Wednesday, September 22, 2010

Menangkap Inspirasi ala Dewi ‘dee’ Lestari

When it comes to inspiration, the skill is just about how to be perceptive, sensitive, and agile enough to 'catch' it. [Dewi Lestari]

Mungkin banyak diantara kita, pecinta novel Indonesia, yang sudah mengenal sosok penulis yang satu ini. Dewi Lestari, yang dikenal dengan nama pena ‘Dee’, adalah seorang penulis sekaligus penyanyi dalam trio vokal ‘RSD’ (Rida, Sita, Dewi). Namanya mulai dikenal di dunia tulis-menulis sejak buku triloginya yang berjudul ‘Supernova’ mendapat tempat di hati banyak orang. Tapi saya belum pernah membaca Supernova. Sudah gak ada di toko buku soalnya. Maklum, saya mulai tertarik dengan dunia sastra baru beberapa bulan belakangan. Sebelumnya, saat masuk ke toko buku, saya lebih sering berdiri di depan rak buku “sains dan teknologi” atau deretan buku “psikologi”.

Saya sendiri mulai mengenal tulisan Dee dalam bukunya yang berjudul ‘Rectoverso’ dan ‘Filosofi Kopi’. 'Rectoverso’ yang sudah saya baca puluhan kali dan dengarkan ratusan kali, menurut saya adalah sebuah karya yang sangat berekspresi, sangat bervisi, dan juga sangat penuh dengan emosi. Oleh karenanya saya sedikit kecewa ketika buku selanjutnya, Perahu Kertas, mempunyai bahasa yang “biasa” (beda dengan sebelum-sebelumnya yang “sangat sastra”) dan cerita yang cenderung “ngepop”, istilahnya.

Dari semua karya Dewi Lestari, saya paling suka dengan Rectoverso. Alasannya sudah saya tuliskan tadi. Ide buku ini juga bisa dibilang sangat brilian, karena bisa menggabungkan dua indera manusia untuk menikmatinya: pendengaran dan penglihatan; yang bisa membuat pembaca mudah mengimajinasikannya. Seperti jargon buku ini: sentuh hati dari dua sisi; dengarkan fiksinya, bacalah musiknya ... membuat saya bisa termenung lama setiap selesai membaca salah satu kisahnya, sembari mendengarkan lagunya. Langsung kena di hati pokoknya!

Dari 11 lagu dan 11 kisah di dalam buku ini, menurut saya, lagu “Hanya Isyarat” dan kisah “Cicak di Dinding” adalah juaranya. Bagaimana menurut Anda, yang sudah menikmatinya juga?

********/*******

Penasaran dengan “behind the scene”nya? Dewi Lestari beberapa waktu lalu menuliskannya dalamaccount twitternya (@deelestari), dengan hashtag ‘#trivia’. Berikut beberapa diantaranya:

  • Lagu ‘Curhat Buat Sahabat’ diciptakan saat Dee sakit, dan gak ada orang di rumah, lalu kepaksa beli obat sendiri di warung. Saat pulangnya, Dee membuat lagu itu.
  • Refrein dan lirik lagu ‘Malaikat Juga Tahu’, muncul saat Dee sedang sikat gigi.
  • ‘Selamat Ulang Tahun’ terinspirasi saat Dee mencari wartel (warung telkom) dan tidak ketemu (belum jaman seluler).
  • Kisah ‘Aku Ada’ dibuat saat Dee membayangkan kalau anaknya sudah besar, dan Dee sudah tiada. Hanya bisa menemani dalam wujud yang tak lagi sama.
  • Kisah ‘Peluk’ adalah hasil eksplorasi tema “putus cinta” yang bermartabat dan tidak termehek-mehek.
  • ‘Cicak di Dinding’ dibuat tanpa piano/alat musik. Melodi dan lirik tercipta begitu saja saat trio vokal ‘RSD’ sedang show di Papua tahun 1998.
  • ‘Firasat’ tercipta satu lagu lengkap plus liriknya, tanpa alat musik, saat Dee sedang rebahan di kamar kosnya dan melihat plafon kamarnya (Jakarta, 2002).

Lalu Dee menambahkan, “suka banyak yang tanya: ‘dapat inspirasi dari mana?’ Tapi kalau melihat pengalaman sendiri, inspirasi datang dari tempat yang tidak terduga. Dia (inspirasi) yang menghampiri, tanpa dicari.”

********/*******

Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah sering susah mencari inspirasi? Atau sebenarnya Anda sedang memilah-milah inspirasi yang mendatangi Anda, lalu melewatkannya begitu saja karena menganggap semuanya biasa saja? Tapi bukankah sesuatu yang luar biasa datang dari hal-hal yang sebenarnya terlihat biasa?

Menurut pengalaman saya yang baru saja memasuki dunia tulis-menulis, apa yang Dee katakan itu benar adanya. Inspirasi itu lah yang sering datang menghampiri. Gak perlu dicari. Dia ada di sekitar kita, dimanapun kita berada. Kipas angin bisa menghembuskan inspirasi. Tuts keyboard bisa berubah menjadi inspirasi. Semut-semut yang sedang mengerumuni remah-remah di lantai kamar juga bisa membawa inspirasi. Bahkan kejadian-kejadian biasa yang dialami sehari-hari sebenarnya adalah sumber inspirasi. Hanya masalahnya, apakah Anda akan segera menangkapnya, mendokumentasikannya dengan segera menulisnya, ataukah hanya membiarkannya berlalu begitu saja?

Salah satu kebiasaan buruk manusia adalah menunda. Menunda makan yang berakibat sakit maag. Menunda istirahat yang berakibat sakit kepala. Menunda pekerjaan yang berakibat stres belakangan. Hingga menunda menulis saat inspirasi itu datang dan menyapa Anda. Bisa saja sebuah karya sastra besar atau cerita yang unik yang seharusnya bisa Anda tuliskan, terlewat begitu saja.

Menurut saya, hanya ada dua jenis penundaan yang berakibat baik. Pertama, menunda berhubungan seks sebelum menikah. Kedua, menunda berkata-kata jika belum yakin yang akan dikatakan adalah sebuah kebenaran yang bisa dipertanggung jawabkan [ajining diri ono ing lati: siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat.]

Sebuah cerita/artikel atau tulisan berbentuk dan berjenis apapun, saat pertama kali ditulis tidaklah harus langsung jadi. Bisa dibuat garis besarnya saja. Yang penting saat inspirasi itu mendatangi Anda, tidak dilewatkan begitu saja.

Dalam pengantar buku ‘Filosofi Kopi’, Dee mengatakan kalau karir seorang penulis adalah sebuah karir yang panjang. Dee banyak menulis cerita yang tak selesai, cerpen yang terlalu panjang hingga tak bisa dikirim ke majalah, novel terlalu pendek hingga tak bisa diikutkan dalam lomba, puisi setengah prosa atau prosa kepuisi-puisian, dan aneka bentuk lain yang sulit diberi nama hingga akhirnya didiamkan. Dan setelah melewati semua proses itu, Dee akhirnya bisa membuat sebuah buku.

Jadi, masihkah kita menunda mengerjakan segala sesuatu yang harusnya dilakukan saat ini?

Hari bekerja untuk si pemalas adalah besok, hari liburnya adalah hari ini. [John Wesley]

Lakukan, maka engkau akan mempunyai kekuatan untuk melakukannya. [Jenderal (Purn) Soetanto]

Bahan mentah karya-karya besar hanyut mengapung mengitari dunia, menunggu untuk dibungkus dengan kata-kata. [Thornton Wilder]

2 comments: