dalam memimpin pertandingan, juga mendoakan supporter agar mereka bisa menerima apapun hasilnya nanti. Jangan berdoa agar tim kamu yang menang, itu tindakan egois. Sudah dulu ya nak, Aku juga mau menonton pertandingan itu. Oia, Aku masih memegang janjimu kemarin...'

********/*******

Di Lapangan

'Aku masih belum percaya ini', katanya dalam hati saat puluhan ribu orang mengelu-elukan nama timnya. Dia merasa menjadi pusat perhatian jutaan pasang mata di luar sana. Pastilah mereka menganggap bosku gila menurunkan aku dalam laga derby sejak menit pertama. Tapi, akan kubuktikan bahwa aku bisa.

Dia merasa tertantang dengan pikirannya.

Menit 25, timku unggul 1 gol berkat assist yang aku berikan pada Henry. Aku masih belum percaya saat kapten berlari ke arahku dan teman-teman-lain mengerubutiku. Seolah-olah aku yang mencetak gol tadi. 'Selamat nak, operan yang bagus' kataNya dalam hatiku. Aku melihat ke arah bench, bos memberikan jempolnya dan tersenyum padaku.

Babak pertama usai, dan mereka memberikan ucapan selamat padaku. Pires kembali mendekatiku dan mengucapkan beberapa patah kata sambil tertawa. Tapi aku masih belum mengerti yang diucapkannya, aku hanya ikut tertawa.

Babak kedua mereka lebih menyerang. Kami diinstruksikan untuk bertahan. Menit sudah menunjukkan angka 80. Laga semakin sengit. Kami berkali-kali diserang, membuat kami jarang bisa melakukan serangan. Dan di menit 81, berawal dari sebuah tendangan pojok, aku diperintah kapten untuk marking pemain lawan di kotak penalti. Sangat cepat kejadian itu terjadi, aku merasa bola menyentuh tanganku, sebelum Cole menendangnya keluar lapangan. Kapten lawan meneriaki wasit karena aku melakukan handball. Tapi mungkin wasit tidak melihatku menyentuh bola, sehingga dia hanya memberikan keputusan tendangan pojok.

'Katakan padanya, katakan pada wasit itu engkau melakukan handball. Bukankah kamu akan melakukan apapun yang Aku mau? Aku mau engkau melakukan itu.'

'Tapi Tuhan...' aku mau menyangkalnya.

'Janji adalah janji, lakukan itu.' tegas suara itu.


Kapten memegang pundakku. Tapi aku kemudian berjalan ke arah wasit yang masih dikerumuni pemain lawan. "Ya, aku menyentuh bola itu tadi sebelum Cole membuangnya keluar lapangan". Wasit memandangku aneh. Para pemain lawan yang mengerubutinya langsung terdiam. Kapten mendorongku, "apa yang kau lakukan?" Dan pemain lain juga langsung mengerumuni aku. Bukan karena aku berhasil mencetak gol atau assist, tapi karena tindakan di luar dugaan tadi, yang sekarang menghasilkan sebuah penalti. "Tolol! Bagaimana bisa kau melakukan itu?" teriak Cole kesal.
Lagi-lagi, hanya Pires yang mendekat ke arahku, setelah semua pemain meninggalkanku. Dia hanya menepuk pundakku, dan hanya berkata, "aku memang tidak mengerti mengapa kau melakukan hal aneh tadi, tapi aku yakin kau akan menjadi pemain hebat karena hal luar biasa yang kau lakukan tadi". Ajaib, aku mengerti apa yang dia katakan.

Eksekusi penalti pun dilakukan. Dan papan skor berubah menjadi 1-1.

Aku hanya berdiri mematung. Teman-temanku semuanya tidak mengerti apa yang baru saja aku lakukan. Mereka menjauhiku. Aku lihat kapten berbicara pada bos, dan aku lihat Ljunberg melakukan pemanasan. 'Inilah awal dan akhir karirku, Tuhan' tangisku dalam hati. Lehmann mendekatiku, "aku tidak tahu kekuatan apa yang bisa menggerakkan dirimu melakukan hal bodoh tadi. Tapi, aku percaya kekuatan itu akan menyelamatkanmu juga".

