Friday, March 18, 2011

Setia Pada Pilihan

Menjalani hidup ini sebenarnya sesederhana kita memilih setiap pilihan yang ada. Karena hidup hanya seperti mengisi jawaban atas pertanyaan model “pilihan ganda”. Hidupmu hari ini, ditentukan oleh pilihanmu di hari kemarin. Begitu juga masa depanmu, ditentukan oleh apa-apa saja yang kau pilih hari ini.

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita memilih dari mulai pagi hari, hingga kita terlelap lagi? Apakah kita akan marah atau diam saat air mati sehingga tidak bisa mandi? Apakah kita akan sarapan nasi atau roti saat harus buru-buru pergi? Apakah kita akan memaki atau langsung mencari taksi saat mobil mogok di jalan? Apakah kita akan berbohong atau berkata jujur saat ditanya atasan tentang pekerjaan? Apakah kita akan makan siang bersama teman atau tetap bekerja saat jam makan siang? Dan seterusnya.... Kita bisa tahu bahwa jika ingin menjalani hidup ini, kita harus memilih. Memilih dari sekian banyak pilihan. Saya pribadi gak sependapat dengan alasan: “aku gak punya pilihan lagi...!”

Atau jangan-jangan kita hanya takut untuk memilih karena tidak ingin menerima setiap konsekuensi dari pilihan yang kita pilih. Kita takut untuk memilih karena tidak mau menerima resiko atas pilihan yang kita ambil. Tapi memilih atau tidak memilih... pada akhirnya kita harus tetap memilih, bukan?

Atau kita termasuk orang yang punya prinsip hidup “terserah”? Orang yang punya prinsip hidup “terserah” bisa digolongkan menjadi dua tipe: tidak mau dibilang egois atau hanya ingin menyalahkan pada tiap keputusan yang diambil orang lain. Tetapi saya lebih sering bertemu dengan tipe kedua: orang yang hanya bisa menyalahkan pilihan yang diputuskan di luar kehendak dirinya. Contohnya: ketika ditanya mau rekreasi ke mana, orang tipe ini akan menjawab “Terserah”. Tapi begitu tempat tujuannya tidak sesuai harapannya, dia lalu berkata: “Ah, jelek. Kamu gak pinter milih tempat jalan-jalan yang bagus.” Atau ketika ditanya ingin makan apa, orang tipe ini juga menjawab “Terserah”. Tapi begitu masakan di restoran yang dituju gak sesuai seleranya, dia lalu berkata: “Ah, gak enak. Kamu kok bisa sih suka makanan yang rasanya sama semua gini?”

Jadi, jangan menjadi orang “terserah”. Milikilah sikap. Tentukan pilihanmu. Ingin A, katakan A. Ingin B, jawab B. Keputusan itu ada di tanganmu. Bukan di tangan orang lain. Kamu yang menjalani hidupmu, bukan orang-orang di sekitarmu.

Meskipun sikap nekat itu kadang dibutuhkan, tetapi sikap itu jangan lalu diterapkan pada setiap situasi atau keadaan. Pikirkan efek jangka panjangnya. Karena dibalik setiap keputusan, setelah kita memilih untuk melangkah ke depan, pasti ada konsekuensi yang harus dijalani dan dilakukan. Beberapa contohnya yang mungkin sering kita dengar:

  • "Aduh, gue capek jadi artis. Ke mana-mana jadi dikenal orang sama diikuti wartawan." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi selebritis?
  • Heran deh. Tiap saya ngetwit, tiap saya keluarin kebijakan, pasti langsung dapat reaksi macam-macam." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi menteri (komunikasi)?
  • Kok aku gak punya teman ya? Kok aku dijauhi kawan-kawan ya? Kok aku suka ditipu ya?" Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi orang baik dan jujur?
  • "Gila! Gue ternyata masuk DPO Mabes Polri. Belum lagi bandar cariin gue ke sana kemari. Hidup emang berat..." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi pengguna narkoba?
  • Ditolak lagi, ditolak lagi. Gak diterima lagi, gak diterima lagi. Kapan dapat duit ini?" Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi penulis?
  • Udah diincar KPK, dihujat sebagian besar orang di Indonesia pula. Nasib-nasib..." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi koruptor?
  • Buset dah! Ini detasemen 88 rajin bener yak nguber gue? Belum lagi intel mata-matai tiap gerakan gue." Pertanyaan saya: kenapa memilih jalan hidup menjadi teroris?

