Showing posts with label victhink. Show all posts
Showing posts with label victhink. Show all posts

Saturday, May 9, 2020

Menjadi... Bukan Mencari

The Search for The Sacred: Bagaimana jika pertanyaannya bukan lagi: "Apakah Anda sedang mencari?", tetapi: "Apakah Anda sudah menjadi?".

Saat materi “Terapi Terapeutik” di kelas School of Counseling (SOC), pemateri mengatakan bahwa setiap orang itu hidup seperti dalam film, yang mempunyai genre masing-masing. Ada film kehidupan ber-genre drama, action, sci-fi, thriller, horor, komedi, komedi romantis, dsb., dan kita adalah lakon utamanya. Jika genre hidup kita drama, maka akan menarik pemeran-pemeran drama lainnya untuk masuk ke kehidupan kita: ada pemeran orang bermuka dua, ada pemeran orang yang suka menyakiti/disakiti, dan selalu ada yang memerankan orang yang suka berkata-kata di dalam hati sambil memainkan mimik muka sadis… Itu sebabnya, mereka yang belum kenal dirinya dan atau tidak mau mengubah “genre” hidupnya, cenderung akan mengulang-ulang peristiwa yang sama dan bertemu lalu berteman dengan mereka yang karakternya mirip-mirip dengan dirinya.

Misalnya, seperti yang pemateri SOC waktu itu cerita, ada seorang wanita yang selalu berhubungan dengan pria yang suka menyakitinya. Sampai berkali-kali, dan dia masih tidak tahu mengapa bisa terjadi. Pacarnya adalah pria-pria yang kasar, sering mem-bully dirinya, dan tidak segan melakukan kekerasan fisik padanya. Mungkin genre hidup wanita ini adalah drama. Di alam bawah sadarnya, dia suka disakiti sebenarnya. Kalau gak salah ingat, Pak Siswanto, pematerinya, berkata demikian. Saat itu saya tidak habis pikir, kok ada ya orang seperti itu… dan ternyata memang ada di dunia nyata. Berikut adalah pengakuan dari Ally Vestervelt, salah satu contoh orangnya, yang ditulis di buku “The Sacred Search”:

Lihatlah kesalahan-kesalahan calon pasangan Anda dan pikirkan apakah Anda bisa hidup dengan kelemahan-kelemahan itu, ya. Pikirkan apakah Anda ingin orang ini menjadi ayah/ibu bagi anak-anak Anda, dan sebagainya. Tetapi, saya memberi peringatan kepada para lajang untuk tidak menyalahkan hubungan buruk pada pihak lain. Saya pikir hal ini seperti mempersiapkan kegagalan dalam penikahan. Saya menghabiskan terlalu banyak waktu sebagai seorang lajang untuk mencari “suami yang baik” dan tidak punya cukup energi untuk memikirkan bagaimana saya bisa menjadi seorang istri yang baik.
Menurut pengalaman saya, kelemahan pasangan saya paling banyak mencerminkan kesalahan saya sendiri, meskipun saya tidak menyadarinya. Jika saya ada dalam sebuah hubungan dan berpikir, “Wah, pacar saya jelas tidak siap menikah, karena ia memiliki masalah besar seperti ini,” ternyata kemungkinan besar saya juga memiliki masalah besar seperti itu. Mungkin bukan persis masalah yang sama, tetapi masalah itu sebagian besar mencerminkan kelemahan pasangan saya. Saya khawatir banyak lajang yang sedang memandang pada sebuah hubungan buruk, lalu berpikir: “Oke, yang harus saya lakukan adalah memutuskan hubungan ini dan mencari calon yang lain. Itu tidak akan memecahkan masalah. Setidak-tidaknya, solusi itu tidak memecahkan masalah saya.
Butuh tiga hubungan tragis sebelum saya menyadari masalahnya adalah diri saya sendiri (betapa lamban saya belajar!). Saya terus berpikir kalau saja saya bisa keluar dari hubungan “buruk” ini, saya akan bisa menemukan hubungan yang lebih baik, –pria yang lebih baik–. Dan, ketika hubungan saya masih saja berjalan dengan buruk, saya masih belum melihat peran saya di dalamnya. Saya terus berpikir, "Mengapa Allah menentang saya? Apakah saya ini magnet bagi pria-pria brengsek?!"
Setelah dengan tiga orang pria luar biasa yang berbeda dan tiga kali putus hubungan luar biasa berikutnya, baru semuanya menjadi jelas bagi saya: ke mana pun saya pergi, hasilnya sama saja. Menemukan pria yang lebih baik bukan jawaban. Saya harus membereskan sesuatu yang salah dalam diri saya sendiri.

Nah sekarang, bagaimana jika pertanyaannya bukan lagi: “Orang seperti apa yang Anda cari?” atau "Apa kriteria pasangan hidupmu nanti?", tetapi: "Apakah Anda sudah menjadi pribadi yang dicari oleh pasangan hidup yang Anda inginkan di kemudian hari?".

Banyak kaum pria menghabiskan waktu hidupnya untuk mencari wanita yang diinginkannya, yang sesuai kriterianya; tapi tidak pernah mencari tahu apa yang diinginkan oleh wanita dengan kriteria yang dicarinya. Sebaliknya, banyak kaum wanita menghabiskan tenaga dan waktunya untuk menjadi yang paling diinginkan oleh para pria; tapi tidak pernah mau tahu apa yang dicari oleh pria yang kelak diinginkannya untuk menjadi pendampingnya. Sehingga yang terjadi, mereka saling ribut menuntut karena masing-masing ingin pasangannya berubah sesuai keinginannya sendiri. Atau, yang lebih parah, salah satunya menjadi selalu menerima perlakuan pasangannya dan selalu mengalah; seolah-olah percaya bahwa takdir hidupnya memang demikian: diciptakan untuk selalu kalah.




Cerita pengakuan dari Ally Vestervelt tadi sedikit banyak menggambarkan situasi belakangan sekarang; hampir semua orang selalu mencari ke luar, tapi jarang yang melihat ke dalam dirinya. Sebagian besar orang selalu menuntut pasangannya melakukan sesuatu untuk dirinya, untuk menjadi seseorang yang diinginkannya; tanpa pernah merenungkan apakah dirinya sudah benar-benar seperti yang diinginkan pasangannya.

Karena pernikahan bukanlah sekadar mengenai menemukan orang yang tepat, sehingga Anda bisa memiliki pernikahan yang indah. Pernikahan itu juga tentang menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari; dan siapa pun yang (akan) menikah dengan Anda (harusnya) bisa membantu Anda mewujudkan hal ini. Sebab saya percaya, tujuan pernikahan Kristen bukanlah untuk mencari kebahagiaan semata, tetapi tujuannya lebih kepada pertumbuhan bersama-sama di dalam Tuhan dan bisa memberi dampak yang baik bagi sesamanya.

Jadi sebelum mencari orang yang tepat, jadilah orang yang tepat; agar bisa menarik si dia yang tepat untuk datang mendekat.

Friday, May 8, 2020

Joker: Bukan Orang Baik

Kalau Joker ada di Indonesia, mungkin lagu favoritnya itu "Secukupnya" dari band Hindia.

