Thursday, May 7, 2020

Kompetisi Lampu Sorot


(sharing utas dokter Jiemi)



Di sebuah adegan dalam film "Notting Hill", ada momen di mana hampir semua pemerannya duduk di satu meja makan, setelah makan malam, dan berkompetisi untuk mendapatkan potongan roti brownies terakhir yang disajikan sebagai hidangan penutup. Kompetisinya cukup mudah: siapa yang cerita hidupnya paling menyedihkan, dialah yang menjadi pemenang.

Adegan itu langsung teringat di kepala saya ketika membaca utas dokter Jiemi mengenai "Kompetisi Lampu Sorot".

Ketika sekolah konseling dulu, cara untuk menghindari kompetisi lampu sorot adalah dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Setelah kenal, setelah mengenali luka-luka batin yang disadari dan yang tidak disadari, lalu ikut "proses penyembuhan"nya hingga bisa berdamai dengan itu semua, barulah lolos ke level selanjutnya. Karena apa? "Gak mungkin kan ada konseli yang cerita masalah dengan pacarnya, lalu karena Anda, konselornya, juga punya luka yang sama, kemudian ikut emosional dan membuat panas suasananya. Atau lebih parahnya, Anda malah menggampangkan masalahnya: 'Halah... cuma gitu aja. Aku lho dulu...'".

Kompetisi lampu sorot: ketika ada orang lain cerita tentang masalahnya pada Anda, Anda malah menyoroti diri sendiri dengan masalah yang Anda pernah hadapi dan mengecilkan masalah orang di depan Anda.

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Nyokap gak tahu kalau sahabat gue sebenernya itu pacar. Gue takut dia gak siap terima bahwa anaknya bukan heteroseksual."
Tapi Anda malah meresponnya: "Mending elo cuma takut ketahuan homoseksual. Lha dulu gue malah jelas-jelas kelihatan banget bawa pacar beda agama ke rumah."

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Bokap maksa gue milih Capres pilihan dia. Kalau nggak, gue gak dikasih uang bulanan."
Tapi Anda malah meresponnya: "Ya udah sih, bilang aja loe nyoblos Capres sesuai keinginan bokap loe. Biarpun loe nyoblos lawannya."

Ketika orang datang pada Anda dengan masalahnya: "Saya udah bener-bener gak bisa percaya laki-laki lagi sih."
Tapi Anda malah meresponnya: "Bener, Jeng. Laki itu emang buaya semuanya!"

Pelaku kompetisi ini merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita. Dia menjadikan penderitaan sebagai kompetisi agar sebagai pemenang, dia menjadi berhak yang paling banyak bicara dan lawan bicaranya seharusnya bersyukur kalau penderitaannya belum seberapa. Itu kenapa para calon konselor harus sembuh dulu dari luka-luka batin di dalam dirinya, sebelum nantinya bisa membantu para konseli untuk berproses menyembuhkan luka-luka di batinnya.

Lagipula rebutan lampu sorot ini, menurut dokter Jiemi, juga menampilkan sisi lain dari si pemenang kompetisi, yakni ingin memberi makan ego di dalam diri. Ya, seandainya mau jujur, orang-orang yang seperti ini sesungguhnya bukan ingin menolong orang lain, tapi karena kebutuhan untuk memuaskan ego di dalam dirinyalah yang mendorong dia merebut lampu sorot orang yang datang padanya dengan masalahnya. Dengan motif pemuasan egonya, dia jadi gagal mengukur penderitaan dari sudut pandang orang lain yang datang padanya, karena biar bagaimana pun masalah itu sifatnya personal: bagi seseorang, putus berpacaran itu sudah biasa, tapi tidak dengan yang lainnya. Jadi sebenarnya masalah hidup tiap orang itu unik, tidak ada "resep" untuk masalah yang terlihat generik.

Berempati menjadi kunci, tutup dokter Jiemi. Jika kita ingin membantu orang lain dengan masalahnya, maka kita perlu bersama-sama merasakan penderitaannya sebagai manusia. Cukuplah dengan mendengarkan saja; tanpa perlu menanggapi dengan bercerita tentang masalahmu yang mirip kepadanya. Juga jangan berkata kalau Anda memahaminya, bisa merasakan lukanya, jika Anda tidak benar-benar tahu persis rasanya terluka sepertinya.