Dan seterusnya...

Setiap pilihan yang kita ambil memang ada resiko dan konsekuensinya. Dan seringnya kita hanya berhenti sampai memilih, tapi tidak mau menjalani konsekuensi dari pilihan itu. Atau hanya mau memilih tapi lalu menyalahkan keadaan dan situasi setelah pilihan itu dijalani. Kita hanya melihat enaknya, tanpa memikirkan pahitnya resiko dari pilihan diambil oleh kita. Bukankah ini merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab?

  • Ibarat orang pacaran kebablasan: mau enaknya, gak mau anaknya. Cuma berani melakukan hubungan badan, tapi gak mau terima resiko dari perbuatan yang telah dilakukan.
  • Ibarat orang menikah: hanya mau nikmatnya, gak mau pahitnya. Cuma maunya senang-senang dengan pasangan, tapi gak mau terima keadaan susah bersama pasangan.
  • Ibarat orang bekerja: hanya mau terima gajinya, tanpa mau berusaha untuk bekerja sebaik-baiknya.

Dan seterusnya...

Bukankah sikap bertanggung jawab itu berarti mau dan berani menjalani tiap konsekuensi dari pilihan yang telah diambil? Karena bertanggung jawab itu berarti mau berjuang dan berani menerima tiap tantangan. Jadi sebaiknya, sebelum kita memilih dari tiap pilihan yang ada, kenalilah dulu diri kita. Karena cuma kita yang paling tahu kemampuan diri kita sebenarnya. Sampai di mana batas-batas kemampuan kita untuk menjalankan pilihan yang akan kita kerjakan. Bukannya malah menyalahkan orang lain atau hanya pasrah menerima keadaan.

Pasrah dan berserah itu beda. Pasrah itu hanya diam saja, tidak berbuat apa-apa. Berserah itu melakukan yang kita bisa, dan menyerahkan sisanya pada Yang Kuasa. Ada pepatah: “ora et labora”, berdoa dan bekerja. Jadi kita harus melakukan dua-duanya. Hanya berdoa tanpa bekerja itu tidak berguna. Cuma bekerja tanpa berdoa itu sia-sia. Jadi sebaiknya yang kita lakukan adalah mendoakan yang akan kita kerjakan. Lalu kerjakan yang telah kita doakan.

Jika kita tidak melakukan hal tersebut, berdoa dan bekerja, mengapa kita lalu menyalahkan Tuhan jika kemudian hidup kita hancur karena pilihan-pilihan yang diambil (salah memilih sekolah, pekerjaan, pacar, istri/suami, dsb.)? Padahal pada waktu memilih jalan hidup (saat akan sekolah, bekerja, pacaran, menikah, dsb.) kita tidak pernah meminta petunjuk-NYA.

Oleh karena itu, selalu berkomunikasilah pada Tuhan saat akan menentukan pilihanmu. Lalu jangan mengeluhkan konsekuensi dari jalan hidup yang sudah dipilih. Karena sebenarnya, semua pilihan dalam hidup ini selalu ada konsekuensi dan resikonya.

********/*******


Refleksi saya setelah menuliskan itu semua: kebanyakan orang kristen hanya berhenti sampai memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tapi tidak mau menerima tiap resiko dan konsekuensi saat menjadi murid Yesus; yakni ditolak, ditindas, disakiti, dianiaya, dan lain sebagainya.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” (Lukas 6:22-23)

Setialah pada pilihan yang telah kamu ambil. Setia berarti mau menjalani tiap konsekuensi dan resiko pilihan yang telah diambil, dengan tekun, hingga sampai pada kesudahannya.