Salah besar jika ada yang memiliki kesimpulan kalau film Joker (2019) ini menunjukkan kalau orang jahat itu adalah orang baik yang tersakiti. Orang baik akan tetap jadi orang baik, seberapa pun ia disakiti. Juga menurut saya, film ini malah menjadi representasi buruk dari mereka, Orang-orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yang digambarkan akan menjadi pelaku kriminal jika dibiarkan.

Arthur Fleck (yang lalu dijuluki: Joker) adalah seorang dengan gangguan jiwa: schizophrenia. Diperlihatkan kalau dia memang minum obat-obatan untuk menekan efek sakitnya: delusional/berhalusinasi. Dia juga punya banyak luka batin, kepahitan hidup, dan seorang korban perundungan (bully).

Seseorang yang seumur hidupnya selalu menempatkan diri sebagai korban (playing victim), memang hidupnya kebanyakan akan selalu berakhir seperti Arthur: menyalahkan semua orang akan apa yang terjadi di hidupnya, seolah-olah dia tidak punya kendali sedikit pun pada kebahagiaannya, pada emosinya, pada pikirannya, pada kebebasannya. Oleh karenanya dia, Joker, dijadikan simbol kaum yang senang berpikir dirinya adalah korban.

Poster film "Joker" (2019)

Saya pikir semua orang yang sudah dianggap dewasa, pasti punya pengalaman menjadi Arthur Fleck di dalam sebuah masa di hidupnya. Bedanya, ada mereka yang kemudian sadar bahwa hidupnya itu tidak dalam kendali orang lain, melainkan sepenuhnya dalam kuasa dirinya sendiri... dan ada mereka yang percaya bahwa dirinya tidak bisa melawan kehendak "semesta", sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya, sehingga selalu menyalahkan siapa saja: pemerintah, sistem hukum, kesepakatan masyarakat, dll., yang membuat dirinya berakhir menjadi seorang yang delusional, selalu mengasihani diri sendiri saat tidak terlihat oleh orang-orang. Sakit? Iya. Memang sudah dan akan makin banyak orang sakit seperti Arthur Fleck ini di zaman sekarang. Di Indonesia saja, yang saat ini tercatat, ada 1 dari 10 orang yang menderita gangguan kejiwaan.

Tapi apa bisa sebuah negara, atau kota seperti Gotham, akan mampu bergerak maju (menjadi lebih baik) jika semua penduduknya menganggap apa yang dilakukan oleh Joker itu benar? Lalu tiap hari terjadi kerusuhan di mana-mana, kekacauan karena selalu ada ketidakpuasan, pemberontakan pada pemerintahan... dan ketika kehidupan bergerak mundur secara perlahan, semuanya berlagak menjadi korban. Ya kalau begitu selamanya Gotham akan menjadi kota mati. Kalau sudah begitu siapa yang bisa disalahkan? Mereka akan saling terus menyalahkan, lalu bunuh-bunuhan di antara mereka yang berpikir dirinya adalah korban. Terus?
Terus ya akan looping, berputar di situ-situ saja; bergerak di tempat, gak akan ke mana-mana.

Sudah sering digambarkan kalau kejahatan itu hanya akan menghasilkan kejahatan lain. Kekerasan hanya akan menyublim menjadi kekerasan dalam bentuk lain. Begitu seterusnya... kapan selesainya?

Jadi gak usahlah memperbaiki sistem (pemerintahan) dengan cara membuat atau jadi jalan kerusuhan, lalu berdalih 'jika gak gitu, gak akan diperhatikan'.

Padahal digambarkan di film Joker, Arthur Fleck itu sesungguhnya adalah korban kekerasan orangtua angkatnya. Dia diadopsi bukan untuk disayangi, tapi malah dijadikan pelampiasan, dibuat sasaran ketidakwarasan, akibat sakit jiwa yang diderita ibunya. Setelah dewasa, Arthur lalu membunuh ibunya yang sudah selama ini dirawatnya. Kekerasan terjadi lagi. Pembunuhan dianggap hal yang wajar jika terjadi. Kebrutalan-kebrutalan yang selalu dijadikan pembenaran bagi mereka yang menganggap dirinya adalah korban... yang salah selalu orang lain. Dirinya selalu benar... apakah mulai terdengar familiar?

Cuma saya juga menangkap pesan kalau "menjadi korban" itu juga diakibatkan oleh ketidakpekaan orang lain juga, akibat hilangnya rasa empati pada sesamanya. Oleh sebab itu apa yang bisa dilakukan pada fakta bahwa saat ini sudah ada "Arthur Fleck" di sekitar kita, dan akan bertambah lagi di masa yang akan datang di Indonesia?

Ya... milikilah rasa empati pada sesama, jangan selalu ingin menguasai semuanya; atau ingin memiliki segalanya. Sebab akan selalu ada korban pada sistem yang dibuat oleh mereka yang serakah dan hanya berpikir soal dirinya. Juga kembali lagi, realitanya tidak semua korban di sini bisa berpikir jernih untuk menyadari bahwa dirinya adalah pengendali hidupnya sendiri.



Setiap orang yang kamu temui di luar sana memiliki masalah dan beban yang berat menurutnya, yang kamu tidak tahu seberapa besar itu memengaruhi dirinya. Jadi tetaplah bersikap baik pada siapa saja dan lakukanlah ini pada tiap kesempatan yang ada. Mungkin dengan demikian, para "Arthur Fleck" di sekitar kita tidak akan berubah menjadi "Joker" di masa depan.

Sekian.

Thursday, May 7, 2020

Kompetisi Lampu Sorot


(sharing utas dokter Jiemi)



Di sebuah adegan dalam film "Notting Hill", ada momen di mana hampir semua pemerannya duduk di satu meja makan, setelah makan malam, dan berkompetisi untuk mendapatkan potongan roti brownies terakhir yang disajikan sebagai hidangan penutup. Kompetisinya cukup mudah: siapa yang cerita hidupnya paling menyedihkan, dialah yang menjadi pemenang.

Adegan itu langsung teringat di kepala saya ketika membaca utas dokter Jiemi mengenai "Kompetisi Lampu Sorot".

Ketika sekolah konseling dulu, cara untuk menghindari kompetisi lampu sorot adalah dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Setelah kenal, setelah mengenali luka-luka batin yang disadari dan yang tidak disadari, lalu ikut "proses penyembuhan"nya hingga bisa berdamai dengan itu semua, barulah lolos ke level selanjutnya. Karena apa? "Gak mungkin kan ada konseli yang cerita masalah dengan pacarnya, lalu karena Anda, konselornya, juga punya luka yang sama, kemudian ikut emosional dan membuat panas suasananya. Atau lebih parahnya, Anda malah menggampangkan masalahnya: 'Halah... cuma gitu aja. Aku lho dulu...'".

Kompetisi lampu sorot: ketika ada orang lain cerita tentang masalahnya pada Anda, Anda malah menyoroti diri sendiri dengan masalah yang Anda pernah hadapi dan mengecilkan masalah orang di depan Anda.

