Wednesday, August 11, 2010

"Pole Position Gak Penting..."

Kimi Matias Raikkonen, mantan juara dunia F1 2007, pernah berkata seperti itu saat masih membalap untuk McLaren Mercedes. "Posisi start tidak penting. Sepanjang balapan pasti ada saja kejadian tidak terduga. Anda juga tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kokpit lawan anda selama race berlangsung." Singkat, padat, dan jelas. Begitulah Iceman, julukan Raikkonen, selalu berbicara. Tidak pernah panjang lebar, tapi "saya lebih suka berbicara di lintasan." Talk less do more istilahnya. Hal ini dia buktikan pada GP Jepang 2005, saat menjadi pemenang, setelah start dari urutan belakang (17). Salah satu kemenangan fenomenal dalam sejarah Formula 1. Sepanjang balapan dia terus mendahului lawannya satu per satu, hingga beberapa tikungan sebelum finish, dia menyalip Fisichella, pembalap Renault yang memimpin jalannya lomba, dan akhirnya Raikkonen menjadi juara. Siapa yang menyangka? Tidak hanya dalam ajang kebut-kebutan mobil F1, semua pertandingan yang melintasi suatu jarak, entah itu balap sepeda, balap motor, hingga lomba lari marathon, peserta yang start paling depan belum tentu akan menjadi juara di garis finish. Begitu juga dalam arena kehidupan. Posisi awal yang buruk, belum tentu akan berakhir dengan hal yang sama. Kita semua "berlari", berpacu dengan waktu untuk melintasi suatu jarak (antara kelahiran dengan kematian), dan diantara rentang waktu itu, banyak hal yang bisa terjadi. Kita terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan, penuh pertikaian, dan tidak pernah mendapat apa yang kita inginkan. Start yang buruk, kita lahir dalam keluarga yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tapi itu bukan berarti kita akan kalah dalam pertandingan kehidupan. Atau kita terlahir dalam keluarga yang serba berkecukupan, berlebihan malah. Kita berada dalam keluarga yang kelebihan kasih sayang, kelebihan materi, kelebihan makanan, dan kelebihan-kelebihan yang lain, yang tidak semua orang bisa dapatkan dan rasakan. Start yang baik, kita lahir dalam keluarga impian kebanyakan orang. Tapi itu bukan berarti juga kita akan menang dalam pertandingan kehidupan. Takdir manusia hanya kelahiran dan kematian. Kita, manusia, tidak bisa memilih tanggal cantik atau siapa orang tua saat lahir. Kita juga tidak bisa memilih hari baik atau cara yang enak saat mati. Tapi nasib, kita yang menentukan. Nasib itu 100% dalam genggaman kita, dan kita harus bijak dalam menentukan pilihan-pilihan dengan menggunakan hikmat dari Tuhan. Jangan salahkan Tuhan jika hidup kita menjadi hancur berantakan, kemudian hidup pernikahan berakhir dengan perceraian, hingga kita terjebak dalam lumpur kemiskinan. Jodoh di tangan Tuhan? Betul. Tapi bukankah kita yang memilih pasangan dan menjalani kehidupan pernikahan? Rejeki juga di tangan Tuhan. Tapi bukankah kita yang memilih cara mendatangkan rejeki? Bagaimana kita bisa menyalahkan Tuhan? Padahal dalam menentukan pilihan, kita tidak pernah meminta pendapat dan saran dari Tuhan. Hingga kemudian nasib kita salahkan, atau malah keliru mengatakan kalau itu semua adalah takdir ... hidup dalam keluarga broken home, miskin, dan selalu melihat kekerasan setiap hari. Meratapi nasib? Boleh-boleh saja sih. Tapi mau sampai kapan? Tidak ada yang tahu hari esok. Tidak ada yang bisa diubah dari masa lalu. Yang kita miliki adalah hari ini. Sekarang ini. Jadi lakukanlah yang terbaik, apa yang bisa dilakukan saat ini.
Orang kaya tidak selamanya kaya, dan orang miskin tidak selamanya miskin. Ungkapan, "yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin," saya rasa hanya sebuah pemikiran dari orang yang tidak mau berusaha. Roda kehidupan itu memang berputar, tapi itu terjadi karena ada usaha untuk memutarnya. Saat sudah "diatas", sudah kaya dan mapan, tapi kemudian berhenti berusaha untuk menghentikan putaran roda kehidupan, ya dia pasti akan berada di bawah lagi. Begitulah prinsip roda kehidupan yang saya lihat dan rasakan. Tidak ada hal yang pasti di kehidupan ini.
Mungkin saat ini kita sedang berada di titik nadir kehidupan. Merasa disudutkan kenyataan yang tidak sesuai harapan, merasa lemah karena tidak bisa melawan kenyataan. Atau saat ini kita sedang berada di puncak dunia. Merasa menjadi orang paling bahagia sedunia, dan merasa kuat karena dukungan-dukungan orang di sekitar kita. Tapi itu semua tidak berlangsung selamanya kawan. Itu semua hanya sebuah momen, hanya sebuah fase dalam kehidupan. Itu semua hanya berlangsung saat ini, detik ini. Detik berikutnya, itu semua akan berlalu, hanya akan menjadi sebuah kenangan dari masa yang telah lalu. Ada dua jenis tahapan keberhasilan. Satu, jika kita sudah memperoleh apa yang dulu kita inginkan, kita bisa mengatakan bahwa itu sebuah keberhasilan. Dua, untuk yang sedang kita inginkan selanjutnya, yang akan kita capai setelah keberhasilan pertama kita dapatkan. Jadi, jangan pernah berhenti saat merasa berhasil, karena kita akan berhenti berusaha untuk menjadi lebih berhasil lagi. Jadi, sedang berada di titik manakah kita saat ini? Apakah sedang berlari, sedang berhenti, atau malah sedang keluar lintasan karena merasa tidak kuat lagi? Apapun itu, jangan pernah berpikir untuk kalah dan berhenti. Karena apapun yang terjadi sekarang, tidak pernah menentukan hasil akhir "perlombaan" dalam arena kehidupan. "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (I Korintus 9:24) *) Gambar podium GP Jepang 2005 dicomot dari sini. **) Gambar overtake Raikkonen terhadap Fisichella diambil dari sini. ***) Kimi Raikkonen saat ini mengikuti WRC bersama Red Bull Citroen.