Aku berusaha mencari-cari jawaban, tapi tidak ada suara yang familiar aku dengar dari dalam sana.

Pertandingan bertambah sengit memasuki masa injury time. Sambil berlari menggiring bola, aku melirik ke arah bench. Freddie sudah bersiap dan official sudah mulai memencet tombol di papan pergantian pemain. 'Ah, tamat sudah' pikirku. Tiba-tiba, entah darimana dia datang, atau karena aku kurang memperhatikan, dia menekel kakiku dan aku terjatuh. Tepat 33 meter arah kanan dari gawang lawan. Aku merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan kakiku. Tapi aku tidak merisaukannya, aku memalingkan wajahku ke arah bench. Aku melihat angka 15 berwarna merah.
'Tuhan, tamat sudah.' teriakku dalam hati. Tapi, tidak ada suaraNya yang aku dengar.

Wasit mendatangiku, dan bertanya bagaimana keadaanku. Aku hanya pasrah menggelengkan kepala. Yang aku lihat selanjutnya, wasit memberikan kartu kuning kedua pada pemain yang menekelku dan Pires berlari ke arah bench, berbicara pada bos. Ajaib, papan itu berubah angkanya. Angka 15 berganti menjadi angka 7. Entah apa yang Pires katakan, tapi itu membuatku tetap bertahan dalam lapangan.

Ljunberg berlari ke arahku. "Bos memerintahkanmu mengambil tendangan bebas itu. Berterimakasih lah pada Robert, dia meyakinkan bos agar kau tetap berada di lapangan". Kemudian Freddie berkata pada kapten, dan kapten mengulurkan tangannya padaku. Menarikku agar berdiri. "Tebus kesalahanmu", katanya singkat.

'Kesalahan? Aku pikir yang aku lakukan tadi benar.' kata batinku membela diri.

'Tidak semua orang bisa membedakan apa yang benar dan yang salah', kata suara dalam hatiku yang terdiam sejak tadi. 'Sesuatu yang salah, sering dianggap benar karena hal itu jamak terjadi. Sudah biasa dilakukan, jadi hal itu dianggap benar. Malah kalau melakukan sebaliknya, yang sebenarnya benar untuk dilakukan, dianggap sebuah kesalahan. Tapi, sejak kapan manusia tahu yang benar dan yang salah? Lakukan tendangan itu sebaik mungkin. Aku akan melakukan sisanya, yang tidak bisa kau kendalikan'.

********/*******

Di Panggung Podium

"10 tahun sudah sejak kejadian itu, banyak hal yang terjadi dalam karir sepakbolaku." katanya setelah menerima penghargaan pemain terbaik dunia. "Setelah tendangan bebas yang aku lakukan dan berbuah gol, media menyebut tendanganku sebagai tendangan bebas terbaik dalam satu dekade terakhir. Juga karena insiden penyebab penalti di pertandingan pertamaku, wasit di Inggris menyebutku sebagai pemain paling jujur sepanjang masa." terlihat senyuman di wajahnya.
"Saat itu memang aku merasa bodoh, tapi aku yakin yang aku lakukan itu benar. Jens dan Robert juga mendukungku. Saat ini, aku berdiri di podium ini, juga karena dua orang temanku itu. Dan pesanku buat semua pesepakbola di dunia ini, dengarkan selalu suara hatimu, ada Sosok yang luar biasa di dalam sana, yang bisa mengajarkan apa yang pelatihmu tidak bisa ajarkan. Aku bisa menjadi seperti sekarang, memegang penghargaan ini, juga karena aku tetap mendengarkan Dia, yang ada dalam hatiku, yang menjadi Tuhan dalam hidupku. Terima kasih".
Dia kemudian mencium dan mengangkat ballon d'or itu tinggi-tinggi, dan semua orang yang hadir di ruangan itu, termasuk sang kapten dan Ashley Cole yang dulu menganggapnya bodoh, juga Robert Pires dan Jens Lehmann serta bosnya, Arsene Wenger, langsung bertepuk tangan untuknya.