“...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20)

~memilih atau tidak memilih, saat hidup, sesungguhnya kita selalu menghadapi pilihan~

Tuesday, March 1, 2011

Pekerjaan Terberat

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. [Amsal 22:29]

Coba pikirkan sejenak... apa pekerjaan terberat di dunia?

Tukang batu? Yang bangun mendahului matahari dan pulang setelah matahari terbenam. Yang sepanjang hari disiram panas matahari atau dinginnya hujan, sambil memecah batuan. Hanya demi upah untuk makan sehari. Itukah yang terberat?

Atau...

Tukang sol sepatu? Yang tiap hari mengayuh sepedanya puluhan kilometer, berteriak-teriak hingga suara serak, dan tidak mesti mendapat uang tiap hari. Itukah yang terberat?

Atau...

Petani penggarap sawah? Yang sehari-hari bekerja di tanah milik orang lain, mendapat upah yang selalu kurang, dan selalu sedih jika kemarau panjang datang. Itukah yang terberat?


Tapi jika pekerjaan-pekerjaan itu berat, mengapa masih ada yang berminat? Dengan uang yang dihasilkan sangat minim, tetapi mereka tetap melakukannya setiap hari.


Well, saya kira itu semua dilakukan oleh mereka sesuai dengan kemauan hati dan juga bakat serta kemampuan.

Karena sebenarnya, pekerjaan terberat di dunia adalah pekerjaan yang tidak dikerjakan berdasarkan minat dan kemauan sepenuh hati. Pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa. Sehingga tidak ada kerelaan untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, pekerjaan paling ringan di dunia adalah pekerjaan yang dilakukan dengan niat sepenuh hati, berdasarkan minat dan kemampuan. Sehingga usaha terbaiklah yang akan diberikan. Tidak pernah merasa dibebani olehnya, karena pekerjaan itu dilakukan dengan dasar cinta.

Tapi, sebagaimana rasa cinta pada umumnya, pasti suatu saat akan timbul rasa bosan juga. Oleh karenanya lihatlah sisi lain dari sebuah pekerjaan yang kita cintai itu.

Misal, saat bosan menjadi nelayan, cobalah sesekali melaut hanya untuk menikmati lautan. Atau sekedar memancing ikan untuk kepuasan. Atau menyelam ke dasar lautan.
Saat bosan dengan pekerjaan di kantor, cobalah sesekali menikmati pemandangan lewat jendela ruangan. Atau bercanda dengan rekan. Atau merapikan dan menyapu ruangan. Atau ke pantri membuat kopi. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Dan jika tidak ada sisi yang menyenangkan dari pekerjaan kita lakukan, buat apa lagi kita masih bersusah payah bertahan? Hanya akan menimbulkan beban, bukan? Kemudian yang kita kerjakan menjadi tidak maksimal, dan akhirnya mendapat teguran dari atasan. Sesudah semuanya itu terjadi, bisa jadi kita berteriak di dalam hati, "Pekerjaanku berat banget!"

Selamat bekerja!


"You know you are an adult when you can say 'no' when offered a job you know nothing about." [Platoy]

Saturday, February 26, 2011

@vic_hasiholan di Twitterland

Kalau menurut Anda, film/sinetron Indonesia sekarang merusak mental dan moral, kenapa masih ditonton tiap malam?
Kalau menurut Anda, tweet saya menyesatkan dan enggak berguna, kenapa masih di-follow akun Twitter Anda?

Twitter bagi saya adalah ruang. Ruang untuk menyampaikan perspektif pribadi saya. Ruang untuk menumpahkan uneg-uneg saya. Ruang untuk berbicara pada orang. Ruang untuk mengeksplorasi diri saya lebih jauh lagi. Ruang untuk memprovokasi... :)


Dunia Twitter saya ibaratkan seperti sebuah ruang seminar terbuka, dan saya sebagai pembicaranya. Anda, sebagai peserta seminar (follower saya) adalah pendengarnya. Oleh karenanya saya setuju dengan pendapat seorang pakar komunikasi (Wimar Witoelar), yang mengatakan kalau Twitter adalah jenis media sosial yang sifat komunikasinya satu arah, antara pemilik akun Twitter dan followernya. Jadi terserah si pemilik akun akan berbicara (ngetweet) apa saja, memforward tweet yang dia suka (RT) dan mengomentari tweet mana yang mention dirinya. Meskipun juga ada batasannya. Karena sebenarnya tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas di dunia (Twitter).