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Nyokap gak tahu kalau sahabat gue sebenernya itu pacar. Gue takut dia gak siap terima bahwa anaknya bukan heteroseksual."
Tapi Anda malah meresponnya: "Mending elo cuma takut ketahuan homoseksual. Lha dulu gue malah jelas-jelas kelihatan banget bawa pacar beda agama ke rumah."

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Bokap maksa gue milih Capres pilihan dia. Kalau nggak, gue gak dikasih uang bulanan."
Tapi Anda malah meresponnya: "Ya udah sih, bilang aja loe nyoblos Capres sesuai keinginan bokap loe. Biarpun loe nyoblos lawannya."

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Saya udah bener-bener gak bisa percaya laki-laki lagi sih."
Tapi Anda malah meresponnya: "Bener, Jeng. Laki itu emang buaya semuanya!"

Pelaku kompetisi ini merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita. Dia menjadikan penderitaan sebagai kompetisi agar sebagai pemenang, dia menjadi berhak yang paling banyak bicara dan lawan bicaranya seharusnya bersyukur kalau penderitaannya belum seberapa. Itu kenapa para calon konselor harus sembuh dulu dari luka-luka batin di dalam dirinya, sebelum nantinya bisa membantu para konseli untuk berproses menyembuhkan luka-luka di batinnya.

Lagipula rebutan lampu sorot ini, menurut dokter Jiemi, juga menampilkan sisi lain dari si pemenang kompetisi, yakni ingin memberi makan ego di dalam diri. Ya, seandainya mau jujur, orang-orang yang seperti ini sesungguhnya bukan ingin menolong orang lain, tapi karena kebutuhan untuk memuaskan ego di dalam dirinyalah yang mendorong dia merebut lampu sorot orang yang datang padanya dengan masalahnya. Dengan motif pemuasan egonya, dia jadi gagal mengukur penderitaan dari sudut pandang orang lain yang datang padanya, karena biar bagaimana pun masalah itu sifatnya personal: bagi seseorang, putus berpacaran itu sudah biasa, tapi tidak dengan yang lainnya. Jadi sebenarnya masalah hidup tiap orang itu unik, tidak ada "resep" untuk masalah yang terlihat generik.

Berempati menjadi kunci, tutup dokter Jiemi. Jika kita ingin membantu orang lain dengan masalahnya, maka kita perlu bersama-sama merasakan penderitaannya sebagai manusia. Cukuplah dengan mendengarkan saja; tanpa perlu menanggapi dengan bercerita tentang masalahmu yang mirip kepadanya. Juga jangan berkata kalau Anda memahaminya, bisa merasakan lukanya, jika Anda tidak benar-benar tahu persis rasanya terluka sepertinya.

Di adegan kompetisi roti brownies di film Notting Hill kita bisa belajar bahwa tak perlu rebutan lampu sorot, karena ada saatnya Anda akan mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Karena sekali lagi, masalah itu sifatnya sangat personal sekali. Ia tidak akan hilang dengan dibandingkan, tapi kita bisa membantu mengatasinya dengan kekuatan empati dan kerelaan hati untuk mau mendengarkan.





Tuesday, May 5, 2020

Jembatan Zaman


"Masa muda dalam usia di mana manusia mencari pola-pola kepribadiannya, akan selalu mewarnai kehidupan manusia ... Dunia ini akan terus terbawa sampai akhir hidupnya." (Soe Hok-Gie)

Dari zaman Soe Hok-Gie sampai sekarang ini, selalu ada gap antara generasi tua dan generasi muda ketika berinteraksi. Selalu ada jarak antara orang tua dan para pemuda. Selalu ada roaming antara anak dan orangtua. Selalu ada “ruang kedap udara” di antara kelompok generasi hingga seolah-olah masalah dalam berkomunikasi wajar terjadi.

Salah satu hal yang saya ingat dari mantan kandidat target calon istri saya adalah tegurannya pada saya, setengah marah, ketika saya sering mengatakan "jangan" pada saat diberi kesempatan memberikan "sambutan" pada aktivis-aktivis baru dalam pelayanan. "Kamu bisa tahu itu gak bener kan karena kamu udah ngelakuinnya. Dari situ kamu terus belajar dari kesalahan, kan? Lha mereka? Kasih dong mereka kesempatan buat kesalahan, biar bisa belajar juga! Jangan apa-apa bilang 'Itu salah!', 'Jangan bikin gitu karena gini....', 'Udah gak usah coba-coba, gini benernya!', ya gimana mereka bisa belajar? Jelaslah banyak orang bilang kamu otoriter, gak kasih ruang buat kesalahan."

Orang tua berkata, "Saya pernah menjadi (anak) muda, jadi tahu seperti apa (pikiran) mereka." Tapi juga dalam idealisme kemudaannya, generasi yang lebih muda berpikir kalau zaman itu berubah, "Iya, mereka pun pernah muda, tapi kan zamannya udah berbeda."

Sebenarnya ada kelebihan dari masing-masing generasi. Generasi yang lebih tua punya pengalaman; karena meskipun zaman selalu berubah, tapi ada beberapa hal yang tidak pernah berubah. Dan generasi yang lebih muda punya visi dan kemampuan yang lebih baik untuk beradaptasi, sehingga bisa membuat roda zaman terus berputar dan membawa dunia menjadi lebih lebih baik. Oleh karena itu, yang sebaiknya dilakukan oleh masing-masing generasi adalah menghindari sikap arogan dan mau menang sendiri. Caranya? Generasi muda bisa mulai mendokumentasikan dirinya sendiri, menulis sejak dini, mengarsipkan setiap tahap perjalanan hidup, pemikiran, dan apa-apa saja yang dilakukan di dalam sebuah catatan, yang pastinya akan berguna saat tua nanti. Generasi yang lebih tua juga bisa mulai lebih terbuka, mungkin dengan membuka dokumentasi dirinya dengan berkata apa adanya, bagaimana perjalanan hidup saat masa mudanya.

Di sebuah adegan film "Shawshank Redemption", saat seorang narapidana tua melakukan sesi wawancara perihal pembebasan bersyaratnya, dia berkata: "Aku menyesali perbuatanku? Tak sehari pun dalam hidupku aku tak menyesalinya, tapi bukan karena aku di sini atau menurutmu itu sudah sepantasnya. Jika kukenang seperti apa diriku dulu ... muda ... yang masih bodoh ... melakukan kejahatan besar ... aku ingin bicara dengannya. Aku ingin menyadarkan dirinya. Memberitahunya bagaimana kehidupan itu. Tapi aku tak bisa. Anak itu sudah lama pergi ... dan yang tersisa hanya pria tua renta ini. Aku harus menghadapinya."

