Tuesday, February 23, 2010

re : Surat Cinta Untuk Cinta

Balasan surat saya kepada cinta.

Dear Victor,

Maafkan aku karena baru saja membaca suratmu. Ribuan surat datang dari seluruh penjuru dunia setiap harinya. Sampai aku kewalahan membaca semuanya. Tapi, saya tertarik dengan isi suratmu kepadaku.

Victor, sebelumnya aku mengucapkan terima kasih, karena kamu masih percaya padaku di dunia yang mulai meragukan diriku. Banyak hal yang sekarang terjadi, hanya mengatas namakan kesucian diriku. Mereka bilang cinta, tapi nyatanya hanya sebagai pemanis mulut saja. Kerap kali, aku sedih dengan hal ini, melihat kenyataan yang ada di dunia ini. Benar yang engkau katakan, diriku sudah tidak dikenali seperti dulu lagi. Mereka bilang cinta, tapi hanya menginginkan seks semata. Mereka bilang cinta, tapi hanya sebuah skenario bisnis keluarga. Mereka bilang cinta, tapi ternyata hanya agar menaikkan status sosialnya.

Sebenarnya, diriku ada beberapa. Aku cinta, mempunyai empat saudara kembar. Mereka bernama Agape, Eros, Philia, dan Storge.

Storge adalah diriku yang kamu rasakan dalam hubungan dengan keluargamu. Cinta pada ayah, bunda, anak, kakak, adik, keponakan, sepupu, paman, bibi, dan lain-lainnya.

Philia adalah diriku yang kamu rasakan dalam hubungan dengan teman-temanmu. Terkadang Philia sering dikenali sebagai Eros, saudara kembarnya. Tapi, Philia dan Eros adalah pribadi yang sangat berbeda. Eros seperti kisah mars dan venus yang bertemu di bumi. Ada gairah dan hasrat yang lebih dari seorang Philia. Eros inilah yang sering disalah gunakan oleh manusia. Bukan Eros yang salah, karena kami, tidak pernah salah dalam mengenali manusia yang merasakan kehadiran kami. Manusia lah yang sering salah mengartikan kami dengan saudara-saudara tiri kami.

Saudara tertua kami, Agape, adalah diriku yang kamu rasakan dalam hubungan dengan Penciptamu. Dengan Tuhan dan begitu juga sebaliknya. Agape adalah diri kami yang paling murni, karena dialah kesejatian dalam diri kami. Agape tidak pernah bersyarat, walaupun sebenarnya, kami semua tidak pernah menuntut balas. Agape juga lah yang paling tersembunyi, jarang terlihat, karena dia adalah diri kami yang paling dirasakan dan paling dihayati, dan masing-masing manusia yang merasakannya, mempunyai takaran tersendiri.

Satu lagi yang aku ingin kamu ketahui, aku setiap hari, setiap saat, hadir di setiap nafas hidupmu. Saat engkau bernafas, menikmati sejuk udara dan hangat mentari pagi, saat itu Agape hadir di sekitarmu. Saat engkau mendapat telepon dari orang tuamu, untuk mendengar kabarmu, saat itu Storge ada di dekatmu, sedang berbicara padamu. Saat engkau pergi dan makan bersama temanmu itu, aku lupa namanya, sebenarnya saat itu Philia juga ada disana.

Mungkin, maksudmu engkau ingin tahu kapan saat bertemu Eros? Eros sebenarnya ada di sekitarmu. Hanya kamu terkadang tidak peka akan kehadirannya. Kamu kadang mengenalinya sebagai Philia, atau saudara tiriku lainnya. Percaya saja, Pencipta kami, akan mengenalkan eros padamu, tepat pada saatnya. Bukankah semuanya indah pada waktuNya? Saat engkau bertemu dengannya, pasti kami akan membantumu mempertahankannya, melalui Agape, Storge, Philia yang kamu rasakan. Kami juga tidak ingin saudara kembar kami dilukai. Jangan menyerah, kami akan memberikan kekuatan padamu.

