Monday, November 28, 2016

Takut

"Sudah berapa lama pacaran sebelum menikah?"
"Sekitar 3 tahunan lah..."

Kita mungkin pernah mendengar kalau di dalam Alkitab, kalimat "Jangan takut" atau kalimat sejenis itu tertulis sebanyak 365 kali; yang berarti setiap hari, kita diperintahkan untuk tidak takut terhadap apa pun yang terjadi di dunia ini. Tapi mengapa kita, saya, sering memiliki ketakutan-ketakutan yang bahkan kebanyakan hanya ada di pikiran?

Seperti seseorang yang baru saja curhat soal ketakutannya terhadap pasangannya. Selama 5 tahun, dia takut untuk benar-benar menyayangi pasangannya karena takut akan ditinggalkan. "Kata orang kan gitu: 'Jangan terlalu sayang, nanti bisa gila kalau ditinggalkan.' Jadi karena itu aku takut buat beneran jatuh cinta sama dia." Begitu dalihnya.

Saya juga pernah mendengar cerita dari seorang pendeta, yang salah satu aktivis di gerejanya melakukan hubungan seks dengan pacarnya, yang juga sama-sama melakukan pelayanan di gereja yang sama, sampai hamil dan kemudian melakukan aborsi, dengan dalih: "Aku takut ditinggal sama dia." Lalu ketika si pendeta bertanya: "Setelah kamu melakukan aborsi karena perbuatannya, kamu masih pacaran sama dia?" dan jawabannya membuat shock si pendeta: "Saya masih pacaran sama dia, masih berhubungan seks dengannya; karena saya takut tidak ada pria lain yang mau menikahi saya selain dia." Jawabnya dengan berlinang air mata, cerita si pendeta.

Saya juga baru saja melakukan sesi konseling karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan di pikiran saya. Cemas, khawatir, ragu-ragu, tidak bergerak sehingga tidak maju-maju; adalah beberapa efek nyata dari ketakutan atas kejadian-kejadian yang bahkan belum terjadi. Meskipun pasti terjadi, tapi sekarang belum terjadi dan mungkin saja tidak akan terjadi seperti bayangan-bayangan dalam pikiran saya selama ini.

"Lalu suami kamu tahu ketakutan-ketakutanmu itu?"
"Ya belum lah ... makanya aku ceritanya sama kamu. Terus aku harus ngapain?"

Sejujurnya, saya juga gak tahu dia harus berbuat apa. Karena saya pun mempunyai masalah yang sama dengan dia, yakni menghadapi banyak ketakutan dalam benak saya. Tapi kemudian saya teringat sesuatu ...

"Coba cerita aja sama suamimu soal ketakutan-ketakutanmu. Beralasan sih menurutku. Tapi kamu pernah baca gak cerita tentang seorang istri yang selama pernikahannya juga takut untuk menunjukkan kasih sayangnya pada suaminya ... tiap hari suaminya dijutekkin, dimarah-marahin, sering didiemin ... walaupun suaminya gak melakukan kesalahan apa-apa dan tetap sabar menghadapi kelakuan aneh istrinya. Sampai kemudian suaminya kecelakaan parah dan si istri mengaku semuanya saat di rumah sakit, kalau dia takut untuk mencintainya karena takut akan kehilangannya."

"You made it up? 🙂"

"Enggak lah, aku pernah baca. Tahu lah banyak banget artikel atau cerita semacam itu di internet akhir-akhir ini."

"Okay. I'll try. Tengkyu Vic. Selalu menyenangkan kalau ngobrol sama kamu 😊"

Ya ... saya lebih suka begitu, kalau itu semua dianggap hanya obrolan; bukan sesi konseling atau sejenisnya.


Hingga akhirnya saya berpikir, (dan membuat saya kembali menulis di blog ini 😀) bahwa ketakutan-ketakutan itu adalah kekuatan pengaruh iblis yang tidak ingin kita, saya, manusia, bertumbuh lebih lagi dalam iman dan perbuatan. Seperti yang saya rasakan ketika rasa takut itu menyelinap di pikiran: saya menjadi tidak berani untuk berbuat lebih dan membuat saya tidak bergerak ke mana-mana.