Tuesday, August 10, 2010

Dia Setia

2 Timotius 2:13
"... jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Pernah nggak kamu alami saat-saat di mana Tuhan sepertinya meninggalkan kita? Tuhan serasa tidak peduli lagi pada kita, walaupun hati kita menangis dan berteriak, dan kita kadang nggak habis pikir kenapa Tuhan biarkan kita berjalan sendirian.

Contoh kehidupan Yusuf: Dikasih mimpi yang indah (Kejadian 37:5-11) >>> besoknya masuk sumur >>> dijual dan jadi budak. Baru saja meniti karir, sudah difitnah dan jadi Bang Napi. Yusuf ngalami itu semua tidak dalam waktu yang singkat, kira-kira 13 tahun.
Atau contoh kehidupan Ayub: Dalam satu hari semua hartanya ludes, semua anaknya mati, istrinya meninggalkannya, dan ia terkena penyakit borok.

Ngeliat dari dua tokoh ini saja, seakan Tuhan tidak peduli pada umatNya. Tapi apa benar Tuhan meninggalkan Yusuf pada waktu di sumur dan di penjara? Apa benar Tuhan meninggalkan Ayub saat sendirian?

Jangan pernah punya pikiran seperti itu. Tuhan nggak keliatan, tapi bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Memang ada kalanya Tuhan mengijinkan hal yang tidak enak terjadi pada kita, tapi bukan berarti Tuhan enggak peduli. Tuhan sangat peduli pada kehidupan kita, bahkan Ia sangat menyayangi kita seperti seorang Bapa sayang pada anaknya. Tapi ada kalanya Tuhan mendidik kita agar tidak menjadi ”anak gampang” yang mudah menyerah pada keadaan.

Pada saat Yusuf di sumur dan di penjara, saya percaya Tuhan menemani dia. Juga saat Ayub sendirian, saya percaya Tuhan juga turut merasakan apa yang ia rasakan. Jangan pernah meragukan kesetiaan Tuhan, Ia mengijinkan semua itu terjadi hanya untuk mendatangkan kebaikan pada diri kita pada akhirnya.