Percayalah, kami, cinta, selalu ada di kehidupanmu, apapun yang terjadi, bahkan saat dirimu merasa sendiri. Kami, cinta, selalu ada di sekitarmu, sepasti udara segar yang engkau hirup, sepasti fajar yang merekah setiap pagi, juga sepasti bumi mengelilingi matahari.

Selamat merayakan hari kasih sayang, Victor.

Salam dari kami,
Cinta (Agape, Storge, Philia, dan Eros).

Angin, Daun, dan Pohon

Namaku Bayu, bangsa angin, ras sepoi-sepoi. Aku sudah mengelilingi dunia, semua tempat di lima benua, baik yang indah maupun sebuah antah berantah, telah aku kunjungi. Aku suka berkeliling, melihat tingkah laku semua makhluk Tuhan di bawah sana. Kadang membuatku tertawa, kadang membuatku merenung, bahkan menangis ketika aku melewati benua hitam, benua Afrika mereka menyebutnya.
Hingga akhirnya, aku sampai di tempat ini, di hutan yang mereka namakan Amazon. Aku suka tempat ini, teduh, jauh dari kebisingan mesin dan asap yang disebabkannya. Aku suka bermain dengan air dan ikan-ikan di dalamnya. Aku meniup mereka, dan mereka beriak tertawa, ikan-ikan melompat-lompat ingin bermain juga.
Teman -temanku sudah mengajakku pergi, untuk berkeliling lagi, tapi aku sudah nyaman disini. Lagipula, aku mempunyai teman baru, namanya Livi. Aku suka padanya, ingin mengajaknya bermain bersama, tapi dia lebih suka menatap Alberto, pohon oak yang menjulang tinggi. Paling tinggi diantara kawan-kawannya.

Namaku Livi, bangsa daun, ras menjari. Aku dari kecil hidup dengan Alberto, dan aku selalu menempel padanya. Aku suka mendengar cerita-cerita darinya, juga teman-temanku yang lain. Mereka semua suka pada Alberto, karena Alberto lah kami tetap hidup. Tapi, perasaanku padanya lebih dari sekedar suka.
Aku cinta padanya.
Aku tidak akan lelah untuk tetap berpegangan pada rantingnya, walaupun bangsa angin coba menerbangkanku. Dan aku pikir, Alberto juga memegangiku erat, karena beberapa kawanku lepas, terbang entah kemana dibawa bangsa angin yang sedang marah melintas. Tapi, akhir-akhir ini, aku tahu ada yang memperhatikanku. Kata temanku dia bernama Bayu, bangsa angin yang ditinggalkan teman-temannya, atau karena dia ingin tetap tinggal disini? Bayu suka merayuku untuk pergi dengannya, meninggalkan Alberto disini. Tapi dia tidak mempunyai kekuatan seperti teman-temannya, yang bahkan mampu membuat Alberto melakukan kuda-kuda, agar tidak jatuh tumbang seperti beberapa kawannya. Aku tahu, setiap hari, setelah bermain dengan air dan ikan-ikan di sungai yang tidak jauh dari sini, Bayu kemudian pergi ke hutan ini, menggodaku agar mau pergi bermain dengannya. Tapi aku acuh, tak bergeming, aku tidak ingin meninggalkan Alberto sendiri. Aku cinta padanya. Aku rela mati untuknya, dan seperti yang lain, akhirnya aku akan membusuk dan menjadi makanannya. Tapi aku tak peduli itu, bukankah cinta memang harus berkorban? Dan begitulah setiap harinya, godaan Bayu tak kuhiraukan.