Di Twitter, mereka yang biasa ngomong satu arah kayak pejabat, profesor dan rohaniawan, bisa dikritik dan diledek. Dulu mana kebayang? (@revolutia)

Tetapi Twitter juga tidak menutup kemungkinan membuka diskusi/obrolan (reply) layaknya sebuah seminar. Antara pembicara (si pemilik akun) dan pesertanya (si follower / yang mention si pemilik akun). Dan sekali lagi saya tegaskan: jika tidak suka dengan jawaban atau tanggapan si pemilik akun Twitter, si follower berhak walk out dari ruang seminar itu (un-follow). Termasuk jika si follower tidak menyukai si pembicara seminar dan materi (tweet) yang dia sampaikan. Menurut saya, itu hak Anda sebagai follower. Karena (Twitter) ini adalah ruang seminar yang terbuka bagi siapa saja.

Statement tulus tapi salah: orang yang ngeblok akun lain tidak siap dengan perbedaan, cuma siap dipuji. (@wimar)

Makanya saya heran dengan orang-orang yang sering memaki si pembicara seminar, tetapi masih berada dalam ruang seminarnya. Hal itu sama saja dengan orang yang menjelek-jelekkan sinetron indonesia, tetapi tiap malam selalu duduk di depan televisi dan menontonnya. Tapi bedanya, di ruang seminar (Twitter) si pembicara berhak mengusir (block), hingga melaporkannya pada yang berwajib (report as spam).


*) Follow / Unfollow

Jangan kagum sama orang yang memfollow banyak orang. Kemungkinan besar dia gak pernah baca timeline, cuma mentionnya aja. (@jokoanwar)

To follow or to unfollow, that is the question. (Soccerless - via: @vic_hasiholan)

Mengapa Anda follow sebuah akun (@gm_gm misalnya), di antara jutaan akun lainnya? Jawaban saya: bisa karena saya suka sudut pandangnya, atau saya suka pribadinya, juga bisa jadi karena ingin tahu dirinya seperti apa (follow kalau kamu kepo). Intinya, karena saya suka subjektivitasnya.

Saya pribadi bukan orang yang sombong atau sok penting (ada yang bilang gitu) karena hanya memfollow segelintir orang saja, dan hampir selalu menolak permintaan folback (follow balik). Ada beberapa faktor dan pertimbangan saat saya akan memfollow seseorang.

Faktor pertama, karena saya menganggap mereka (yang saya follow) isi tweetnya penting atau saya sedang punya kepentingan dengan mereka. Jadi saya tidak ingin ketinggalan isi "seminar" yang sedang mereka bicarakan. Kemampuan saya terbatas jika membaca. Dan saya jarang sekali scrolling timeline Twitter tanpa membaca isi tweet orang-orang yang saya follow. Mungkin karena inilah, saya lebih suka ngeretweet daripada ngetweet; faktor gabungan antara lelah (karena sering online sebelum tidur di malam hari dan juga susah menulis jika dibatasi 140 karakter).

Lagipula kemampuan otak saya terbatas. Tidak mampu memuat banyak informasi dalam satu waktu. Jadi jika subjektivitas Anda tidak menarik bagi saya (cukup dengan melihat 20 tweet terakhirnya), saya tidak akan follow akun Twitter Anda.

Selain itu pengaruh (influence) isi timeline sebuah akun juga menjadi pertimbangan bagi saya. Karena kataNya pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Entah kenapa, saya merasa Twitterland lebih bisa memberikan pengaruh yang lebih besar ketimbang jejaring sosial lainnya (Facebook, MySpace, Friendster) pada mereka yang ada di dalamnya. Misalnya, jika saya memfollow seorang penebar fitnah dan suka twitwar, lama kelamaan saya bisa mempunyai mindset sepertinya dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh dia, pemilik akun yang saya follow. Mungkin efek ini hanya berlaku bagi saya pribadi, yang menganggap ranah Twitter seperti sebuah ruang (lingkungan).

