Lihatlah kesalahan-kesalahan calon pasangan Anda dan pikirkan apakah Anda bisa hidup dengan kelemahan-kelemahan itu, ya. Pikirkan apakah Anda ingin orang ini menjadi ayah/ibu bagi anak-anak Anda, dan sebagainya. Tetapi, saya memberi peringatan kepada para lajang untuk tidak menyalahkan hubungan buruk pada pihak lain. Saya pikir hal ini seperti mempersiapkan kegagalan dalam penikahan. Saya menghabiskan terlalu banyak waktu sebagai seorang lajang untuk mencari “suami yang baik” dan tidak punya cukup energi untuk memikirkan bagaimana saya bisa menjadi seorang istri yang baik.Menurut pengalaman saya, kelemahan pasangan saya paling banyak mencerminkan kesalahan saya sendiri, meskipun saya tidak menyadarinya. Jika saya ada dalam sebuah hubungan dan berpikir, “Wah, pacar saya jelas tidak siap menikah, karena ia memiliki masalah besar seperti ini,” ternyata kemungkinan besar saya juga memiliki masalah besar seperti itu. Mungkin bukan persis masalah yang sama, tetapi masalah itu sebagian besar mencerminkan kelemahan pasangan saya. Saya khawatir banyak lajang yang sedang memandang pada sebuah hubungan buruk, lalu berpikir: “Oke, yang harus saya lakukan adalah memutuskan hubungan ini dan mencari calon yang lain.” Itu tidak akan memecahkan masalah. Setidak-tidaknya, solusi itu tidak memecahkan masalah saya.Butuh tiga hubungan tragis sebelum saya menyadari masalahnya adalah diri saya sendiri (betapa lamban saya belajar!). Saya terus berpikir kalau saja saya bisa keluar dari hubungan “buruk” ini, saya akan bisa menemukan hubungan yang lebih baik, –pria yang lebih baik–. Dan, ketika hubungan saya masih saja berjalan dengan buruk, saya masih belum melihat peran saya di dalamnya. Saya terus berpikir, "Mengapa Allah menentang saya? Apakah saya ini magnet bagi pria-pria brengsek?!"Setelah dengan tiga orang pria luar biasa yang berbeda dan tiga kali putus hubungan luar biasa berikutnya, baru semuanya menjadi jelas bagi saya: ke mana pun saya pergi, hasilnya sama saja. Menemukan pria yang lebih baik bukan jawaban. Saya harus membereskan sesuatu yang salah dalam diri saya sendiri.
Saturday, May 9, 2020
Menjadi... Bukan Mencari
Friday, May 8, 2020
Joker: Bukan Orang Baik
![]() |
| Poster film "Joker" (2019) |
Sudah sering digambarkan kalau kejahatan itu hanya akan menghasilkan kejahatan lain. Kekerasan hanya akan menyublim menjadi kekerasan dalam bentuk lain. Begitu seterusnya... kapan selesainya?
Thursday, May 7, 2020
Kompetisi Lampu Sorot
Kompetisi lampu sorot: ketika ada orang lain cerita tentang masalahnya pada Anda, Anda malah menyoroti diri sendiri dengan masalah yang Anda pernah hadapi dan mengecilkan masalah orang di depan Anda.
Tuesday, May 5, 2020
Jembatan Zaman
Monday, November 28, 2016
Takut
Saturday, May 31, 2014
Di Antara
Kemudian saya mulai senang dengan konsep hidup sendirian.
Sarapan sendirian. Bepergian sendiri. Membaca seorang diri. Belanja tanpa ditemani. Bekerja sendiri. Menunggu kereta sendirian.
Sendirian membuat saya bebas memilih menu makanan yang saya makan. Bebas memutuskan ke mana arah tujuan saat jalan-jalan. Bebas membuat pendapat tanpa perdebatan. Bebas saat dihadapkan pilihan: Good Day atau Nescafe. Bebas untuk membuat kesimpulan: baik atau buruk. Bebas menentukan saat kapan akan pergi dan harus pulang, tanpa harus bertanya karena tidak ada teman seperjalanan.