Di adegan kompetisi roti brownies di film Notting Hill kita bisa belajar bahwa tak perlu rebutan lampu sorot, karena ada saatnya Anda akan mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Karena sekali lagi, masalah itu sifatnya sangat personal sekali. Ia tidak akan hilang dengan dibandingkan, tapi kita bisa membantu mengatasinya dengan kekuatan empati dan kerelaan hati untuk mau mendengarkan.





Wednesday, May 6, 2020

Secukupnya (Hindia)

"Gue dilahirkan dari keluarga yang cukup memaksa gue untuk menjadi dewasa duluan. Dan dari kecil gue selalu beranggapan bahwa itu semua adalah salah bokap gue. Di tahun ke-10 bokap gue kanker, ada satu insiden yang mengharuskan gue ngobrol sama dia. Di situ dia cerita, cerita dari dari sisi dia dan pada saat dia nangis, gue baru sadar bahwa bokap gue pun manusia yang bisa buat salah. Dua bulan kemudian, di rumah sakit, dia bilang ke gue, di atas kasur, 'Valen, kamera papi ya.' Dan gue jawab, 'Tenang, Pi. Valen kok yang pake.'"
(Tanpa rangkaian kejadian tersebut, saya tidak mungkin mulai menekuni videografi)

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? (Renggang)
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang, di esok hari.
Tubuh yang berpatah hati, bergantung pada gaji,
Berlomba jadi asri, mengais validasi.
Dan aku pun terhadir, seakan paling mahir
menenangkan dirimu yang merasa terpinggirkan dunia
tak pernah adil.

Kita semua gagal, angkat minumanmu
bersedih bersama-sama.
Sia-sia... (pada akhirnya)
putus asa... (terekam pedih semua)
masalahnya (lebih dari yang)
secukupnya.

Rekam gambar dirimu yang terabadikan bertahun silam.
Putra-putri sakit hati, ayah ibu sendiri,
komitmen lama mati, hubungan yang menyepi.
Wisata masa lalu, kau hanya merindu.
Mencari pelarian, dari pengabdian yang terbakar sirna,
mengapur berdebu.

Kita semua gagal, ambil s'dikit tisu
bersedihlah secukupnya.
Secukupnya... ('kan masih ada)
penggantinya... (belum waktunya kau bisa)
menjawabnya...
secukupnya.

Semua yang sirna 'kan kembali lagi.
Semua yang sirna 'kan nanti berganti.



Dan inilah quotes dari para Sobat Anonim yang ditampilkan di video klip tersebut:

"Aku diasingkan keluarga sejak nenek meninggal karena perebutan harta."

"Even my parents call me a dumbass."

"It's been years and I still feel like falling, how can I get back up if I haven't reached the bottom?"

"I am constantly being fatshamed. I laugh, but it hurts inside."

"Gue sebagai junior selalu merasa berada di bawah bayang-bayang lo."

"Bapak minta saya lulus sebelum dia pensiun."

"I saw my ex with someone new in John Mayer's concert and it ruined my night."

"Tante gue nganggep rendah keluarga gue karena merasa pendapatan bokap minim banget."

"I think my sister regrets marrying her husband."

"Aku udah kurang sabar gimana?"

"Dunia gue dibalikin 180 derajat saat Bokap ninggalin gue selama-lamanya."

"Bunda meninggal karena kanker awal tahun ini. Kalimat terakhir almarhum ke gue adalah 'Jangan lupa kunci pintu depan.'"

"Nyokap gak tahu kalau sahabat gue sebenernya itu pacar. Gue takut dia gak siap terima bahwa anaknya bukan heteroseksual."

"Mamanya di mana, Dek? Kok gak pernah kelihatan?"

"Gue merasa gagal banget sebagai manusia."

"Saya mendapatkan pesan WhatsApp dari perempuan cantik tak dikenal, katanya ayah saya sedang merokok di teras rumahnya."

"Ayah kena PHK sepihak."

"Woi item, baris yang bener!"

"Orangtuanya ingin menantu yang pakai hijab."

"I am occassionally harrassed by my boss at the office. I'm scared if I speak up, I'd lose my job."

"Kondisi fisik mata gue kurang normal. Gue selalu minder ketemu orang baru."

"Bokap maksa gue milih Capres pilihan dia. Kalau nggak, gue gak dikasih uang bulanan."

"Walau lama nabungnya, tapi seneng sih akhirnya bisa ngajak Adek nonton di IMAX waktu itu."

"Apa rasanya sih dibolehin pulang di atas jam 8 malam?"