Kenapa kita harus ragu pada kasih setia Tuhan? Percayalah sekalipun kita tidak melihatnya.


Situasi yang kita hadapi seringkali tidak menyenangkan dan tidak seperti yang kita harapkan. Tetapi janji Tuhan selalu baik dan amin. Bila kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan kita hidup di dalamNya, sekalipun kelihatannya buruk dan tidak ada harapan, hal itu akan diubahkan menjadi keuntungan bagi kita dan membawa kemuliaan bagi namaNya.

Percayalah pada Tuhan sebab Dia setia.

Monday, August 9, 2010

Kotak Yang Tak Kasat Mata

Maaf, kalau tulisan berikut menyebutkan beberapa "merk".

"Bu, disuruh mama beli Rinso 5 sachet," kata Kevin, anaknya Parah Cin, suatu kali saat disuruh pergi ke warung. Penjaga warung yang sudah hafal dengan merk yang biasa dipake mamanya Kevin, langsung saja memberikan merk deterjen lain seperti biasanya.

Ato suatu saat yang lain.

"Pak, kapan mau beliin Honda buat Dimas? Dia kan udah kuliah sekarang." kata seorang istri kepada suaminya. Bukan merk motor Honda, tapi maksud istrinya suruh beli motor.

"Ma, Odol habis nih. Mau sikat gigi gak bisa," kata seorang suami pada istrinya. Padahal suaminya memegang merk lain, tapi istrinya tahu maksudnya, dia perlu membeli pasta gigi yang baru.

"Pak, Sanyo rusak. Gak bisa masak air." (yang dimaksud adalah pompa air, apapun merknya)
"Mas, beli Nokia. Hape lama saya rusak." (yang diinginkan hanya membeli ponsel baru, apapun merknya)
"Buatin Indomie rebus pake telor." (hanya ingin makan mie instant, apapun merk yang ada di dapur)
"Mbak, Aqua satu botol ya." (yang diberikan adalah sebotol air mineral, apapun merknya)

********/*******

Ya, itulah hal-hal yang sering terjadi di masyarakat kita. Sering memberikan label atau cap tersendiri, sesuai yang mereka inginkan. Mereka gak peduli, apakah orang lain tahu maksudnya atau tidak. Yang ada di benak mereka, Rinso itu berarti deterjen, dan Sanyo adalah pompa air. Titik. Perkara nantinya salah kaprah, salah ngasih barang, itu urusan belakang. Kalau sudah tahu sih gak masalah, cuma kalau orang yang belum mengenal sifat atau kebiasaannya, bisa jadi masalah.

Hal inilah yang kemudian terbawa-bawa sampai ke pergaulan di lingkungannya.

Kemarin malam, saat saya makan di angkringan, seorang bapak nyeletuk pada temannya.

"Wong batak ki nek ra dadi preman utowo pengacara, mesti dadi koruptor." (Orang batak itu kalau gak jadi preman atau pengacara, pasti jadi koruptor).

Saya sendiri yang sebagai orang batak, jelas tidak terima. Nyatanya saya bukan preman, pengacara, apalagi koruptor. Kalau istilah saya, masyarakat kita suka men-generalisasi-kan sesuatu. Ya itu tadi, suka memberi label kepada sekelompok benda atau manusia, berdasarkan "merk" yang paling terkenal diantara kelompok sejenis. Padahal, tiap manusia itu berbeda, mempunyai keunikan tersendiri. Mempunyai ciri khas masing-masing. Kalau ibarat makanan, masing-masing kita mempunyai rasa yang unik. Memang, banyak jenis soto yang dijual di pinggir jalan, tapi apakah semuanya mempunyai rasa yang sama? Soto di Sagan dan di jalan Mangkubumi, jelas berbeda rasanya, meskipun mempunyai jenis yang sama, yaitu soto kudus.

Terkait kasus makelar pajak, yang kebetulan, nama yang paling tenar disebut media adalah Gayus Tambunan, seorang batak. Apakah itu berarti semua marga (klan) Tambunan itu koruptor? Apakah itu berarti semua orang batak pada umumnya, juga seorang koruptor? Bagaimana jika yang tertangkap adalah orang Jawa? Apakah itu berarti semua orang Jawa itu juga koruptor? Pikiran yang sangat picik, bukan?