Atau di awal video klip Hindia "Secukupnya", seorang anak muda melakukan monolog di depan kamera: "Gue dilahirkan dari keluarga yang cukup memaksa gue untuk menjadi dewasa duluan. Dan dari kecil gue selalu beranggapan bahwa itu semua adalah salah bokap gue. Di tahun ke-10 bokap gue kanker, ada satu insiden yang mengharuskan gue ngobrol sama dia. Di situ dia cerita, cerita dari dari sisi dia dan pada saat dia nangis, gue baru sadar bahwa bokap gue pun manusia yang bisa buat salah. Dua bulan kemudian, di rumah sakit, dia bilang ke gue, di atas kasur, 'Valen, kamera papi ya.' Dan gue jawab, 'Tenang, Pi. Valen kok yang pake.'" (Tanpa rangkaian kejadian tersebut, saya tidak mungkin mulai menekuni videografi)

********/*******


Mereka, generasi tua, sebenarnya hanya ingin yang terbaik bagi hidup kita sebagai anak muda, hanya saja seringkali tidak tahu cara yang benar untuk mengatakannya. Mereka, orangtua kita, sesungguhnya hanya ingin memberi petuah hidup yang bijaksana pada anaknya, karena mereka mengenal siapa anaknya dan tidak ingin anaknya mengulangi kesalahan yang sama. Juga generasi muda, sebenarnya juga ingin bebas melakukan kesalahan yang sebanyak-banyaknya agar tahu yang benar itu gimana, hanya saja seringkali dianggap ke luar batas oleh generasi tua. Anak-anak muda, juga sesungguhnya ingin visinya dihargai oleh orangtuanya, karena mereka merasa juga kenal dirinya dan tahu kemampuannya, dan tidak ingin orangtuanya terlalu khawatir pada masa depannya.

Oleh karenanya dibutuhkan "Jembatan Zaman" yang dibangun dari pengalaman generasi tua dan idealisme generasi muda. Jembatan zaman yang menghubungkan dua generasi, yang bisa menyatukan pemikiran generasi tua dengan aksi generasi muda. Selanjutnya, cukuplah berjalan di jembatan itu agar sebagai generasi tua, tidak perlu bersusah payah menyeberangi sungai zaman yang terbentang luas di bawahnya. Juga agar generasi yang lebih muda, tidak perlu sampai hilang di dalam arus sungai zaman yang mengalir deras seperti siap menenggelamkan siapa saja.

Sebab menjadi generasi muda dan generasi tua adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah masa hidup yang harus dilalui.

Bukan dengan kesombongan diri, melainkan dengan kerendahan hati.

Monday, November 28, 2016

Takut

"Sudah berapa lama pacaran sebelum menikah?"
"Sekitar 3 tahunan lah..."

Kita mungkin pernah mendengar kalau di dalam Alkitab, kalimat "Jangan takut" atau kalimat sejenis itu tertulis sebanyak 365 kali; yang berarti setiap hari, kita diperintahkan untuk tidak takut terhadap apa pun yang terjadi di dunia ini. Tapi mengapa kita, saya, sering memiliki ketakutan-ketakutan yang bahkan kebanyakan hanya ada di pikiran?

Seperti seseorang yang baru saja curhat soal ketakutannya terhadap pasangannya. Selama 5 tahun, dia takut untuk benar-benar menyayangi pasangannya karena takut akan ditinggalkan. "Kata orang kan gitu: 'Jangan terlalu sayang, nanti bisa gila kalau ditinggalkan.' Jadi karena itu aku takut buat beneran jatuh cinta sama dia." Begitu dalihnya.

Saya juga pernah mendengar cerita dari seorang pendeta, yang salah satu aktivis di gerejanya melakukan hubungan seks dengan pacarnya, yang juga sama-sama melakukan pelayanan di gereja yang sama, sampai hamil dan kemudian melakukan aborsi, dengan dalih: "Aku takut ditinggal sama dia." Lalu ketika si pendeta bertanya: "Setelah kamu melakukan aborsi karena perbuatannya, kamu masih pacaran sama dia?" dan jawabannya membuat shock si pendeta: "Saya masih pacaran sama dia, masih berhubungan seks dengannya; karena saya takut tidak ada pria lain yang mau menikahi saya selain dia." Jawabnya dengan berlinang air mata, cerita si pendeta.

Saya juga baru saja melakukan sesi konseling karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan di pikiran saya. Cemas, khawatir, ragu-ragu, tidak bergerak sehingga tidak maju-maju; adalah beberapa efek nyata dari ketakutan atas kejadian-kejadian yang bahkan belum terjadi. Meskipun pasti terjadi, tapi sekarang belum terjadi dan mungkin saja tidak akan terjadi seperti bayangan-bayangan dalam pikiran saya selama ini.

"Lalu suami kamu tahu ketakutan-ketakutanmu itu?"
"Ya belum lah ... makanya aku ceritanya sama kamu. Terus aku harus ngapain?"

Sejujurnya, saya juga gak tahu dia harus berbuat apa. Karena saya pun mempunyai masalah yang sama dengan dia, yakni menghadapi banyak ketakutan dalam benak saya. Tapi kemudian saya teringat sesuatu ...

"Coba cerita aja sama suamimu soal ketakutan-ketakutanmu. Beralasan sih menurutku. Tapi kamu pernah baca gak cerita tentang seorang istri yang selama pernikahannya juga takut untuk menunjukkan kasih sayangnya pada suaminya ... tiap hari suaminya dijutekkin, dimarah-marahin, sering didiemin ... walaupun suaminya gak melakukan kesalahan apa-apa dan tetap sabar menghadapi kelakuan aneh istrinya. Sampai kemudian suaminya kecelakaan parah dan si istri mengaku semuanya saat di rumah sakit, kalau dia takut untuk mencintainya karena takut akan kehilangannya."

"You made it up? 🙂"

"Enggak lah, aku pernah baca. Tahu lah banyak banget artikel atau cerita semacam itu di internet akhir-akhir ini."

"Okay. I'll try. Tengkyu Vic. Selalu menyenangkan kalau ngobrol sama kamu 😊"

Ya ... saya lebih suka begitu, kalau itu semua dianggap hanya obrolan; bukan sesi konseling atau sejenisnya.


Hingga akhirnya saya berpikir, (dan membuat saya kembali menulis di blog ini 😀) bahwa ketakutan-ketakutan itu adalah kekuatan pengaruh iblis yang tidak ingin kita, saya, manusia, bertumbuh lebih lagi dalam iman dan perbuatan. Seperti yang saya rasakan ketika rasa takut itu menyelinap di pikiran: saya menjadi tidak berani untuk berbuat lebih dan membuat saya tidak bergerak ke mana-mana.

Dan ketika saya sampai di bagian ini, saya teringat kalimat dalam kitab I Yohanes 4:18 bahwa "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."

Takut kehilangan pacar dan karenanya mau melakukan dosa dengannya? Takut dipecat dari perusahaan dan karenanya tidak jujur pada pelanggan? Takut mengasihi pasangan karena takut ditinggalkan?
Jadi sekarang kita sudah tahu jawabannya: jika rasa takut menjadi alasan kita berbuat sesuatu, berarti perbuatan itu jauh dari makna KASIH. Dan demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Untuk ... (sebut saja) Nina.
Yogyakarta, 27 November 2016

Saturday, May 31, 2014

Di Antara

Awalnya, ide untuk hidup seorang diri itu menyenangkan.

