Thursday, November 10, 2011

Menjadi Pahlawan Sejati

"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32)

Saya pernah mendengar cerita tentang Napoleon Bonaparte yang dalam masa tuanya, menangis ketika melihat lukisan Yesus Kristus di dinding kamarnya. Ia berkata, "Aku menaklukkan dunia dengan membunuh dan membinasakan banyak manusia. Tetapi Dia menaklukkan dunia dengan mengorbankan nyawa-Nya sendiri demi cinta-Nya pada manusia."

Seorang manusia yang dicap sebagai "pahlawan" oleh dunia, seringkali memerolehnya dengan mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Padahal jika direnungkan, pantaskah dia memerolehnya dengan mengorbankan orang lain demi cita-citanya?


Kalimat di awal tadi menyebutkan, bahwa orang yang sabar melebihi seorang pahlawan. Karena orang yang sabar sanggup menanggung segala sesuatu tanpa pernah merasa disakiti.

Bukankah itulah karakter seorang pahlawan sejati?

Orang yang sanggup berjuang tanpa memikirkan sebuah penghargaan atau pengakuan. Kadang sendirian, karena semua orang yang tadinya bersamanya telah kehilangan keyakinan. Orang yang mampu berjuang di tengah derasnya arus yang menentang. Tetap sendirian, karena dia tidak mau orang lain dikorbankan agar dia meraih apa yang dicita-citakan. Dalam kesunyian, dengan tetap memegang teguh keyakinan, bahwa perubahan memang tidak pernah instan. Dan kebenaran pada akhirnya selalu menang, tanpa pernah tahu kapan ia akan datang.

Kalimat di awal tadi juga mengatakan, bahwa orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Karena orang yang menguasai dirinya, tidak mudah diombang-ambingkan oleh suasana di sekitarnya.

Bayangkan orang yang merebut kota... Pastilah mereka dikuasai oleh emosinya, agar mempunyai kekuatan lebih untuk menumpas orang-orang yang melawannya. Saat merebut kota, pastilah ada mereka yang memertahankannya. Dan orang yang merebut kota, pastilah harus membinasakan mereka semua. Ada pertumpahan darah di sana. Ada yang dikorbankan demi tujuan merebut kota.

Dan sekarang bayangkan orang yang bisa menguasai dirinya... Pastilah mereka telah menguasai emosinya, sehingga tidak pernah terpancing oleh keadaan di lingkungannya. Bahkan seringkali mereka seperti termostat yang mampu mengubah lingkungan, menjadi seperti apa yang ia inginkan.

Sehingga jika ada manusia yang sabar dan mampu menguasai dirinya, bukanlah ia melebihi seorang pahlawan yang merebut kota?

Apakah manusia itu kamu?

Semoga kamu menjadi manusia seperti itu di lingkunganmu.



Tulisan terkait: Tidak Ada Yang Ingin Menjadi Pahlawan

Wednesday, November 2, 2011

Yakin Sudah Sukses?

Sukses. Kata ini sering didoakan oleh setiap orang tua kepada semua anaknya. Atau ketika teman kita merayakan hari lahirnya; “Semoga kamu menjadi orang yang sukses di kemudian hari.

Tapi sebenarnya apa arti dari kata “SUKSES”?

Menurut kamus lengkap bahasa indonesia, sukses bisa berarti berhasil, beruntung, lulus atau dapat dicapai dengan baik. Jadi kata sukses sangat abstrak maknanya.

Ingin sukses?” Kalimat itu juga sering menjadi kalimat promosi sebuah acara motivasi, atau kalimat ajakan untuk mengikuti sebuah bisnis yang modalnya harus mengajak orang sebanyak mungkin. Tapi nyatanya, tidak semua orang yang mengikuti acara motivasi atau bisnis tersebut menjadi orang yang (dianggap) sukses. Jadi adalah salah kalau orang mengartikan kata sukses dengan banyak uang atau memiliki jabatan dan kedudukan.

Kata “sukses” adalah kata sifat. Jadi artinya relatif bagi setiap orang. Tidak ada tolok ukur untuk menilai apakah seseorang sudah sukses dalam hidupnya.