Tetapi ketika saya melihat sepasang muda mudi bercanda saat berdiri di pinggir rel kereta; saat mendengarkan tawa beberapa orang yang duduk satu meja di rumah makan; waktu merasakan betapa nyamannya pundak seseorang di dalam bus malam; saya menyadari bahwa hidup sendirian tidak begitu menyenangkan. Lalu tiba-tiba menyeruak rasa benci dengan pikiran saya selama ini. Sepertinya ingin marah dengan diri saya sendiri: mengapa selalu menyenangi hidup di dalam gua tiap malam hari.
Walaupun semuanya terlihat lebih baik jika dikerjakan sendiri, hidup seorang diri membutuhkan biaya lebih untuk emosi.
Saya tidak senang hidup sendirian.
Karena sendirian tidak semewah yang saya bayangkan.
| Terlihat lebih kurus dari samping :D |
-Diterjemahkan dari buku: "About a Man",
buku yang belum beredar di pasaran-
Wednesday, November 6, 2013
Cinta (Pada Pandangan) Pertama
Pikiran manusia, gumpalan sel yang mirip struktur alam semesta yang ada di dalam kepala, ternyata juga memiliki lubang hitam yang tidak bisa diakses oleh pemiliknya. Ada sebuah ruang yang tidak diketahui, bahkan oleh si empunya kepala itu sendiri. Banyak istilah untuk fenomena ini. Tapi saya lebih suka membiarkannya menjadi misteri.
Saya juga suka membiarkan perasaan saya memiliki misterinya sendiri. Yang bahkan saya sendiri tidak bisa mengerti. Seperti perasaan saya pada gadis tadi.
Cukuplah waktu sekitar 10 menit untuk menjelaskan bahwa dia dan saya pernah bertemu sebelumnya. Entah di mana. Yang jelas kami sama-sama membiarkannya tetap menjadi misteri alam semesta. Dan perbincangan kami mengenai lukisannya... ya, lukisannya, karena saya tidak mengetahui itu sebelumnya; cukuplah sebagai tanda awal mula cinta saya padanya dan sebagai isyarat agar dia tahu perasaan saya kepadanya.
Baiklah kita kembali pada peristiwa di mana perasaan ini bermula.
Tadinya saya hanya penasaran dengan sebuah pameran lukisan. Saya selalu bertanya-tanya, mengapa ada sebuah benda yang dinilai sangat bernilai oleh sekelompok orang kaya, tetapi dihargai begitu murah oleh yang lainnya? Bahkan saya pernah mendengar cerita tentang seorang pelukis yang mengobral lukisan-lukisannya demi mendapat uang untuk makan.
Seperti lukisan di depan saya sekarang. Sebuah lukisan tentang seorang petani kurus di tengah sawah, yang terpapar sinar matahari siang yang kelihatan panasnya sangat menyengat; dan di kejauhan secara samar, menjulang gedung-gedung pencakar langit yang terlihat sejuk dan nyaman jika tinggal di dalamnya. Seolah-olah orang yang tinggal di dalam sana bisa melihat si petani yang kepanasan.
Saya kemudian tersenyum. Sulit memang menggambar hal seperti ini, apalagi memiliki imajinasi untuk melukiskan sesuatu yang… terlalu mudah dimengerti. Atau saya hanya sok tahu mengenai arti lukisan ini?
“Iya. Agak lucu sih ya? Mana ada sawah di tengah kota gitu?” Katanya sambil memandang lukisan tadi. Entah saya terlalu terpukau dengan lukisan itu atau dia baru saja berdiri di situ. Yang jelas di saat itu, saya mulai menyadari bahwa sepertinya kami pernah bertemu di suatu waktu.
Dia kemudian memandang saya. Seperti mencari pintu untuk memasuki pikiran saya melalui mata. Atau saya saja yang terlalu berlebihan merasakannya?