Dan ketika saya sampai di bagian ini, saya teringat kalimat dalam kitab I Yohanes 4:18 bahwa "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."

Takut kehilangan pacar dan karenanya mau melakukan dosa dengannya? Takut dipecat dari perusahaan dan karenanya tidak jujur pada pelanggan? Takut mengasihi pasangan karena takut ditinggalkan?
Jadi sekarang kita sudah tahu jawabannya: jika rasa takut menjadi alasan kita berbuat sesuatu, berarti perbuatan itu jauh dari makna KASIH. Dan demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Untuk ... (sebut saja) Nina.
Yogyakarta, 27 November 2016

Thursday, December 31, 2015

Tentang Agama dan Apa Yang Saya Percaya

Saya pernah membaca stiker: Yesus adalah jawabannya. Yang saya pikirkan setelahnya adalah: Apa pertanyaannya?

Pernah juga mendengar sebuah dialog: "Mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, jika Tuhan ingin disembah dengan satu cara?" | "Makanya Tuhan menciptakan cinta..." [film 'cin(T)a']

Benarkah Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara? Entahlah... pencarian saya belum sampai ke sana.

Pencarian saya belum selesai... berikut apa yang saya percaya:

semua orang yang pernah melihat saya pergi ke gereja dan berdoa dengan melipat tangan lalu menutup mata, mendengarkan saya mengucapkan “Pengakuan Iman Rasuli”; atau yang berkunjung ke rumah saya dan melihat gantungan di dinding yang bertuliskan ayat-ayat Alkitab; pasti akan mengatakan kalau saya seorang Kristen. Lalu karena tanda salib yang saya kenakan tidak terdapat tubuh Yesus Kristus, mereka mengatakan kalau saya seorang Protestan.
Singkatnya, saya dikatakan sebagai seorang Kristen Protestan karena semua “aksesoris” yang melekat pada saya. Bukan pada apa yang benar-benar saya percayai, hanya pada apa yang terlihat oleh mata jasmani.

Saat kecil, saya dididik secara Kristen. Masuk sekolah Kristen. Walaupun SMP dan SMA di sekolah negeri. Tapi pada masa-masa itu, saya hanya menerima saja apa yang mereka percayai. Pada apa yang orang tua saya yakini. Pada apa yang guru agama saya ajarkan setiap hari. Pada apa yang pendeta katakan pada setiap hari Minggu pagi.

Seiring bertambahnya usia, saya mulai merasakan ada misteri yang lebih besar dari itu semua. Lebih besar dari apa yang saya percaya saat masih kanak-kanak, dari apa yang orang tua saya percaya, dari apa yang guru agama saya ajarkan tentang Tuhan dan dari apa yang pendeta katakan tentang menjadi Kristen. Ada misteri yang sangat besar, yang karena besarnya, ia tidak dapat diberi batasan oleh manusia. Batasan yang mereka sebut sebagai “Agama”.

Sebagai orang indonesia, sejak SD, bahkan TK, saya sudah tahu tentang Pancasila. Padanya terdapat lima sila. Dan tertulis pada sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Esa yang berarti satu. Inilah yang saya percayai: Tuhan itu satu. Oleh karenanya saya masih janggal jika mendengar kata-kata atau kalimat, “Tuhanku hebat” atau “Tuhanmu itu tak berkuasa” bahkan ada anggota Pemuda Pancasila yang berkata, “Sumpah demi Tuhanmu?”, yang seakan-akan dia memiliki Tuhan yang eksklusif. Tuhan yang hanya dia miliki seorang sendiri.

Saat duduk di bangku SMP, saya belajar kalau agama itu berarti tidak kacau (A berarti “tidak” dan GAMA berarti “kacau”). Jadi agama dibuat oleh manusia agar kehidupan tidak kacau.