Namaku Alberto, bangsa pohon, ras oak. Aku terlahir dengan tubuh yang kuat, karena kata mereka, badanku adalah yang terbaik dari semua bangsaku yang yang lain. Aku paling tinggi dari semua teman-temanku, dan entah kenapa aku tidak menyukai itu. Aku selalu terkena panas dari sang matahari, yang dengan pongahnya duduk di singgasana di atas sana. Seolah-olah tidak peduli pada kami yang terbakar disini. Aku juga selalu terkena sang hujan. Dengan dingin mereka menghajarku seolah-olah aku tiada berdaya. Tapi, karena matahari dan hujanlah, aku bisa menjadi seperti sekarang.
Menjadi tinggi dan kuat.
Aku tahu ada beberapa kawanku yang tidak suka denganku. Mereka menganggapku tidak mau berbagi hujan dan cahaya matahari. Tapi kawan, bukan kehendakku menjadi yang tertinggi dan mempunyai ranting yang menutupi sinar matahari. Bukan salahku mempunyai daun yang lebat sehingga menghalangi hujan langsung jatuh ke bumi.
Daun. Aku mempunyai banyak daun.
Aku tidak mengenal mereka satu per satu, tapi aku tahu ada Livi yang selalu memperhatikanku. Kata rantingku, dia jatuh cinta padaku. Tapi aku tak bisa mencintainya. Bagaimana mungkin aku hanya mencintai satu daun dan menghiraukan yang lainnya? Tidak. Aku tidak boleh membiarkan dia jatuh cinta padaku.

Bulan demi bulan berganti. Tapi rutinitas itu tak berganti.

Bayu tetap berharap bisa membawa Livi pergi, Livi tetap menatap pada Alberto, dan Alberto tetap tak peduli akan sinyal cinta yang disampaikan Livi melalui air di tubuhnya. Hanya air yang bisa merasakan hangat cinta Bayu kepada Livi, dan Livi kepada Alberto. Dan air pun berkata akan cinta Bayu pada Livi, melalui aliran di dalam tulangnya. Tapi Livi tetap tak menghiraukan. Livi pun kemudian menolak, jika ada aliran air yang akan menembus tulangnya, ia tetap bersikeras bahwa suatu hari nanti, Alberto akan tahu betapa besar cintanya padanya.

Hari berganti hari, Livi semakin lemah. Tubuhnya tidak hijau lagi, mulai menguning, dan hampir mati. Ia tetap menolak aliran air masuk ke dalam ruas tulangnya. Ia ingin membuktikan cintanya pada Alberto. Dan Bayu, tidak tinggal diam melihat hal ini. Dengan seluruh kekuatannya, ia meniup Livi, agar tidak mati sebelum dia tahu cintanya padanya. Livi bertahan, berpegang erat pada Alberto. Alberto tahu akan hal ini, tapi dia tetap pada pendiriannya semula, dia tidak bisa jatuh cinta pada Livi. Livi sangat lemah, apalagi setelah dia tahu, bahwa Alberto tidak memeganginya erat, dia hanya bisa pasrah dan berserah. Akhirnya Livi terlepas dari Alberto, dibawa pergi oleh Bayu, melihat isi dunia yang selama ini hanya dia lihat dalam sosok Alberto. Ya, cinta sudah membutakannya. Bersama Bayu, dia akhirnya sadar satu hal, bahwa lebih baik belajar mencintai Bayu yang mencintainya, daripada berharap akan cinta pada Alberto yang tidak pernah sedetik pun mencintainya.

Livi, sebelum kematiannya, telah merasakan cinta yang ia ingin rasakan. Di dalam dekapan Bayu, dia akhirnya merasakan ketenangan dan keindahan. Ia menyesal, mengapa tidak memilih Bayu dari dulu. Tapi Bayu tidak pernah menyesal, walau hanya sehari Livi berada dalam peluknya. Sebab dia tahu, inilah cinta sejatinya.

Apakah daun terlepas dari pohon karena tiupan angin yang membawanya? Atau... daun terlepas dari pohon karena pohon tidak mempertahankannya?

Tuesday, February 16, 2010

Grow a Day Older

Saya paling tidak suka dipanggil 'bos', atau 'pak'.