Saya kemudian merasa bahwa kini giliran saya untuk bicara.
“Mungkin ada. Mungkin gak ada. Tapi kan gak ada salahnya juga berimajinasi? Kalau imajinasi harus dibatasi, ya pergi aja ke Dunia Fantasi…” Hanya Tuhan yang tahu mengapa saya berkata seperti ini.
Tapi reaksi selanjutnya di luar dugaan saya. Dia tertawa. Lepas. Saya tidak pernah bertemu dengan wanita, yang tertawa lepas seperti dia saat bertemu untuk pertama kalinya. Tapi, bukankah segala sesuatu memiliki saat untuk pertama kalinya terjadi?
“Kok ketawa?” Dua kata bodoh yang terlontar dari mulut saya.
“Enggak… gak apa-apa.” Katanya sambil menenangkan dirinya sendiri. “Lucu aja. Kayak pernah dengar dari siapa gitu… tapi tetap lucu.” Giginya rapi. Putih.
“Kita pernah ketemu sebelumnya?” Hanya Tuhan yang tahu mengapa saya mengatakannya.
Dia kembali mencari pintu ke dalam pikiran saya. Saat itu sepertinya hanya kami berdua di situ. Entah ke mana manusia lainnya. Mungkin ini rasanya ‘Dunia serasa milik berdua’.
“Di mana?”
‘Di kehidupan sebelumnya.’ Hampir saja saya mengatakannya.
“Kayak gak asing sama wajah kamu aja. Mungkin dari foto ya?”
“Foto?” Dia menggumam. Suasana berubah menjadi temaram. Entah kenapa lampu-lampu di ruangan itu diredupkan. Kemudian terdengar beberapa orang memanggilnya.
“Aku ke depan dulu ya. Mau pembukaan.”
Lalu dia pergi.
Tanpa jabatan tangan. Tanpa sentuhan. Hanya tatapan. Paling tidak saya tahu nama panggilannya.
Itu sudah lebih dari cukup.
Saya mencari pintu keluar. Di situlah saya menyadari sesuatu.
Dia adalah wanita di dalam foto yang dipajang di depan pintu pameran. Pameran seni lukis tunggal. Nama lengkapnya tertulis di bawah bingkai yang berwarna keemasan.
Tapi saya yakin pernah mengenal dia. Pernah bertemu sebelumnya. Pernah berbincang dengannya....
Pernahkah kamu merasakan cinta pada pandangan pertama?
Saya pernah.
Sunday, November 3, 2013
The Conjuring: Sang iblis ada. Tuhan juga ada.
Mari kita mulai dari akhir filmnya. Sebuah kutipan yang dituliskan Edward ‘Ed’ Warren (1926-2006) ditampilkan di layar bioskop:
“Diabolical forces are formidable. These forces are eternal, and they exist today. The fairy tale is true. The devil exist. God exist. And for us, as people, our very destiny hinges upon which one we elect to follow.”Ketika googling tentang kutipan itu, saya menemukan sebuah review mengenai film tersebut: “Can a horror film lead people to God?” Di akhir review-nya, dituliskan: “Despite its scares, The Conjuring is strongly redemptive.” Dan saya setuju dengan pendapatnya.
Film The Conjuring diceritakan berdasar dari sebuah kejadian nyata pada tahun 1971, di dalam perjalanan karir Ed dan Lorraine Warren, pasangan suami istri Katholik yang bekerja sebagai ahli “pengusir setan” (demonologist). Kejadiannya berawal dari kepindahan keluarga Perron ke sebuah rumah tua di daerah Rhode Island, yang kemudian mengusik ketenangan keluarga itu (dari mulai anjing peliharaan yang mati misterius, suara-suara gaduh tiap tengah malam hingga fajar, bau busuk yang tercium di tempat dan saat tertentu, penampakan sosok menyeramkan ke anak-anak keluarga Perron hingga ancaman pembunuhan oleh suara tanpa wujud). Hingga kemudian Carolyn Perron, istri dan ibu keluarga Perron, menceritakan hal-hal tersebut kepada pasangan Warren. Lalu pasangan ini mulai menyelidiki sejarah rumah (dan area) tersebut, yang ternyata mempunyai kisah yang sangat menyeramkan (dan sangat kejam).