Oleh karena itu sebelum saya klik 'follow' / 'unfollow', saya akan mempertimbangkan beberapa faktor tadi dan beberapa faktor lainnya seperti: apakah "seminar" Anda bermanfaat bagi saya? Apakah saya mulai terpengaruh sifat buruk Anda? Apakah saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah follow Anda?

*) Saya dan Twitter

Mereka yang kadang suka sok pintar, lebih disebabkan mereka sering disepelekan. (@AlberthieneE)

Saya pribadi lebih menyukai Twitter ketimbang jejaring sosial lainnya. Di Twitter saya merasa lebih bebas berekspresi dan bisa belajar banyak dari orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Banyak tips dan pelajaran yang saya dapatkan di Twitterland daripada media sosial lainnya.

Kadang manusia hanya ingin didengarkan tanpa harus mendengarkan. Ingin melepaskan beban pikiran ke alam antah berantah. Ingin belajar tanpa harus duduk di bangku sekolah atau kuliah. Ingin tahu informasi tanpa harus membaca koran atau menonton televisi. Ingin mendengarkan jawaban dari pertanyaan yang entah harus diajukan ke siapa. Ingin curhat kepada mereka yang tidak kita kenal. Ingin tahu perkembangan di belahan dunia lain. Ingin... (silahkan Anda isi sendiri)

Dan di Twitterland, semua hal itu bisa bisa saya dapatkan.

Demikian.

Wednesday, February 23, 2011

Menulis Tanpa Ide

Aku ingin menulis sekarang. Tapi menulis apa? Gak ada yang bisa aku tuliskan. Padahal hari sudah menjelang petang.

Bagaimana caranya mendatangkan ide?

Tetapi kata buku yang aku pinjam dari Tari, ide itu tak perlu dicari. Tapi di mana dia di saat-saat seperti ini?

Mungkin aku butuh sesuatu untuk menemaniku menulis.

Baiklah. Aku akan membuat kopi hangat. Hmm.. ditambah sedikit krim pasti akan terasa lebih nikmat. Apalagi ada kue donat. Pasti nanti ide itu akan datang setelah aku meminum kopi dan sekerat kue donat yang ditaburi meises cokelat.

Tapi bagaimana kalau ide itu tidak kunjung juga datang? Apakah aku harus melakukan ritual memanggil ide agar dia datang, sama seperti ritual yang dilakukan tetangga seberang agar hujan datang? Ataukah aku hanya terlalu lelah setelah bermain seharian di luar rumah?

Kalau begitu aku harus tidur sekarang. Istirahat sejenak mungkin bisa membuat pikiranku lebih cerah. Setelah itu bisa jadi ide itu akan datang menghampiriku. Mungkin nanti aku akan bermimpi indah. Lalu aku bisa menulis tentang mimpi indahku itu.

Tapi bisa juga aku nanti bermimpi buruk karena tadi kalah 0-2 dari Tejo. Mungkin bakatku bukan menjadi pemain PS. Bakatku menjadi seorang penulis.

Menjadi penulis? Sampai saat ini saja aku tidak tahu apa yang akan aku tulis.

Tapi bisa saja karena aku lelah setelah bermain PS seharian di luar rumah. Kalah. Mungkin aku sekarang tidak bisa menulis karena aku kalah. Pikiranku terlalu ruwet memikirkan kenapa tadi menurunkan Lionel Messi saat melawan Chelsea. Padahal Joko sudah bilang kalau Messi tidak pernah bikin gol saat bermain di Inggris.

Iya, pasti ini sebabnya aku tidak bisa menulis. Karena aku kalah. Karena aku terlalu lelah bermain PS dengan Tejo seharian di luar rumah. Mungkin kalau aku kembali bermain PS dan menang, aku bisa menulis sekarang. Aku harus pergi bermain PS lagi. Harus menang. Siapa tahu ide itu datang? Jadi aku bisa menulis dengan tenang setelah menang.