"Seumur hidup gue pengin banget jadi pilot. Setelah tiga kali gagal seleksi, kayaknya gue nyerah aja."

"Pengin resign... tapi nanti keluarga gimana?"

"Gue belum pernah cerita ke siapapun; 10 Januari lalu gue coba gantung diri."

"Seharusnya aku membiarkan Bapak mati saja saat ia mengancam bunuh diri beberapa minggu setelah memukul Ibu."

"Gimana sih rasanya shalat bareng-bareng keluarga, dengan ayah sebagai imam?"

"Aku korban pelecehan seksual, korban patriarki teman sepekerjaan, dan hampir bunuh diri karena depresi."

"Saya mengabadikan beliau lewat tato."

"Ibu bilang bahwa di sini sepi. Ini mimpi, karena beliau sudah meninggal."

"Beliau udah 10 tahun lebih selingkuh dan gak berhenti-henti."

"Gue udah gak tahu gimana lagi caranya bilangin mama."

"Minim yang tahu kalau saya punya schizophrenia."

"Bokap meninggal pas gue lulus sekolah, jadi dia gak pernah ngerasain gaji gue."

"Aku udah kurang sabar gimana?"

"Semenjak Ibu tahu kalau Bapak selingkuh, Ibu jadi jauh. Sibuk dengan dunianya sendiri."

"Malu banget punya kakak kayak dia."

"Jangan sayang sama orang yang gak tepat, karena akan jadi bumerang buat diri lo sendiri."

"Gue pernah nemu heroin di kamar bokap gue."

"Masih stres banget mikirin gimana caranya saya bisa balikkin uang."

"Kamu gak pantes berkuliah di sini."

"Emangnya bisa?"

"Ibu masih gak tahu kalau cincin emasnya saya gadaikan."

"Tersinggung dong gue, mereka ngasih gue hijab sebagai kado ulang tahun."

"Saya udah bener-bener gak bisa percaya laki-laki lagi sih."

"Saya takut gak bisa bayar kos bulan depan."

"Saya belum siap menikah. Orangtua memaksa, harus tahun ini. Calonnya pun gak kenal."

"Mati rasa ngelihat iklan-iklan travel. Orang kayak gue kayaknya gak akan bisa."

"Paling enggan kalau ditanya tentang pekerjaan ayah saya."

"I lost my mother when I was still only 18 months old. I don't even know how she looked like."

"Lamaran beasiswa saya belum ada yang tembus sampai sekarang."

"Aki meninggal saat gue naik gunung, dan gue baru tahu pas sampai rumah."

"Nyesel gak dateng ke pemakaman temen gue, waktu itu gak merasa kehilangan. Telat sadar kalau sebenernya dia ada terus buat gue."

"Satu-satunya yang gak di-support kuliah lagi di keluarga karena aku cewek. Katanya gak penting."

"Saya dan mama beda agama. Katanya mama ikhlas kalau saya ikut papa. Apa yang terjadi ketika kami berdua meninggal? Apakah kami akan ada di surga yang sama?"

"Gue mending mereka berdua pisah aja sih kalau berantem terus gini."

"I tried to commit suicide 5 times."

"Kami bertiga tinggal satu atap, tapi tak pernah makan satu meja."

"Gue dan pacar bahagia, kita beda agama. Cuma kadang kepikiran kalau rasa ini hanya untuk beberapa tahun ke depan saja."

"Papa udah mulai lupa dengan nama anak-anaknya sendiri. Pedih banget ngelihatnya."

"Aku tulang punggung keluarga saat ini. Adik-adik masih belum dapat kerja."

"Ibu pernah bilang kalau dia nyesel ngelahirin saya."

"Nyatanya ada banyak kejadian sedih di rumah yang saya gak tahu."

"You learn to live with it, put in a box and keep it somewhere."

"Kalau lagi ngerasa kayak gini, kadang bangun dari kasur aja susah banget. Cuma lihatin langit-langit."

"Di titik ini gue cuma pengin pulang."

"Gue cuma berharap suatu saat bisa banggain mereka berdua aja sih."

"I am constantly being fatshamed. I laugh, but it hurts inside." (repeat)

Tuesday, May 5, 2020

Jembatan Zaman


"Masa muda dalam usia di mana manusia mencari pola-pola kepribadiannya, akan selalu mewarnai kehidupan manusia ... Dunia ini akan terus terbawa sampai akhir hidupnya." (Soe Hok-Gie)

Dari zaman Soe Hok-Gie sampai sekarang ini, selalu ada gap antara generasi tua dan generasi muda ketika berinteraksi. Selalu ada jarak antara orang tua dan para pemuda. Selalu ada roaming antara anak dan orangtua. Selalu ada “ruang kedap udara” di antara kelompok generasi hingga seolah-olah masalah dalam berkomunikasi wajar terjadi.