Karena jika kesuksesan diukur dengan uang, berarti tidak ada tukang kebun yang sukses; supir yang sukses; office boy yang sukses; kasir supermarket yang sukses; bahkan tidak ada pembantu rumah tangga yang sukses. Padahal setiap orang ingin dikatakan sukses. Dan nyatanya, mereka yang banyak uangnya, masih membutuhkan tukang kebun, supir, office boy, kasir supermarket dan pembantu rumah tangga. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang mengatakan kesuksesan hanya dapat diukur dengan uang, jika tidak ada mereka yang kalian katakan “tidak cukup sukses” tersebut?

Atau jika kesuksesan diukur dengan pangkat dan jabatan, berarti tidak ada sersan yang sukses; staf manager yang sukses; perawat yang sukses; satpam yang sukses; bahkan tidak ada sekretaris yang sukses. Padahal setiap orang ingin menjadi sukses. Dan nyatanya, mereka yang berpangkat jenderal atau direktur utama sebuah perusahaan, atau dokter spesialis kenamaan, masih membutuhkan seorang sersan, staf, perawat, sekretaris dan satpam. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang menganggap kesuksesan hanya dapat diukur dengan pangkat dan jabatan, jika tidak ada mereka yang kalian anggap “tidak cukup sukses” tersebut?

Saya percaya, setiap manusia diciptakan dengan fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Seperti Tuhan menciptakan tubuh manusia. Semua organ tubuh kita mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Bisakah mata berkata pada telinga, “Aku tidak membutuhkanmu”? Atau seorang pemain sepak bola memandang remeh tangannya, karena dia memandang kakinya lebih berharga?

Jadi, sukses adalah sebuah pengertian. Untuk mencapainya, yang pertama harus dilakukan adalah mengerti apa yang menjadi tujuan hidup kita. Tahu apa yang menjadi cita-cita kita. Setelah itu, jika kita ingin sukses, kejarlah apa yang menjadi tujuan dan cita-cita hidup kita itu.

Sukses bukan berarti harus punya banyak uang. Sukses juga bukan berarti punya pangkat dan jabatan. Sukses berarti mengerti, kalau tujuan Tuhan menciptakan kita di dunia sudah tercapai.

Ketika kita sukses, kita tidak harus menjadi kaya atau terpandang di mata orang-orang. Ketika kita sukses, yang pasti kita akan puas dan bahagia dengan apa yang telah kita kerjakan selama ini. Tidak peduli apa kata orang lain pada diri kita saat ini. Yang paling tahu apakah diri kita sukses saat ini adalah diri kita sendiri. Karena ada seorang tua yang kaya dan mempunyai keluarga bahagia, tapi dirinya belum menganggap bahwa kesuksesan telah diraihnya. Orang tua itu berkata: “Masih ada cita-cita saya yang belum terlaksana.


Saya pribadi sering bertemu dengan orang-orang (yang dianggap) sukses di negeri ini. Dan kalimat yang sering meluncur dari mulut mereka adalah: “Saya bangga dengan apa yang telah saya lakukan dalam hidup saya.

Jadi, apakah Anda puas dan bahagia dengan apa yang telah Anda kerjakan selama ini? Jika iya, itu artinya Anda sedang berjalan dalam kesuksesan hidup Anda.

Salam sukses.

Tidak ada orang yang benar-benar sukses, jika ia tidak benar-benar menyukai apa yang dikerjakannya. -Andrias Harefa-

Saturday, August 27, 2011

Maaf, Bukan Selamat Ulang Tahun

Maaf. Itu kata pertama yang terlintas di benakku saat aku mulai menuliskan ini. Maaf karena terlambat untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, dan maaf karena aku tidak mendukungmu untuk promosi menjadi bintang satu.

Untuk maaf yang pertama, sebenarnya juga ada yang salah di sana. Aku sendiri tidak tahu, siapa yang menciptakan susunan kata itu: ulang tahun. Padahal tahun tak pernah berulang, tahun selalu berganti setelah 365 hari berselang. Kamu kemarin merayakan hari lahirmu. Tak lebih dari itu. Jadi aku mau katakan: selamat merayakan hari kelahiranmu. Mungkin karena rangkaian kata-kata “Selamat merayakan hari kelahiranmu” terlalu panjang, manusia di jaman SMS seperti sekarang menyingkatnya menjadi “Selamat ulang tahun.” Meskipun tahun tak pernah mundur, selalu maju. Dan sudah 24 tahun berlalu, sejak hari kelahiranmu.