Nanti pulangnya aku akan mampir di warung untuk beli kopi instan dan donat. Lalu aku akan menuliskan pengalamanku saat bermain seharian di luar rumah, tentang nikmatnya kopi dan kue donat.

Ya, aku harus pergi sekarang. Mencari ide yang tak kunjung datang. Entah di mana, hilang.

Thursday, February 3, 2011

Fokus

"Mozart ketika duduk pertama kali di depan sebuah piano tua, dia langsung bisa memainkan sebuah lagu sederhana. Padahal dia tak pernah diajarkan sebelumnya. Itulah yang disebut dengan talenta."

Ada yang bertanya pada saya, menanggapi perspektif saya tentang talenta: "bagaimana mengenali kemampuan saya sesungguhnya? Bagaimana mengetahui apa talenta saya sebenarnya?"

Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya. Bahwa saya tidak mempunyai bakat untuk membedakan dan merasakan setiap detail rasa dalam sebuah masakan. Walau kenyataannya saya suka makan, tapi saat disuruh mencicipi berbagai macam kue atau makanan yang sejenis; jika rasanya masih dalam toleransi lidah saya, maka semuanya akan terasa sama saja. Jadi misalnya ada tawaran dari pihak Transcorp untuk menggantikan pak Bondan di acara 'Wisata Kuliner', saya akan menolaknya.

********/*******

Bagaimana mengetahui apa talenta Anda sebenarnya? Bagaimana mengenali kemampuan Anda sesungguhnya? Anda akan tahu jawabannya saat mengerjakan sesuatu yang Anda suka dan membuat Anda bahagia saat melakukannya. Bahkan Anda selalu berusaha meningkatkan kemampuan Anda di bidang tersebut.

Mungkin Anda dikaruniai beberapa talenta; misalnya bisa bernyanyi, berakting, dan bisa juga menulis cerita. Tapi saran saya: fokuslah pada bidang yang benar-benar Anda minati. Pekerjaan yang saat Anda melakukannya, membuat Anda akan berkata di dalam hati: "aku mau menjadi yang terbaik dalam pekerjaan ini. Tidak hanya bagus, tapi luar biasa!"

Jadi apapun itu, fokus dan lakukanlah! Talenta yang dimiliki bisa menjadi kemampuan yang luar biasa ketika diberikan perhatian yang terfokus. Karena pikiran yang tidak matang akan melompat dari suatu hal ke hal lainnya; tetapi pikiran yang matang akan menindaklanjutinya dengan tekun. [H.A. Overstreet]

Setiap manusia sebaiknya mempunyai waktu untuk berpikir fokus setiap harinya. Karena keberhasilan akan tercapai jika kita fokus pada apa yang paling penting, pada apa yang benar-benar kita sukai, dan menyingkirkan segala pikiran yang tidak perlu. Apabila kita tidak bisa fokus pada sesuatu, bisa saja kita malah akan kehilangan segala sesuatu: seperti polisi yang mengejar dua orang penjahat dalam satu waktu. Jika mencoba mengejar dua-duanya, bisa saja malah kehilangan mereka semua. Tapi jika hanya mengejar salah satunya, kemungkinannya akan lebih besar untuk bisa menangkapnya.

Konsentrasi adalah rahasia kekuatan dalam politik, perang, perdagangan ... singkatnya dalam segala hal. [R.W.Emerson]

Jadi apakah bidang yang benar-benar Anda minati saat ini? Bisa jadi itulah tujuan hidup Anda di dunia ini. Bernyanyi? Menari? Menulis puisi? Atau menjadi polisi? Semuanya akan membuat hidup Anda lebih berarti, jika Anda bisa memfokuskan diri pada kemampuan yang dimiliki. Dan yang paling penting: pada apa yang Anda nikmati dan minati.

Be happy and love what you are doing. The rest would come in its own time. [Djenar Maesa Ayu]

Tidak ada orang yang benar-benar sukses, jika dia tidak melakukan pekerjaan yang benar-benar dia senangi. [Andreas Harefa]