Lebih baik menyapa saya dengan 'vic' saja, atau 'kak' buat yang belum mengenal nama. Buat saya, lebih nyaman dan enak didengar (juga dibaca). Kenyataannya umur saya baru 22 tahun, walaupun terlihat 25 atau lebih tua, dan saya juga masih jauh dari keadaan hidup berumah tangga. Lagipula saya tidak suka menjadi 'bos', entah kenapa. Saat saya bekerja, saya lebih suka menyebut teman kerja sebagai 'partner', baik itu atasan atau bawahan.

Hari ini, saya bertemu teman SMP saya. Dia tidak mengenali saya, mungkin karena perawakan saya yang telah (sangat) berubah. Percayalah, dulu waktu SMP (dan SMA) saya memiliki tubuh proporsional dan wajah lumayan tampan. Mungkin karena terkena dampak sistemik hidup perkotaan, jadilah saya seperti ini sekarang.
Saat saya melihatnya, ada niat saya untuk menyapanya, mungkin bercerita tentang kenangan di bangku SMP, saat piknik sekolah atau kemah bersama. Tapi saat saya mendekat, dia terlebih dahulu dihampiri seorang wanita muda yang menggendong anak. Saya melewatinya saja, tapi telinga masih menangkap perkataan wanita itu pada teman saya. "Pa, nanti pulangnya naik kereta jam 4 aja ya".

"Pa", dia istrinya berarti. Nama teman saya Bobby Susanto, jadi gak ada unsur "Pa"nya. Juga kalau mereka masih pacaran, bayi itu anak siapa? Apakah kata "Mas" atau "Say" sudah diganti jadi "Pa"? Dia sudah menikah berarti, itu kesimpulan saya. Ah, seingat saya dia hanya beda 1 tahun dengan usia saya, jadi masih sekitar 23-24 tahun umurnya, tapi sudah beristri dan beranak. Saya gak habis pikir dibuatnya.

Saya sudah beranjak tua...

Pernah pada suatu kesempatan berbeda, bertemu adik sekolah minggu yang satu kereta dengan saya menuju kota Jogja. Dia sudah SMA, di suatu sekolah yang isinya hanya pria. Saya sempat shock dibuatnya. Dia sudah besar, seperti baru kemarin saja, saat masih di sekolah dasar, saya gemar mencubit pipinya saking gemasnya. Tapi lagi-lagi dia tak mengenali saya.

Saya sudah beranjak tua...

Masih teringat di benak saya, saat masih kecil, saya suka menirukan gaya orang dewasa. Pura-pura mencukur kumis dan jenggot dengan pasta gigi, ingin tidur larut malam, hingga suka kabur saat disuruh tidur siang.
Sekarang, saya jengah dengan kegiatan mencukur kumis dan jenggot pake foam, pengen tidur cepet, dan tiap siang hari juga selalu ingin tidur. Tapi sudah bukan waktunya lagi melakukan hal kanak-kanak, hidup bebas tanpa beban, seperti yang dibilang penyanyi cilik itu, Cindy Cenora, "krismon krisis moneter, aku sih ya cuek aja".

Saya sudah beranjak tua...

Kadang saya takut menghadapi kenyataan ini. Tiap bangun pagi, menyadari usia saya bertambah satu hari. Bahkan saat usia saya menginjak 22, saya takut saat hari itu tiba. Apa yang telah saya lakukan selama ini? Entah apa yang akan terjadi di hari saat saya menginjak usia 23. Takut ataukah kalut.
Saya pernah mendengar cerita, dari seorang tua yang tinggal di panti wreda, bahwa dia tidak ingin mengingat hari ulang tahunnya. Bahwa dia benci saat para perawat di panti dan teman-temannya merayakan hari ulang tahunnya. "Saya takut mengetahui berapa usia saya" katanya. Terkadang saya juga.

Saya sudah beranjak tua...