Pada awal peradaban manusia, Tuhan itu tidak bernama. Pada jaman purba, ketika manusia masih hidup nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan bumi dipandang sebagai “ibu” karena mencukupi segala yang mereka butuhkan untuk hidup: air dan makanan, mereka belum mengenal apa itu “tuhan”. Hingga setelah manusia mulai berkoloni dalam jumlah besar, menetap, bercocok tanam dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, manusia mulai menyadari ada sosok yang lebih besar dari mereka, bahkan dari bumi yang mereka anggap sebagai “ibu”. Ada tangan yang tak terlihat mengatur kapan hujan turun, kapan matahari terbit, kapan tumbuh-tumbuhan mulai bertunas, kapan manusia mati, kapan manusia lahir dan sebagainya. Di periode inilah Sosok itu mulai bernama. Mereka mulai memanggil-Nya dengan bermacam-macam nama: YHWH, Yehova, Allah, Tuhan, God… karena nama-Nya bergantung pada bahasa yang mereka ucapkan. Mulai dari sinilah agama itu lahir, sebagai ritual untuk menyeragamkan cara untuk menyembah dan memuji Sosok yang mereka yakini lebih berkuasa dari semua makhluk di atas bumi.

Mengetahui sejarah lahirnya sebuah agama, saya mulai bertanya-tanya “Lalu mengapa saat ini agama menjadi biang keladi banyak kekacauan di dunia?

Jawabannya saya temukan beberapa saat yang lalu. Dan saya kemudian teringat pada sebuah buku yang pernah saya baca untuk menjelaskannya.

“Bahaya yang paling rawan dalam pencarian spiritual adalah para guru, suhu, fundamentalisme, yang aku sebut sebelumnya sebagai globalisasi spiritualitas. Kalau ada orang yang datang dan memberitahumu: Tuhan itu begini, begitu, Tuhanku lebih perkasa dari Tuhanmu. Itulah awal dimulainya perang. Satu-satunya jalan untuk lolos dari semua itu adalah memahami bahwa pencarian spiritual adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa dialihkan atau dipercayakan pada orang lain … Kesalahan pada agama adalah adanya pemaksaan pada dogma-dogma ajaran mereka, melalui rasa takut akan hukuman abadi. Itu sebabnya aku menyerah dalam hal agama dan menjadi ateis. Aku tidak bilang bahwa Katolikisme itu lebih baik atau lebih buruk dari agama-agama lainnya, tapi ini ada dalam akar kulturalku, dalam darahku. Buatku ini pilihan bebas dan pribadi. Aku bisa saja memilih Islam atau Buddhisme, atau tak memilih apa-apa. Tapi aku membutuhkan lebih dari sekadar ateisme dalam hidupku dan aku memilih Katolikisme sebagai cara untuk menyatu dengan misteri bersama orang-orang lain yang percaya seperti aku.” (Paulo Coelho)

Itulah yang saya yakini sebagai agama. Sebuah ritual. Sebuah cara untuk mendekatkan diri pada misteri yang lebih besar dari dunia ini. Untuk mengenal lebih dekat lagi pada Sosok yang mengatur hal-hal detil di alam semesta ini: bagaimana darah dalam tubuh bisa mengalir, jantung berdenyut setiap sekian detik, paru-paru secara otomatis bekerja menyerap oksigen, dan… itu baru sedikit mengenai manusia! Bumi yang maha luas ini berisi milyaran makhluk hidup selain manusia. Itu semua diatur oleh Sosok yang begitu misterius, hingga manusia terlihat begitu kecil dibandingkan-Nya.

Hanya sedikit orang yang tahu kalau saya sebenarnya bukan seorang Kristen. Tetapi sedang belajar menjadi Kristen.

Tapi banyak orang dengan sombongnya berkata bahwa agamanya yang terhebat dan paling benar. Hingga kekacauan ditimbulkan oleh mereka. Karena sebenarnya mereka lupa kalau agama hanyalah sebuah sarana, ciptaan manusia, buah pemikiran para pendahulunya. Bukan pusat dari seluruh alam semesta. Dan agama bukanlah Tuhan. Karena Tuhan terlalu sederhana jika hanya dibatasi oleh dogma-dogma atau ajaran dalam sebuah agama.