Dan di sudut balkon atas ruangan itu, di pojok yang tidak terlihat, Sosok itu juga hadir memberikan penghargaan dariNya yang terbaik, melakukan standing ovation buat saksi hidup di lapangan hijau itu.


*) Terinspirasi seorang pemain di Arsenal, yang awal karirnya memakai nomor punggung 15

Tuesday, January 26, 2010

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan PADI?

"Mengapa saya bisa jatuh cinta dengan grup band asal Surabaya ini?" Begini ceritanya...

Dulu waktu SMP, band favorit saya tuh Dewa 19. Bahkan sampai sekarang, saya masih menyimpan video klip 'Risalah Hati', karena saya menganggap video itu best of the best video klip yang pernah dibuat Dewa 19. Saya suka lagu 'Cinta 'kan Membawamu Kembali', 'Satu Sisi', 'Sebelum Kau Terlelap', juga 'Risalah Hati' (karena lihat video klipnya). Sekarang, saya sudah muak dengan Dewa 19, apalagi lihat kelakukannya Dhani Ahmad, jadi tambah gak minat dengar lagu-lagunya. Koleksi album Dewa 19 saya yang terakhir, album "Republik Cinta".

Sampai ada plesetan lagu ciptaannya Dhani, yang dinyanyikan anak-anaknya, The Lucky Laki, "...ayahku selalu mengajarkan aku, boleh kasar sama istri. Boleh nikah siri, nikah sama janda, juga boleh punya istri banyak... tapi ternyata, ayah bundaku akhirnya cerai juga..." (lagu Bukan Superman). Ups :

Beranjak SMA, saya mengalami yang namanya cimon (baca : cinta monyet). Tuh cewek cantik banget. Punya mata bagus, rambut panjang hitam lurus, kulit kuning langsat (khas gadis Indonesia), juga suara yang... (kalo Sheila On 7 bilang, "dengarkan dia mulai bernyanyi, kau 'kan terharu lalu membisu"). Intinya, saya mengalami krisis cimon. Fakta yang satu kelas tahu, dia seorang Sobat Padi (julukan buat fans band Padi). Waktu itu, album kedua Padi, dengan title 'Sesuatu Yang Tertunda', lagi booming dengan 'Semua Tak Sama'nya. Mulai deh, saya pura-pura suka sama lagu itu. Pada suatu kesempatan, saya ngobrol sama dia. Ngomongin lagu itu, dan saya bilang saya suka sama band Padi (tahulah sendiri kebohongan di kelas waktu SMA). Dan tuh cewek (kayaknya) langsung tertarik sama saya. Buktinya, kita, saya dan dia, mpe jalan pulang bareng (kosnya searah sama kos saya). Hari itu, salah satu momen terindah dalam hidup saya.

Kemudian, saya bilang boleh gak pinjam kasetnya Padi yang dia punya. Jaman itu AudioCD belum begitu laku. Selain karena lebih mahal, belum banyak yang punya playernya. Singkat cerita, saya dipinjemin dua kaset album Padi, 'Lain Dunia' dan 'Sesuatu Yang Tertunda'. Dari sinilah, mulai malam itulah, saya jatuh cinta pada band PADI, yang digawangi Piyu (gitar), Fadly (vokal), Yoyo (drum), Ari (rythm), dan Rindra (bass). Malam itu, saya mulai lihat-lihat cover kasetnya, juga mencium aroma parfum cewek itu yang melekat di situ. Lagu yang saya dengarkan pertama kali, yaitu 'Lingkaran' (posisi pita kaset di tengah, dan entah kenapa saya muter dari side B). Suasana yang mendukung, kamar gelap dan sepi di luar, sukses membawa saya menangis (entah kenapa) mendengarkan lagu itu. Liriknya seperti ini :

Saat 'ku terjebak dalam lingkaran,
bayangan gelap, meruang tak bertepi
tak berujung batas
membuat aku tak kuasa
ingin menentang

Jauh kini kusadari hidupku sungguh
bersama engkau sangat berarti
terasah godaan hidup
namun kau masih di sisiku
temani segala resah hatiku

Kiranya aku bisa mimpi indah
aku tak akan tersesat lebih jauh
dan kiranya aku mungkin terlepas
meski beranjak pergi
meninggalkan engkau sendiri
(pergi.. terus.. lepas..)