Aku juga prihatin pada kondisimu di angka 24. Ditambah penampilan dan cara berpikirmu yang seperti pria 42 tahun, aku rasa kamu harus secepatnya menemukan seseorang yang bisa selalu bersamamu dan nantinya saling menuntun. Aku juga masih belum paham dengan kriteria calon ibunya anak-anakmu. Kalau orang berkata, “Dalamnya hati perempuan seperti dalamnya samudera,” aku bilang, "Dalamnya hatimu seperti kedalaman magma." Belum ada alat ukur untuk mengetahui seberapa dalam cairan panas di bawah sana.

Apa sih yang kurang dari seorang Letnan Ella? Cantik, cerdas dan cerewet sangat cukup untuk menutupi kelemahanmu yang (maaf) kurang tampan dan pendiam. Bahkan dia sudah menolak dua orang perwira lainnya, hanya gara-gara menunggumu mengatakan “Iya”. Tapi kamu masih diam saja. (Maaf letnan, aku hanya mau menyadarkan perwira bodoh dalam urusan cinta ini)

Kamu sekarang di angka 24. Semua teman se-angkatanmu sudah mempunyai pasangan. Atau pernah mempunyainya. Kamu? Hampir 10 tahun aku menjadi temanmu, belum pernah sekalipun aku melihatmu mempunyai hubungan dengan perempuan, yang lebih dari sekedar teman. Kamu masih menyukai perempuan, kan? (Kalimat terakhir diketik Kolonel Jo)

Apa kamu pernah berpikir begini: ketika kamu bertambah tua, (meskipun sekarang sudah terlihat tua -Jo-) kami, teman-temanmu akan hidup dengan pasangan masing-masing. Meskipun kami sekarang masih mau menemanimu makan malam, nonton di 81 atau bersama-sama melakukan manuver gila dengan F-18 seperti kemarin malam, kami tidak bisa selalu menemanimu setiap akhir pekan. Meskipun kamu pimpinan kami, itu semua sudah ada di ranah pribadi. Kamu tidak bisa menyuruhku meninggalkan pacarku, atau kapan Jo bisa berakhir pekan dengan keluarganya. Kami pun mempunyai kesibukan sendiri, dan aku yakin kamu juga punya kesibukanmu di tempat lain. Dan ketika kamu lelah, yang bisa punya waktu lebih untuk menemanimu pasti bukan sekedar teman. Jadi carilah perempuan (bukan laki-laki -Jo-) yang mau menjadi lebih dari sekedar temanmu.

Kalau kamu sekarang berpikir tidak ada, pasti karena kamu kurang membuka diri ke mereka. Ke semua perempuan di luar sana. Kamu tahu apa reaksi para bintara perempuan saat kamu masuk ke kelas mereka tadi siang? Dengan lencana di lengan kirimu yang cuma dipakai oleh segelintir perwira, itu sudah membuat mereka kagum dan bertanya-tanya. Harusnya itulah kesempatanmu untuk tebar pesona. Tapi kamu malah bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Dingin dan berbicara seperlunya. Padahal aku tahu kamu lebih gila dari semua perwira yang masuk ke kelas mereka. (Jo sebenarnya ingin mengguncang-guncang bahumu tadi, karena dia mengira kamu sedang di alam mimpi)

Ayolah, buka dirimu mulai sekarang kepada perempuan. Mungkin Letnan Ella tidak cocok dengan kriteriamu (maaf Letnan), tapi harusnya ada seorang perempuan yang bisa mendekati kriteria calon ibunya anak-anakmu. Kami sebagai temanmu juga sangat penasaran siapa perempuan yang bisa menaklukkan hatimu. (Kalimat terakhir ditulis dari hati kami yang paling dalam)