Inilah yang salah tentang manusia dalam memahami apa itu agama.

Misalkan tentang seseorang yang duduk merenung, lalu bergumam: “Tuhan, agamamu apa?”. Karena buat saya itu terdengar anak kecil yang sedang duduk di dekat ayahnya dan berkata padanya, “Ayah, rupamu seperti apa?”. Kecuali kalau memang anak kecil itu menderita kebutaan pada sepasang matanya.

Atau tentang guru agama yang berkata kalau neraka dan sorga itu begini dan begitu. Saya menyangsikannya. Karena saya berpikir, “Apa ia pernah mati? Sehingga bisa dengan detil menjelaskan bagaimana sorga dan neraka”. (Karena yang saya yakini adalah, sorga itu adalah euforia masing-masing manusia tentang kebahagiaan. Dan neraka itu adalah ketakutan terbesar masing-masing manusia tentang kehidupan. Tapi ini hanyalah apa yang saya yakini. Bukan apa yang harus Anda percayai.)

Juga mengenai ahli agama yang mengatakan manusia harus melakukan ini dan itu agar bisa masuk sorga, dan jauh dari neraka. Saya hanya membatin, “Apakah ia yang membuat aturan mengenai cara mendapatkan tiket masuk ke sorga? Lalu jika tidak mendapat tiket itu otomatis manusia ke neraka? Bagaimana ia begitu yakin kalau ia sudah memegang tiket ke surga, bukannya ke neraka?

Statue of Murugan, a Hindu deity, is located outside Batu Caves, Malaysia.


Ada kalimat yang terlintas di pikiran saya, ”Jangan belajar tentang Tuhan. Tapi belajarlah dari Tuhan.

Ada manusia yang seumur hidupnya memelajari ilmu Kimia, Fisika, kesehatan manusia, panas matahari dan pergerakan bumi. Ada juga yang menghabiskan hidupnya untuk meneliti kehidupan mamalia dan hewan-hewan di seluruh dunia. Juga masih banyak disiplin ilmu lainnya yang tidak cukup untuk dipelajari oleh satu generasi. Jadi apa yang membuatmu berpikir kalau kamu bisa memelajari, meneliti, mencari tahu, apalagi menyimpulkan tentang siapa DIA, yang menciptakan seluruh alam semesta beserta semua kompleksitasnya?
Bukankah untuk hal ini, yang bisa kita lakukan hanyalah memercayai? Bukan berdebat atau mendiskusikan hal ini. Karena pikiran manusia memang terlalu dangkal untuk menyelami-Nya.

Di kehidupan sehari-hari, saya memang berpikir secara Kristen. Karena inilah cara saya untuk memahami misteri kehidupan dan bagaimana saya melakukan ritual untuk mendekatkan diri pada Sosok yang mengatur semua yang ada di alam semesta. Mungkin seperti seorang profesor matematika yang selalu melakukan pendekatan secara matematis pada hal-hal sederhana dalam hidupnya.

Hingga pada akhirnya: apa yang sekarang Anda yakini? Simpanlah itu untuk diri Anda sendiri.

Jangan telan mentah-mentah apa kata mereka, yang juga sesama manusia. Memang ada saatnya, ada manusia yang akan mengatakan “Kebenaran Itu” pada Anda. Karena Kebenaran memang tidak pernah disembunyikan. Dan Kebenaran memang tidak bisa disembunyikan. Bukankah tidak ada orang yang menyalakan lilin lalu disembuyikan dalam kegelapan? Karena gelap akan langsung sirna, sekecil apa pun terang yang ada di dalamnya.

Sekali lagi, inilah yang saya yakini sampai saat ini. Dan saya telah memilih cara saya sendiri, untuk memahami misteri kehidupan ini. Lakukan cara Anda sendiri.