Salah satu hal yang saya ingat dari mantan kandidat target calon istri saya adalah tegurannya pada saya, setengah marah, ketika saya sering mengatakan "jangan" pada saat diberi kesempatan memberikan "sambutan" pada aktivis-aktivis baru dalam pelayanan. "Kamu bisa tahu itu gak bener kan karena kamu udah ngelakuinnya. Dari situ kamu terus belajar dari kesalahan, kan? Lha mereka? Kasih dong mereka kesempatan buat kesalahan, biar bisa belajar juga! Jangan apa-apa bilang 'Itu salah!', 'Jangan bikin gitu karena gini....', 'Udah gak usah coba-coba, gini benernya!', ya gimana mereka bisa belajar? Jelaslah banyak orang bilang kamu otoriter, gak kasih ruang buat kesalahan."

Orang tua berkata, "Saya pernah menjadi (anak) muda, jadi tahu seperti apa (pikiran) mereka." Tapi juga dalam idealisme kemudaannya, generasi yang lebih muda berpikir kalau zaman itu berubah, "Iya, mereka pun pernah muda, tapi kan zamannya udah berbeda."

Sebenarnya ada kelebihan dari masing-masing generasi. Generasi yang lebih tua punya pengalaman; karena meskipun zaman selalu berubah, tapi ada beberapa hal yang tidak pernah berubah. Dan generasi yang lebih muda punya visi dan kemampuan yang lebih baik untuk beradaptasi, sehingga bisa membuat roda zaman terus berputar dan membawa dunia menjadi lebih lebih baik. Oleh karena itu, yang sebaiknya dilakukan oleh masing-masing generasi adalah menghindari sikap arogan dan mau menang sendiri. Caranya? Generasi muda bisa mulai mendokumentasikan dirinya sendiri, menulis sejak dini, mengarsipkan setiap tahap perjalanan hidup, pemikiran, dan apa-apa saja yang dilakukan di dalam sebuah catatan, yang pastinya akan berguna saat tua nanti. Generasi yang lebih tua juga bisa mulai lebih terbuka, mungkin dengan membuka dokumentasi dirinya dengan berkata apa adanya, bagaimana perjalanan hidup saat masa mudanya.

Di sebuah adegan film "Shawshank Redemption", saat seorang narapidana tua melakukan sesi wawancara perihal pembebasan bersyaratnya, dia berkata: "Aku menyesali perbuatanku? Tak sehari pun dalam hidupku aku tak menyesalinya, tapi bukan karena aku di sini atau menurutmu itu sudah sepantasnya. Jika kukenang seperti apa diriku dulu ... muda ... yang masih bodoh ... melakukan kejahatan besar ... aku ingin bicara dengannya. Aku ingin menyadarkan dirinya. Memberitahunya bagaimana kehidupan itu. Tapi aku tak bisa. Anak itu sudah lama pergi ... dan yang tersisa hanya pria tua renta ini. Aku harus menghadapinya."

Atau di awal video klip Hindia "Secukupnya", seorang anak muda melakukan monolog di depan kamera: "Gue dilahirkan dari keluarga yang cukup memaksa gue untuk menjadi dewasa duluan. Dan dari kecil gue selalu beranggapan bahwa itu semua adalah salah bokap gue. Di tahun ke-10 bokap gue kanker, ada satu insiden yang mengharuskan gue ngobrol sama dia. Di situ dia cerita, cerita dari dari sisi dia dan pada saat dia nangis, gue baru sadar bahwa bokap gue pun manusia yang bisa buat salah. Dua bulan kemudian, di rumah sakit, dia bilang ke gue, di atas kasur, 'Valen, kamera papi ya.' Dan gue jawab, 'Tenang, Pi. Valen kok yang pake.'" (Tanpa rangkaian kejadian tersebut, saya tidak mungkin mulai menekuni videografi)

********/*******


Mereka, generasi tua, sebenarnya hanya ingin yang terbaik bagi hidup kita sebagai anak muda, hanya saja seringkali tidak tahu cara yang benar untuk mengatakannya. Mereka, orangtua kita, sesungguhnya hanya ingin memberi petuah hidup yang bijaksana pada anaknya, karena mereka mengenal siapa anaknya dan tidak ingin anaknya mengulangi kesalahan yang sama. Juga generasi muda, sebenarnya juga ingin bebas melakukan kesalahan yang sebanyak-banyaknya agar tahu yang benar itu gimana, hanya saja seringkali dianggap ke luar batas oleh generasi tua. Anak-anak muda, juga sesungguhnya ingin visinya dihargai oleh orangtuanya, karena mereka merasa juga kenal dirinya dan tahu kemampuannya, dan tidak ingin orangtuanya terlalu khawatir pada masa depannya.