Dan karena itu, aku tidak bisa mendukungmu promosi menjadi bintang satu. Walaupun kamu sangat pantas untuk mendapatkannya. Aku hanya tidak mampu membayangkan, kalau nanti para perwira tinggi mengadakan pertemuan atau jamuan makan malam, hanya kamu yang hadir sendirian. Tanpa pasangan. Apa kata mereka? Kamu tidak ingin kan, mereka mempunyai pikiran yang sama seperti Kolonel Jo sekarang? Kalau itu terjadi, pasti para istri perwira tinggi yang lebih khawatir nanti. Jangan-jangan kamu akan menyukai suami mereka… ha ha ha :))

Jadi tolong pikirkanlah ini semua. Demi karirmu dan demi masa depanmu. Karena aku percaya, kamu akan menjadi perwira tinggi yang hebat di masa mendatang. Dan kata pepatah: di balik seorang pria hebat, ada seorang wanita luar biasa yang mendampinginya. Temukanlah dia.

Harapanku, saat tahun depan kamu merayakan hari lahirmu, kamu sudah menemukan pendampingmu. Hanya itu.

IAI Base, 271011

XS87YZ06

-Kolonel. (SS) Victor Hasiholan-

&

-Kolonel. (DF) Jonathan Reaven-

Monday, June 27, 2011

Integritas: Jangan Katakan Maaf

Kata "maaf" yang diucapkan pada orang lain menunjukkan rasa penyesalan kita padanya. Oleh karena itu jangan katakan maaf, alih-alih berkata tidak, pada tawaran yang buruk dari orang lain.

Misalnya dalam suatu pesta, seseorang menawari kita minuman beralkohol. Jika Anda tidak ingin meminumnya, katakan saja, "Tidak. Saya tidak meminum alkohol."
Karena jika Anda berkata, "Maaf. Saya tidak meminum alkohol," hal ini akan terdengar seperti, "saya menyesal karena saya tidak meminum alkohol."
Padahal menolak tawaran meminum alkohol bukan sebuah kesalahan. Baik malahan. Itu akan menjaga Anda tetap sadar, sehingga jika semua orang dalam pesta itu mabuk dan tidak dapat menyetir mobilnya untuk pulang ke rumahnya, Anda bisa menolong mereka semua.

Juga saat berkumpul bersama teman-teman Anda, kemudian mereka semua mulai menyalakan rokok, dan Anda ditawari oleh mereka sebatang rokok; cukup katakan, "Tidak. Saya tidak merokok." Jangan katakan, "Maaf. Saya tidak merokok." Sama seperti kasus minuman alkohol tadi, menolak tawaran untuk merokok bukan menunjukkan kesalahan yang Anda lakukan. Hal ini juga tidak akan menjadi pembenaran bagi teman-teman Anda yang merokok. Karena jika Anda berkata "Maaf", di pikiran para perokok ini akan terbentuk opini, "Orang yang tidak merokok selalu menyesal jika tidak merokok di kumpulan para perokok. Kasihan mereka... ha.. ha.. ha.."

Jadi, cukup katakan "tidak" saat ada yang menawari Anda untuk korupsi, berjudi, mengonsumsi narkotika dan hal-hal lainnya yang bisa merusak masa depan Anda.


Berkata "tidak" pada sebuah tawaran dari orang lain, bahkan dari sahabat atau kenalan, menunjukkan bahwa Anda punya prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Inilah yang kemudian disebut dengan integritas.

Sunday, May 22, 2011

Penulis Bayangan di Antara Nasib dan Keberuntungan

Penulis bayangan, atau istilah kerennya ghost writer, adalah sebuah “side job” untuk mereka yang hobi menulis. Disebut hantu atau bayangan, karena profesi ini memang tidak akan membuat pelakunya nampak di permukaan. Dan memang dikondisikan demikian. Beda dengan profesi penulis profesional lainnya, seperti penulis sebuah buku cerita, yang namanya akan langsung dikenal oleh pembacanya.

Lalu ada yang bertanya, "Gimana ya caranya jadi ghost writer? Pengin nih. Ada tips gak selain terus menulis?"

Saya lalu bertanya balik padanya: “Bagaimana menjadi ghost writer atau bagaimana (kok bisa) menjadi ghost writer?