Jika ada seseorang berkata, ‘Ini benar dan yang lainnya salah’, sesungguhnya dia sedang bermasalah dan mencari masalah.” (Ajahn Brahm)

Dalam ilmu hitam, apa yang kau perbuat adalah mencoba mencampuri takdir hidup orang lain. Sekalipun kau melakukannya di gereja Katolik. Dalam ilmu putih, kau tidak pernah mencoba memengaruhi jalan hidup orang lain.” (Paulo Coelho)

Thursday, October 15, 2015

Terbang

Saya lupa bagaimana rasanya saat pertama kali terbang. Karena saat itu saya mengalami mabuk udara di sepanjang perjalanan, dan yang saya ingat hanyalah tubuh kecil saya digendong oleh sang pramugari sepanjang tangga turun pesawat. Beberapa orang mungkin juga pula nama maskapainya, tetapi saya selalu mengingatnya: Bouraq Airlines.

Sejak pertama kali saya terbang, hingga saya terbang untuk yang ke-2 kalinya, ada rentang waktu sekitar 16 tahun lamanya. Karena mengingat-ingat penerbangan yang pertama, saya sedikit takut untuk penerbangan yang kedua. Biarpun tujuannya sama-sama ke luar pulau Jawa, tetapi bedanya saya sudah melakukan check in sendirian di konter bandara. Sejak saat inilah saya menyukai pesawat udara.

"Kayak mimpi ya! Baru tadi pagi sarapan di Jogja, sekarang di Pontianak makan siangnya." Kata teman seperjalanan saya saat kami menunggu pesanan kami di sebuah rumah makan Chinese.

Ya, saya setuju dengannya. Pesawat udara membuat ruang semakin dekat dan waktu rasanya semakin cepat. Saya pernah mendengar cerita seseorang, bagaimana ia bisa sarapan di Jakarta, makan siang di Singapura, dan dinner di Surabaya. Saat itu saya tertawa mendengarnya. Tapi semua itu mungkin saja dilakukan dengan pesawat udara. Bahkan makin banyak penerbangan langsung antar benua yang bisa dilakukan dalam hitungan jam saja.

Hal yang menarik buat saya ketika terbang adalah suasana di awal dan akhir penerbangan dalam kabin pesawat, dan pemandangan di batas pengantar pintu masuk bandara. Selalu saja ada drama yang saya lihat di sana.

Bagaimana menariknya melihat orang yang pertama kali naik pesawat udara, yang entah kenapa selalu kepengin duduk di dekat jendela. Sedangkan yang menganggap pesawat udara sebagai moda transportasi biasa, seperti bis atau kereta, lebih suka duduk di gang (aisle) karena berpendapat akan lebih mudah dan cepat ketika akan turun atau ke kamar kecil. Orang seperti ini, biasanya, sudah tidak lagi menikmati perjalanan di udara.
Dan keanehan yang sampai sekarang saya tidak tahu apa sebabnya, adalah ketika pesawat sudah landing dan belum benar-benar berhenti di "parkiran bandara", kebanyakan orang (terutama yang duduk di aisle) sudah berdiri dan mengambil barang bawaannya di bagasi kabin. Padahal pesawat udara parkirnya gak pernah sebentar saja. Kenapa mereka bertingkah seolah-olah pesawat hanya akan "ngetem" sebentar, lalu terbang lagi ke tujuan selanjutnya?
Drama di batas pengantar pintu masuk bandara, biasanya terjadi antara sepasang kekasih, keluarga, atau orangtua dengan anak/cucunya. Hampir selalu ada pelukan dan kadang-kadang juga air mata terlibat di dalamnya. Berlebihan? Tidak juga. Saya pikir mereka juga merasakan apa yang saya rasakan.