Sepatutnya aku telah terjatuh
kini aku jauh lebih mengerti
Tak pernah aku merasa
betapa naifnya aku
apa yang harus aku tinggalkan aku lupakan

Pada bagian "terasah godaan hidup, namun kau masih di sisiku, temani segala resah hatiku", saya jadi teringat Dia, Sahabat terdekat saya, yang selalu saya perlakukan seperti itu. Betapa pun saya suka menyakitiNya, menjauhiNya, tapi begitu saya butuh pertolonganNya, Dia selalu ada buat saya. Dan pada saat Fadly berkata, "betapa naifnya aku, apa yang harus aku tinggalkan aku lupakan", saya sukses mengeluarkan air mata. Entah karena udah kebawa suasana, atau terpengaruh lirik sebelumnya, entahlah... yang pasti, sejak malam itu, saya jatuh cinta dengan lagu-lagunya Padi. Dan selanjutnya, selalu menginspirasi hidup saya.

Misal, saat saya sedih, saya punya 'Menanti Keajaiban' buat menghibur. Saat lagi butuh semangat, saya punya 'Prologue' atau 'Sang Penghibur' buat support saya. Saat lagi kesepian, saya punya 'Lain Dunia' atau 'Sesuatu Yang Tertunda' buat menemani saya. Saat lagi jatuh cinta, saya punya 'Demi Cinta', 'Mahadewi', juga 'Ternyata Cinta' yang bisa membuat saya merasa rindu dengannya. Saat saya patah hati, saya punya semua 'Kasih Tak Sampai', 'Masih Tetap Tersenyum', juga 'Ode' (lagu perpisahan terbaik -menurut saya-).

Bahkan, kalau saya jadi menikah kelak, lagu 'Demi Cinta', 'Ternyata Cinta', dan 'Rencana Besar' harus masuk playlist DJ di resepsi pernikahan saya. Dan saya mau undang lima orang jenius yang sudah menciptakan "teman-teman" saya yang tak terlihat tapi bisa didengar.

Juga alasan lain mengapa saya suka Padi, karena saya secara ajaib, ya, ajaib karena tiba-tiba saja, saya bisa bermain drum karena suka lihat Yoyo bermain drum di televisi. Saat teman-teman saya ngeband di studio, saya iseng duduk di belakang set drum, dan membayangkan Yoyo menabuh drum, dengan lagu 'Lingkaran' di kepala saya, dan tiba-tiba saja, saya sudah bermain drum. Teman-teman saya yang ada di studio itu cuma bilang, "lha gene iso dolanan drum, ra ngomong-ngomong" (lha itu bisa bermain drum, kok gak bilang-bilang). Saya cuma ketawa, bingung. Saya sendiri gak tahu. Tapi kalo bilang hal ini ke mereka pada saat itu, mungkin saya langsung dibawa ke Pakem (orang Jogja pasti tahu maksud saya). Dari situlah, saya kemudian jadi personel band bernama RKN, posisi drummer. Tapi, baru jalan 2 tahun udah bubar jalan masing-masing. Tapi, lumayan, udah pernah manggung 2X di pensi (pentas seni) waktu SMA.

Kalau ditanya, siapa yang ngajarin maen drum, saya jawab dengan yakin : Surendro Prasetyo (Yoyo 'Padi').

Saya selalu membayangkan, bisa bermain drum di salah satu konser mereka, sebagai additional player, gantiin Yoyo kalo tiba-tiba keseleo atau kecapekan. Juga, saya pengen lihat Padi, konser bareng, kolaborasi dengan Coldplay, band favorit saya yang lain. Karena selain sebagai Sobat Padi, saya juga menyebut diri saya seorang Coldplayer. Mengapa saya juga bisa jatuh cinta dengan Coldplay? Saya akan tuliskan di lain waktu.

Seperti halnya engkau sang mentari, tak henti menyinari seluruh bumi... begitu juga adanya diriku, tak akan berhenti langkahku. (Padi - Prologue)

Filsafat Untung

"Sudahkah Anda bersyukur hari ini?"