Untuk pertanyaan pertama, saya tidak bisa menjawabnya. Atau lebih tepatnya, belum layak memberikan jawabannya. Alasannya: saya juga baru belajar. Baru saja memulainya. Jadi untuk memberikan jawab bagaimana menjadi ghost writer, saya masih kurang kompeten untuk menjelaskannya. Mungkin ada “hantu” lain yang membaca tulisan ini mau memberikan jawabannya? :)

Dan untuk pertanyaan kedua, “Bagaimana (kok bisa) menjadi ghost writer?” Jawaban saya sederhana: karena nasib dan keberuntungan.

Nasib itu bisa diusahakan. Dengan melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukan. Sisanya itu urusan Tuhan. Inilah keberuntungan. Kata pepatah: “Do the best, and let God do the rest.

********/*******


Beberapa waktu lalu saat makan siang bersama orang yang sedang saya “bayangi”, saya menanyakan hal ini. Mengapa saya? Bagaimana dia menemukan saya? Apa yang membuatnya memilih saya?

Jawaban beliau juga sederhana: karena nasib dan keberuntungan.

Percakapan kami selama kurang lebih 30 menit di siang itu, tentang nasib dan keberuntungan, mengingatkan saya pada sebuah dialog di film “Ghost Writer”.

Ruth Lang (RL): “Kau adalah ideku.

Ghost Writer (GW): “Benarkah?”

RL: “Kau menulis buku memoar Christy Costello, bukan?

GW: “Kau membacanya?”

RL: “Kami menginap di rumahnya, di Mustique, musim dingin lalu. Bukunya ada di samping tempat tidur.

GW: “Memalukan.”

RL: “Jangan, mengapa? Itu luar biasa, walaupun mengerikan. Bagaimana kau mengubah ocehannya menjadi sesuatu yang berkesinambungan, itu sangat brilian. Lalu kubilang pada Adam, ‘Inilah orang yang akan menulis bukumu, bukan Mike.’”

********/*******

Intermezzo: Tips Ngeblog ala Vic.

Beberapa orang menganggap, menulis sebuah web log (catatan di web), yang lalu dikenal dengan sebutan “blog”, adalah sesuatu yang tidak perlu diseriusi. Atau dia serius, tapi lama-lama bosan karena tujuannya tak tercapai. Apa tujuannya? Ingin terkenal.

Tetapi sebagai blogger, seharusnya kita menerima kenyataan: bahwa internet itu sebuah media yang ketenarannya masih kalah dengan televisi, koran, majalah dan radio. Ingin cepat terkenal? Bikinlah sensasi di televisi. “Masuk ke TV” akan membuat Anda terkenal. Apalagi di stasiun TV nasional. Jadi kalau Anda menulis sebuah blog, lalu bermimpi menjadi terkenal, sepertinya Anda kurang menyadari realitanya.

Internet saja masih dibagi menjadi beberapa segmen yang punya peminat masing-masing. Ada media sosial seperti Facebook dan Twitter (jadi TT di Twitter gak akan membuatmu jadi terkenal jika tidak dibantu media lainnya). Lalu forum online seperti Kaskus. Ada e-mail dan mailist (ikut semua mailist yang ada, gak bakal membuatmu terkenal juga). Tempat chatting seperti YM dan Mirc. Juga Youtube (gak semua orang yang upload video dirinya ke Youtube menjadi terkenal). Kemudian tempat berbagi file seperti Mediafire dan 4shared.

Masih banyak segmen yang lain di media internet, dan blog menduduki peringkat ke sekian. Fakta lainnya: apa yang membuat orang mau berkunjung ke blog Anda? Padahal ada ribuan blog terdaftar lainnya. Jadi apa yang bisa membuat blogmu dilirik orang?

Tips saya sederhana: buatlah blog yang isinya berguna bagi yang mengunjunginya. Bisa tentang tips dan trik mengelola sebuah gadget. Atau cara-cara menggunakan suatu alat (terkenal dengan istilah: “how to”). Bisa juga berisi kalimat-kalimat motivasi dan cerita yang bisa memberikan pencerahan. Atau sebuah blog yang berisi tentang berbagai macam informasi, seperti resep masakan atau cara membuat berbagai macam jenis roti.