Kembali saya mengingat 18 tahun kejadian dalam hidup saya. 18, karena ingatan dalam senarai otak saya, dimulai dari usia 4 tahun saat saya masuk TK. Tapi banyak bayangan kabur disana, tidak jelas. Kata ilmuwan, otak manusia tidak akan pernah lupa. Semua ada di dalam sana, tinggal bagaimana manusia itu merangkai senarainya. SD... SMP... SMA.. kuliah... kerja... STOP. Saya masih belum bisa membayangkan hidup berdua, bertiga, berempat, berlima, atau berenam dalam satu rumah. Saya masih belum bergairah untuk menikah. Saya masih belum siap dengan tanggung jawab menghidupi keluarga dan sebagainya. Saya sadar, menikah tidak semudah kata buku roman picisan atau buku stensilan di Pecenongan. Menikah berarti memasuki perlombaan baru dalam hidup, mulai berlari dalam sebuah pertandingan dengan seorang partner di sampingnya. Dialah istri saya. Dan saya sadar akan hal itu sepenuhnya. Bahwa nantinya saya akan di sisinya sepanjang sisa hidup saya, beranjak tua dalam pelukannya.

Saya sudah beranjak tua...

Ah... tidak.

Saya sudah beranjak dewasa...

If everything has been written down, so why worry, we say...
It's you and me with a little left of sanity.
(Dewi Dee - Grow a Day Older)

Thursday, February 4, 2010

Tuhan Itu Wangi

NKB 197 : 3
Meski tumpuanku pada Yesus, Tuhanku,
tidaklah aku jauh dari susah dan keluh


Pada saat aku denger lagu dari NKB itu, saat itulah aku ngerasa bahwa Tuhan sedang berbicara denganku. Sebenarnya, setelah aku renungkan, sudah berulangkali Tuhan berbicara denganku. Aku adalah orang yang hidupnya sering jauh dari Tuhan. Aku deket ama Dia cuma pas aku lagi seneng aja, kalo pas lagi susah ato kecewa aku kembali lagi pada ’hidup duniawi’ku. Jadi boleh dibilang aku adalah orang yang cuman mau enaknya aja, cuman mau berkatNya aja, tapi pas Dia ngasih sebuah ’tantangan’ buat aku lewatin, aku mulai mundur dariNya. Aku memang bukan Ayub yang berkata, ”Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).
Aku orang yang egois, mau menangnya sendiri. Kalo aku pengen ini, pokoknya harus! Gak boleh enggak! Jadi, aku pengennya pas aku lagi punya masalah, aku langsung ditolong ama Dia tanpa harus berpikir atau bertindak untuk menyelesaikan masalahku. Langsung ’simsalabim’, semuanya beres. Terus, aku juga pengennya Tuhan tuh mau menampakkan diriNya ama aku (kayak kisah-kisah di Alkitab, Musa, Elia, Paulus), bisa aku ajak ngobrol kayak aku lagi ngomong ama temenku. Tapi, aku selama ini merasa kalo Tuhan itu ’bisu’, setiap aku berdoa atau pas lagi cerita atau curhat ama Dia, aku gak pernah denger suaraNya secara langsung. Aku cuma melakukan monolog sama Dia. Jujur, aku pernah nganggep Dia tuh gak ada, nganggep Tuhan tuh cuma khayalan ato fantasi dari jutaan manusia yang percaya bahwa Dia ada. Yah, pokoknya waktu itu aku berpikir kalo Tuhan tuh cuma ’omong kosong’.