Memang itu adalah sebuah slogan radio di Jogja, tapi sebenarnya pertanyaan itulah yang harus kita renungkan setiap harinya. Setiap memulai hari di pagi hari, dan setiap akan beranjak tidur.

Kalau dipikir-pikir, jaman sekarang adalah jaman yang serba crowded, serba memusingkan, serba susah... Harga-harga naik, dari mulai bawang sampe daging. Tarif transportasi juga, dari becak sampai pesawat terbang. Apalagi harga untuk sebuah pendidikan. Harga untuk makan bangku Sekolah Dasar satu tahun, 5 tahun yang lalu bisa buat sekolah di tingkat SMP untuk periode yang sama. Belum lagi tuntutan dari pekerjaan, yang tiap harinya dikejar deadline (garis kematian?). Sampai-sampai, Andreas Harefa, seorang motivator ternama, pernah berkata, "kalau gak ada acara bebas stres macam 'Opera Van Java', 'OKB', atau 'Bukan Empat Mata', saat orang-orang melepas lelah mengakhiri harinya, mungkin orang yang hidup di Indonesia gak sampai 200 juta." Saat ditanya kenapa, beliau jawab, "kan pada loncat semua dari mal lantai 4". Lucu memang, membuat kami tertawa saat mendengarnya. Tapi, memang agak miris, apa sampai segitunya?

Tidak adakah alasan lagi buat kita bersyukur? Apa memang gak ada alasan lagi buat hidup dengan tersenyum?

Memang, sedikit banyak, hal dan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita membuat pikiran bertambah ruwet. Padi, dalam lagunya yang berjudul "Lain Dunia", pernah mengungkapkan hal ini... "media dunia membawa terbang tawa ceriamu..."

Saat kita baca koran, nonton TV, kita mendengar dan melihat peristiwa yang tidak menyenangkan, yang membuat kita bertambah waspada, bahkan selalu diliputi ketakutan (lihat berita kriminal, misalnya).
Tapi, apakah kita tidak bisa melihat lagi hal-hal baik yang terjadi di kehidupan kita? Menjadi buta akan keajaiban yang membuat kita bisa bangun pagi, lupa kalau kita masih bisa bernafas dengan gratis (bayangkan orang yang menderita di rumah sakit, yang untuk bernafas aja bayar), merasakan hangatnya sinar matahari pagi (lagi-lagi gratis), masih bisa makan (walaupun seadanya), masih punya rumah atau tempat untuk ditinggali.

Saat di jalan, terjebak kemacetan. Jangan marah. Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan membuat pikiran bertambah pusing. Ingatlah, berapa banyak orang yang sama seperti Anda dan mengalami hal yang sama.
Saat pekerjaan mulai membuat hari-hari menjadi tidak menyenangkan, ingatlah orang-orang yang kerjanya tiap hari keluar masuk kantor untuk interview atau sekedar mencari lowongan kerja.
Saat negeri ini yang selalu terlihat kacau balau, dengan segala permasalahannya, dari Bank Century sampai Prita Mulyasari, ingatlah negara lain yang tiap hari penduduknya tidak bisa hidup tenang karena dilanda peperangan.
Saat hubungan cinta Anda mulai memburuk, ingatlah orang-orang yang seumur hidupnya belum pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

Orang bijak bilang, "harta terbesar yang udah Tuhan berikan buat kita adalah kesehatan". Jadi, kalo kita masih sehat wa alfiat, kenapa kita masih susah untuk bersyukur? Bayangkanlah, orang-orang yang opname di rumah sakit, yang cuma bisa tidur dan tersiksa karena sakit penyakitnya, tapi juga mengeluarkan uang ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah tiap harinya.
Buat yang sakit, dan masih bisa berobat, harusnya juga bisa bersyukur karena masih bisa pergi ke dokter. Tidak semua orang seberuntung Anda. Dan begitulah seterusnya... seharusnya masih ada hal yang patut kita syukuri, yang membuat kita masih bisa berkata "Alhamdulilah", "Puji Tuhan", dan akhirnya membuat kita lebih banyak bisa tersenyum dalam menghadapi hari.