Sejarah bermula pada tahun 1885, di mana seorang dukun wanita bernama Bathsheba Sherman, mengorbankan (membunuh) anak kandungnya, dan menyerahkannya kepada sang iblis untuk membuktikan kesetiaannya. Setelah melakukannya, penyihir ini diancam akan dibakar oleh massa (karena dianggap sebagai dukun). Hingga kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tetapi sebelum mati di pohon yang terletak di depan rumahnya, ia mengutuk rumah dan tanahnya. Dan dari sinilah teror mulai terjadi pada setiap orang/keluarga yang menempati rumah/area (yang dahulu) dimiliki Bathsheba. Ia tidak mengijinkan orang lain menetap di sana. Roh jahat Bathsheba selalu merasuki setiap orangtua (ibu), menguasainya, lalu menggerakkannya untuk membunuh anak kandungnya (yang seharusnya dikasihi dan disayangi) dan setelah itu mendorongnya untuk bunuh diri dengan cara gantung diri. Roh jahat (Bathsheba) ini ingin terus menempati dan menguasai rumah dan area itu, meskipun ia telah mati puluhan tahun yang lalu. (Saya melihat hal ini sebagai salah satu sifat jahat, yakni ketamakan)
Selanjutnya silahkan tonton sendiri ya… :)
********/*******
Kembali pada kutipan yang saya temukan pada sebuah review film The Conjuring: “Bisakah film yang menyeramkan [menyangkut setan] membawa penontonnya pada Tuhan?” Jawaban saya: bisa. Karena semalam, sebelum tidur, saya membaca Alkitab sangat lama dan berdoa (hal yang sangat jarang saya lakukan, bahkan saya tidak ingat kapan terakhir kali melakukannya). Dan setelah mencari tahu lebih jauh; Chad dan Carey Hayes, sebagai pembuat film The Conjuring, memang membuat film ini dengan tujuan agar sosok Tuhan kembali ditemukan oleh orang-orang di jaman sekarang: “…This film has an unexpected background character: God.” Kata Hayes bersaudara. (Saya melihatnya digambarkan dalam sebuah sinar yang terang benderang pada adegan klimaks film tersebut)
Lalu setelah membaca beberapa pernyataan dari pembuat film The Conjuring, saya kembali disadarkan pada kenyataan, bahwa sangat sedikit film (khususnya yang melibatkan setan) di jaman sekarang, yang menghadirkan sosok Tuhan sebagai jawaban dan sumber kekuatan ketika manusia terlihat berada pada ambang batas kekuatannya (terutama saat berhadapan langsung dengan iblis). Hal ini tentu sangat berbeda dengan film-film di era tahun 70an (misal: film-film Suzanna), yang pada akhir cerita selalu menampilkan seorang pemuka agama yang digambarkan sebagai simbol Allah, untuk mengalahkan si setan (iblis). Bahkan beberapa film horor modern membawa penontonnya untuk berpikir bahwa cara mengalahkan iblis adalah dengan berkompromi dengan iblis yang lain (misal: Constantine), dan beberapa lainnya menggiring opini penontonnya pada kesimpulan bahwa iblis tidak bisa dikalahkan (misal: Bangku Kosong).
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang digambarkan di film The Conjuring: iblis bisa dikalahkan! Bahkan diperlihatkan dalam sebuah adegan, bagaimana roh Allah dalam diri manusia mempunyai kuasa untuk mengusir roh jahat: “…with the Name of Jesus, I’ll send you Bathsheba, to hell…” (teriak Ed Warren ketika roh jahat Bathsheba merasuki tubuh Carolyn, dan hendak membunuh anaknya). Lalu setelahnya ditekankan (dalam penggambaran adegan) bahwa pada akhirnya pilihan manusia akan menentukan hidupnya (digambarkan jika kasih dalam diri Carolyn kepada anak-anaknya teramat besar dan itu membuatnya memilih untuk melawan roh jahat Bathsheba yang menguasai tubuhnya).