Sebuah adegan di film Cin(T)a, saat Annisa mengetahui kalau Cina bekerja part time untuk menghidupi dirinya. Kemudian Cina bilang, "gak semua orang Cina itu kaya". Cina tahu, kalau Annisa punya mindset demikian, bahwa semua orang Cina itu kaya. Nyatanya, tidak demikian. Lihat saja orang Cina yang hidup di luar pulau Jawa pada umumnya. Bahkan orang Cina yang hidup di Sintawang, banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Inilah mindset yang salah, yang harus masyarakat bangsa ini ubah. Cara berpikir yang sempit, yang bisa merusak persatuan bangsa ini. Cara berpikir yang picik, yang bisa membuat perpecahan.

Apakah karena pelaku bom di negeri ini semuanya muslim, lalu kita bilang, muslim itu teroris? Hingga kita selalu waspada saat melihat perempuan bercadar dan lelaki berjenggot. Nyatanya, banyak kan muslim yang baik? Yang bisa hidup bermasyarakat dengan damai. Mengapa harus memberi label demikian terhadap semua orang muslim?

Apakah karena negara Amerika Serikat dan sekutunya menyerang Irak, sehingga kita anti terhadap semua warga negara Amerika Serikat? Menyebut mereka semua adalah penjahat perang atau orang kafir? Hingga beberapa orang selalu antipati saat melihat turis asing yang sedang berjalan-jalan di pusat keramaian, sambil berpikir bahwa mereka adalah agen CIA atau sejenisnya. Belum tentu turis itu juga seorang agen CIA atau orang Amerika. Bisa saja turis itu berkewarga negaraan Australia atau Eropa.

Apakah karena kebanyakan motor yang masuk bengkel adalah merk Honda, hingga kita bilang bahwa Honda itu jelek? Pernahkah kita berpikir, mengapa di pulau ini, kebanyakan pasien yang dirawat di rumah sakit adalah orang Jawa? Bukankah itu karena populasi orang Jawa lah yang terbanyak di pulau ini? Hal ini juga sama dengan kasus merk motor yang banyak masuk bengkel tadi.

Apakah karena kita melihat, segelintir orang Papua sering berbuat onar dan mabuk-mabukan, hingga kita berkata kalau orang Papua hidupnya gak ada yang beres? Atau kita melihat orang Sunda yang suka kawin-cerai, hingga kita berpikir kalau semua orang Sunda hidup perkawinannya gak ada yang benar. Dan seterusnya.. dan sebagainya..


********/*******

Ayolah, coba kita ubah cara berpikir sempit seperti itu. Hal ini, disadari atau tidak, membuat kita hidup dalam kotak-kotak yang tak kasat mata, yang lama kelamaan, bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Saat kita melihat Gayus Tambunan korupsi, ya lihatlah personalnya, jangan lihat dia orang suku apa.
Saat kita tahu Dulmatin seorang teroris, ya lihatlah personalnya, bukan apa agamanya.
Saat kita dikhianati seorang Makassar, ditipu seorang di Jakarta, dianiaya seorang bonek Surabaya, dan lain sebagainya. Cobalah untuk lebih melihat personalnya, jangan lihat dia darimana, orang mana, suku apa, agamanya apa, siapa orang tuanya, siapa keluarganya, dan lain-lainnya.

Toh, dia yang berbuat, bukan orang-orang dari sukunya atau orang-orang yang seagama dengannya.

Bukankah isu SARA adalah isu yang paling sensitif untuk memprovokasi massa? Hal inilah yang harusnya kita bisa lihat, agar kita bisa lebih bijaksana, saat akan bertindak dan berbuat, untuk sebuah kemajuan bangsa dan negara.

Pada akhirnya, hal itu juga untuk kebaikan kita bersama.

"Aku menyukai semua manusia... hanya saja, aku membenci iblis yang ada di dalam diri mereka."
(Italian Job The Movie)




*) Untuk Indonesia yang lebih baik.