Kemudian saya mulai senang dengan konsep hidup sendirian.

Sarapan sendirian. Bepergian sendiri. Membaca seorang diri. Belanja tanpa ditemani. Bekerja sendiri. Menunggu kereta sendirian.

Sendirian membuat saya bebas memilih menu makanan yang saya makan. Bebas memutuskan ke mana arah tujuan saat jalan-jalan. Bebas membuat pendapat tanpa perdebatan. Bebas saat dihadapkan pilihan: Good Day atau Nescafe. Bebas untuk membuat kesimpulan: baik atau buruk. Bebas menentukan saat kapan akan pergi dan harus pulang, tanpa harus bertanya karena tidak ada teman seperjalanan.

Tetapi ketika saya melihat sepasang muda mudi bercanda saat berdiri di pinggir rel kereta; saat mendengarkan tawa beberapa orang yang duduk satu meja di rumah makan; waktu merasakan betapa nyamannya pundak seseorang di dalam bus malam; saya menyadari bahwa hidup sendirian tidak begitu menyenangkan. Lalu tiba-tiba menyeruak rasa benci dengan pikiran saya selama ini. Sepertinya ingin marah dengan diri saya sendiri: mengapa selalu menyenangi hidup di dalam gua tiap malam hari.

Walaupun semuanya terlihat lebih baik jika dikerjakan sendiri, hidup seorang diri membutuhkan biaya lebih untuk emosi.

Saya tidak senang hidup sendirian.

Karena sendirian tidak semewah yang saya bayangkan.

Terlihat lebih kurus dari samping :D

-Diterjemahkan dari buku: "About a Man",
buku yang belum beredar di pasaran-

Wednesday, November 6, 2013

Cinta (Pada Pandangan) Pertama

Apakah kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Seperti ucapan: “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Pikiran manusia, gumpalan sel yang mirip struktur alam semesta yang ada di dalam kepala, ternyata juga memiliki lubang hitam yang tidak bisa diakses oleh pemiliknya. Ada sebuah ruang yang tidak diketahui, bahkan oleh si empunya kepala itu sendiri. Banyak istilah untuk fenomena ini. Tapi saya lebih suka membiarkannya menjadi misteri.

Saya juga suka membiarkan perasaan saya memiliki misterinya sendiri. Yang bahkan saya sendiri tidak bisa mengerti. Seperti perasaan saya pada gadis tadi.

Cukuplah waktu sekitar 10 menit untuk menjelaskan bahwa dia dan saya pernah bertemu sebelumnya. Entah di mana. Yang jelas kami sama-sama membiarkannya tetap menjadi misteri alam semesta. Dan perbincangan kami mengenai lukisannya... ya, lukisannya, karena saya tidak mengetahui itu sebelumnya; cukuplah sebagai tanda awal mula cinta saya padanya dan sebagai isyarat agar dia tahu perasaan saya kepadanya.

Baiklah kita kembali pada peristiwa di mana perasaan ini bermula.

Tadinya saya hanya penasaran dengan sebuah pameran lukisan. Saya selalu bertanya-tanya, mengapa ada sebuah benda yang dinilai sangat bernilai oleh sekelompok orang kaya, tetapi dihargai begitu murah oleh yang lainnya? Bahkan saya pernah mendengar cerita tentang seorang pelukis yang mengobral lukisan-lukisannya demi mendapat uang untuk makan.

Seperti lukisan di depan saya sekarang. Sebuah lukisan tentang seorang petani kurus di tengah sawah, yang terpapar sinar matahari siang yang kelihatan panasnya sangat menyengat; dan di kejauhan secara samar, menjulang gedung-gedung pencakar langit yang terlihat sejuk dan nyaman jika tinggal di dalamnya. Seolah-olah orang yang tinggal di dalam sana bisa melihat si petani yang kepanasan.

Saya kemudian tersenyum. Sulit memang menggambar hal seperti ini, apalagi memiliki imajinasi untuk melukiskan sesuatu yang… terlalu mudah dimengerti. Atau saya hanya sok tahu mengenai arti lukisan ini?

Iya. Agak lucu sih ya? Mana ada sawah di tengah kota gitu?” Katanya sambil memandang lukisan tadi. Entah saya terlalu terpukau dengan lukisan itu atau dia baru saja berdiri di situ. Yang jelas di saat itu, saya mulai menyadari bahwa sepertinya kami pernah bertemu di suatu waktu.

Dia kemudian memandang saya. Seperti mencari pintu untuk memasuki pikiran saya melalui mata. Atau saya saja yang terlalu berlebihan merasakannya?

Saya kemudian merasa bahwa kini giliran saya untuk bicara.

Mungkin ada. Mungkin gak ada. Tapi kan gak ada salahnya juga berimajinasi? Kalau imajinasi harus dibatasi, ya pergi aja ke Dunia Fantasi…” Hanya Tuhan yang tahu mengapa saya berkata seperti ini.

Tapi reaksi selanjutnya di luar dugaan saya. Dia tertawa. Lepas. Saya tidak pernah bertemu dengan wanita, yang tertawa lepas seperti dia saat bertemu untuk pertama kalinya. Tapi, bukankah segala sesuatu memiliki saat untuk pertama kalinya terjadi?

Kok ketawa?” Dua kata bodoh yang terlontar dari mulut saya.

Enggak… gak apa-apa.” Katanya sambil menenangkan dirinya sendiri. “Lucu aja. Kayak pernah dengar dari siapa gitu… tapi tetap lucu.” Giginya rapi. Putih.

Kita pernah ketemu sebelumnya?” Hanya Tuhan yang tahu mengapa saya mengatakannya.

Dia kembali mencari pintu ke dalam pikiran saya. Saat itu sepertinya hanya kami berdua di situ. Entah ke mana manusia lainnya. Mungkin ini rasanya ‘Dunia serasa milik berdua’.

Di mana?

‘Di kehidupan sebelumnya.’ Hampir saja saya mengatakannya.

Kayak gak asing sama wajah kamu aja. Mungkin dari foto ya?

Foto?” Dia menggumam. Suasana berubah menjadi temaram. Entah kenapa lampu-lampu di ruangan itu diredupkan. Kemudian terdengar beberapa orang memanggilnya.

Aku ke depan dulu ya. Mau pembukaan.

Lalu dia pergi.

Tanpa jabatan tangan. Tanpa sentuhan. Hanya tatapan. Paling tidak saya tahu nama panggilannya.

Itu sudah lebih dari cukup.

Saya mencari pintu keluar. Di situlah saya menyadari sesuatu.
Dia adalah wanita di dalam foto yang dipajang di depan pintu pameran. Pameran seni lukis tunggal. Nama lengkapnya tertulis di bawah bingkai yang berwarna keemasan.

Tapi saya yakin pernah mengenal dia. Pernah bertemu sebelumnya. Pernah berbincang dengannya....

Pernahkah kamu merasakan cinta pada pandangan pertama?

Saya pernah.

Sunday, November 3, 2013

The Conjuring: Sang iblis ada. Tuhan juga ada.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu. Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Mari kita mulai dari akhir filmnya. Sebuah kutipan yang dituliskan Edward ‘Ed’ Warren (1926-2006) ditampilkan di layar bioskop:
“Diabolical forces are formidable. These forces are eternal, and they exist today. The fairy tale is true. The devil exist. God exist. And for us, as people, our very destiny hinges upon which one we elect to follow.”
Ketika googling tentang kutipan itu, saya menemukan sebuah review mengenai film tersebut: “Can a horror film lead people to God?” Di akhir review-nya, dituliskan: “Despite its scares, The Conjuring is strongly redemptive.” Dan saya setuju dengan pendapatnya.

Film The Conjuring diceritakan berdasar dari sebuah kejadian nyata pada tahun 1971, di dalam perjalanan karir Ed dan Lorraine Warren, pasangan suami istri Katholik yang bekerja sebagai ahli “pengusir setan” (demonologist). Kejadiannya berawal dari kepindahan keluarga Perron ke sebuah rumah tua di daerah Rhode Island, yang kemudian mengusik ketenangan keluarga itu (dari mulai anjing peliharaan yang mati misterius, suara-suara gaduh tiap tengah malam hingga fajar, bau busuk yang tercium di tempat dan saat tertentu, penampakan sosok menyeramkan ke anak-anak keluarga Perron hingga ancaman pembunuhan oleh suara tanpa wujud). Hingga kemudian Carolyn Perron, istri dan ibu keluarga Perron, menceritakan hal-hal tersebut kepada pasangan Warren. Lalu pasangan ini mulai menyelidiki sejarah rumah (dan area) tersebut, yang ternyata mempunyai kisah yang sangat menyeramkan (dan sangat kejam).

Sejarah bermula pada tahun 1885, di mana seorang dukun wanita bernama Bathsheba Sherman, mengorbankan (membunuh) anak kandungnya, dan menyerahkannya kepada sang iblis untuk membuktikan kesetiaannya. Setelah melakukannya, penyihir ini diancam akan dibakar oleh massa (karena dianggap sebagai dukun). Hingga kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tetapi sebelum mati di pohon yang terletak di depan rumahnya, ia mengutuk rumah dan tanahnya. Dan dari sinilah teror mulai terjadi pada setiap orang/keluarga yang menempati rumah/area (yang dahulu) dimiliki Bathsheba. Ia tidak mengijinkan orang lain menetap di sana. Roh jahat Bathsheba selalu merasuki setiap orangtua (ibu), menguasainya, lalu menggerakkannya untuk membunuh anak kandungnya (yang seharusnya dikasihi dan disayangi) dan setelah itu mendorongnya untuk bunuh diri dengan cara gantung diri. Roh jahat (Bathsheba) ini ingin terus menempati dan menguasai rumah dan area itu, meskipun ia telah mati puluhan tahun yang lalu. (Saya melihat hal ini sebagai salah satu sifat jahat, yakni ketamakan)

Selanjutnya silahkan tonton sendiri ya… :)

********/*******

Kembali pada kutipan yang saya temukan pada sebuah review film The Conjuring: “Bisakah film yang menyeramkan [menyangkut setan] membawa penontonnya pada Tuhan?” Jawaban saya: bisa. Karena semalam, sebelum tidur, saya membaca Alkitab sangat lama dan berdoa (hal yang sangat jarang saya lakukan, bahkan saya tidak ingat kapan terakhir kali melakukannya). Dan setelah mencari tahu lebih jauh; Chad dan Carey Hayes, sebagai pembuat film The Conjuring, memang membuat film ini dengan tujuan agar sosok Tuhan kembali ditemukan oleh orang-orang di jaman sekarang: “…This film has an unexpected background character: God.” Kata Hayes bersaudara. (Saya melihatnya digambarkan dalam sebuah sinar yang terang benderang pada adegan klimaks film tersebut)

Lalu setelah membaca beberapa pernyataan dari pembuat film The Conjuring, saya kembali disadarkan pada kenyataan, bahwa sangat sedikit film (khususnya yang melibatkan setan) di jaman sekarang, yang menghadirkan sosok Tuhan sebagai jawaban dan sumber kekuatan ketika manusia terlihat berada pada ambang batas kekuatannya (terutama saat berhadapan langsung dengan iblis). Hal ini tentu sangat berbeda dengan film-film di era tahun 70an (misal: film-film Suzanna), yang pada akhir cerita selalu menampilkan seorang pemuka agama yang digambarkan sebagai simbol Allah, untuk mengalahkan si setan (iblis). Bahkan beberapa film horor modern membawa penontonnya untuk berpikir bahwa cara mengalahkan iblis adalah dengan berkompromi dengan iblis yang lain (misal: Constantine), dan beberapa lainnya menggiring opini penontonnya pada kesimpulan bahwa iblis tidak bisa dikalahkan (misal: Bangku Kosong).

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang digambarkan di film The Conjuring: iblis bisa dikalahkan! Bahkan diperlihatkan dalam sebuah adegan, bagaimana roh Allah dalam diri manusia mempunyai kuasa untuk mengusir roh jahat: “…with the Name of Jesus, I’ll send you Bathsheba, to hell…” (teriak Ed Warren ketika roh jahat Bathsheba merasuki tubuh Carolyn, dan hendak membunuh anaknya). Lalu setelahnya ditekankan (dalam penggambaran adegan) bahwa pada akhirnya pilihan manusia akan menentukan hidupnya (digambarkan jika kasih dalam diri Carolyn kepada anak-anaknya teramat besar dan itu membuatnya memilih untuk melawan roh jahat Bathsheba yang menguasai tubuhnya).

Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (I Yohanes 4:4)

********/*******

Sepanjang adegan puncak yang sangat mencekam, dan digambarkan dengan teramat sangat mengerikan, saya berpikir: “Jika pada akhirnya roh Tuhan (kebaikan) selalu menjadi pemenang, mengapa ada manusia yang memilih untuk berpihak pada iblis (kejahatan) dan (bahkan) berpikir tidak akan terkalahkan?

Pikiran saya berlanjut: bagaimana seandainya Bathsheba menyadari bahwa pada akhirnya ia akan diusir ke neraka (akibat perbuatannya) dan roh jahat beserta kutukannya bisa dikalahkan; apakah ia tetap akan membunuh anaknya? Bagaimana seandainya semua manusia menyadari: bahwa pada akhirnya sang iblis akan dikalahkan oleh Tuhan di hari penghakiman nanti; apakah ada manusia yang mau berpihak pada mereka (iblis) saat ini?

Lalu mengapa masih ada manusia yang memilih untuk mengikuti si jahat; bahkan yakin akan berhasil pada setiap rencana jahatnya dan percaya akan keluar sebagai pemenang di akhir pertandingan? Ini sama saja seperti menonton tayangan ulang final Piala Dunia 2010 dan sejak babak pertama yakin kalau timnas Belanda akan menjadi juara dengan mengalahkan timnas Spanyol.

Tapi inilah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ia membebaskan manusia untuk percaya atau tidak pada sebuah fakta: bahwa Tuhan sudah mengalahkan dunia. Dan itulah yang membuat namaNya berkuasa di atas segala nama.

