Monday, June 27, 2011

Integritas: Jangan Katakan Maaf

Kata "maaf" yang diucapkan pada orang lain menunjukkan rasa penyesalan kita padanya. Oleh karena itu jangan katakan maaf, alih-alih berkata tidak, pada tawaran yang buruk dari orang lain.

Misalnya dalam suatu pesta, seseorang menawari kita minuman beralkohol. Jika Anda tidak ingin meminumnya, katakan saja, "Tidak. Saya tidak meminum alkohol."
Karena jika Anda berkata, "Maaf. Saya tidak meminum alkohol," hal ini akan terdengar seperti, "saya menyesal karena saya tidak meminum alkohol."
Padahal menolak tawaran meminum alkohol bukan sebuah kesalahan. Baik malahan. Itu akan menjaga Anda tetap sadar, sehingga jika semua orang dalam pesta itu mabuk dan tidak dapat menyetir mobilnya untuk pulang ke rumahnya, Anda bisa menolong mereka semua.

Juga saat berkumpul bersama teman-teman Anda, kemudian mereka semua mulai menyalakan rokok, dan Anda ditawari oleh mereka sebatang rokok; cukup katakan, "Tidak. Saya tidak merokok." Jangan katakan, "Maaf. Saya tidak merokok." Sama seperti kasus minuman alkohol tadi, menolak tawaran untuk merokok bukan menunjukkan kesalahan yang Anda lakukan. Hal ini juga tidak akan menjadi pembenaran bagi teman-teman Anda yang merokok. Karena jika Anda berkata "Maaf", di pikiran para perokok ini akan terbentuk opini, "Orang yang tidak merokok selalu menyesal jika tidak merokok di kumpulan para perokok. Kasihan mereka... ha.. ha.. ha.."

Jadi, cukup katakan "tidak" saat ada yang menawari Anda untuk korupsi, berjudi, mengonsumsi narkotika dan hal-hal lainnya yang bisa merusak masa depan Anda.


Berkata "tidak" pada sebuah tawaran dari orang lain, bahkan dari sahabat atau kenalan, menunjukkan bahwa Anda punya prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Inilah yang kemudian disebut dengan integritas.

Sunday, May 22, 2011

Penulis Bayangan di Antara Nasib dan Keberuntungan

Penulis bayangan, atau istilah kerennya ghost writer, adalah sebuah “side job” untuk mereka yang hobi menulis. Disebut hantu atau bayangan, karena profesi ini memang tidak akan membuat pelakunya nampak di permukaan. Dan memang dikondisikan demikian. Beda dengan profesi penulis profesional lainnya, seperti penulis sebuah buku cerita, yang namanya akan langsung dikenal oleh pembacanya.

Lalu ada yang bertanya, "Gimana ya caranya jadi ghost writer? Pengin nih. Ada tips gak selain terus menulis?"

Saya lalu bertanya balik padanya: “Bagaimana menjadi ghost writer atau bagaimana (kok bisa) menjadi ghost writer?

Untuk pertanyaan pertama, saya tidak bisa menjawabnya. Atau lebih tepatnya, belum layak memberikan jawabannya. Alasannya: saya juga baru belajar. Baru saja memulainya. Jadi untuk memberikan jawab bagaimana menjadi ghost writer, saya masih kurang kompeten untuk menjelaskannya. Mungkin ada “hantu” lain yang membaca tulisan ini mau memberikan jawabannya? :)

Dan untuk pertanyaan kedua, “Bagaimana (kok bisa) menjadi ghost writer?” Jawaban saya sederhana: karena nasib dan keberuntungan.

Nasib itu bisa diusahakan. Dengan melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukan. Sisanya itu urusan Tuhan. Inilah keberuntungan. Kata pepatah: “Do the best, and let God do the rest.

********/*******


Beberapa waktu lalu saat makan siang bersama orang yang sedang saya “bayangi”, saya menanyakan hal ini. Mengapa saya? Bagaimana dia menemukan saya? Apa yang membuatnya memilih saya?

Jawaban beliau juga sederhana: karena nasib dan keberuntungan.

Percakapan kami selama kurang lebih 30 menit di siang itu, tentang nasib dan keberuntungan, mengingatkan saya pada sebuah dialog di film “Ghost Writer”.