“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” (I Yohanes 4:4)
********/*******
Sepanjang adegan puncak yang sangat mencekam, dan digambarkan dengan teramat sangat mengerikan, saya berpikir: “Jika pada akhirnya roh Tuhan (kebaikan) selalu menjadi pemenang, mengapa ada manusia yang memilih untuk berpihak pada iblis (kejahatan) dan (bahkan) berpikir tidak akan terkalahkan?”
Pikiran saya berlanjut: bagaimana seandainya Bathsheba menyadari bahwa pada akhirnya ia akan diusir ke neraka (akibat perbuatannya) dan roh jahat beserta kutukannya bisa dikalahkan; apakah ia tetap akan membunuh anaknya? Bagaimana seandainya semua manusia menyadari: bahwa pada akhirnya sang iblis akan dikalahkan oleh Tuhan di hari penghakiman nanti; apakah ada manusia yang mau berpihak pada mereka (iblis) saat ini?
Lalu mengapa masih ada manusia yang memilih untuk mengikuti si jahat; bahkan yakin akan berhasil pada setiap rencana jahatnya dan percaya akan keluar sebagai pemenang di akhir pertandingan? Ini sama saja seperti menonton tayangan ulang final Piala Dunia 2010 dan sejak babak pertama yakin kalau timnas Belanda akan menjadi juara dengan mengalahkan timnas Spanyol.
Tapi inilah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ia membebaskan manusia untuk percaya atau tidak pada sebuah fakta: bahwa Tuhan sudah mengalahkan dunia. Dan itulah yang membuat namaNya berkuasa di atas segala nama.
Sang iblis ada. Tuhan juga ada. Dan bagi kita, sebagai manusia, masa depan bergantung pada apa dan siapa yang kita pilih untuk kita ikuti. (Ed Warren)
We’re 100% aware of the reality that there is darkness and there is light … We’ve seen things, that I wish we never saw. (Hayes Brother -filmmaker The Conjuring-)
Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. (Filipi 1:9-11)
Tuesday, March 20, 2012
Koma, Titik.
Saya merindukan diri saya di masa lalu.Ketika menulis menjadi kegiatan yang dilakukan untuk menumpahkan kepenatan, bukan menjadi beban. Untuk mengutarakan gagasan, bukan menambah pikiran. Untuk hiburan, bukan karena tuntutan. Untuk berbagi perasaan, bukan karena itu sebuah pekerjaan. Untuk mendewasakan, bukan menjebak dalam rutinitas harian.
Saya hanya tidak nyaman dengan keadaan sekarang. Ketika menulis menjadi sebuah cara untuk mendapatkan uang, bukan cara untuk bersenang-senang. Tidak bisa menulis apa yang diinginkan, karena ada mereka yang memberi bahan tulisan.
"Ini bisnis... ini industri buku... ini menyangkut orang banyak..." kilah mereka demikian. Padahal menulis hanya menulis. Tidak perlu kata puitis. Juga kalimat pemanis. Atau perhitungan matematis.
Seorang penulis yang baik adalah seorang pencerita, bukan orang yang melakukannya karena perintah mereka. Penulis adalah seorang yang egois. Idealis. Seorang analis. Imajinatif. Dan seharusnya hidup di sebuah gua, bukan di ruangan terbuka.
Saya rindu ketika menulis hanya sebuah kegiatan tanpa embel-embel materialistis. Yang coretannya enak untuk dinikmati oleh mereka, membuat pembacanya seolah-olah berada di dalam pikiran penulisnya. Hingga secara tidak sadar, mereka terpengaruh oleh apa yang dibacanya.
Ya, saya ingin mulai menulis...