Oleh karenanya dibutuhkan "Jembatan Zaman" yang dibangun dari pengalaman generasi tua dan idealisme generasi muda. Jembatan zaman yang menghubungkan dua generasi, yang bisa menyatukan pemikiran generasi tua dengan aksi generasi muda. Selanjutnya, cukuplah berjalan di jembatan itu agar sebagai generasi tua, tidak perlu bersusah payah menyeberangi sungai zaman yang terbentang luas di bawahnya. Juga agar generasi yang lebih muda, tidak perlu sampai hilang di dalam arus sungai zaman yang mengalir deras seperti siap menenggelamkan siapa saja.

Sebab menjadi generasi muda dan generasi tua adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah masa hidup yang harus dilalui.

Bukan dengan kesombongan diri, melainkan dengan kerendahan hati.

Monday, November 28, 2016

Takut

"Sudah berapa lama pacaran sebelum menikah?"
"Sekitar 3 tahunan lah..."

Kita mungkin pernah mendengar kalau di dalam Alkitab, kalimat "Jangan takut" atau kalimat sejenis itu tertulis sebanyak 365 kali; yang berarti setiap hari, kita diperintahkan untuk tidak takut terhadap apa pun yang terjadi di dunia ini. Tapi mengapa kita, saya, sering memiliki ketakutan-ketakutan yang bahkan kebanyakan hanya ada di pikiran?

Seperti seseorang yang baru saja curhat soal ketakutannya terhadap pasangannya. Selama 5 tahun, dia takut untuk benar-benar menyayangi pasangannya karena takut akan ditinggalkan. "Kata orang kan gitu: 'Jangan terlalu sayang, nanti bisa gila kalau ditinggalkan.' Jadi karena itu aku takut buat beneran jatuh cinta sama dia." Begitu dalihnya.

Saya juga pernah mendengar cerita dari seorang pendeta, yang salah satu aktivis di gerejanya melakukan hubungan seks dengan pacarnya, yang juga sama-sama melakukan pelayanan di gereja yang sama, sampai hamil dan kemudian melakukan aborsi, dengan dalih: "Aku takut ditinggal sama dia." Lalu ketika si pendeta bertanya: "Setelah kamu melakukan aborsi karena perbuatannya, kamu masih pacaran sama dia?" dan jawabannya membuat shock si pendeta: "Saya masih pacaran sama dia, masih berhubungan seks dengannya; karena saya takut tidak ada pria lain yang mau menikahi saya selain dia." Jawabnya dengan berlinang air mata, cerita si pendeta.

Saya juga baru saja melakukan sesi konseling karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan di pikiran saya. Cemas, khawatir, ragu-ragu, tidak bergerak sehingga tidak maju-maju; adalah beberapa efek nyata dari ketakutan atas kejadian-kejadian yang bahkan belum terjadi. Meskipun pasti terjadi, tapi sekarang belum terjadi dan mungkin saja tidak akan terjadi seperti bayangan-bayangan dalam pikiran saya selama ini.

"Lalu suami kamu tahu ketakutan-ketakutanmu itu?"
"Ya belum lah ... makanya aku ceritanya sama kamu. Terus aku harus ngapain?"

Sejujurnya, saya juga gak tahu dia harus berbuat apa. Karena saya pun mempunyai masalah yang sama dengan dia, yakni menghadapi banyak ketakutan dalam benak saya. Tapi kemudian saya teringat sesuatu ...

"Coba cerita aja sama suamimu soal ketakutan-ketakutanmu. Beralasan sih menurutku. Tapi kamu pernah baca gak cerita tentang seorang istri yang selama pernikahannya juga takut untuk menunjukkan kasih sayangnya pada suaminya ... tiap hari suaminya dijutekkin, dimarah-marahin, sering didiemin ... walaupun suaminya gak melakukan kesalahan apa-apa dan tetap sabar menghadapi kelakuan aneh istrinya. Sampai kemudian suaminya kecelakaan parah dan si istri mengaku semuanya saat di rumah sakit, kalau dia takut untuk mencintainya karena takut akan kehilangannya."