Terbang itu seperti menggadaikan nyawa kepada maskapai penerbangan. Kita akan mengambil nyawa kita lagi saat sudah tiba di tujuan. Selama di udara, sejarah hidup kita dititipkan di dalam sebuah kotak hitam, yang nyatanya tidak ada yang benar-benar berwarna hitam. Mungkin ini pula sebabnya, jika di dalam kabin pesawat saat di udara, semua orang cenderung murung dan diam. Seolah-olah waktu berhenti di dalam pesawat udara. Tidak ada yang bisa diajak bicara jika bepergian sendirian saja. Komunikasi dengan keluarga, sanak saudara, teman dan rekan kerja di daratan seperti terputus begitu saja. Tapi di sinilah saya menemukan keasyikan di pesawat yang sedang mengudara. Bebas gangguan dari dering ponsel yang rata-rata hanya meminta bantuan dan bertanya kabar saja. Di dalam pesawat yang sedang mengudara, saya seperti mendapatkan tiket untuk bebas dari tekanan dan kepenatan. Oleh karena itu jika kalian pernah mendengar alasan sekelompok manusia kaya yang membeli jet pribadi hanya sebagai tempat bermeditasi, beristirahat sejenak dari kepenatan rutinitas sehari-hari... kalian sekarang sudah bisa memahami alasan mereka ini.
Juga ketika sudah duduk di kursi dalam kabin pesawat udara, Anda akan memiliki identitas berbeda. Bukan nama, tetapi nomor kursi Anda. "Itu 20F minta air mineral." Atau, "14A belum kembali ke mejanya, coba cek ke lavatory." Itu mengapa sebaiknya jangan mau bertukar kursi dengan penumpang lainnya. Amit-amit pesawat jatuh atau meledak di udara, jasad Anda hanya akan dikenali dengan nomor kursi sesuai yang tertulis di manifes penerbangan.

Keasyikan lain saat di dalam kabin pesawat udara adalah saat mendengar desingan mesin pesawat (yang saya yakin lebih memekakkan telinga ketimbang mesin mobil Formula 1) dan melihat sayap pesawat (jika kebetulan duduk di bagian sayap) sebelum berjalan di landasan pacu... bagaimana pilot mengetes aileron dan flap sehingga menimbulkan suara yang khas di dalam kabin penumpang. Sudah beberapa kali saya terbang, suara ini selalu menarik untuk didengarkan. Tetapi mungkin saja jika saya saya sudah terbang berpuluh-puluh kali, saya tidak lagi menikmati suara ini...

rekor baru di udara: 162 menit 47 detik


...hingga hari ini, rekor saya berada di udara (non stop) adalah 104 menit 38 detik (entah kenapa saya suka menghitungnya). Perhitungannya saya mulai sejak roda belakang pesawat tidak lagi menyentuh bumi, hingga roda yang sama kembali menyentuh landasan bandara lagi. Dan saya selalu ingin memecahkan rekor ini... rekor waktu terlama saya untuk bisa bebas dari gangguan dan interupsi kehidupan ini.

Adisucipto, 01 Oktober 2015

Thursday, September 3, 2015

Perekrutan

Ada yang menarik dalam salah satu adegan di film “November Man”.

Mungkin kita pernah mendengar ucapan seorang CEO perusahaan media terbesar di Indonesia: “Yang terpenting adalah informasi. Mereka yang menguasai informasi, menguasai.
Atau ungkapan: “Knowledge is a power” / pengetahuan adalah kekuatan. Tetapi salah seorang agen CIA di film yang dibintangi Pierce Brosnan tersebut, berkata kurang lebih demikian:
Menurutmu, apa yang kita lakukan di agency? (Di badan intelejen?)”
Lalu rekannya menjawab: “Kita mengumpulkan informasi (data intel).
Salah! Intel itu tidak begitu penting. Informasi bisa berubah setiap saat. Pengetahuan bukan kekuatan sebuah badan intelejen. Manusia adalah kekuatan kita. (Kita menguasai manusia, kita menguasai).”

Film “November Man” bercerita tentang seorang calon presiden yang mempunyai masa lalu yang buruk. Kelihatannya mempunyai reputasi bagus, padahal sejarah hidupnya sangat kelam. Lalu saat ia menjadi capres, CIA menawarkan bantuan untuk tetap menjaga reputasinya yang kelihatan, sambil membantu capres tersebut untuk terus menjaga masa lalunya yang kelam agar tidak muncul ke permukaan. Dan tentu saja bantuan itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, CIA merekrutnya untuk menjadi salah satu “boneka” yang bergerak atas dasar perintah Amerika.
Ya, pegang kepala negaranya, maka negara tersebut secara tidak langsung dikuasai CIA (Amerika). Ini membuktikan bahwa manusia adalah kekuatan sesungguhnya.