Tuesday, January 17, 2012
Catatan Akhir/Awal Tahun: The Darkest Hour
What is past is prologue. (Tertulis pada sebuah patung di depan gedung arsip nasional Amerika Serikat, di Washington D.C.)
Saya masih ingat hari itu: 21 Juni 2010. Hari itu saya merasa, menurut teori “The Darkest Hour”, saya sedang berjalan dalam waktu tergelap selama hidup saya. Tidak ada cahaya. Walau kemudian saya sadar, bahwa ternyata hari itu belum seberapa gelap. Hari tergelap sepanjang hidup saya di bumi, adalah tanggal 24 Januari 2011.
Awal tahun 2011, tidak terlihat setitik pun cahaya di lorong kehidupan saya. Gelap. Sekarang saya mengerti, bagaimana rasanya menjadi orang yang ketika ditanya kabarnya, dia hanya menjawab: “Gelap.”
Teori “The Darkest Hour” mengatakan bahwa, saat seseorang hendak naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi dalam hidupnya, dia harus melalui sebuah tantangan yang sangat luar biasa sulit. Rintangan yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Nama “Jam Tergelap” disematkan sebagai nama teori tersebut berdasarkan kejadian alam yang secara natural menunjukkan, bahwa kegelapan yang paling gelap terjadi saat pergantian bulan dengan matahari. Saat tidak ada satu pun benda penerang di langit. Tapi di sinilah sebenarnya kita harus sadar: setelah bulan tertidur, tak berapa lama kemudian matahari pasti menyingsing di ufuk timur. Karena gelap pasti akan menjadi remang pagi, dan remang menjadi siang yang terang. Sepasti itulah janji Tuhan terhadap semua umatNya.
Jadi jika saat ini Anda sedang berada dalam situasi sulit yang sangat luar biasa sulit, bahkan belum pernah Anda alami sebelumnya… Anda harusnya bersukacita! Berlarilah…. Karena sebentar lagi Anda akan mereguk nikmat kesuksesan. Karena tidak lama lagi, Anda akan naik satu tingkat dalam “karier” kehidupan Anda.
Dan saat saya mengenang kembali masa “The Darkest Hour”, saya juga teringat pada kisah tentang pohon bambu dan pakis.
Saya akan ceritakan kisah itu di lain waktu. Tapi intinya, tempat di mana saya berdiri sekarang, semua ternyata tidak lepas dari pelajaran dan pengalaman yang sudah saya lewati sebelumnya.
Pelajaran bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana bersikap saat tidak didengarkan, bagaimana melayani orang yang tidak dikenal sebelumnya, bagaimana bertahan pada situasi yang tidak menguntungkan bagi saya, bagaimana melakukan segala sesuatu sendirian, merasakan bagaimana bekerja tanpa mendapatkan sesuatu yang nyata; pengalaman dituduh sebagai pencari perhatian, pengalaman disepelekan, pengalaman ditolak dan difitnah…. Semuanya itu ternyata membentuk karakter saya, dan membawa saya pada titik di mana saya berdiri sekarang. Untuk itu semua, saat ini saya ingin berterima kasih pada mereka yang tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan, yang menyepelekan saya, yang memfitnah saya dan pada mereka yang menganggap kalau saya hanya sebagai pencari perhatian. Karena kalian, saya sekarang berada pada level yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Mengingat kembali waktu memasuki tahun 2011, saya tidak melihat setitik pun cahaya di sana. Bahkan saya sempat berpikir, kalau tahun 2011 adalah tahun terakhir saya untuk melewatkan hari-hari seperti sebelumnya.
Tapi sekarang saya disadarkan pada sebuah kenyataan: hidup ini hanyalah seperti melewatkan sebuah hari. Di saat pagi hingga sore hari, di kala cahaya masih terang menyinari bumi, saat-saat itulah kita belajar, bagaimana hari itu sedang memberikan kita beberapa pelajaran dan pengalaman yang berguna sebagai bekal untuk hidup di esok hari. Lalu tibalah remang malam hingga dini hari, di mana gelap menaungi kehidupan manusia di bumi. Saat itulah kita belajar untuk percaya dan berharap pada Tuhan. Meyakinkan diri bahwa esok hari, matahari akan terbit dan membawa cahaya terangnya kembali. Dan tanpa disadari, kita sudah bertumbuh saat gelap sudah terlewati. Karena katanya, pertumbuhan manusia terjadi saat malam hari.