Ruth Lang (RL): “Kau adalah ideku.

Ghost Writer (GW): “Benarkah?”

RL: “Kau menulis buku memoar Christy Costello, bukan?

GW: “Kau membacanya?”

RL: “Kami menginap di rumahnya, di Mustique, musim dingin lalu. Bukunya ada di samping tempat tidur.

GW: “Memalukan.”

RL: “Jangan, mengapa? Itu luar biasa, walaupun mengerikan. Bagaimana kau mengubah ocehannya menjadi sesuatu yang berkesinambungan, itu sangat brilian. Lalu kubilang pada Adam, ‘Inilah orang yang akan menulis bukumu, bukan Mike.’”

********/*******

Intermezzo: Tips Ngeblog ala Vic.

Beberapa orang menganggap, menulis sebuah web log (catatan di web), yang lalu dikenal dengan sebutan “blog”, adalah sesuatu yang tidak perlu diseriusi. Atau dia serius, tapi lama-lama bosan karena tujuannya tak tercapai. Apa tujuannya? Ingin terkenal.

Tetapi sebagai blogger, seharusnya kita menerima kenyataan: bahwa internet itu sebuah media yang ketenarannya masih kalah dengan televisi, koran, majalah dan radio. Ingin cepat terkenal? Bikinlah sensasi di televisi. “Masuk ke TV” akan membuat Anda terkenal. Apalagi di stasiun TV nasional. Jadi kalau Anda menulis sebuah blog, lalu bermimpi menjadi terkenal, sepertinya Anda kurang menyadari realitanya.

Internet saja masih dibagi menjadi beberapa segmen yang punya peminat masing-masing. Ada media sosial seperti Facebook dan Twitter (jadi TT di Twitter gak akan membuatmu jadi terkenal jika tidak dibantu media lainnya). Lalu forum online seperti Kaskus. Ada e-mail dan mailist (ikut semua mailist yang ada, gak bakal membuatmu terkenal juga). Tempat chatting seperti YM dan Mirc. Juga Youtube (gak semua orang yang upload video dirinya ke Youtube menjadi terkenal). Kemudian tempat berbagi file seperti Mediafire dan 4shared.

Masih banyak segmen yang lain di media internet, dan blog menduduki peringkat ke sekian. Fakta lainnya: apa yang membuat orang mau berkunjung ke blog Anda? Padahal ada ribuan blog terdaftar lainnya. Jadi apa yang bisa membuat blogmu dilirik orang?

Tips saya sederhana: buatlah blog yang isinya berguna bagi yang mengunjunginya. Bisa tentang tips dan trik mengelola sebuah gadget. Atau cara-cara menggunakan suatu alat (terkenal dengan istilah: “how to”). Bisa juga berisi kalimat-kalimat motivasi dan cerita yang bisa memberikan pencerahan. Atau sebuah blog yang berisi tentang berbagai macam informasi, seperti resep masakan atau cara membuat berbagai macam jenis roti.

Pernah nonton film “Julie and Julia”? Bagaimana sebuah blog resep masakan yang dia kerjakan, bisa menjadikannya terkenal. Membuatnya mendapat berbagai tawaran untuk menulis buku dan wawancara di televisi. Itu semua dimulai dari sebuah media yang sederhana: blog.

Tetapi jika blog Anda hanya berisi curhat pribadi, ajang narsis atau catatan tentang hidup Anda sehari-hari; orang yang “nyangkut” di blog bisa saja akan berpikir: “Siape elu?”

Meskipun gak salah juga menuliskan hal-hal pribadi di blog Anda. Toh itu blog Anda pribadi, yang bisa dicorat-coret sesuka hati. Tapi blog yang isinya seperti ini, biasanya, jarang dikunjungi. Atau ada yang “nyasar” lalu tidak akan kembali lagi. Kecuali pemilik blog itu adalah orang (lebih dulu) terkenal di media lainnya.

********/*******


Intermezzo: Hubungan Pencari Kerja Dengan Pencari Pekerja.