Sang iblis ada. Tuhan juga ada. Dan bagi kita, sebagai manusia, masa depan bergantung pada apa dan siapa yang kita pilih untuk kita ikuti. (Ed Warren)

We’re 100% aware of the reality that there is darkness and there is light … We’ve seen things, that I wish we never saw. (Hayes Brother -filmmaker The Conjuring-)

Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. (Filipi 1:9-11)

Tuesday, March 20, 2012

Koma, Titik.

Saya merindukan diri saya di masa lalu.




















Ketika menulis menjadi kegiatan yang dilakukan untuk menumpahkan kepenatan, bukan menjadi beban. Untuk mengutarakan gagasan, bukan menambah pikiran. Untuk hiburan, bukan karena tuntutan. Untuk berbagi perasaan, bukan karena itu sebuah pekerjaan. Untuk mendewasakan, bukan menjebak dalam rutinitas harian.

Saya hanya tidak nyaman dengan keadaan sekarang. Ketika menulis menjadi sebuah cara untuk mendapatkan uang, bukan cara untuk bersenang-senang. Tidak bisa menulis apa yang diinginkan, karena ada mereka yang memberi bahan tulisan.

"Ini bisnis... ini industri buku... ini menyangkut orang banyak..." kilah mereka demikian. Padahal menulis hanya menulis. Tidak perlu kata puitis. Juga kalimat pemanis. Atau perhitungan matematis.

Seorang penulis yang baik adalah seorang pencerita, bukan orang yang melakukannya karena perintah mereka. Penulis adalah seorang yang egois. Idealis. Seorang analis. Imajinatif. Dan seharusnya hidup di sebuah gua, bukan di ruangan terbuka.

Saya rindu ketika menulis hanya sebuah kegiatan tanpa embel-embel materialistis. Yang coretannya enak untuk dinikmati oleh mereka, membuat pembacanya seolah-olah berada di dalam pikiran penulisnya. Hingga secara tidak sadar, mereka terpengaruh oleh apa yang dibacanya.

Ya, saya ingin mulai menulis...

Tuesday, January 17, 2012

Catatan Akhir/Awal Tahun: The Darkest Hour

What is past is prologue. (Tertulis pada sebuah patung di depan gedung arsip nasional Amerika Serikat, di Washington D.C.)

Saya masih ingat hari itu: 21 Juni 2010. Hari itu saya merasa, menurut teori “The Darkest Hour”, saya sedang berjalan dalam waktu tergelap selama hidup saya. Tidak ada cahaya. Walau kemudian saya sadar, bahwa ternyata hari itu belum seberapa gelap. Hari tergelap sepanjang hidup saya di bumi, adalah tanggal 24 Januari 2011.

Awal tahun 2011, tidak terlihat setitik pun cahaya di lorong kehidupan saya. Gelap. Sekarang saya mengerti, bagaimana rasanya menjadi orang yang ketika ditanya kabarnya, dia hanya menjawab: “Gelap.

Teori “The Darkest Hour” mengatakan bahwa, saat seseorang hendak naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi dalam hidupnya, dia harus melalui sebuah tantangan yang sangat luar biasa sulit. Rintangan yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Nama “Jam Tergelap” disematkan sebagai nama teori tersebut berdasarkan kejadian alam yang secara natural menunjukkan, bahwa kegelapan yang paling gelap terjadi saat pergantian bulan dengan matahari. Saat tidak ada satu pun benda penerang di langit. Tapi di sinilah sebenarnya kita harus sadar: setelah bulan tertidur, tak berapa lama kemudian matahari pasti menyingsing di ufuk timur. Karena gelap pasti akan menjadi remang pagi, dan remang menjadi siang yang terang. Sepasti itulah janji Tuhan terhadap semua umatNya.

Jadi jika saat ini Anda sedang berada dalam situasi sulit yang sangat luar biasa sulit, bahkan belum pernah Anda alami sebelumnya… Anda harusnya bersukacita! Berlarilah…. Karena sebentar lagi Anda akan mereguk nikmat kesuksesan. Karena tidak lama lagi, Anda akan naik satu tingkat dalam “karier” kehidupan Anda.

Dan saat saya mengenang kembali masa “The Darkest Hour”, saya juga teringat pada kisah tentang pohon bambu dan pakis.

Saya akan ceritakan kisah itu di lain waktu. Tapi intinya, tempat di mana saya berdiri sekarang, semua ternyata tidak lepas dari pelajaran dan pengalaman yang sudah saya lewati sebelumnya.

Pelajaran bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana bersikap saat tidak didengarkan, bagaimana melayani orang yang tidak dikenal sebelumnya, bagaimana bertahan pada situasi yang tidak menguntungkan bagi saya, bagaimana melakukan segala sesuatu sendirian, merasakan bagaimana bekerja tanpa mendapatkan sesuatu yang nyata; pengalaman dituduh sebagai pencari perhatian, pengalaman disepelekan, pengalaman ditolak dan difitnah…. Semuanya itu ternyata membentuk karakter saya, dan membawa saya pada titik di mana saya berdiri sekarang. Untuk itu semua, saat ini saya ingin berterima kasih pada mereka yang tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan, yang menyepelekan saya, yang memfitnah saya dan pada mereka yang menganggap kalau saya hanya sebagai pencari perhatian. Karena kalian, saya sekarang berada pada level yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Mengingat kembali waktu memasuki tahun 2011, saya tidak melihat setitik pun cahaya di sana. Bahkan saya sempat berpikir, kalau tahun 2011 adalah tahun terakhir saya untuk melewatkan hari-hari seperti sebelumnya.

Tapi sekarang saya disadarkan pada sebuah kenyataan: hidup ini hanyalah seperti melewatkan sebuah hari. Di saat pagi hingga sore hari, di kala cahaya masih terang menyinari bumi, saat-saat itulah kita belajar, bagaimana hari itu sedang memberikan kita beberapa pelajaran dan pengalaman yang berguna sebagai bekal untuk hidup di esok hari. Lalu tibalah remang malam hingga dini hari, di mana gelap menaungi kehidupan manusia di bumi. Saat itulah kita belajar untuk percaya dan berharap pada Tuhan. Meyakinkan diri bahwa esok hari, matahari akan terbit dan membawa cahaya terangnya kembali. Dan tanpa disadari, kita sudah bertumbuh saat gelap sudah terlewati. Karena katanya, pertumbuhan manusia terjadi saat malam hari.

********/*******

Bulan Mei-Desember 2011 adalah siang bagi hidup saya pribadi. Saya bisa merasakan bagaimana cahaya itu bersinar sangat terang. Saya tidak tahu kapan remang malam akan datang di tahun 2012 ini. Tapi sekarang saya menyadari, bahwa tidak ada kegelapan yang abadi di dunia ini.

Belajar dari pengalaman sebelumnya: jika kegelapan yang paling gelap datang kembali, itulah tandanya kalau saya harus berdiri dan berlari. Karena kebahagiaan, kesuksesan dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi lagi, sudah menanti untuk dilalui dan dinikmati.