Saat itu aku lagi down banget, aku lagi ngadepin banyak banget masalah. Tapi karena aku orangnya punya ego yang gede, aku gak pernah mau cerita ke orang lain tentang masalahku ato minta bantuan ke orang lain termasuk sama keluargaku. Jadi waktu itu aku cuma mengunci diri dalam kamar, nangis sejadi-jadinya, dan...cerita semua yang aku hadapin ama Dia. Memang sih, setelah aku selesai ngomong panjang lebar ke Dia, aku saat itu ngerasa agak lega. Tapi masalahnya gak selesai sampe disitu, esoknya masalah kembali datang. Dan saat itu aku ngerasa bahwa Tuhan itu gak ada, Tuhan tuh sibuk ama urusanNya sendiri, kemudian aku berpikir bahwa Tuhan tuh gak sayang ama aku. Kalo Bruce Nolan bilang, ”Tuhan tuh seperti anak kecil dengan kaca pembesarnya yang pura-pura memperhatikan aku, tetapi sebenarnya Dia juga sedang menyiksa aku” (’Bruce Almighty’ movie). Tiga hari berikutnya, aku benar-benar jauuuh dariNya. Aku mulai hidup dengan jalan pikiranku sendiri, gak pernah doa lagi pas makan (apalagi saat teduh), dan mulai mengasihani diriku sendiri.

Tapi aku gak pernah berpikir bahwa pada saat-saat itu sebenarnya Tuhan sedang menjawab semua masalahku. Dalam tiga hari, Tuhan selesaikan semuanya! Dan hal itulah yang aku tidak sadari selama tiga hari itu. Dan puji Tuhan, Tuhan gak membiarkan aku lebih lama lagi dalam kesendirianku, karena jujur aja selama tiga hari itu aku ngerasa ada yang hilang dalam hidupku. Aku memang belum pernah punya pacar, tapi mungkin saat itu yang aku rasakan kayak seseorang yang lagi putus sama pacar, atau kayak seseorang yang lagi marahan sama kekasihnya.

Seperti biasanya, setelah pulang kuliah aku langsung tidur sambil dengerin MP3 pake WinaMP3. Dan saat itulah Tuhan ’berkunjung’ ke kamar kostku. Mulanya, komputerku secara kebetulan (atau memang sudah rencana Tuhan) muter lagunya Audy yang berjudul ”Lupakah Engkau”. Tapi aku gak ngerasain waktu itu, kalo saat itu ada kehadiran ’seseorang’ yang ada di kamarku selain aku sendiri. Aku memang gak percaya sama hantu, setan atau roh-roh gentayangan yang katanya sering dilihat sama orang-orang. Aku cuma tahu hantu, setan, atau roh-roh gentayangan itu cuma iblis yang nyamar buat nakut-nakutin. Aku dulu pernah liat di sebuah majalah kristiani, ada gambar seekor iblis yang pake baju pocong buat nakut-nakutin orang yang lewat di kuburan pada malam hari, dan yang lucu lagi di bajunya ada tulisan ’Made in China’...dan karena gambar itulah aku ampe sekarang gak percaya kalo ada mayat yang bisa hidup lagi, atau roh-roh penasaran yang gentayangan buat nakut-nakutin orang. Lagian, roh yang pada kita jauuuh lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini!!! Iya gak? Kembali lagi ke yang tadi... pas lagunya Audy diputer, aku mencium bau yang wangi, kayak wangi parfumnya seorang cewek. Jadi aku mikirnya pasti temen kostku lagi ada temen ceweknya yang dateng. Tapi semakin aku cium, wanginya semakin buat aku nyaman.

Dan saat itulah, aku mulai tertidur.

Pokoknya, aku gak tahu lagi...pas aku tidur ato aku cuma berbaring (yang jelas aku ngerasa ada yang gak beres sama jiwaku) lagunya Audy mulai terdengar ”lupakah engkau ada Dia yang mengasihi dirimu, lupakah engkau ada Dia yang setia menemanimu, di saat engkau terjatuh...” kira-kira gitu yang aku denger saat itu. Dan lirik lagu itu mulai terus terngiang di telingaku, dan kemudian ada sesuatu yang ngomong dalam hatiku dan mulailah aku ngerasa aku gak sedang ada di kamarku lagi... Dan saat itu aku percaya kalo Tuhan sedang berbicara sama aku!!! Pas aku terbangun, ternyata sudah 3 jam aku tidur. Padahal sepertinya baru 5 menit aku tertidur. Kemudian, aku mulai puter lagi lagunya Audy dan aku dengerin liriknya... dan mulai saat itu aku mulai yakin lagi akan ’ada’nya Tuhan!