Ada seorang bijak, suatu hari mengajar di depan murid-muridnya. Dia menggambar sebuah lingkaran dengan tinta hitam di kertas putih. Guru itu berkata pada murid-muridnya, "apa ini?", katanya sambil menunjukkan kertas tadi. Murid-muridnya berkata hampir serempak, "lingkaran". Guru itu tersenyum, "mengapa kalian hanya bisa melihat hitam di atas putih? Mengapa kalian hanya bisa melihat sebagian kecil dari benda ini, hanya melihat lingkaran bukan kertas putih ini? Saya tidak bertanya 'gambar apa ini'? Tetapi saya bertanya 'apa ini'? Manusiawi memang, karena manusia biasanya hanya bisa melihat sebagian kecil dari suatu kebaikan besar yang Allah sudah berikan."

Klise, tapi memang itulah kenyataannya. Banyak kebaikan-kebaikan kecil, yang luput dari pandangan kita, karena kita terlalu memikirkan hal-hal "diluar" kita. Kita selalu berandai-andai, membayangkan hal-hal di luar kemampuan kita. Padahal, kita mempunyai banyak hal yang bisa membuat orang lain bersyukur karenanya.

Jadi, mulailah memikirkan hal-hal simpel yang bisa kita lakukan dan hal-hal yang bisa kita syukuri. Seperti filsafat "untung" orang Jawa. Yang selalu bisa mengucapkan kata "syukurlah", apapun keadaannya. Saat rumahnya terbakar, masih bisa berkata "untung anaknya selamat". Saat orang mengalami kecelakaan, "untung ya cuma tangannya yang patah" (bahkan saya pernah dengar, "untung ya mati, kalo hidup kan kasian, cacat seumur hidup"). Atau saat gak punya uang buat makan, "untung ya masih ada TV yang bisa dijual..." dan "untung... untung" lainnya yang selalu bisa diucapkan saat orang lain menganggap hal itu adalah musibah.

Jadi, "sudahkah Anda bersyukur hari ini?"

Menarilah biar sejenak... warnailah duniaku... bernyanyilah bahagiakan hati... (Padi - Lain Dunia)

Slumdog Millionaire

Bila firasat ini memang benar, memilikimu adalah maksud dari sebuah rencana besar, merubah hidupku...

Saya baru saja selesai nonton film Slumdog Millionaire. Memang sih, udah agak lama filmnya, tapi baru malam tadi saya melihat film tersebut. Ada empat hal yang saya pelajari dari film itu :

1. Agama sudah dijadikan propaganda paling murahan di balik segala bentuk peperangan/kekacauan di belahan dunia manapun

2. Sekali lagi saya diyakinkan, bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang ada di dunia ini

3. Jangan menilai orang dengan berpikir 'siapa dia', tetapi nilai lah orang dari pengalaman hidupnya

4. Orang pintar, terkadang kalah dengan orang beruntung

Seperti yang sudah katakan sebelumnya, atau tuliskan, sebenarnya di dunia ini tidak ada anak yang jahat. Mereka hanyalah korban dari kekerasan di lingkungannya, korban nasehat yang buruk, korban kurang kasih sayang dan perhatian, korban ketidak adilan, dan lain sebagainya. Semua anak yang lahir di dunia ini sama. Mereka seperti kertas putih yang polos dan baik adanya. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kertas putih itu mulai ditulisi dengan hal-hal yang berbeda satu dengan lainnya. Dan itulah yang menjadi sampul dalam kehidupan mereka. Yang terbaca oleh orang lain sebagai sebuah wacana.

Tetapi, bahan kertas putih itu juga lain-lain, ada yang tebal, tipis, halus, kasar, berserat tinggi, atau ada yang mudah sobek. Itulah watak, karakter masing-masing anak. Sehingga, orang-orang yang bertanggung jawab akan anak tersebut, harus mengerti juga bagaimana karakter si anak tersebut. Tapi, pada dasarnya semua sama, putih bersih.