Yogyakarta, 6 April 2010 (11:27 AM)

Terbiasa Berdosa

Beberapa waktu lalu, saat saya jalan bersama teman sepulang makan siang, saya berkata padanya: "enak ya punya rumah di pinggir jalan gini, deket kawasan perkantoran, tinggal buka usaha warung makan, pasti laris."
Teman saya lalu menjawab, "malah gak enak. Berisik."
"Lha kalau udah biasa, lama-lama kan gak kedengeran lagi berisiknya. Sama kayak orang yang rumahnya dekat rel kereta api. Awal-awalnya pasti terganggu dengan suara kereta api, lama-lama udah biasa, seolah-olah gak dengar lagi kalo kereta api sedang lewat."
Teman saya lalu menepuk pundak saya, "nah itu boi bahayanya kalo udah terbiasa. Jadi gak mawas lagi."

Saya kemudian teringat sebuah acara talkshow di salah satu stasiun TV swasta nasional. Tergelitik dengan salah satu sesi acaranya, ketika para bintang tamu disuruh membuat pengakuan dosa di hadapan pemirsa televisi. Perihal perbuatan dosa yang selalu teringat dalam benak mereka. Yang menarik, salah satu bintang tamu di acara itu berkata bahwa dia tidak mempunyai pengakuan dosa yang harus dikatakan. Padahal bintang tamu lain sudah menceritakan tentang "dosa-dosa masa lalu"nya, dari mulai suka bolos sekolah, sampai makan di warung gak bayar. Tapi saat giliran bintang tamu itu harus mengucapkan pengakuan dosanya, dia bingung mau bilang apa. Apa karena kebanyakan dosa jadi bingung nyebutinnya, atau karena dia merasa hanya melakukan dosa-dosa kecil saja, sehingga merasa itu semua bukanlah dosa? Entahlah...

Bagi saya, tidak ada dosa kecil maupun dosa besar. Dosa tetap dosa, seberapa remehnya hal yang telah dilakukan, jika melanggar perintah Allah, itu artinya dosa. Dan apapun bentuknya, berapa besar efeknya tehadap hidup kita atau orang lain, itu tetaplah dosa.

Pernah, seorang teman di facebook menulis status: "memfitnah orang demi kebaikan salah gak sih?"

Seolah-olah, dia berpikir kalau sebuah kesalahan bisa ditutupi dengan sebuah kebaikan. Mungkin karena pengaruh film Robinhood, seseorang yang mencuri harta orang kaya untuk menolong orang miskin, hingga kemudian disebut sebagai pahlawan. Tapi apapun yang Robinhood lakukan dengan harta curiannya, dia tetaplah pencuri. Dan tindakan mencuri itu tetaplah dosa. Atau yang masih fresh di ingatan kita, saat seorang aktor gaek coret-coret di atap gedung MPR/DPR. Memang tindakannya (katanya) murni menyampaikan kekesalan dan aspirasi rakyat negeri ini yang gerah dengan sikap para wakilnya di Senayan. Tapi apakah perbuatan mencoret-coret gedung yang bukan hak miliknya merupakan tindakan yang terpuji? Kalau hal ini dibiarkan, aksi anarkis untuk menyampaikan aspirasi lama-lama akan dianggap hal yang biasa dan lumrah. Tapi apakah ini sebuah cara berpikir yang benar?

Saya pribadi juga disadarkan dengan hal itu. Saya dulu merasa kalau bohong kecil-kecilan, nyuri kue dari meja makan, nerobos lampu merah, nonton filmnya orang yang mirip Ariel-Luna, jualan gak jujur, hingga ngumpat di jalanan, itu semua bukanlah sebuah dosa, karena itu seperti sebuah kebiasaan. "Ya, karena semua orang melakukan..." begitu pikiran saya. Tapi akhirnya saya sadar, biar bagaimanapun, dengan alasan apapun, hal-hal itu tetaplah dosa di mata Allah, dan saya tetap harus mengakuinya di hadapanNya, dan memohon ampun akan itu semua, sambil berusaha tidak melakukannya lagi.

Dulu saat SMA, sekolah saya terletak di dekat tempat pembuangan sampah sementara. Hanya berjarak 50 meter dari gerbang sekolah. Pada awalnya baunya sangat mengganggu. Saat melintas di dekatnya, saya harus menutup hidung. Tapi setelah setahun bersekolah di tempat itu, bau sampah itu sudah tidak mengganggu lagi. Tiap hari, saat pulang maupun berangkat sekolah, saat bermain di dekat tempat sampah, hingga makan di sekitar tempat pembuangan sampah itu, saya sudah tidak mencium bau busuk lagi. Ya, karena udah biasa sih. Malah kadang kalau gak ada lagi “aroma khas” sampah, rasanya seperti ada yang hilang, seperti ada yang kurang.