********/*******
Bulan Mei-Desember 2011 adalah siang bagi hidup saya pribadi. Saya bisa merasakan bagaimana cahaya itu bersinar sangat terang. Saya tidak tahu kapan remang malam akan datang di tahun 2012 ini. Tapi sekarang saya menyadari, bahwa tidak ada kegelapan yang abadi di dunia ini.
Belajar dari pengalaman sebelumnya: jika kegelapan yang paling gelap datang kembali, itulah tandanya kalau saya harus berdiri dan berlari. Karena kebahagiaan, kesuksesan dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi lagi, sudah menanti untuk dilalui dan dinikmati.
Ketika kau digoda untuk meninggalkan impianmu, kuatkan dirimu untuk meneruskannya satu hari lagi... satu minggu lagi... satu bulan lagi... satu tahun lagi... dan kau akan kagum ketika tahu apa yang terjadi, jika kau menolak untuk menyerah. [Nick Vujivic]
Ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya.
Kutoarjo - Yogyakarta, 1 Januari 2012.
Wednesday, November 2, 2011
Yakin Sudah Sukses?
Tapi sebenarnya apa arti dari kata “SUKSES”?
Menurut kamus lengkap bahasa indonesia, sukses bisa berarti berhasil, beruntung, lulus atau dapat dicapai dengan baik. Jadi kata sukses sangat abstrak maknanya.
“Ingin sukses?” Kalimat itu juga sering menjadi kalimat promosi sebuah acara motivasi, atau kalimat ajakan untuk mengikuti sebuah bisnis yang modalnya harus mengajak orang sebanyak mungkin. Tapi nyatanya, tidak semua orang yang mengikuti acara motivasi atau bisnis tersebut menjadi orang yang (dianggap) sukses. Jadi adalah salah kalau orang mengartikan kata sukses dengan banyak uang atau memiliki jabatan dan kedudukan.
Kata “sukses” adalah kata sifat. Jadi artinya relatif bagi setiap orang. Tidak ada tolok ukur untuk menilai apakah seseorang sudah sukses dalam hidupnya.
Karena jika kesuksesan diukur dengan uang, berarti tidak ada tukang kebun yang sukses; supir yang sukses; office boy yang sukses; kasir supermarket yang sukses; bahkan tidak ada pembantu rumah tangga yang sukses. Padahal setiap orang ingin dikatakan sukses. Dan nyatanya, mereka yang banyak uangnya, masih membutuhkan tukang kebun, supir, office boy, kasir supermarket dan pembantu rumah tangga. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang mengatakan kesuksesan hanya dapat diukur dengan uang, jika tidak ada mereka yang kalian katakan “tidak cukup sukses” tersebut?
Atau jika kesuksesan diukur dengan pangkat dan jabatan, berarti tidak ada sersan yang sukses; staf manager yang sukses; perawat yang sukses; satpam yang sukses; bahkan tidak ada sekretaris yang sukses. Padahal setiap orang ingin menjadi sukses. Dan nyatanya, mereka yang berpangkat jenderal atau direktur utama sebuah perusahaan, atau dokter spesialis kenamaan, masih membutuhkan seorang sersan, staf, perawat, sekretaris dan satpam. Bisakah kalian bayangkan, hai orang-orang yang menganggap kesuksesan hanya dapat diukur dengan pangkat dan jabatan, jika tidak ada mereka yang kalian anggap “tidak cukup sukses” tersebut?