Sama-sama membutuhkan. Itu yang bisa saya simpulkan dari obrolan saat makan siang dengan seorang CEO sebuah perusahaan nasional. Pencari kerja dengan pencari pekerja itu sama-sama saling mencari sebenarnya. Mencari kecocokkan. Pencari kerja mencari tempat kerja yang cocok, dengan imbal balik (gaji) yang cocok, dengan pekerjaan dan lingkungan kerja yang cocok. Sebaliknya, pencari pekerja juga demikian. Dan untuk menemukan yang sama-sama cocok itu membutuhkan usaha yang tidak gampang. Membutuhkan proses yang lama.

Tetapi dengan sedikit keberuntungan, kecocokkan antara pencari kerja dan pencari pekerja bisa ditemukan dengan mudah. Tidak perlu waktu dan proses pencarian yang lama.

********/*******


Setiap orang pernah mengalami kok saat-saat di mana mereka tidak diakui dan diremehkan. Tapi yang membedakan antara orang sukses dan tidak adalah, orang sukses tetap tekun membina diri di saat-saat demikian.” (Alberthiene Endah via @AlberthieneE)


Seorang penulis bayangan itu tidak perlu mencari. Tapi menunggu untuk ditemukan. Beliau, orang yang saya bayangi pernah berkata (kira-kira) demikian, “Vic, yang harus dilakukan benda berharga itu hanya menunggu. Menunggu untuk ditemukan. Dan tiap orang yang menemukannya pasti merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Ya begitulah yang saya rasakan sekarang.”

Tapi dalam proses menunggu itu, tiap “benda berharga” pasti mengalami proses yang tidak gampang. Bahkan menyesakkan. Bisa bayangkan, misalnya Anda menjadi bongkahan emas yang terkubur ratusan meter di bawah permukaan tanah. Juga mutiara yang terpendam di dasar lautan. Atau berlian yang tersimpan dalam perut bumi. Minyak, batu bara dan benda berharga lainnya. Benda-benda itu pasti terkena proses alam yang menyakitkan: panas, dingin, gelap dan sendirian. Tapi proses itulah yang membuat tiap benda berharga menjadi semakin berkualitas.

Kurang lebih begitu juga proses manusia agar menjadi berguna. Tetapi banyak manusia yang tidak tahan pada proses dan bosan menunggu dirinya ditempa, hingga akhirnya mereka terkena seleksi alam dan hilang secara perlahan.


Menulislah selalu dengan kemampuan terbaikmu, sambil terus tingkatkan standar itu. Kemudian publikasikan tulisanmu. Karena siapa yang tahu kalau kamu ada, jika kamu tidak pernah mempublikasikan dirimu kepada dunia? Tulisanmu bisa mempresentasikan siapa dirimu sebenarnya.

Entah saat nge-blog atau menulis buku, menulislah seakan-akan tulisanmu itu akan disertakan dalam nominasi penghargaan untuk penulis (cerpen/novel/artikel/puisi) terbaik di dunia. Karena kamu tidak akan pernah tahu, siapa yang akan mengunjungi blogmu. Atau siapa yang akan membaca bukumu yang terselip di antara ribuan buku, di sebuah toko buku.

Di luar sana ada banyak orang yang tidak punya waktu untuk menulis. Atau punya waktu, tapi tidak tahu bagaimana caranya menulis buku. Padahal bisa saja ada ide baru di kepala mereka, atau pengalaman-pengalaman hidup yang terlalu berharga untuk disimpan sendirian saja. Di sinilah peran seorang penulis bayangan. Menjadi penulis pengganti, hingga seolah-olah dia yang dibayangi adalah penulis bukunya sendiri.

Mereka yang mencari seorang ghost writer biasanya akan mencarinya di toko buku. Tentunya dengan membaca buku-buku yang ada di sana. Dan jika mereka suka dengan gaya bahasa atau pemikiran penulisnya, selanjutnya mereka akan menghubunginya. Atau mereka melakukan "jalan-jalan" di dunia maya. Mengunjungi blog-blog yang ada.

Karena tulisan Anda, biasanya, mencerminkan siapa diri Anda sebenarnya. Itu bisa terlihat dari gaya bahasa saat menuliskan apa yang ada di pikiran Anda. Bahkan caramu menulis SMS bisa mencerminkan kepribadianmu.