Ketika kau digoda untuk meninggalkan impianmu, kuatkan dirimu untuk meneruskannya satu hari lagi... satu minggu lagi... satu bulan lagi... satu tahun lagi... dan kau akan kagum ketika tahu apa yang terjadi, jika kau menolak untuk menyerah. [Nick Vujivic]

Ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya.


Kutoarjo - Yogyakarta, 1 Januari 2012.

Wednesday, November 2, 2011

Yakin Sudah Sukses?

Sukses. Kata ini sering didoakan oleh setiap orang tua kepada semua anaknya. Atau ketika teman kita merayakan hari lahirnya; “Semoga kamu menjadi orang yang sukses di kemudian hari.

Tapi sebenarnya apa arti dari kata “SUKSES”?

Menurut kamus lengkap bahasa indonesia, sukses bisa berarti berhasil, beruntung, lulus atau dapat dicapai dengan baik. Jadi kata sukses sangat abstrak maknanya.

Ingin sukses?” Kalimat itu juga sering menjadi kalimat promosi sebuah acara motivasi, atau kalimat ajakan untuk mengikuti sebuah bisnis yang modalnya harus mengajak orang sebanyak mungkin. Tapi nyatanya, tidak semua orang yang mengikuti acara motivasi atau bisnis tersebut menjadi orang yang (dianggap) sukses. Jadi adalah salah kalau orang mengartikan kata sukses dengan banyak uang atau memiliki jabatan dan kedudukan.

Kata “sukses” adalah kata sifat. Jadi artinya relatif bagi setiap orang. Tidak ada tolok ukur untuk menilai apakah seseorang sudah sukses dalam hidupnya.

Karena jika kesuksesan diukur dengan uang, berarti tidak ada tukang kebun yang sukses; supir yang sukses; office boy yang sukses; kasir supermarket yang sukses; bahkan tidak ada pembantu rumah tangga yang sukses. Padahal setiap orang ingin dikatakan sukses. Dan nyatanya, mereka yang banyak uangnya, masih membutuhkan tukang kebun, supir, office boy, kasir supermarket dan pembantu rumah tangga. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang mengatakan kesuksesan hanya dapat diukur dengan uang, jika tidak ada mereka yang kalian katakan “tidak cukup sukses” tersebut?

Atau jika kesuksesan diukur dengan pangkat dan jabatan, berarti tidak ada sersan yang sukses; staf manager yang sukses; perawat yang sukses; satpam yang sukses; bahkan tidak ada sekretaris yang sukses. Padahal setiap orang ingin menjadi sukses. Dan nyatanya, mereka yang berpangkat jenderal atau direktur utama sebuah perusahaan, atau dokter spesialis kenamaan, masih membutuhkan seorang sersan, staf, perawat, sekretaris dan satpam. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang menganggap kesuksesan hanya dapat diukur dengan pangkat dan jabatan, jika tidak ada mereka yang kalian anggap “tidak cukup sukses” tersebut?

Saya percaya, setiap manusia diciptakan dengan fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Seperti Tuhan menciptakan tubuh manusia. Semua organ tubuh kita mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Bisakah mata berkata pada telinga, “Aku tidak membutuhkanmu”? Atau seorang pemain sepak bola memandang remeh tangannya, karena dia memandang kakinya lebih berharga?

Jadi, sukses adalah sebuah pengertian. Untuk mencapainya, yang pertama harus dilakukan adalah mengerti apa yang menjadi tujuan hidup kita. Tahu apa yang menjadi cita-cita kita. Setelah itu, jika kita ingin sukses, kejarlah apa yang menjadi tujuan dan cita-cita hidup kita itu.

Sukses bukan berarti harus punya banyak uang. Sukses juga bukan berarti punya pangkat dan jabatan. Sukses berarti mengerti, kalau tujuan Tuhan menciptakan kita di dunia sudah tercapai.

Ketika kita sukses, kita tidak harus menjadi kaya atau terpandang di mata orang-orang. Ketika kita sukses, yang pasti kita akan puas dan bahagia dengan apa yang telah kita kerjakan selama ini. Tidak peduli apa kata orang lain pada diri kita saat ini. Yang paling tahu apakah diri kita sukses saat ini adalah diri kita sendiri. Karena ada seorang tua yang kaya dan mempunyai keluarga bahagia, tapi dirinya belum menganggap bahwa kesuksesan telah diraihnya. Orang tua itu berkata: “Masih ada cita-cita saya yang belum terlaksana.


Saya pribadi sering bertemu dengan orang-orang (yang dianggap) sukses di negeri ini. Dan kalimat yang sering meluncur dari mulut mereka adalah: “Saya bangga dengan apa yang telah saya lakukan dalam hidup saya.

Jadi, apakah Anda puas dan bahagia dengan apa yang telah Anda kerjakan selama ini? Jika iya, itu artinya Anda sedang berjalan dalam kesuksesan hidup Anda.

Salam sukses.

Tidak ada orang yang benar-benar sukses, jika ia tidak benar-benar menyukai apa yang dikerjakannya. -Andrias Harefa-

Monday, June 27, 2011

Integritas: Jangan Katakan Maaf

Kata "maaf" yang diucapkan pada orang lain menunjukkan rasa penyesalan kita padanya. Oleh karena itu jangan katakan maaf, alih-alih berkata tidak, pada tawaran yang buruk dari orang lain.

Misalnya dalam suatu pesta, seseorang menawari kita minuman beralkohol. Jika Anda tidak ingin meminumnya, katakan saja, "Tidak. Saya tidak meminum alkohol."
Karena jika Anda berkata, "Maaf. Saya tidak meminum alkohol," hal ini akan terdengar seperti, "saya menyesal karena saya tidak meminum alkohol."
Padahal menolak tawaran meminum alkohol bukan sebuah kesalahan. Baik malahan. Itu akan menjaga Anda tetap sadar, sehingga jika semua orang dalam pesta itu mabuk dan tidak dapat menyetir mobilnya untuk pulang ke rumahnya, Anda bisa menolong mereka semua.

Juga saat berkumpul bersama teman-teman Anda, kemudian mereka semua mulai menyalakan rokok, dan Anda ditawari oleh mereka sebatang rokok; cukup katakan, "Tidak. Saya tidak merokok." Jangan katakan, "Maaf. Saya tidak merokok." Sama seperti kasus minuman alkohol tadi, menolak tawaran untuk merokok bukan menunjukkan kesalahan yang Anda lakukan. Hal ini juga tidak akan menjadi pembenaran bagi teman-teman Anda yang merokok. Karena jika Anda berkata "Maaf", di pikiran para perokok ini akan terbentuk opini, "Orang yang tidak merokok selalu menyesal jika tidak merokok di kumpulan para perokok. Kasihan mereka... ha.. ha.. ha.."

Jadi, cukup katakan "tidak" saat ada yang menawari Anda untuk korupsi, berjudi, mengonsumsi narkotika dan hal-hal lainnya yang bisa merusak masa depan Anda.


Berkata "tidak" pada sebuah tawaran dari orang lain, bahkan dari sahabat atau kenalan, menunjukkan bahwa Anda punya prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Inilah yang kemudian disebut dengan integritas.