********/*******

Saya suka membayangkan begini…

…di akhir zaman nanti, akan ada (lagi) peperangan antara Allah melawan iblis. Peperangan yang sangat besar, melebihi perang yang konon terjadi di bumi tengah antara bangsa manusia dan Elf melawan bangsa Orc yang berkoalisi dengan Uruk Hai dan Goblin (tonton: The Lord of The Ring – The Return of The King). Meskipun sebagai orang percaya, kita tahu bahwa pihak Allah akan menang, tetapi iblis tidak akan pernah menyerah begitu saja.

Sebelum perang besar itu terjadi, yang dilakukan Allah dan iblis adalah merekrut pasukan masing-masing. Tentu saja pasukan yang saya maksud adalah bangsa manusia. Karena Dwarf dan Elf sudah kembali ke dunianya, lalu Orc, Uruk Hai dan Goblin sudah dipunahkan oleh manusia. Entah di mana bangsa Hobbits.

Kita sebagai bangsa manusia menjadi “rebutan” Allah dan iblis. Bayangkan, betapa hebat dan mengerikannya suasana peperangan di akhir zaman. Lalu pertanyaannya, bagaimana perekrutan dilakukan? Yaitu dengan cara menawarkan kekekalan surga (Allah) dan kenikmatan dunia (iblis).

Sebelum Allah turun ke dunia dalam rupa Anak Manusia, upah dosa (menuruti keinginan daging/ kenikmatan dunia) adalah maut. Semua manusia yang berdosa langsung turun ke dalam kerajaan maut, tempat iblis berkuasa. Yang tentu saja itu berarti, tidak ada manusia (suci) yang bisa direkrut oleh Allah akibat dosa-dosa mereka selama hidup di bumi. Lalu Tuhan Yesus membayar harganya (harga semua manusia) dengan tetap taat menghadapi siksaan-siksaan yang mengerikan hingga mati di kayu salib. Tetapi saat Ia bangkit, Tuhan Yesus membawa kunci kerajaan maut itu. Sehingga segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, menjadi di bawah kuasa Allah (lihat Yesaya 45:23 / Filipi 2:10). Inilah mengapa menurut saya, kebangkitan Tuhan Yesus itu adalah peristiwa terpenting dalam iman kristen pada kesudahannya.

Kemudian setelah Yesus bangkit, pertanyaannya berubah lagi. Jika semua manusia sudah dibebaskan dari kerajaan iblis, bagaimana iblis merekrut manusia untuk dijadikan pasukannya?

Yakni dengan cara membuat manusia tidak percaya pada keselamatan yang Tuhan Yesus berikan dengan cuma-cuma. Juga dengan membuat manusia tidak menghargai karya keselamatan yang Tuhan Yesus sudah lakukan. Itulah yang terjadi pada zaman-zaman setelah Tuhan Yesus bangkit dan naik ke sorga. Manusia ditakut-takuti oleh iblis akan akibat dosa yang dilakukannya, hingga pernah terjadi peristiwa jual beli indulgensia. Manusia juga dibuat berpikir betapa konyolnya seorang Allah Pencipta langit dan bumi mau mati dengan cara yang sangat najis (salib adalah lambang kutukan). Dan cara yang paling sukses untuk merekrut manusia untuk menjadi pasukannya iblis adalah dengan membuat manusia terus menerus mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya. Hingga membuat manusia merasa jauh dari Tuhan karena dibuat berpikir kalau ia telah berdosa -> ia kotor -> lalu tidak layak lagi berada dalam hadirat Tuhan.

Bedanya Tuhan dan setan.