Jadi teruslah menulis untuk memublikasikan diri Anda. Teruslah menulis meskipun tidak ada yang baca, kata Seno Gumira Ajidarma.

Tidak hanya pencari ghost writer yang suka jalan-jalan di dunia maya. Simak penuturan Oktavia Erdyan, pendiri Terrant Books, di majalah Femina No. 11/XXXIX (19-25 Maret 2011).

Berani Jemput Bola

...Selain menggandeng penulis yang “sudah punya nama”, Via, sapaan akrab Oktavia, juga rajin mencari penulis baru di dunia maya. Dari pengalamannya, banyak penulis berbakat siap diasah yang bersembunyi di sana. “Kan banyak remaja yang punya blog. Ternyata, selain curhat, mereka suka menulis cerita di blog,” kisahnya. Bahkan, Via sering terinspirasi oleh curhat blogger remaja di blog-nya. “Saya jadi tahu dunia remaja, problemnya, dan tren di kalangan mereka,” katanya.

Dengan cara itu Via berkenalan dengan Cassandra Niki, mahasiswi asal Yogyakarta yang rajin nge-blog dengan nama Casseyburn. “Cassandra sudah terkenal di antara blogger remaja. Dia menulis cerita serial di blog-nya. Saat saya ajak dia untuk menulis buku, dia antusias sekali. Awalnya, dia tidak pede, tapi saya terus menyemangati karena saya tahu dia mampu,” ujarnya. Berkat bimbingan dan arahan dari via, tahun 2010 lalu terbitlah buku perdana Cassandra: Letters, Stories and Dreams.

...Meski menggunakan strategi jemput bola, Terrant Books terbuka menerima naskah novel. Ada tim yang khusus menyeleksi naskah kiriman penulis. Setelah melewati seleksi mereka, barulah Via menyeleksi lagi. Salah satu triknya adalah hanya membaca beberapa halaman pertama. “Kalau setelah 5 halaman saya masih tertarik membaca, berarti naskah tersebut bagus,” ujarnya.


Kadang, orang berhenti corat-coret di blognya, karena dia menganggap hal itu sia-sia. Padahal semua yang kita lakukan untuk pengembangan diri itu berguna. Dan menulis itu baik untuk mengembangkan diri Anda. Jadi menulis di blog itu tidak pernah sia-sia.

Terakhir, simak apa kata Wimar Witoelar tentang anonim di dunia maya: “Kalau niatnya baik, mengapa harus anonim?” (via @wimar)

Jangan malu untuk menunjukkan dirimu melalui blogmu. Tunjukkan dirimu pada dunia lewat karya-karyamu. Menulislah selagi kamu mampu. Anggap blogmu adalah bentuk perkenalan dengan orang-orang di luar sana. Dan jika dirimu unik, pasti ada yang melirik.

Masalah nanti akan dikontrak jadi penulis bayangan atau penulis buku, itu hanya soal waktu. Karena semuanya akan kembali lagi pada nasib dan keberuntunganmu. Itu...


Yogyakarta, 22 Mei 2011

Untuk: Rissa Arisa.

Friday, March 18, 2011

Setia Pada Pilihan

Menjalani hidup ini sebenarnya sesederhana kita memilih setiap pilihan yang ada. Karena hidup hanya seperti mengisi jawaban atas pertanyaan model “pilihan ganda”. Hidupmu hari ini, ditentukan oleh pilihanmu di hari kemarin. Begitu juga masa depanmu, ditentukan oleh apa-apa saja yang kau pilih hari ini.

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita memilih dari mulai pagi hari, hingga kita terlelap lagi? Apakah kita akan marah atau diam saat air mati sehingga tidak bisa mandi? Apakah kita akan sarapan nasi atau roti saat harus buru-buru pergi? Apakah kita akan memaki atau langsung mencari taksi saat mobil mogok di jalan? Apakah kita akan berbohong atau berkata jujur saat ditanya atasan tentang pekerjaan? Apakah kita akan makan siang bersama teman atau tetap bekerja saat jam makan siang? Dan seterusnya.... Kita bisa tahu bahwa jika ingin menjalani hidup ini, kita harus memilih. Memilih dari sekian banyak pilihan. Saya pribadi gak sependapat dengan alasan: “aku gak punya pilihan lagi...!”