Saya percaya, setiap manusia diciptakan dengan fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Seperti Tuhan menciptakan tubuh manusia. Semua organ tubuh kita mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Bisakah mata berkata pada telinga, “Aku tidak membutuhkanmu”? Atau seorang pemain sepak bola memandang remeh tangannya, karena dia memandang kakinya lebih berharga?
Jadi, sukses adalah sebuah pengertian. Untuk mencapainya, yang pertama harus dilakukan adalah mengerti apa yang menjadi tujuan hidup kita. Tahu apa yang menjadi cita-cita kita. Setelah itu, jika kita ingin sukses, kejarlah apa yang menjadi tujuan dan cita-cita hidup kita itu.
Sukses bukan berarti harus punya banyak uang. Sukses juga bukan berarti punya pangkat dan jabatan. Sukses berarti mengerti, kalau tujuan Tuhan menciptakan kita di dunia sudah tercapai.
Ketika kita sukses, kita tidak harus menjadi kaya atau terpandang di mata orang-orang. Ketika kita sukses, yang pasti kita akan puas dan bahagia dengan apa yang telah kita kerjakan selama ini. Tidak peduli apa kata orang lain pada diri kita saat ini. Yang paling tahu apakah diri kita sukses saat ini adalah diri kita sendiri. Karena ada seorang tua yang kaya dan mempunyai keluarga bahagia, tapi dirinya belum menganggap bahwa kesuksesan telah diraihnya. Orang tua itu berkata: “Masih ada cita-cita saya yang belum terlaksana.”
Saya pribadi sering bertemu dengan orang-orang (yang dianggap) sukses di negeri ini. Dan kalimat yang sering meluncur dari mulut mereka adalah: “Saya bangga dengan apa yang telah saya lakukan dalam hidup saya.”
Jadi, apakah Anda puas dan bahagia dengan apa yang telah Anda kerjakan selama ini? Jika iya, itu artinya Anda sedang berjalan dalam kesuksesan hidup Anda.
Salam sukses.
Tidak ada orang yang benar-benar sukses, jika ia tidak benar-benar menyukai apa yang dikerjakannya. -Andrias Harefa-
Monday, June 27, 2011
Integritas: Jangan Katakan Maaf
Misalnya dalam suatu pesta, seseorang menawari kita minuman beralkohol. Jika Anda tidak ingin meminumnya, katakan saja, "Tidak. Saya tidak meminum alkohol."
Karena jika Anda berkata, "Maaf. Saya tidak meminum alkohol," hal ini akan terdengar seperti, "saya menyesal karena saya tidak meminum alkohol."
Padahal menolak tawaran meminum alkohol bukan sebuah kesalahan. Baik malahan. Itu akan menjaga Anda tetap sadar, sehingga jika semua orang dalam pesta itu mabuk dan tidak dapat menyetir mobilnya untuk pulang ke rumahnya, Anda bisa menolong mereka semua.
Juga saat berkumpul bersama teman-teman Anda, kemudian mereka semua mulai menyalakan rokok, dan Anda ditawari oleh mereka sebatang rokok; cukup katakan, "Tidak. Saya tidak merokok." Jangan katakan, "Maaf. Saya tidak merokok." Sama seperti kasus minuman alkohol tadi, menolak tawaran untuk merokok bukan menunjukkan kesalahan yang Anda lakukan. Hal ini juga tidak akan menjadi pembenaran bagi teman-teman Anda yang merokok. Karena jika Anda berkata "Maaf", di pikiran para perokok ini akan terbentuk opini, "Orang yang tidak merokok selalu menyesal jika tidak merokok di kumpulan para perokok. Kasihan mereka... ha.. ha.. ha.."
Jadi, cukup katakan "tidak" saat ada yang menawari Anda untuk korupsi, berjudi, mengonsumsi narkotika dan hal-hal lainnya yang bisa merusak masa depan Anda.
Berkata "tidak" pada sebuah tawaran dari orang lain, bahkan dari sahabat atau kenalan, menunjukkan bahwa Anda punya prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Inilah yang kemudian disebut dengan integritas.