Aku mulai lagi perbaiki hubunganku ama Dia, sampe sekarang... dan saat aku mulai dapet masalah aku tinggal ngomong aja ke Dia, gak peduli aku lagi di jalan, di kampus, lagi mandi, atau pas lagi berbaring di atas tempat tidur. Karena aku yakin, Tuhan tuh gak jauh... Dia selalu ada disampingku, dimanapun aku berada atau disaat kapanpun juga. Tuhan tuh kayak matahari, gak bisa kita liat atau kita sentuh, tapi bisa kita lihat sinarnya, dan bisa kita rasakan hangat sinarnya. Dan satu lagi, Tuhan bisa berbicara pada kita lewat apa aja, lewat perkataan yang kita denger dari orang lain secara sengaja atau tidak, lewat apa yang kita lihat, lewat alam, atau bahkan lewat lagu yang kita dengarkan... dan yang jelas Tuhan tuh sayang ama kita dan gak mau kita jauh dari Dia.

Dan sampe sekarang aku masih sering denger ada suara yang berkata-kata di telingaku, dan terkadang aku masih sering mencium wangi parfumNya...

********/*******
McD Mall Malioboro,
di suatu malam yang sangaaat indah :-)

Paradoks

Kasus #1:
Orang ingin mengurangi panas di dalam rumah dengan membeli AC. Padahal panas berlebih seperti sekarang ini akibat global warming, freon AC adalah salah satu penyebab efek rumah kaca. Di sisi lain, efek pemanasan global menjadi semakin luas dan bertambah cepat karena populasi AC bertambah. Juga menambah konsumsi listrik, padahal energi sumber listrik tidak bertambah.

Kasus #2:
Saat masih muda, energik, mati-matian mencari uang, workaholic, sehingga sering lupa beristirahat. Dan saat masa tuanya, uang yang dikumpulkan tidak bisa dinikmati karena habis untuk membiayai pengobatan penyakit-penyakit di dalam tubuhnya akibat hidup yang tidak sehat saat masa mudanya.

Kasus #3:
Makan makanan yang enak-enak, pasti mahal. Dan biasanya, makanan yang enak di lidah, berpotensi menimbulkan penyakit, seperti kolesterol dan darah tinggi. Agar mencegah hal itu, kemudian orang berusaha berolahraga untuk meminimalisir akibat yang tidak diharapkan. Dan tidak jarang, untuk hal ini, orang kemudian mengeluarkan uang untuk membeli peralatan fitness atau membayar biaya seorang personal trainer (PT). Juga mengkonsumsi obat untuk mengurangi darah tinggi dan penyakit sejenis akibat makan makanan "enak" tadi. Sehingga lebih banyak harga (baca: uang) yang harus dikeluarkan untuk "mengeluarkan" kandungan makanan enak tersebut yang berlebih di dalam tubuh.

Kasus #4:
Dulu untuk sebuah SMS (Short Message Service) tiap pengguna membayar Rp. 350,- (dalam negeri) dan Rp. 1000,- (luar negeri). Tarif telepon juga tinggi. Kemudian, karena biaya komunikasi di negara ini dianggap paling mahal se-Asia, pemerintah kemudian menurunkan tarif komunikasi sampai semurah sekarang ini.
Tarif SMS hanya Rp. 15,- semua operator dan telepon hanya Rp. 300,- sepuasnya ke sesama operator (tarif salah satu operator seluler).
Apakah anggaran rumah tangga untuk biaya komunikasi menurun? Saya kira tidak. Justru bertambah. Contohnya saya, 7 tahun lalu saya hanya menghabiskan 25ribu sebulan untuk biaya komunikasi. Sekarang saya bisa menghabiskan hingga 100ribu dalam sebulan. Padahal tarif turun hingga 2000% daripada 7 tahun lalu. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah karena murah, pemakaian jadi bertambah? Atau karena fenomena "satu ponsel tidak cukup", sehingga harus "menafkahi" (baca: menghidupi) 2 atau 3 ponsel dalam sebulan?
Di sisi lain, karena penurunan tarif, kualitas layanan juga semakin buruk. Pihak operator berdalih karena semakin banyak user (baca: pelanggan), tapi biaya untuk maintenance (baca: perawatan) atau memperbaiki fasilitas tidak bertambah. Juga karena persaingan di dunia seluler semakin ketat, perang tarif menjadi cara paling masuk akal untuk menjaring lebih banyak pelanggan.