Atau jangan-jangan kita hanya takut untuk memilih karena tidak ingin menerima setiap konsekuensi dari pilihan yang kita pilih. Kita takut untuk memilih karena tidak mau menerima resiko atas pilihan yang kita ambil. Tapi memilih atau tidak memilih... pada akhirnya kita harus tetap memilih, bukan?

Atau kita termasuk orang yang punya prinsip hidup “terserah”? Orang yang punya prinsip hidup “terserah” bisa digolongkan menjadi dua tipe: tidak mau dibilang egois atau hanya ingin menyalahkan pada tiap keputusan yang diambil orang lain. Tetapi saya lebih sering bertemu dengan tipe kedua: orang yang hanya bisa menyalahkan pilihan yang diputuskan di luar kehendak dirinya. Contohnya: ketika ditanya mau rekreasi ke mana, orang tipe ini akan menjawab “Terserah”. Tapi begitu tempat tujuannya tidak sesuai harapannya, dia lalu berkata: “Ah, jelek. Kamu gak pinter milih tempat jalan-jalan yang bagus.” Atau ketika ditanya ingin makan apa, orang tipe ini juga menjawab “Terserah”. Tapi begitu masakan di restoran yang dituju gak sesuai seleranya, dia lalu berkata: “Ah, gak enak. Kamu kok bisa sih suka makanan yang rasanya sama semua gini?”

Jadi, jangan menjadi orang “terserah”. Milikilah sikap. Tentukan pilihanmu. Ingin A, katakan A. Ingin B, jawab B. Keputusan itu ada di tanganmu. Bukan di tangan orang lain. Kamu yang menjalani hidupmu, bukan orang-orang di sekitarmu.

Meskipun sikap nekat itu kadang dibutuhkan, tetapi sikap itu jangan lalu diterapkan pada setiap situasi atau keadaan. Pikirkan efek jangka panjangnya. Karena dibalik setiap keputusan, setelah kita memilih untuk melangkah ke depan, pasti ada konsekuensi yang harus dijalani dan dilakukan. Beberapa contohnya yang mungkin sering kita dengar:

  • "Aduh, gue capek jadi artis. Ke mana-mana jadi dikenal orang sama diikuti wartawan." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi selebritis?
  • Heran deh. Tiap saya ngetwit, tiap saya keluarin kebijakan, pasti langsung dapat reaksi macam-macam." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi menteri (komunikasi)?
  • Kok aku gak punya teman ya? Kok aku dijauhi kawan-kawan ya? Kok aku suka ditipu ya?" Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi orang baik dan jujur?
  • "Gila! Gue ternyata masuk DPO Mabes Polri. Belum lagi bandar cariin gue ke sana kemari. Hidup emang berat..." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi pengguna narkoba?
  • Ditolak lagi, ditolak lagi. Gak diterima lagi, gak diterima lagi. Kapan dapat duit ini?" Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi penulis?
  • Udah diincar KPK, dihujat sebagian besar orang di Indonesia pula. Nasib-nasib..." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi koruptor?
  • Buset dah! Ini detasemen 88 rajin bener yak nguber gue? Belum lagi intel mata-matai tiap gerakan gue." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi teroris?

Dan seterusnya...

Setiap pilihan yang kita ambil memang ada resiko dan konsekuensinya. Dan seringnya kita hanya berhenti sampai memilih, tapi tidak mau menjalani konsekuensi dari pilihan itu. Atau hanya mau memilih tapi lalu menyalahkan keadaan dan situasi setelah pilihan itu dijalani. Kita hanya melihat enaknya, tanpa memikirkan pahitnya resiko dari pilihan diambil oleh kita. Bukankah ini merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab?

  • Ibarat orang pacaran kebablasan: mau enaknya, gak mau anaknya. Cuma berani melakukan hubungan badan, tapi gak mau terima resiko dari perbuatan yang telah dilakukan.
  • Ibarat orang menikah: hanya mau nikmatnya, gak mau pahitnya. Cuma maunya senang-senang dengan pasangan, tapi gak mau terima keadaan susah bersama pasangan.
  • Ibarat orang bekerja: hanya mau terima gajinya, tanpa mau berusaha untuk bekerja sebaik-baiknya.