"You made it up? 🙂"

"Enggak lah, aku pernah baca. Tahu lah banyak banget artikel atau cerita semacam itu di internet akhir-akhir ini."

"Okay. I'll try. Tengkyu Vic. Selalu menyenangkan kalau ngobrol sama kamu 😊"

Ya ... saya lebih suka begitu, kalau itu semua dianggap hanya obrolan; bukan sesi konseling atau sejenisnya.


Hingga akhirnya saya berpikir, (dan membuat saya kembali menulis di blog ini 😀) bahwa ketakutan-ketakutan itu adalah kekuatan pengaruh iblis yang tidak ingin kita, saya, manusia, bertumbuh lebih lagi dalam iman dan perbuatan. Seperti yang saya rasakan ketika rasa takut itu menyelinap di pikiran: saya menjadi tidak berani untuk berbuat lebih dan membuat saya tidak bergerak ke mana-mana.

Dan ketika saya sampai di bagian ini, saya teringat kalimat dalam kitab I Yohanes 4:18 bahwa "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."

Takut kehilangan pacar dan karenanya mau melakukan dosa dengannya? Takut dipecat dari perusahaan dan karenanya tidak jujur pada pelanggan? Takut mengasihi pasangan karena takut ditinggalkan?
Jadi sekarang kita sudah tahu jawabannya: jika rasa takut menjadi alasan kita berbuat sesuatu, berarti perbuatan itu jauh dari makna KASIH. Dan demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Untuk ... (sebut saja) Nina.
Yogyakarta, 27 November 2016

Thursday, December 31, 2015

Tentang Agama dan Apa Yang Saya Percaya

Saya pernah membaca stiker: Yesus adalah jawabannya. Yang saya pikirkan setelahnya adalah: Apa pertanyaannya?

Pernah juga mendengar sebuah dialog: "Mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, jika Tuhan ingin disembah dengan satu cara?" | "Makanya Tuhan menciptakan cinta..." [film 'cin(T)a']

Benarkah Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara? Entahlah... pencarian saya belum sampai ke sana.

Pencarian saya belum selesai... berikut apa yang saya percaya:

semua orang yang pernah melihat saya pergi ke gereja dan berdoa dengan melipat tangan lalu menutup mata, mendengarkan saya mengucapkan “Pengakuan Iman Rasuli”; atau yang berkunjung ke rumah saya dan melihat gantungan di dinding yang bertuliskan ayat-ayat Alkitab; pasti akan mengatakan kalau saya seorang Kristen. Lalu karena tanda salib yang saya kenakan tidak terdapat tubuh Yesus Kristus, mereka mengatakan kalau saya seorang Protestan.
Singkatnya, saya dikatakan sebagai seorang Kristen Protestan karena semua “aksesoris” yang melekat pada saya. Bukan pada apa yang benar-benar saya percayai, hanya pada apa yang terlihat oleh mata jasmani.

Saat kecil, saya dididik secara Kristen. Masuk sekolah Kristen. Walaupun SMP dan SMA di sekolah negeri. Tapi pada masa-masa itu, saya hanya menerima saja apa yang mereka percayai. Pada apa yang orang tua saya yakini. Pada apa yang guru agama saya ajarkan setiap hari. Pada apa yang pendeta katakan pada setiap hari Minggu pagi.

Seiring bertambahnya usia, saya mulai merasakan ada misteri yang lebih besar dari itu semua. Lebih besar dari apa yang saya percaya saat masih kanak-kanak, dari apa yang orang tua saya percaya, dari apa yang guru agama saya ajarkan tentang Tuhan dan dari apa yang pendeta katakan tentang menjadi Kristen. Ada misteri yang sangat besar, yang karena besarnya, ia tidak dapat diberi batasan oleh manusia. Batasan yang mereka sebut sebagai “Agama”.

Sebagai orang indonesia, sejak SD, bahkan TK, saya sudah tahu tentang Pancasila. Padanya terdapat lima sila. Dan tertulis pada sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Esa yang berarti satu. Inilah yang saya percayai: Tuhan itu satu. Oleh karenanya saya masih janggal jika mendengar kata-kata atau kalimat, “Tuhanku hebat” atau “Tuhanmu itu tak berkuasa” bahkan ada anggota Pemuda Pancasila yang berkata, “Sumpah demi Tuhanmu?”, yang seakan-akan dia memiliki Tuhan yang eksklusif. Tuhan yang hanya dia miliki seorang sendiri.