Padahal yang sebenarnya terjadi, Tuhan Yesus sudah lunas membayar harga atas dosa-dosa kita dan Allah Bapa tidak pernah lelah mengampuni. Kita, manusia, yang dibuat lelah untuk meminta pengampunan dari-Nya…* hingga kemudian secara perlahan tapi pasti, kita mengizinkan iblis untuk berkuasa atas hidup kita akibat perasaan tidak layak untuk diampuni, lalu akhirnya jatuh ke dalam dosa-dosa (yang sama) lagi.

Dan bagaimana jika malam ini Tuhan Yesus mengulang pertanyaan yang sama pada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (lihat Markus 4:40)

*) Thanks buat Ola Rosa (@olarosaa) yang sudah memberikan kepingan puzzle terakhirnya untuk tulisan ini.

Thursday, July 9, 2015

"Saya Sudah Lelah..."

Mom, are you afraid?
Oh Caroline, I’m not afraid. I'm just curious... what comes next?
(sebuah dialog di film ‘The Curious Case of Benjamin Button’ antara seorang anak dan ibunya yang terbaring di rumah sakit)

Membaca kisah pendeta Martyn Lloyd Jones, saya teringat kisah seorang lansia yang diceritakan pendeta Hadyan Tanwikara saat Camp KDM di Wonosobo, tahun lalu. Pendeta Hadyan bercerita tentang seorang wanita tua yang (kalau saya tidak salah ingat) ingin didoakan agar cepat dipanggil oleh Tuhan. “Saya sudah lelah...” begitu tuturnya pada pendeta Hadyan.

Begitu juga dengan kisah pendeta Martyn. Saat tubuh tuanya sudah sangat lemah, yang membuatnya hanya bisa terbaring di tempat tidurnya sepanjang hari; ia berkata pada seorang jemaat yang baru saja mendoakannya agar cepat sehat dan pulih, katanya: “Jangan menahanku agar lebih lama lagi masuk dalam kemuliaan Allah.” Sebuah perkataan iman yang terdengar janggal. Tetapi jika direnungkan hal itu sangat luar biasa.

Bagi orang percaya, kematian seharusnya dipandang bukan sebagai sesuatu yang mengerikan. Buat mereka yang sudah percaya pada Tuhan Yesus seumur hidupnya, kematian seharusnya dipandang sebagai sebuah jalan menuju damai sejahtera dan kemuliaan Allah yang kekal. Untuk yang ditinggalkan di dunia, pastilah mengalami kesedihan yang luar biasa karena mempunyai perasaan --sudah ditinggalkan-- oleh mereka yang dikasihinya. Tetapi bukankah semua yang ada di dunia ini fana, hanya sementara?

Itu sebabnya rasul Paulus (dan Ahok) berkata: “...karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Karena mereka orang-orang percaya, yang sudah hidup dengan bersandar pada apa yang dikatakan oleh (firman) Tuhan, sehingga mereka yakin bahwa jaminan keselamatan sudah didapatkan. Inilah yang membedakan ajaran Kristen (orang percaya) dengan ajaran lain di dunia. Dan bukankah inilah inti iman Kristen?

taken from "Curious Case of Benjamin Button" movie
 
Mengutip ucapan pendeta Budi S. Marsudi dalam sebuah kotbahnya (yang kurang lebih demikian): “Mereka yang dipanggil oleh Tuhan ke surga itu karena tugas dan tujuan mereka di dunia sudah selesai. Mereka lebih dibutuhkan oleh Tuhan di surga untuk suatu pekerjaan yang mulia.” Begitulah seharusnya kita hidup dengan percaya bahwa semuanya: apa yang kita miliki di dunia dan tujuan kita diciptakan, hanyalah untuk kemuliaan Allah semata.

Dan firman Tuhan seharusnya menjadi pegangan dasar saat hidup di dunia; sebagai dasar pemikiran, penghiburan serta pengharapan untuk kita. Jika itu kita hayati, yakini dan lakukan, pada akhirnya kita akan bisa berkata: “Hai maut di manakah sengatmu?” dan kematian bukanlah lagi sesuatu yang menakutkan.

Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” (Mazmur 116:15)

~Vic, 090715~