Dan seterusnya...

Bukankah sikap bertanggung jawab itu berarti mau dan berani menjalani tiap konsekuensi dari pilihan yang telah diambil? Karena bertanggung jawab itu berarti mau berjuang dan berani menerima tiap tantangan. Jadi sebaiknya, sebelum kita memilih dari tiap pilihan yang ada, kenalilah dulu diri kita. Karena cuma kita yang paling tahu kemampuan diri kita sebenarnya. Sampai di mana batas-batas kemampuan kita untuk menjalankan pilihan yang akan kita kerjakan. Bukannya malah menyalahkan orang lain atau hanya pasrah menerima keadaan.

Pasrah dan berserah itu beda. Pasrah itu hanya diam saja, tidak berbuat apa-apa. Berserah itu melakukan yang kita bisa, dan menyerahkan sisanya pada Yang Kuasa. Ada pepatah: “ora et labora”, berdoa dan bekerja. Jadi kita harus melakukan dua-duanya. Hanya berdoa tanpa bekerja itu tidak berguna. Cuma bekerja tanpa berdoa itu sia-sia. Jadi sebaiknya yang kita lakukan adalah mendoakan yang akan kita kerjakan. Lalu kerjakan yang telah kita doakan.

Jika kita tidak melakukan hal tersebut, berdoa dan bekerja, mengapa kita lalu menyalahkan Tuhan jika kemudian hidup kita hancur karena pilihan-pilihan yang diambil (salah memilih sekolah, pekerjaan, pacar, istri/suami, dsb.)? Padahal pada waktu memilih jalan hidup (saat akan sekolah, bekerja, pacaran, menikah, dsb.) kita tidak pernah meminta petunjuk-NYA.

Oleh karena itu, selalu berkomunikasilah pada Tuhan saat akan menentukan pilihanmu. Lalu jangan mengeluhkan konsekuensi dari jalan hidup yang sudah dipilih. Karena sebenarnya, semua pilihan dalam hidup ini selalu ada konsekuensi dan resikonya.

********/*******


Refleksi saya setelah menuliskan itu semua: kebanyakan orang kristen hanya berhenti sampai memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tapi tidak mau menerima tiap resiko dan konsekuensi saat menjadi murid Yesus; yakni ditolak, ditindas, disakiti, dianiaya, dan lain sebagainya.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” (Lukas 6:22-23)

Setialah pada pilihan yang telah kamu ambil. Setia berarti mau menjalani tiap konsekuensi dan resiko pilihan yang telah diambil, dengan tekun, hingga sampai pada kesudahannya.

“...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20)

~memilih atau tidak memilih, saat hidup, sesungguhnya kita selalu menghadapi pilihan~

Tuesday, March 1, 2011

Pekerjaan Terberat

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. [Amsal 22:29]

Coba pikirkan sejenak... apa pekerjaan terberat di dunia?

Tukang batu? Yang bangun mendahului matahari dan pulang setelah matahari terbenam. Yang sepanjang hari disiram panas matahari atau dinginnya hujan, sambil memecah batuan. Hanya demi upah untuk makan sehari. Itukah yang terberat?

Atau...

Tukang sol sepatu? Yang tiap hari mengayuh sepedanya puluhan kilometer, berteriak-teriak hingga suara serak, dan tidak mesti mendapat uang tiap hari. Itukah yang terberat?

Atau...

Petani penggarap sawah? Yang sehari-hari bekerja di tanah milik orang lain, mendapat upah yang selalu kurang, dan selalu sedih jika kemarau panjang datang. Itukah yang terberat?


Tapi jika pekerjaan-pekerjaan itu berat, mengapa masih ada yang berminat? Dengan uang yang dihasilkan sangat minim, tetapi mereka tetap melakukannya setiap hari.


Well, saya kira itu semua dilakukan oleh mereka sesuai dengan kemauan hati dan juga bakat serta kemampuan.