Pernah nonton film “Julie and Julia”? Bagaimana sebuah blog resep masakan yang dia kerjakan, bisa menjadikannya terkenal. Membuatnya mendapat berbagai tawaran untuk menulis buku dan wawancara di televisi. Itu semua dimulai dari sebuah media yang sederhana: blog.

Tetapi jika blog Anda hanya berisi curhat pribadi, ajang narsis atau catatan tentang hidup Anda sehari-hari; orang yang “nyangkut” di blog bisa saja akan berpikir: “Siape elu?”

Meskipun gak salah juga menuliskan hal-hal pribadi di blog Anda. Toh itu blog Anda pribadi, yang bisa dicorat-coret sesuka hati. Tapi blog yang isinya seperti ini, biasanya, jarang dikunjungi. Atau ada yang “nyasar” lalu tidak akan kembali lagi. Kecuali pemilik blog itu adalah orang (lebih dulu) terkenal di media lainnya.

********/*******


Intermezzo: Hubungan Pencari Kerja Dengan Pencari Pekerja.

Sama-sama membutuhkan. Itu yang bisa saya simpulkan dari obrolan saat makan siang dengan seorang CEO sebuah perusahaan nasional. Pencari kerja dengan pencari pekerja itu sama-sama saling mencari sebenarnya. Mencari kecocokkan. Pencari kerja mencari tempat kerja yang cocok, dengan imbal balik (gaji) yang cocok, dengan pekerjaan dan lingkungan kerja yang cocok. Sebaliknya, pencari pekerja juga demikian. Dan untuk menemukan yang sama-sama cocok itu membutuhkan usaha yang tidak gampang. Membutuhkan proses yang lama.

Tetapi dengan sedikit keberuntungan, kecocokkan antara pencari kerja dan pencari pekerja bisa ditemukan dengan mudah. Tidak perlu waktu dan proses pencarian yang lama.

********/*******


Setiap orang pernah mengalami kok saat-saat di mana mereka tidak diakui dan diremehkan. Tapi yang membedakan antara orang sukses dan tidak adalah, orang sukses tetap tekun membina diri di saat-saat demikian.” (Alberthiene Endah via @AlberthieneE)


Seorang penulis bayangan itu tidak perlu mencari. Tapi menunggu untuk ditemukan. Beliau, orang yang saya bayangi pernah berkata (kira-kira) demikian, “Vic, yang harus dilakukan benda berharga itu hanya menunggu. Menunggu untuk ditemukan. Dan tiap orang yang menemukannya pasti merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Ya begitulah yang saya rasakan sekarang.”

Tapi dalam proses menunggu itu, tiap “benda berharga” pasti mengalami proses yang tidak gampang. Bahkan menyesakkan. Bisa bayangkan, misalnya Anda menjadi bongkahan emas yang terkubur ratusan meter di bawah permukaan tanah. Juga mutiara yang terpendam di dasar lautan. Atau berlian yang tersimpan dalam perut bumi. Minyak, batu bara dan benda berharga lainnya. Benda-benda itu pasti terkena proses alam yang menyakitkan: panas, dingin, gelap dan sendirian. Tapi proses itulah yang membuat tiap benda berharga menjadi semakin berkualitas.

Kurang lebih begitu juga proses manusia agar menjadi berguna. Tetapi banyak manusia yang tidak tahan pada proses dan bosan menunggu dirinya ditempa, hingga akhirnya mereka terkena seleksi alam dan hilang secara perlahan.


Menulislah selalu dengan kemampuan terbaikmu, sambil terus tingkatkan standar itu. Kemudian publikasikan tulisanmu. Karena siapa yang tahu kalau kamu ada, jika kamu tidak pernah mempublikasikan dirimu kepada dunia? Tulisanmu bisa mempresentasikan siapa dirimu sebenarnya.

Entah saat nge-blog atau menulis buku, menulislah seakan-akan tulisanmu itu akan disertakan dalam nominasi penghargaan untuk penulis (cerpen/novel/artikel/puisi) terbaik di dunia. Karena kamu tidak akan pernah tahu, siapa yang akan mengunjungi blogmu. Atau siapa yang akan membaca bukumu yang terselip di antara ribuan buku, di sebuah toko buku.