Jamal dan Salim, dua orang kakak beradik yang hidup di perkampungan miskin di India, sejak kecil selalu hidup dikelilingi kekerasan dan ketidak adilan. Dari mulai dihajar oleh gurunya, dikejar polisi karena arena bermain mereka di bandara, hingga melihat ibunya dibunuh akibat konflik antar agama.

AGAMA. Waktu SMA, saya diajarkan bahwa agama itu berarti tidak kacau (a : tidak, gama : kacau). Jadi agama dibuat agar hidup manusia tidak kacau, dalam artian bisa hidup rukun. Tetapi, apa yang terjadi di berbagai belahan dunia belakangan ini? Agama sudah dijadikan propaganda paling efektif untuk menebar teror, menimbulkan konflik, dan akhirnya berakibat kekacauan dimana-mana. Atau sebenarnya orang-orang yang tak beragama lah yang membuat itu semua? Sudah bebal dengan ajaran agamanya, karena tiap hari dicekoki isi kitab suci, sehingga mereka berpikir bahwa dirinyalah yang benar dan semua orang selain mereka salah, dan patut mati. Mereka kemudian berlagak menjadi tuhan, dengan menghakimi orang, menghukum orang, tapi buta akan apa yang sudah diperbuatnya itu melanggar perintah Tuhan. Mereka, yang katanya beragama dan bertuhan, mulai bertindak merendahkan Tuhan, dengan alih-alih membela namaNYA, mereka kemudian membunuh orang yang dianggap kafir. Bukankah Tuhan tidak perlu dibela manusia? Dia, Allah Sang Raja Manusia, bisa bertindak dengan kuasa dan kekuatanNya sendiri. Tetapi, manusia yang katanya bertuhan dan beragama itu, malah merendahkanNYA dengan berbuat anarki sambil berteriak menyerukan namaNYA. Bukankah ini malah merendahkan Allah Sang Mahakuasa? Atau, sebenarnya mereka hanyalah budak-budak iblis yang bertopeng orang beragama? Serigala-serigala piaraan setan yang dilepas ke dunia untuk berbuat nista, agar Allah Mahabesar itu akhirnya mulai ditinggalkan manusia. Entahlah, yang jelas nanti pada saatNYA, Sang Raja Manusia itu akan menunjukkan kekuatan dan kuasaNYA, dengan menangkap serigala-serigala itu dan melemparnya ke api neraka.

Akhirnya, Jamal dan Salim lolos dari pembunuhan massal yang terjadi di kampung mereka. Mereka diikuti gadis kecil bernama Latika. Dari sinilah cinta itu bermula. Cinta Jamal kepada Latika, begitu pula sebaliknya. Hingga akhirnya, semua yang dilakukan Jamal, adalah hanya alasan-alasan cintanya untuk Latika. Sampai alasan mengapa Jamal akhirnya ikut acara "Who Want's to be a Millionaire", karena dia hanya ingin Latika melihatnya.

Memang begitulah cinta, kekuatannya tiada yang setara. Banyak kejadian ajaib dan perbuatan luar biasa di dunia, juga karena alasan cinta. Pastikan pada semua, hanya cinta yang sejukkan dunia (Dewa 19 - Cukup Siti Nurbaya). Tanpa cinta di dalam hati, pasti hidupmu tak bermakna (Ari Lasso - Arti Cinta). Jika mungkin bumi harus terguncang badai, tapi cinta tak akan mungkin hilang (Padi - Tak Hanya Diam). Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan karena kuat dan hebatku, semua karena cinta (Joy Tobing - Karena Cinta).
Ah... saya pikir 98% tindakan atau perbuatan kita selama hidup di dunia, pastilah karena cinta. Dan kita bisa tetap bisa tersenyum apapun yang terjadi pada diri kita, pasti juga karena cinta. Kekuatan tak terlihat, kekuatan yang bisa membuat segalanya menjadi ada dan bermakna.

Tetapi, mereka yang tidak mengerti dan tidak percaya akan kekuatan cinta, akan meledakkannya dengan sia-sia, dan membuat hidup mereka menjadi tidak bermakna. Itulah yang saya lihat dari kehidupan Salim, kakak Jamal, sepanjang hidupnya. Dia mempunyai cinta dalam hatinya, tapi dia selalu menyangkal akan kekuatannya, menyia-nyiakannya. Dan, semua orang yang sudah melihat film itu, pasti tahu bagaimana akhir hidupnya.