Saat duduk di bangku SMP, saya belajar kalau agama itu berarti tidak kacau (A berarti “tidak” dan GAMA berarti “kacau”). Jadi agama dibuat oleh manusia agar kehidupan tidak kacau.

Pada awal peradaban manusia, Tuhan itu tidak bernama. Pada jaman purba, ketika manusia masih hidup nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan bumi dipandang sebagai “ibu” karena mencukupi segala yang mereka butuhkan untuk hidup: air dan makanan, mereka belum mengenal apa itu “tuhan”. Hingga setelah manusia mulai berkoloni dalam jumlah besar, menetap, bercocok tanam dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, manusia mulai menyadari ada sosok yang lebih besar dari mereka, bahkan dari bumi yang mereka anggap sebagai “ibu”. Ada tangan yang tak terlihat mengatur kapan hujan turun, kapan matahari terbit, kapan tumbuh-tumbuhan mulai bertunas, kapan manusia mati, kapan manusia lahir dan sebagainya. Di periode inilah Sosok itu mulai bernama. Mereka mulai memanggil-Nya dengan bermacam-macam nama: YHWH, Yehova, Allah, Tuhan, God… karena nama-Nya bergantung pada bahasa yang mereka ucapkan. Mulai dari sinilah agama itu lahir, sebagai ritual untuk menyeragamkan cara untuk menyembah dan memuji Sosok yang mereka yakini lebih berkuasa dari semua makhluk di atas bumi.

Mengetahui sejarah lahirnya sebuah agama, saya mulai bertanya-tanya “Lalu mengapa saat ini agama menjadi biang keladi banyak kekacauan di dunia?

Jawabannya saya temukan beberapa saat yang lalu. Dan saya kemudian teringat pada sebuah buku yang pernah saya baca untuk menjelaskannya.

“Bahaya yang paling rawan dalam pencarian spiritual adalah para guru, suhu, fundamentalisme, yang aku sebut sebelumnya sebagai globalisasi spiritualitas. Kalau ada orang yang datang dan memberitahumu: Tuhan itu begini, begitu, Tuhanku lebih perkasa dari Tuhanmu. Itulah awal dimulainya perang. Satu-satunya jalan untuk lolos dari semua itu adalah memahami bahwa pencarian spiritual adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa dialihkan atau dipercayakan pada orang lain … Kesalahan pada agama adalah adanya pemaksaan pada dogma-dogma ajaran mereka, melalui rasa takut akan hukuman abadi. Itu sebabnya aku menyerah dalam hal agama dan menjadi ateis. Aku tidak bilang bahwa Katolikisme itu lebih baik atau lebih buruk dari agama-agama lainnya, tapi ini ada dalam akar kulturalku, dalam darahku. Buatku ini pilihan bebas dan pribadi. Aku bisa saja memilih Islam atau Buddhisme, atau tak memilih apa-apa. Tapi aku membutuhkan lebih dari sekadar ateisme dalam hidupku dan aku memilih Katolikisme sebagai cara untuk menyatu dengan misteri bersama orang-orang lain yang percaya seperti aku.” (Paulo Coelho)

Itulah yang saya yakini sebagai agama. Sebuah ritual. Sebuah cara untuk mendekatkan diri pada misteri yang lebih besar dari dunia ini. Untuk mengenal lebih dekat lagi pada Sosok yang mengatur hal-hal detil di alam semesta ini: bagaimana darah dalam tubuh bisa mengalir, jantung berdenyut setiap sekian detik, paru-paru secara otomatis bekerja menyerap oksigen, dan… itu baru sedikit mengenai manusia! Bumi yang maha luas ini berisi milyaran makhluk hidup selain manusia. Itu semua diatur oleh Sosok yang begitu misterius, hingga manusia terlihat begitu kecil dibandingkan-Nya.

Hanya sedikit orang yang tahu kalau saya sebenarnya bukan seorang Kristen. Tetapi sedang belajar menjadi Kristen.

Tapi banyak orang dengan sombongnya berkata bahwa agamanya yang terhebat dan paling benar. Hingga kekacauan ditimbulkan oleh mereka. Karena sebenarnya mereka lupa kalau agama hanyalah sebuah sarana, ciptaan manusia, buah pemikiran para pendahulunya. Bukan pusat dari seluruh alam semesta. Dan agama bukanlah Tuhan. Karena Tuhan terlalu sederhana jika hanya dibatasi oleh dogma-dogma atau ajaran dalam sebuah agama.