Karena sebenarnya, pekerjaan terberat di dunia adalah pekerjaan yang tidak dikerjakan berdasarkan minat dan kemauan sepenuh hati. Pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa. Sehingga tidak ada kerelaan untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, pekerjaan paling ringan di dunia adalah pekerjaan yang dilakukan dengan niat sepenuh hati, berdasarkan minat dan kemampuan. Sehingga usaha terbaiklah yang akan diberikan. Tidak pernah merasa dibebani olehnya, karena pekerjaan itu dilakukan dengan dasar cinta.

Tapi, sebagaimana rasa cinta pada umumnya, pasti suatu saat akan timbul rasa bosan juga. Oleh karenanya lihatlah sisi lain dari sebuah pekerjaan yang kita cintai itu.

Misal, saat bosan menjadi nelayan, cobalah sesekali melaut hanya untuk menikmati lautan. Atau sekedar memancing ikan untuk kepuasan. Atau menyelam ke dasar lautan.
Saat bosan dengan pekerjaan di kantor, cobalah sesekali menikmati pemandangan lewat jendela ruangan. Atau bercanda dengan rekan. Atau merapikan dan menyapu ruangan. Atau ke pantri membuat kopi. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Dan jika tidak ada sisi yang menyenangkan dari pekerjaan kita lakukan, buat apa lagi kita masih bersusah payah bertahan? Hanya akan menimbulkan beban, bukan? Kemudian yang kita kerjakan menjadi tidak maksimal, dan akhirnya mendapat teguran dari atasan. Sesudah semuanya itu terjadi, bisa jadi kita berteriak di dalam hati, "Pekerjaanku berat banget!"

Selamat bekerja!


"You know you are an adult when you can say 'no' when offered a job you know nothing about." [Platoy]

Saturday, February 26, 2011

@vic_hasiholan di Twitterland

Kalau menurut Anda, film/sinetron Indonesia sekarang merusak mental dan moral, kenapa masih ditonton tiap malam?
Kalau menurut Anda, tweet saya menyesatkan dan enggak berguna, kenapa masih di-follow akun Twitter Anda?

Twitter bagi saya adalah ruang. Ruang untuk menyampaikan perspektif pribadi saya. Ruang untuk menumpahkan uneg-uneg saya. Ruang untuk berbicara pada orang. Ruang untuk mengeksplorasi diri saya lebih jauh lagi. Ruang untuk memprovokasi... :)


Dunia Twitter saya ibaratkan seperti sebuah ruang seminar terbuka, dan saya sebagai pembicaranya. Anda, sebagai peserta seminar (follower saya) adalah pendengarnya. Oleh karenanya saya setuju dengan pendapat seorang pakar komunikasi (Wimar Witoelar), yang mengatakan kalau Twitter adalah jenis media sosial yang sifat komunikasinya satu arah, antara pemilik akun Twitter dan followernya. Jadi terserah si pemilik akun akan berbicara (ngetweet) apa saja, memforward tweet yang dia suka (RT) dan mengomentari tweet mana yang mention dirinya. Meskipun juga ada batasannya. Karena sebenarnya tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas di dunia (Twitter).

Di Twitter, mereka yang biasa ngomong satu arah kayak pejabat, profesor dan rohaniawan, bisa dikritik dan diledek. Dulu mana kebayang? (@revolutia)

Tetapi Twitter juga tidak menutup kemungkinan membuka diskusi/obrolan (reply) layaknya sebuah seminar. Antara pembicara (si pemilik akun) dan pesertanya (si follower / yang mention si pemilik akun). Dan sekali lagi saya tegaskan: jika tidak suka dengan jawaban atau tanggapan si pemilik akun Twitter, si follower berhak walk out dari ruang seminar itu (un-follow). Termasuk jika si follower tidak menyukai si pembicara seminar dan materi (tweet) yang dia sampaikan. Menurut saya, itu hak Anda sebagai follower. Karena (Twitter) ini adalah ruang seminar yang terbuka bagi siapa saja.

Statement tulus tapi salah: orang yang ngeblok akun lain tidak siap dengan perbedaan, cuma siap dipuji. (@wimar)

Makanya saya heran dengan orang-orang yang sering memaki si pembicara seminar, tetapi masih berada dalam ruang seminarnya. Hal itu sama saja dengan orang yang menjelek-jelekkan sinetron indonesia, tetapi tiap malam selalu duduk di depan televisi dan menontonnya. Tapi bedanya, di ruang seminar (Twitter) si pembicara berhak mengusir (block), hingga melaporkannya pada yang berwajib (report as spam).