********/*******

Dalam film itu juga digambarkan bagaimana semua orang menaruh curiga pada Jamal. Dari mulai sang pembawa acara hingga inspektur kepala. Mereka tidak percaya, bahwa seorang gelandangan (slumdog) dari perkampungan miskin di India, dalam semalam bisa menjadi kaya raya. Hingga Jamal diinterogasi seharian, belum lagi melewati penyiksaan sepanjang malam harinya. "Tidak pernah ada dokter bahkan insinyur yang bisa melewati 16000 rupee", kata inspektur polisi itu. "Tapi, bagaimana kalau dia memang tahu jawabannya?", kata anak buahnya.

Tidak cuma di India, di negara kita Indonesia, hal ini jamak terjadi dimana-mana. Orang hanya melihat siapa kita. Apakah kita seorang terpelajar atau hanya seorang kuli pasar? Apakah kita keturunan bangsawan atau hanya seorang anak nelayan? Mengapa? Saya percaya, anak yang tiap pagi menjadi loper koran, bisa jadi lebih jenius daripada anak sekolahan. Seorang pedagang di pasar, bisa jadi lebih pintar daripada orang yang tiap hari belajar. Jamal, di Slumdog Millionaire, bisa mendapat hadiah 20 juta rupee, karena pengalaman hidupnya. Apakah salah karena ia tahu semua jawabannya? Tapi, lagi-lagi karena alasan 'siapa dia', dia jadi menginap semalam di penjara. Tanya kenapa?

Semua pasti tahu bagaimana kisah Lintang, anak pesisir pulau Belitong, anak seorang nelayan, seperti yang tertulis di novel Laskar Pelangi. Bagaimana seandainya Lintang dewasa, memenangkan 1 milyar rupiah, dari kuis "Who Want's to be a Millionaire" yang dibawakan Tantowi Yahya? Mungkin, bisa jadi ia akan bernasib seperti Jamal di film itu, selesai kuis itu, dibawa ke kantor polisi untuk ditanyai ini itu.

Selanjutnya, pepatah lama yang mengatakan, 'orang pintar, terkadang kalah dengan orang beruntung', selalu ada benarnya. Jamal bisa tahu gambar apa yang ada di uang 100 dollar Amerika, karena beruntung. "Kamu tahu gambar siapa dalam uang 1000 rupee?" kata inspektur polisi. Tetapi Jamal menjawab, "saya tidak tahu, dan mereka juga tidak menanyakan hal itu."

Banyak juga kan contohnya? Orang kaya karena menang undian. Siapa dia? Orang yang beruntung. Bisa jadi orang pintar, bekerja seumur hidupnya, tidak akan bisa mempunyai sebuah rumah, seperti kepunyaan orang beruntung yang memenangkan hadiah sebuah rumah 1M. Atau orang yang selamat dari reruntuhan gedung berlantai 4. Siapa dia? Pasti orang beruntung. Bisa jadi diantara korban tewas atau terluka, ada orang yang pintar, yang tahu semua teori keselamatan tapi terlambat dalam mempraktekan ilmunya. Siapa Bill Gates? Orang yang sempat menjadi yang terkaya di dunia. Dia adalah orang yang beruntung. Dia hanya tahu kebutuhan pasar, yang saat itu membutuhkan suatu sistem operasi berGUI (Graphical User Interface), dan kemudian dia membeli program yang dibuat temannya. Siapakah yang pintar? Teman-temannya Bill Gates. Siapakah yang beruntung? Semua tahu jawabannya.

Akhirnya, dengan semua rancangan Sang Raja Manusia itulah, membuat Jamal dan Latika bisa bersatu di penghujung cerita. Kemudian saya bertanya-tanya, apakah memang itu ujian cinta mereka? Anda yang pernah menonton film ini pasti tahu jawabannya.

It's been years since we've met, and days had gone by... and I hope that we can make it to the end...

PS. Kalimat pembuka dan penutup, dicuplik dari lirik lagunya Padi, yang berjudul 'Rencana Besar'.