Inilah yang salah tentang manusia dalam memahami apa itu agama.

Misalkan tentang seseorang yang duduk merenung, lalu bergumam: “Tuhan, agamamu apa?”. Karena buat saya itu terdengar anak kecil yang sedang duduk di dekat ayahnya dan berkata padanya, “Ayah, rupamu seperti apa?”. Kecuali kalau memang anak kecil itu menderita kebutaan pada sepasang matanya.

Atau tentang guru agama yang berkata kalau neraka dan sorga itu begini dan begitu. Saya menyangsikannya. Karena saya berpikir, “Apa ia pernah mati? Sehingga bisa dengan detil menjelaskan bagaimana sorga dan neraka”. (Karena yang saya yakini adalah, sorga itu adalah euforia masing-masing manusia tentang kebahagiaan. Dan neraka itu adalah ketakutan terbesar masing-masing manusia tentang kehidupan. Tapi ini hanyalah apa yang saya yakini. Bukan apa yang harus Anda percayai.)

Juga mengenai ahli agama yang mengatakan manusia harus melakukan ini dan itu agar bisa masuk sorga, dan jauh dari neraka. Saya hanya membatin, “Apakah ia yang membuat aturan mengenai cara mendapatkan tiket masuk ke sorga? Lalu jika tidak mendapat tiket itu otomatis manusia ke neraka? Bagaimana ia begitu yakin kalau ia sudah memegang tiket ke surga, bukannya ke neraka?

Statue of Murugan, a Hindu deity, is located outside Batu Caves, Malaysia.


Ada kalimat yang terlintas di pikiran saya, ”Jangan belajar tentang Tuhan. Tapi belajarlah dari Tuhan.

Ada manusia yang seumur hidupnya memelajari ilmu Kimia, Fisika, kesehatan manusia, panas matahari dan pergerakan bumi. Ada juga yang menghabiskan hidupnya untuk meneliti kehidupan mamalia dan hewan-hewan di seluruh dunia. Juga masih banyak disiplin ilmu lainnya yang tidak cukup untuk dipelajari oleh satu generasi. Jadi apa yang membuatmu berpikir kalau kamu bisa memelajari, meneliti, mencari tahu, apalagi menyimpulkan tentang siapa DIA, yang menciptakan seluruh alam semesta beserta semua kompleksitasnya?
Bukankah untuk hal ini, yang bisa kita lakukan hanyalah memercayai? Bukan berdebat atau mendiskusikan hal ini. Karena pikiran manusia memang terlalu dangkal untuk menyelami-Nya.

Di kehidupan sehari-hari, saya memang berpikir secara Kristen. Karena inilah cara saya untuk memahami misteri kehidupan dan bagaimana saya melakukan ritual untuk mendekatkan diri pada Sosok yang mengatur semua yang ada di alam semesta. Mungkin seperti seorang profesor matematika yang selalu melakukan pendekatan secara matematis pada hal-hal sederhana dalam hidupnya.

Hingga pada akhirnya: apa yang sekarang Anda yakini? Simpanlah itu untuk diri Anda sendiri.

Jangan telan mentah-mentah apa kata mereka, yang juga sesama manusia. Memang ada saatnya, ada manusia yang akan mengatakan “Kebenaran Itu” pada Anda. Karena Kebenaran memang tidak pernah disembunyikan. Dan Kebenaran memang tidak bisa disembunyikan. Bukankah tidak ada orang yang menyalakan lilin lalu disembuyikan dalam kegelapan? Karena gelap akan langsung sirna, sekecil apa pun terang yang ada di dalamnya.

Sekali lagi, inilah yang saya yakini sampai saat ini. Dan saya telah memilih cara saya sendiri, untuk memahami misteri kehidupan ini. Lakukan cara Anda sendiri.

Jika ada seseorang berkata, ‘Ini benar dan yang lainnya salah’, sesungguhnya dia sedang bermasalah dan mencari masalah.” (Ajahn Brahm)

Dalam ilmu hitam, apa yang kau perbuat adalah mencoba mencampuri takdir hidup orang lain. Sekalipun kau melakukannya di gereja Katolik. Dalam ilmu putih, kau tidak pernah mencoba memengaruhi jalan hidup orang lain.” (Paulo Coelho)