*) Follow / Unfollow

Jangan kagum sama orang yang memfollow banyak orang. Kemungkinan besar dia gak pernah baca timeline, cuma mentionnya aja. (@jokoanwar)

To follow or to unfollow, that is the question. (Soccerless - via: @vic_hasiholan)

Mengapa Anda follow sebuah akun (@gm_gm misalnya), di antara jutaan akun lainnya? Jawaban saya: bisa karena saya suka sudut pandangnya, atau saya suka pribadinya, juga bisa jadi karena ingin tahu dirinya seperti apa (follow kalau kamu kepo). Intinya, karena saya suka subjektivitasnya.

Saya pribadi bukan orang yang sombong atau sok penting (ada yang bilang gitu) karena hanya memfollow segelintir orang saja, dan hampir selalu menolak permintaan folback (follow balik). Ada beberapa faktor dan pertimbangan saat saya akan memfollow seseorang.

Faktor pertama, karena saya menganggap mereka (yang saya follow) isi tweetnya penting atau saya sedang punya kepentingan dengan mereka. Jadi saya tidak ingin ketinggalan isi "seminar" yang sedang mereka bicarakan. Kemampuan saya terbatas jika membaca. Dan saya jarang sekali scrolling timeline Twitter tanpa membaca isi tweet orang-orang yang saya follow. Mungkin karena inilah, saya lebih suka ngeretweet daripada ngetweet; faktor gabungan antara lelah (karena sering online sebelum tidur di malam hari dan juga susah menulis jika dibatasi 140 karakter).

Lagipula kemampuan otak saya terbatas. Tidak mampu memuat banyak informasi dalam satu waktu. Jadi jika subjektivitas Anda tidak menarik bagi saya (cukup dengan melihat 20 tweet terakhirnya), saya tidak akan follow akun Twitter Anda.

Selain itu pengaruh (influence) isi timeline sebuah akun juga menjadi pertimbangan bagi saya. Karena kataNya pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Entah kenapa, saya merasa Twitterland lebih bisa memberikan pengaruh yang lebih besar ketimbang jejaring sosial lainnya (Facebook, MySpace, Friendster) pada mereka yang ada di dalamnya. Misalnya, jika saya memfollow seorang penebar fitnah dan suka twitwar, lama kelamaan saya bisa mempunyai mindset sepertinya dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh dia, pemilik akun yang saya follow. Mungkin efek ini hanya berlaku bagi saya pribadi, yang menganggap ranah Twitter seperti sebuah ruang (lingkungan).

Oleh karena itu sebelum saya klik 'follow' / 'unfollow', saya akan mempertimbangkan beberapa faktor tadi dan beberapa faktor lainnya seperti: apakah "seminar" Anda bermanfaat bagi saya? Apakah saya mulai terpengaruh sifat buruk Anda? Apakah saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah follow Anda?

*) Saya dan Twitter

Mereka yang kadang suka sok pintar, lebih disebabkan mereka sering disepelekan. (@AlberthieneE)

Saya pribadi lebih menyukai Twitter ketimbang jejaring sosial lainnya. Di Twitter saya merasa lebih bebas berekspresi dan bisa belajar banyak dari orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Banyak tips dan pelajaran yang saya dapatkan di Twitterland daripada media sosial lainnya.

Kadang manusia hanya ingin didengarkan tanpa harus mendengarkan. Ingin melepaskan beban pikiran ke alam antah berantah. Ingin belajar tanpa harus duduk di bangku sekolah atau kuliah. Ingin tahu informasi tanpa harus membaca koran atau menonton televisi. Ingin mendengarkan jawaban dari pertanyaan yang entah harus diajukan ke siapa. Ingin curhat kepada mereka yang tidak kita kenal. Ingin tahu perkembangan di belahan dunia lain. Ingin... (silahkan Anda isi sendiri)

Dan di Twitterland, semua hal itu bisa bisa saya dapatkan.

Demikian.