Di luar sana ada banyak orang yang tidak punya waktu untuk menulis. Atau punya waktu, tapi tidak tahu bagaimana caranya menulis buku. Padahal bisa saja ada ide baru di kepala mereka, atau pengalaman-pengalaman hidup yang terlalu berharga untuk disimpan sendirian saja. Di sinilah peran seorang penulis bayangan. Menjadi penulis pengganti, hingga seolah-olah dia yang dibayangi adalah penulis bukunya sendiri.

Mereka yang mencari seorang ghost writer biasanya akan mencarinya di toko buku. Tentunya dengan membaca buku-buku yang ada di sana. Dan jika mereka suka dengan gaya bahasa atau pemikiran penulisnya, selanjutnya mereka akan menghubunginya. Atau mereka melakukan "jalan-jalan" di dunia maya. Mengunjungi blog-blog yang ada.

Karena tulisan Anda, biasanya, mencerminkan siapa diri Anda sebenarnya. Itu bisa terlihat dari gaya bahasa saat menuliskan apa yang ada di pikiran Anda. Bahkan caramu menulis SMS bisa mencerminkan kepribadianmu.

Jadi teruslah menulis untuk memublikasikan diri Anda. Teruslah menulis meskipun tidak ada yang baca, kata Seno Gumira Ajidarma.

Tidak hanya pencari ghost writer yang suka jalan-jalan di dunia maya. Simak penuturan Oktavia Erdyan, pendiri Terrant Books, di majalah Femina No. 11/XXXIX (19-25 Maret 2011).

Berani Jemput Bola

...Selain menggandeng penulis yang “sudah punya nama”, Via, sapaan akrab Oktavia, juga rajin mencari penulis baru di dunia maya. Dari pengalamannya, banyak penulis berbakat siap diasah yang bersembunyi di sana. “Kan banyak remaja yang punya blog. Ternyata, selain curhat, mereka suka menulis cerita di blog,” kisahnya. Bahkan, Via sering terinspirasi oleh curhat blogger remaja di blog-nya. “Saya jadi tahu dunia remaja, problemnya, dan tren di kalangan mereka,” katanya.

Dengan cara itu Via berkenalan dengan Cassandra Niki, mahasiswi asal Yogyakarta yang rajin nge-blog dengan nama Casseyburn. “Cassandra sudah terkenal di antara blogger remaja. Dia menulis cerita serial di blog-nya. Saat saya ajak dia untuk menulis buku, dia antusias sekali. Awalnya, dia tidak pede, tapi saya terus menyemangati karena saya tahu dia mampu,” ujarnya. Berkat bimbingan dan arahan dari via, tahun 2010 lalu terbitlah buku perdana Cassandra: Letters, Stories and Dreams.

...Meski menggunakan strategi jemput bola, Terrant Books terbuka menerima naskah novel. Ada tim yang khusus menyeleksi naskah kiriman penulis. Setelah melewati seleksi mereka, barulah Via menyeleksi lagi. Salah satu triknya adalah hanya membaca beberapa halaman pertama. “Kalau setelah 5 halaman saya masih tertarik membaca, berarti naskah tersebut bagus,” ujarnya.


Kadang, orang berhenti corat-coret di blognya, karena dia menganggap hal itu sia-sia. Padahal semua yang kita lakukan untuk pengembangan diri itu berguna. Dan menulis itu baik untuk mengembangkan diri Anda. Jadi menulis di blog itu tidak pernah sia-sia.

Terakhir, simak apa kata Wimar Witoelar tentang anonim di dunia maya: “Kalau niatnya baik, mengapa harus anonim?” (via @wimar)

Jangan malu untuk menunjukkan dirimu melalui blogmu. Tunjukkan dirimu pada dunia lewat karya-karyamu. Menulislah selagi kamu mampu. Anggap blogmu adalah bentuk perkenalan dengan orang-orang di luar sana. Dan jika dirimu unik, pasti ada yang melirik.

Masalah nanti akan dikontrak jadi penulis bayangan atau penulis buku, itu hanya soal waktu. Karena semuanya akan kembali lagi pada nasib dan keberuntunganmu. Itu...


Yogyakarta, 22 Mei 2011

Untuk: Rissa Arisa.