Sikap terbiasa untuk hal-hal buruk inilah yang salah. Seharusnya tanamkan sikap untuk selalu mawas diri dari rasa nyaman akibat rutinitas, yang jangan-jangan sudah menjadi kebiasaan, dan ternyata itu adalah kesalahan yang selalu dibiarkan.

Saya penasaran. Jangan-jangan budaya korupsi di negara ini sulit diberantas karena para pelaku korupsi sudah terbiasa mengambil hak yang bukan miliknya. Atau budaya seks bebas di negeri ini demikian subur karena para pelakunya sudah terbiasa “tidur” dengan orang yang bukan pasangannya. Juga kleptokrasi yang sudah menjadi kebiasaan: dengan memberi “uang damai” kepada polisi saat ditilang, menarik “uang lelah” saat mengurus KTP/KK (yang seharusnya gratis), dan lain sebagainya. Sebuah perilaku yang salah dan berdosa, tetapi karena sudah biasa, jadi hilang rasa bersalah saat melakukannya. Bahaya yang tidak terlihat oleh mata : karena sudah biasa!

Ada dialog dalam film “Pintu Terlarang” yang saya ingat sekali.
Sudah berapa kali aborsi?
Pertama kali.
Mm.. first timer..
Hening sejenak.
Waktu pertama kali kami menggugurkan anak kami kemari, pulangnya kami tidak bisa tidur selama seminggu. Yang pertama rasanya seperti pembunuhan. Yang kedua, masih merasa bersalah. Tapi selanjutnya, seperti rutinitas, kayak makan malam di restoran.

Yang menarik perhatian saya saat kalimat “...tapi selanjutnya, seperti rutinitas...” diucapkan. Ada penegasan dialog disana. Aborsi itu pembunuhan, tapi karena rutin dilakukan, jadilah sebuah kebiasaan, seperti makan malam di restoran. Mungkin juga karena itulah seorang pembunuh yang sudah sering membunuh, saat melakukan pembunuhan untuk kesekian kalinya, sudah tidak memiliki perasaan bersalah saat merajang korbannya seperti merajang bawang berambang. Ah, jadi inget Ryan Jombang. Juga teroris yang masa kecilnya kurang bahagia, saat sudah besar jadinya suka ledakkin “petasan” dan bikin “kembang api” dimana-mana, bisa-bisanya tersenyum senang saat melihat korban tewas atau korban luka-luka akibat petasan yang dia ledakkan.

Terbiasa dengan sesuatu yang salah bisa jadi termasuk gangguan kejiwaan.

Takutnya, jika hal-hal yang salah jadi dianggap biasa, hal-hal itu kemudian akan menjadi sebuah budaya. Budaya korupsi, budaya main hakim sendiri, budaya kampanye ngobral janji, budaya kekerasan yang (akhir-akhir ini) dibudidayakan oknum FPI, budaya aborsi, budaya seks bebas, budaya MBA (Married Because Accident), budaya artis pakai narkoba, dan lain sebagainya. Saya takut masyarakat sudah gak peka karena sudah terbiasa dengan hal-hal itu di sekitarnya. Dan bahayanya lagi, ketika orang-orang yang sudah terlanjur “berbudaya buruk” itu melakukan pembelaan-pembelaan dengan pembenaran apa yang telah mereka lakukan dan budayakan. Lak wis ngawur tenan!*

Oleh karenanya, jangan suka membiasakan diri terhadap sesuatu yang salah. Saat pertama kali melakukan dan merasa bersalah, STOP sampai disitu saja. Ada pepatah: “apa yang terjadi satu kali tidak bakal terjadi lagi. Tapi apa yang terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk ketiga kali.” Dan selanjutnya, terserah Anda.

Jadi biasakanlah melakukan hal-hal yang baik. Apa saja hal-hal baik itu? Anda sudah tahu. Hal-hal yang biasanya susah untuk dilakukan (pada awalnya). Tapi jika sudah terbiasa melakukan hal-hal baik, dan menjadikan sebuah kebiasaan baik, niscaya sebuah budaya baik akan tercipta dengan sendirinya.

*) Nah sudah salah sekali!