Kasus #5:
Jalanan semakin hari semakin macet karena jumlah kendaraan bertambah, tapi tidak dibarengi dengan bertambahnya ruas jalan. Populasi kendaraan bermotor, terutama di kota besar terus meningkat dari hari ke hari. Bahkan pada beberapa keluarga kaya, hal yang wajar mempunyai 1 mobil untuk tiap anggotanya. Pemerintah menganjurkan masyarakat menggunakan fasilitas angkutan umum dan menaikkan pajak kendaraan bermotor agar jumlahnya bisa ditekan. Di sisi lain, perusahaan otomotif gencar melakukan penjualan dengan berbagai iklan, untuk menambah kendaraan yang berseliweran di jalan. Perusahaan otomotif berkepentingan karena mempunyai ribuan karyawan, dan mereka harus menjual sesuatu agar perusahaan tetap berjalan. Belum lagi bisnis asuransi dan kredit yang juga hidup dari adanya transaksi jual-beli kendaraan. Fasilitas angkutan umum juga tidak lebih baik dan tidak menjangkau semua kawasan. Siapa yang salah? Masyarakat, perusahaan yang berkepentingan, atau pemerintah?

Kasus #6:
Karyawan dan buruh berdemo menuntut haknya pada perusahaan tempat mereka bekerja. Tidak jarang hal ini membuat kemacetan atau penutupan jalan. Di sisi lain, pengguna jalan menjadi kehilangan haknya untuk mengakses jalan yang biasanya dilewati, menjadi "ganti kompas" sehingga waktu dalam perjalanan menjadi bertambah. Juga bisa jadi, saat itu ada orang yang sedang kritis di sebuah ambulance, menjadi meninggal karena menempuh perjalanan yang lebih lama untuk sampai ke rumah sakit, akibat pemblokiran jalan karena ada orang-orang yang menuntut haknya. Apakah benar, menuntut hak tapi mengabaikan hak orang lain?

Kasus #7:
Mahasiswa berdemo di Senayan menuntut agar negara tidak mengeluarkan uang yang tidak perlu untuk memfasilitasi menteri, pejabat tinggi negara dan anggota dewan. Tetapi yang terjadi kemudian, mereka melakukan aksi anarkis dengan menghancurkan pagar gedung MPR/DPR juga beberapa mobil dinas. Bukankah hal itu malah membuat sebuah "proyek" baru bagi segelintir oknum untuk berpikir, bagaimana menghabiskan uang negara? Dengan dalih memperbaiki pagar dan fasilitas lain yang rusak, siapa yang bisa jamin tidak ada korupsi yang terjadi di "proyek" yang disebabkan ulah mahasiswa, yang menuntut penghematan uang negara?

********/*******

Masih banyak paradoks (hal yang bertentangan) antara maksud tujuan dengan akibat yang disebabkan tujuan awal. Ada yang mau menambahkan lagi "pikiran paradoks" manusia di jaman sekarang ini?

Untuk mengatasi hal ini, mungkin dibutuhkan sebuah harmoni dan pikiran jangka panjang sebelum melakukan sesuatu.


PS. Kasus #4 mungkin bukan tergolong paradoks, hanya curcol dari saya :)