Yogyakarta, 08 Agustus 2010 (1:48 PM)

Sunday, August 8, 2010

Mari Membaca

Pasokan kata-kata di seluruh dunia semakin bertambah, tapi permintaan semakin menurun. (Lech Walesa, mantan presiden Polandia).

Semoga karya sastra anak bangsa di kemudian hari tidak menurun nilainya. Bagaimana caranya agar hal tersebut terwujud? Dengan menghargainya lebih lagi. Salah satunya dengan membaca.
Aku terbengong-bengong melihat tingkah Arai. Ibuku sibuk menggulung kabel telepon yang kami campakkan. Aku semakin tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan, mengambil celengan ayam jagonya, dan tanpa ragu menghempaskannya. Uang logam berserakkan di lantai. Napasnya memburu dan matanya nanar menatapku saat ia mengumpulkan uang koin. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun dan pada detik itu aku langsung terperangkap dalam undangan ganjil sorot matanya. Seperti tersihir aku tergoda pada berbagai kemungkinan yang ditawarkan kelakuan sintingnya. Tanpa berpikir panjang aku menjangkau celenganku di dasar peregasan dan melemparkannya ke dinding. Aku terpana melihat koin-koin tabunganku berhamburan, baru kali ini aku memecahkan ayam jago dari tanah liat itu.

Arai terkekeh.

Aku tak tahu apa yang telah merasukiku. Aku juga tak secuil pun tahu apa rencana Arai. Yang kutahu adalah Allah telah menghadiahkan karisma yang begitu kuat pada sang Simpai Keramat ini -- mungkin sebagai kompensasi kepedihan masa kecilnya. Hanya dengan menatap, ia mampu menguasaiku. Atau mungkin juga aku bertindak tolol karena persengkokolan kami sudah mendarah daging.

"Kumpulkan semua, Ikal!!" perintahnya bersemangat. "Masukkan ke dalam karung gandum."

Koin-koin itu hampir seperempat karung gandum.

"Ayo ikut aku, cepat!! Pakai dua sepeda!!"

Kami berlari menuju sepeda sambil menenteng karung gandum yang beratnya gemericing. Kelakuan kami persis perampok telepon koin. Arai mengayuh sepeda seperti orang menyelamatkan diri dari letusan gunung berapi. Di luar pekarangan ia menikung tajam dalam kecepatan tinggi. Aku pontang-panting mengikutinya dengan hati penasaran. Yang terpikir olehku kami akan menghibahkan tabungan kami untuk Mak Cik. Mengingat kesulitan Mak Cik, aku tak keberatan.

Tapi ketika sepeda melewati perempatan, Arai berbelok ke kiri. Aku tersengal-sengal memanggilnya.

"Rai!! Mau ke mana??!!"

Jika ingin ke rumah Mak Cik, seharusnya ia belok kanan.

"Aku tahu, Kal. Ikut saja!!"

Maka layar pun digulung dan drama dimulai.



********/*******
Itulah sepenggal kisah dalam novel "Sang Pemimpi" karangan Andrea Hirata. Ada yang berbeda dari sepenggal tulisan itu saat diubah ke layar kaca, melalui sebuah film. Sejujurnya, cerita "Sang Pemimpi" jauh lebih enak dinikmati dengan membaca novelnya, daripada hanya menonton film yang mengadaptasi novel yang sama. Entahlah, apakah karena akting kurang meyakinkan para pemainnya, ataukah karena pengejahwantahan penulis skenario yang kurang tepat dalam menuliskannya. Sejauh yang saya lihat, sangat jarang sebuah film adaptasi dari novel, cerpen, atau cerbung lebih baik, dan lebih enak dinikmati daripada membaca novel, cerpen, atau cerbung itu sendiri.

Tapi "generasi kita gak mempan dikasih tulisan, karena kita generasi God philosophi in the movie... pengennya serba instan, cepet." [dialog di film cin(T)a]
Jadilah sekarang semua buku yang best seller dibikin film. Sehingga, "ah males gue baca bukunya, tebel banget, ntar selesai baca jadinya pake kacamata. Mending nunggu filmnya aja!"

Bukan meremehkan industri perfilman, hanya saja yang mau saya katakan adalah: dengan membaca kita dilatih untuk lebih bisa berimajinasi. Dengan imajinasi, kita bisa terbang di alam mimpi. Dan dengan mimpi-mimpi itulah peradaban manusia bisa terus berkembang. Coba seandainya tidak ada manusia yang berimajinasi ingin terbang bebas seperti burung di angkasa, pasti hingga saat ini tidak pernah ada pesawat terbang. Atau seandainya saja tidak ada manusia yang berimajinasi ingin bisa berbicara langsung dengan keluarga di lain kota atau negara, pasti hingga saat ini tidak pernah ada pesawat telepon atau ponsel yang bisa membuat orang-orang bebas berbicara dengan siapa saja, dimana saja.

Memang "bukan rahasia bila imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti." [dipopulerkan Dewa 19]

Bahkan salah satu perusahaan otomotif di Jepang, Honda, pernah membuat proyek "bebas bermimpi", sesuai jargon perusahaan mereka "The Power of Dreams", dan menghasilkan sebuah motor yang sangat irit dan mobil yang berbahan bakar air (H2O). Juga salah satu perusahaan software ternama, Microsoft, menggaji 1000 anak muda di Amerika, hanya untuk berimajinasi tentang apa yang mereka impikan di masa mendatang. Di kemudian hari, teknologi-teknologi baru pun tercipta.

Tidak, tidak ada yang salah dengan menonton film atau televisi. Hanya saja, terlalu sering menonton film atau televisi, akan membuat pikiran kita menjadi terbatas. Apalagi di Indonesia saat ini, program tayangan televisi yang mencerdaskan semakin berkurang, malah hampir tidak ada.

"Buku adalah jendela dunia" katanya. Dan Mohammad Hatta juga pernah berkata, "selama dengan buku, kalian boleh memenjaraku dimana saja. Sebab dengan buku, aku bebas."

Jadi, marilah kita coba untuk berinovasi dan berimajinasi, dengan lebih banyak dan lebih sering membaca buku, ketimbang duduk di depan layar televisi, dan hanya bisa menikmati, tanpa belajar membuat deskripsi atau diksi.

Penggalan cerita berikut kalau difilmkan, mungkin pengaruhnya akan biasa saja kepada penontonnya dan hanya berdurasi beberapa detik saja. Tapi jika dibaca...

Mengendap-endap, perempuan itu membuka pintu studionya sendiri seperti seorang pencuri yang takut tertangkap. Manusia paling berbakat dalam daftarnya tengah berupacara di dalam situ, memerawani ruangan lukisnya dengan sapuan tangan ajaib yang patut disambut riuh tepuk tangan. Mana mungkin momen bersejarah ini ia lewatkan.

Lampu studio masih menyala benderang. Perempuan itu melongok, memutar lehernya ke berbagai arah untuk meninjau dinding yang seharusnya sudah jadi lukisan spektakuler. Namun bidang-bidang besar itu tampak bersih. Matanya memicing tanda tidak terima. Kakinya lanjut melangkah hingga berdirilah ia di pusat ruangan, matanya terus mencari. Lambat laun, sehamparan pola halus menyeruak muncul, mengapung ke permukaan dinding. Dan ketika pandangannya mulai terfokus, hamparan itu tahu-tahu menyesaki ruangan, bagai air bah yang menerjangnya sekaligus tanpa diduga.

Terdengar bunyi saklar lampu dimatikan. Studio itu sontak gulita. Namun pada detik yang sama, ia merasa dikepung larik-larik sinar yang menyilaukan. Matanya kembali memicing, mengadaptasi kondisi dramatis tadi, sekaligus berpikir... cicak? Napasnya tertahan. Ratusan cicak berpendar, menyelimuti empat bidang dan langit-langit. Membungkusnya dalam takjub dan tanda tanya.

[Dewi Lestari - Cicak di Dinding (kisah dalam Recto Verso)]


Jadi, sudahkah Anda membaca hari ini?

NB (NamBah):
Membaca apa saja, 2 jam sehari, dapat membuat kepekaan dan kecerdasan emosional manusia bertambah. Diiringi dengan informasi-informasi baru yang diterima, otomatis ilmu pengetahuan yang mendukung proses belajar akan lebih banyak, sehingga membuat manusia tersebut lebih berguna.

Yogyakarta, 07 Agustus 2010 (10:23 PM)